NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:512
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aliansi Para Hantu

​Hujan deras yang mengguyur Jakarta seolah menjadi tirai pelindung bagi rumah petak kumuh di pinggiran rel kereta api tempat Agil dan Laila bersembunyi. Suara kereta yang melintas setiap lima belas menit sekali menggetarkan dinding kayu yang rapuh, meredam isak tangis Laila yang tak kunjung usai.

​Agil duduk di sudut ruangan, hanya diterangi oleh sebatang lilin yang mulai meleleh. Di depannya, sebuah laptop tua dengan layar retak—yang ia beli dari pasar loak melalui perantara Gito—menampilkan berita utama di semua portal media: "Buronan Internasional: Agil Baskoro Melarikan Diri Setelah Menggelapkan Dana Proyek Strategis Nasional."

​Foto wajahnya terpampang jelas, namun bukan wajah Agil yang penuh luka saat ini, melainkan foto lama di mana ia tampak bersih dan naif.

​"Mas... apa yang akan kita lakukan?" suara Laila terdengar sangat lemah. Ia meringkuk di atas kasur tipis, memeluk lututnya. Gaun pesta mahalnya kini sobek di sana-sini, kontras dengan lantai semen yang kotor.

​Agil mendekat, mengusap kepala Laila dengan lembut. "Kita akan melawan, Laila. Tapi kali ini, aku tidak akan bermain di bawah lampu sorot. Aku akan menjadi hantu yang menghantui setiap langkah Papa sampai dia sendiri yang memohon untuk dihentikan."

​Jejak Sang Pengasing

​Pagi harinya, Gito datang dengan membawa pakaian bekas dan sedikit makanan. Wajahnya tegang. "Pak Agil, polisi dan orang-orang 'Praetorians' menyisir setiap hotel dan apartemen mewah. Mereka tidak menyangka Anda bersembunyi di lubang tikus seperti ini. Tapi ini tidak akan bertahan lama."

​"Gito, aku butuh kau mencari seseorang," ucap Agil sambil menyodorkan sebuah sobekan koran tua yang ia temukan di gudang Andy dulu. "Namanya Surya Wijaya."

​Gito terbelalak. "Surya Wijaya? Mantan menteri yang dipenjara karena kasus korupsi fiktif sepuluh tahun lalu? Dia dikabarkan sudah mati di penjara, Pak."

​"Dia tidak mati. Dia dipaksa 'mati' oleh Papa karena dia adalah satu-satunya orang yang memegang kunci brankas fisik dari yayasan rahasia kakekku sebelum Papa menguasai semuanya. Andy sempat memberikan koordinat terakhirnya sebelum dia berkhianat. Dia ada di panti jompo terpencil di Jawa Barat, menyamar sebagai orang gila."

​Agil menyadari bahwa untuk mengalahkan Baskoro, ia butuh "senjata legendaris". Surya Wijaya adalah mentor Baskoro sebelum akhirnya dikhianati dan dihancurkan. Jika ada orang yang tahu titik lemah psikologis dan finansial Baskoro yang paling dalam, itu adalah Surya.

​Penyamaran yang Menyakitkan

​Perjalanan menuju panti jompo tersebut adalah siksaan tersendiri. Agil harus memotong rambutnya hingga hampir botak dan mewarnai kulitnya agar tampak lebih gelap dan kusam. Laila juga harus menyamar sebagai wanita desa yang menderita gangguan mental—sebuah peran yang sayangnya tidak jauh dari kondisi jiwanya yang hancur.

​Saat mereka tiba di panti jompo "Cahaya Senja", bau obat-obatan dan keputusasaan menyambut mereka. Di pojok taman yang terbengkalai, seorang pria tua dengan rambut putih panjang sedang menatap pohon kamboja.

​"Pak Surya?" bisik Agil.

​Pria tua itu tidak menoleh. Ia justru tertawa kecil. "Baskoro mengirim anjing baru lagi? Katakan padanya, aku sudah lupa di mana aku mengubur hatiku, apalagi hartanya."

​"Saya bukan orang Baskoro. Saya Agil... anaknya," Agil berlutut di depan pria itu. "Dan ini Laila, korbannya."

​Surya Wijaya menoleh perlahan. Matanya yang keruh tampak meneliti wajah Agil. "Anak Baskoro? Kau punya mata yang sama dengan ibumu, Rina. Penuh luka tapi punya api. Kenapa kau ke sini?"

​"Papa mengambil istri saya. Dia menghancurkan hidup saya dan menjadikan saya buronan atas dosanya sendiri. Saya ingin dia merasakan apa yang Bapak rasakan sepuluh tahun lalu," ucap Agil dengan suara yang berat.

​Surya terdiam lama, lalu ia melihat ke arah Laila yang sedang duduk termenung di rumput. "Anak malang. Baskoro tidak pernah berubah. Dia pikir manusia adalah aset yang bisa ia klaim hak miliknya."

​Trik Lebih Pintar dari Sang Master

​Surya akhirnya membawa mereka ke dalam kamar kecilnya yang pengap. Di bawah tempat tidurnya, ia mengeluarkan sebuah kotak logam berkarat.

​"Kau pikir Proyek Icarus adalah senjata pamungkasnya? Bukan, Agil," Surya membuka kotak itu, memperlihatkan tumpukan buku catatan manual yang ditulis dengan tangan. "Icarus hanyalah umpan yang sengaja ia ciptakan untuk menangkap orang-orang ambisius seperti kau. Kekuatan asli Baskoro ada pada 'Daftar Hitam Senopati'."

​"Daftar Hitam?" tanya Agil.

​"Daftar semua orang penting di negeri ini yang memiliki rekaman video atau bukti kejahatan yang disimpan oleh Baskoro. Dia tidak memimpin dengan uang, dia memimpin dengan rasa takut. Jika kau hanya menyerang keuangannya, dia akan diselamatkan oleh orang-orang yang ia sandera itu."

​Surya menatap Agil dengan serius. "Jika kau ingin menang, kau tidak boleh hanya menghancurkan bisnisnya. Kau harus mencuri 'Daftar' itu dan meledakkannya dari dalam. Tapi hati-hati, begitu kau membuka daftar itu, kau akan menjadi musuh bagi seluruh elit negeri ini, bukan hanya ayahmu."

​Perangkap Baskoro: Umpan Laila

​Di Jakarta, Baskoro tidak tinggal diam. Ia tahu Agil tidak akan menyerah begitu saja. Di kantornya yang megah, Baskoro sedang berbicara dengan Pak Hartono, pengacaranya.

​"Agil sudah menemui Surya Wijaya," ucap Hartono sambil melihat laporan GPS dari mata-mata di panti jompo.

​Baskoro menyesap cerutunya. "Sudah kuduga. Dia akan mencari orang yang paling membenciku. Biarkan saja. Biarkan dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku sudah menyiapkan 'kejutan' di dalam daftar itu."

​Ternyata, Baskoro sengaja membiarkan koordinat Surya Wijaya terlacak oleh Andy untuk diberikan kepada Agil. Baskoro tahu bahwa Agil akan mencari cara untuk membersihkan namanya, dan satu-satunya cara adalah dengan memegang rahasia para pejabat.

​"Tuan, bukankah itu berisiko? Jika Agil benar-benar memegang daftar itu, dia bisa menghancurkan kita semua," tanya Hartono cemas.

​Baskoro tersenyum licik. "Daftar yang ada pada Surya adalah daftar palsu yang sudah aku modifikasi. Di dalamnya ada satu nama yang jika Agil sebarkan, akan memicu kemarahan organisasi yang jauh lebih besar dari kepolisian. Agil akan dianggap sebagai teroris informasi. Pada saat itu, dunia tidak akan lagi memburunya sebagai koruptor, tapi sebagai ancaman keamanan nasional. Dia tidak akan pernah bisa kembali."

​Baskoro mematikan cerutunya di asbak perak. "Dan saat Agil terpojok dan tidak punya pilihan lain, dia akan datang merangkak padaku, memohon agar aku menyelamatkan nyawanya. Pada saat itulah, aku akan memiliki Laila selamanya, tanpa gangguan darinya lagi."

​Malam di Panti Jompo

​Tanpa menyadari bahwa ia sedang masuk ke dalam perangkap baru, Agil mulai mempelajari dokumen dari Surya. Laila tidur di sampingnya, nafasnya mulai teratur meski sesekali ia mengigau ketakutan.

​Agil merasa ia sudah sangat dekat dengan kemenangan. Ia melihat nama-nama besar di dalam buku itu. Nama-nama yang bisa mengguncang negara.

​"Besok kita berangkat ke Jakarta, Gito," ucap Agil lewat pesan singkat. "Kita akan menyerahkan bukti ini ke media independen internasional."

​Namun, di kegelapan malam, mata Surya Wijaya yang tua tampak berkaca-kaca saat melihat Agil. Ia tahu ada sesuatu yang salah, tapi ia terlalu takut untuk bicara. Ia tahu bahwa Baskoro tidak pernah membiarkan sesuatu yang penting tertinggal begitu saja di bawah tempat tidur seorang orang gila di panti jompo.

​Perjuangan Agil kini bukan lagi sekadar pelarian, melainkan jalan setapak sempit di atas jurang yang penuh dengan ranjau. Baskoro telah memainkan trik yang jauh lebih pintar: ia memberikan Agil "senjata" yang sebenarnya adalah sebuah bom yang akan meledak di tangan Agil sendiri.

​Ketegangan meningkat saat fajar menyingsing. Agil bersiap melakukan perjalanan kembali ke ibu kota, membawa "harta karun" yang ia pikir akan menyelamatkannya, tanpa tahu bahwa di setiap jengkal jalan, pasukan Baskoro sudah menunggu untuk menutup jebakan tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!