NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:285
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JARUM-JARUM DINGIN

"Vio, lo beneran mau cabut sekarang? Pak Baskara masi ngamuk di ruang rapat, lho. Kalau lo pergi, habis sudah riwayat lo di perusahaan ini!"

Viona tidak menoleh. Jemarinya yang gemetar terus memasukkan barang-barang dari atas meja ke dalam tas kanvasnya yang mulai kusam. Suara Riko, rekan kerjanya, hanya terdengar seperti dengung lalat di telinganya. Di ruangan kaca sana, ia bisa melihat bayangan Baskara yang sedang membanting berkas presentasi yang telah Viona susun selama tiga bulan. Kerja kerasnya, malam-malam tanpa tidurnya, semuanya hancur hanya karena satu kesalahan teknis yang ia yakini bukan perbuatannya.

"Biarin aja, Rik. Toh, di mata dia gue cuma sampah yang kebetulan bisa ngetik," sahut Viona datar. Suaranya serak, sisa dari isak tangis yang ia tahan di toilet tadi.

"Tapi hujan di luar lagi gila-gilaan, Vio! Lo nggak bawa payung, kan?"

Viona berhenti sejenak, menatap jendela besar kantor yang kini dibasahi air. Langit Jakarta sore itu tidak lagi biru atau oranye; ia berwarna abu-abu pekat, menyerupai luka memar yang baru saja muncul. "Gue butuh basah, Rik. Biar gue ngerasa masih hidup."

Tanpa menunggu balasan Riko, Viona melangkah keluar.

Hujan di kota ini tidak pernah hanya sekadar air yang jatuh dari langit. Bagi Viona, hujan adalah ribuan jarum dingin yang menjahit kembali luka-luka di kepalanya. Begitu ia melangkah keluar dari lobi gedung pencakar langit itu, udara dingin langsung menyergap, menusuk hingga ke pori-pori tulang. Ia tidak berlari. Ia tidak mencari perlindungan. Di bawah guyuran air yang seolah ingin menenggelamkan aspal, Viona berjalan dengan langkah gontai di tepi trotoar.

Gaun kerjanya yang berwarna krem kini berubah menjadi cokelat gelap, melekat erat di kulitnya yang mulai membiru karena suhu udara yang anjlok. Orang-orang di sekitarnya berlarian dengan wajah panik, berlindung di bawah kanopi toko atau menggunakan koran bekas untuk menutupi kepala. Mereka tampak begitu takut pada air, sementara Viona merasa air adalah satu-satunya hal yang jujur saat ini. Air tidak berpura-pura baik, ia hanya jatuh dan membasahi apa saja tanpa pilih kasih.

Pikirannya melayang pada kejadian satu jam yang lalu. Di depan jajaran direksi, proyektor menampilkan data yang salah—data yang menyudutkan posisinya dan membuat perusahaan merugi miliaran rupiah. Ia tahu Baskara pelakunya. Pria itu selalu menginginkan posisi manajer yang seharusnya menjadi milik Viona. Namun, bukti apa yang ia punya? Ia hanya seorang wanita muda yang mencoba bertahan hidup di rimba beton, sementara Baskara adalah keponakan pemilik modal.

Namun, rasa sakit akibat pengkhianatan di kantor itu sebenarnya hanyalah lapisan tipis dari penderitaan yang lebih besar. Saat kilat menyambar di langit, memori setahun lalu menghantamnya lebih keras daripada tetesan hujan.

"Vio, pelan-pelan bawa mobilnya. Ibu nggak telat-telat banget kok ke pengajiannya," suara lembut ibunya terngiang kembali.

"Nggak bisa, Bu! Vio ada janji sama klien penting jam empat. Kalau telat, bonus Vio bisa hangus!"

Decit ban di atas aspal yang licin. Lampu truk yang menyilaukan mata. Dan suara benturan logam yang mengerikan. Viona hanya mengalami luka lecet, tapi ibunya... ibunya harus kehilangan kemampuan untuk berjalan selamanya. Semua itu karena ambisinya. Karena keterburu-buruannya mengejar angka-angka di atas kertas yang kini, ironisnya, menghilang begitu saja dalam satu sore yang buruk.

Napas Viona mulai sesak. Tangis yang sejak tadi ia tahan kini meledak, menyatu dengan air hujan yang mengalir di pipinya. Ia berhenti di depan sebuah gang sempit, tubuhnya berguncang hebat. Ia ingin menghilang. Ia ingin dunia berhenti berputar, walau hanya untuk satu menit.

Saat itulah, di ujung pandangannya yang buram oleh air, sebuah halte bus muncul.

Halte itu tampak sangat aneh. Pilar-pilarnya terbuat dari kayu tua yang tampak keropos, seolah-olah berasal dari zaman kolonial yang tersesat di tengah modernitas Jakarta. Atap sengnya berkarat dan mengeluarkan bunyi klenteng-klenteng yang ritmis saat tertimpa hujan. Viona telah melewati jalan ini ribuan kali selama tiga tahun bekerja di sini, dan ia sangat yakin tak pernah ada halte di titik ini. Biasanya, hanya ada tembok beton tinggi yang dipenuhi coretan grafiti.

Didorong oleh rasa penasaran dan kedinginan yang mulai tak tertahankan, Viona melangkah menuju halte tersebut.

Di bawah atap halte yang sempit itu, duduk seorang pria tua. Pria itu mengenakan setelan jas hitam klasik dengan rompi abu-abu di dalamnya. Yang paling mencolok adalah betapa keringnya pakaian pria itu. Tidak ada satu pun bercak air di jasnya, seolah-olah hujan di sekelilingnya hanyalah dekorasi panggung yang tidak nyata, sebuah hologram yang tidak bisa menyentuhnya.

Di tangan kanannya, ia memegang sebuah payung hitam dengan gagang perak berbentuk kepala burung gagak yang sangat detail. Di saku kemejanya, terselip sebuah pena perak yang memancarkan cahaya biru redup, mirip dengan pendar lampu neon di kejauhan namun jauh lebih elegan.

Pria itu menoleh perlahan. Matanya berwarna abu-abu jernih, seperti permukaan danau yang tenang.

"Duduklah, Nak. Hujan ini akan sangat lama. Bahkan mungkin lebih lama dari yang bisa ditanggung oleh tubuh kecilmu itu," suara pria itu berat dan serak, mengingatkan Viona pada suara gesekan daun-daun kering di musim gugur.

Viona melangkah ragu, masuk ke dalam naungan halte. Seketika, keajaiban terjadi. Begitu kakinya menginjak lantai semen halte, suara bising klakson mobil, deru mesin bus, dan kebisingan hujan yang memekakkan telinga mendadak redup. Suasana menjadi hening secara tidak alami, menyisakan keheningan yang menyesakkan, seolah mereka berada di dalam sebuah kubah kedap suara.

"Namaku Alfred," lanjut pria itu tanpa menoleh lagi ke arah Viona. Ia menatap lurus ke depan, ke arah tirai hujan yang kini tampak seperti benang-benang kristal. "Aku adalah penjaga bagi mereka yang terjebak di antara penyesalan dan ketakutan. Kamu tampak seperti seseorang yang tidak hanya ingin pulang ke rumah, tapi ingin menghilang dari garis waktu."

Viona mengusap air mata dari pipinya dengan punggung tangan yang gemetar. "Siapa Anda sebenarnya? Dan... kenapa halte ini ada di sini?"

Tuan Alfred tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya namun mengandung simpati yang dalam. Ia meletakkan payung hitam dan pena perak itu di bangku kayu panjang di antara mereka.

"Tempat ini hanya muncul bagi mereka yang hatinya benar-benar hancur di bawah hujan yang tepat," ujar Alfred misterius. "Kamu bilang ingin memperbaiki segalanya, bukan? Aku mendengar bisikan jiwamu saat kamu melewati lampu merah tadi."

Viona terdiam. Bagaimana pria ini bisa tahu?

"Dua benda ini," Alfred menunjuk payung dan pena itu, "adalah kunci. Payung itu bisa membawamu kembali ke masa lalu, menghapus kecelakaan ibumu, memberikanmu kesempatan kedua. Tapi harganya adalah ingatan bahagiamu. Kamu akan menyelamatkan fisiknya, tapi kehilangan jiwanya dalam ingatanmu. Kamu nggak akan pernah ingat lagi gimana rasanya disayang sama dia."

Viona tersentak. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.

"Dan pena itu," sambung Alfred lagi, suaranya kini lebih rendah, "bisa menuliskan masa depan yang sempurna di telapak tanganmu. Sukses, kaya, dipuja semua orang. Tapi harganya adalah hatimu. Kamu akan jadi pemenang, tapi kamu nggak akan bisa ngerasain apa-apa lagi. Nggak ada bahagia, nggak ada sedih. Kosong."

Viona menatap kedua benda itu dengan pandangan nanar. Di satu sisi, ia sangat ingin ibunya sembuh. Di sisi lain, ia ingin membalas dendam pada Baskara dan menjadi orang sukses. Namun, harga yang diminta Alfred terasa begitu mengerikan.

"Kenapa harus saya?" tanya Viona dengan suara bergetar.

Alfred menatapnya dalam-dalam, lalu berbisik, "Karena kamu adalah orang pertama dalam seratus tahun yang berani memaki hujan saat semua orang hanya bisa mengeluh."

Viona tertegun. Ia teringat kembali pada ambisinya, pada egonya, dan pada wajah ibunya yang pucat di rumah sakit. Ia baru saja akan mengulurkan tangan ke arah payung hitam itu ketika sebuah bayangan gelap tiba-tiba melintas cepat di depan halte, lebih cepat dari kendaraan manapun. Bayangan itu berhenti tepat di depan mereka, meskipun wujudnya tidak jelas tertutup air hujan.

Alfred berdiri, wajahnya yang tenang berubah menjadi waspada. Ia menggenggam gagang payung gagaknya dengan erat.

"Viona, jangan ambil keputusan sekarang kalau kamu belum siap menghadapi apa yang ada di balik hujan ini," ucap Alfred dengan nada peringatan.

Viona mundur selangkah. "Apa itu? Siapa yang datang?"

Dari balik tirai hujan, sebuah suara berat dan dingin menyahut, melampaui keheningan halte yang ajaib.

"Dia tidak butuh barang-barang antikmu, Alfred. Dia butuh pembebasan yang abadi."

Viona membelalakkan mata. Suara itu... suara itu sangat mirip dengan suara ayahnya yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu.

"Ayah?" gumam Viona lirih.

Pria tua itu memandang Viona dengan tatapan tajam. "Jangan tertipu, Viona! Kamu pikir ini hanya soal memilih payung atau pena?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!