Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bukan kriteria
Sudah masuk hari ke 5 Maya dirawat. Zee benar-benar menunggui Maya selama 5hari itu pula. Ia hanya pulang beberapa kali untuk mengambil pakaian ganti saja.
Emak selalu menanyakan kondisi Maya setiap kali Zee pulang kerumah. Meskipun Maya bisa dibilang salah jalan, namun emak tahu pasti jika Maya adalah orang baik yang selalu menjaga Zee. Oleh sebab itu pula emak sayang pada Maya seperti pada anaknya sendiri juga.
Hari ini Maya sudah diizinkan pulang oleh dokter. Hanya tinggal menunggu obat yang sudah diresepkan oleh dokter
"Kamu beneran nggak ngabarin keluarga kamu May? ". Tanya Zee yang tengah membereskan barang-barang miliknya dan juga Maya. Memastikan tak ada yang tertinggal dirumah sakit.
" Nggak lah. Ngapain juga dikasih tau". Sahut Maya acuh sembari bermain ponsel.
Zee menatap Maya sejenak, ia tahu betul bagaimana hubungan Maya dan keluarga nya. Bisa dibilang hubungan mereka sangat sangat tidak baik. Orang tua mana memangnya yang ingin melihat anak lelaki yang dibanggakan justru berperilaku seperti seorang perempuan.
"Ya sudah kalau itu keputusan kamu.. " Zee kembali menekuni kegiatan nya membereskan pakaian milik Maya.
Keduanya menoleh saat pintu ruangan terbuka.
"Gimana kabarnya May? ". Maya tersenyum cerah melihat siapa yang datang sore itu.
" Iiih.. ada ayang Bara". Seru Maya kegirangan membuat Zee menggelengkan kepalanya pelan.
"Ya ampun.. semua ayang ada disini deh, Maya jadi seneng banget". Pekik Maya ketika melihat bukan hanya Bara yang datang. Namun semua teman dekat bos nya datang menjenguk dirinya.
" Maaf baru sempat menjenguk May.. " Ucap Zacky membuat Maya menggeleng cepat.
"Nggak apa-apa.. Maya dijenguk sekarang juga udah seneng banget". Zee sedikit bergidik melihat gaya centil Maya.
" Istighfar May.. " Peringat Zee pada Maya yang langsung mencebikkan bibirnya.
"Kamu nggak bisa banget liat eike seneng deh Zee.. " Gerutu Maya membuat Zee melirik sekilas dan merotasi kan bola matanya.
"Serah kamu deh May.. " Akhirnya Zee acuh dan membiarkan Maya melakukan apa yang diinginkan.
"Perlu bantuan Zee?? ". Tanya Bara menatap Zee yang terlihat sibuk sendiri.
" Tidak usah pak Bara, sudah mau selesai kok.. " Sahut Zee menoleh sekilas dan memberikan senyumnya pada Bara.
"Jangan selalu tersenyum begitu Zee. Lama-lama aku bisa diabetes". Zee yang sudah biasa mendengar gombalan Bara hanya memutar bola matanya, jengah.
Berbeda dengan Maya yang menanggapi gombalan Bara dengan serius.
" Ayang Bara punya penyakit gula memangnya? ". Bara menatap Maya sesaat kemudian tertawa.
" Wah, kayanya gara-gara kena tusuk, otakmu itu sedikit menurun fungsi nya May.. " Ucapan David membuat Maya bingung.
"Maksudnya gimana sih? Eike bingung deh.. Kan yang kena tusuk perut eike bukan kepala" Jawaban Maya kian memantik tawa semua orang.
"Maksudnya pak Bara itu cuma ngegombal May. Mana ada penyakit diabetes disebabkan senyuman. Ish kamu tuh.. " Zee menjelaskan sambil memukul pelan lengan Maya yang langsung diam mencerna ucapan Zee.
"Ooooh.. astaga. Kok eike jadi lemot ya.. " Pekik Maya membuat semua yang disana tertawa.
"Apa yang sebenarnya disembunyikan gadis itu. Kenapa aku merasa ada yang lain dari tawanya". Sejak tadi hanya diam saja, namun rupanya Ben yang juga ikut menjenguk Maya memperhatikan Zee sejak tadi.
" Saya setuju bos. Zee memang cantik, seperti nya cocok dijadikan pendamping hidup". Si asisten gila tiba-tiba berbisik ditelinga Ben hingga membuat lelaki bule itu terkejut.
Ben langsung menoleh, menatap Zacky yang juga tengah menatapnya sambil mengangguk kan kepalanya seolah sepemikiran dengan bos nya
"Tutup saja mulutmu itu Zack". Sengit Ben menatap sinis asisten nya itu. Asisten yang tak memiliki rasa takut pada bos nya.
Jika saja tidak mengingat bagaimana kemampuan asisten nya itu, sudah sejak lama Ben memecatnya. Namun sejauh ini, hanya Zacky yang mampu mengimbangi kegilaannya terhadap pekerjaan.
" Saya serius bos. Sepertinya bos juga tertarik pada Zee. Perlu bantuan saya bos? ". Goda Zacky pada Ben.
" Siapa yang tertarik? Dia tidak masuk kriteria ku Zack ". Kilah Ben membuat Zacky menyunggingkan senyum miring.
" Memang seperti apa kriteria anda itu? ". Tanya Zacky dengann seulas senyum. Selama ini bos nya itu selalu bilang jika semua perempuan yang dikenalkan ibunya tidak sesuai kriteria nya. Lantas seperti apa kriteria wanita idaman bos nya itu, Zacky penasaran menunggu jawaban.
Sementara Ben tampak mengerutkan keningnya. Bingung mau menjawab bagaimana pertanyaan Zacky yang sebenarnya sangat sederhana.
Ben kembali menatap Zee. Gadis itu selalu murah senyum, menularkan aura positif dan membuat orang disekitarnya ikut tersenyum melihat keceriaan nya.
Namun melihat bagaimana paniknya Zee saat Maya terluka, Ben meyakini ada sebuah trauma hebat yang pernah gadis itu alami.
Zee menatap orang-orang yang tengah mengobrol di ruang rawat Maya, ia lalu berinisiatif mengupas buah apel yang masih ada untuk dihidangkan sembari menunggu perawat mengantarkan obat dan surat pengantar untuk check up Maya nantinya.
" Silahkan dimakan pak.. " Zee meletakkan sepiring apel yang sudah ia kupas dan ia potong. Ia juga mengeluarkan beberapa botol air mineral yang tadi sempat ia masukkan dalam kantong plastik.
"Kamu benar-benar istri idaman Zee.. " Bara kembali memuji Zee yang tampak biasa saja. Zee sudah lama mengenal Bara, teman dari bos nya itu memang suka mengumbar pesona dan kata-kata manis pada hampir semua gadis. Jadi Zee tidak pernah menganggap serius semua yang diucapkan Bara.
"Terimakasih pak. Tapi pasti bukan istri idaman untuk pak Bara.. " Balas Zee telak membuat Bara menggaruk keningnya yang sebenarnya tidak gatal sambil tersenyum.
"Kau memang terbaik Zee. Sejauh ini hanya kamu yang tidak mempan oleh gombalan manusia ini". David tertawa puas, selama berteman dan mengenal Bara, memang hampir semua wanita terkena tipu daya Bara, hingga saat ini hanya Zee saja yang tetap acuh dan tak peduli dengan gombalan yang selalu Bara lancarkan ketika bertemu.
Ruang rawat itu kembali penuh dengan tawa. Maya menaikkan sebelah alisnya saat tak sengaja melihat Ben memperhatikan Zee. Sesaat kemudian bibirnya menyunggingkan senyum penuh arti.
...☘️☘️☘️☘️...
" Ayo masuk.. " Emak membukakan pintu untuk Zee yang membawa Maya pulang ke rumahnya.
Sebelumnya emak dan Zee sudah berunding, mereka akan menampung Maya sampai lelaki itu benar-benar pulih dari sakitnya.
Namun sebelum itu, Zee melapor terlebih dahulu ke rt setempat untuk menghindarkan dirinya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Baru setelah mendapat persetujuan dari rt setempat Zee berani membawa Maya.
"Hati-hati May.. " Peringat Zee.
"Aku udah sembuh Zee.. astaga". Maya sampai menggelengkan kepalanya melihat kekhawatiran Zee.
" Inget pesen dokter May, harus hati-hati. Luka nya juga harus dijaga supaya tetap bersih". Maya menghela nafas panjang. Sejak tadi Zee terus mengingatkan dirinya.
"Iya.. iya.. ibu kos. Aduh serasa ada emak gw deh.. " Oceh Maya membuat emak tertawa pelan.
"Sementara kamu tidur dikamar aku ya, nanti aku tidur sama emak". Jelas Zee kemudian.
" Aku pulang ke kost an aku aja deh.. nggak enak disini nanti ngerepotin ". Ucap Maya sungkan, ia merasa merepotkan Zee dan emak jika menumpang disana.
" Nanti kalo mas Ilham sudah pulih betul baru boleh pulang. Sementara disini dulu saja.. " Emak menimpali membuat Maya menghela nafas pasrah.
"Nanti malem aku mulai kerja, kamu dirumah sama emak nggak apa-apa kan May? ". Tanya Zee.
Ia sudah cukup lama izin dan tidak masuk bekerja. Ia merasa sungkan pada Leon dan juga tak enak pada teman kerja nya yang lain.
" Ish.. kaya ke siapa sih Zee. Nggak usah mikirin aku lagi.. aku udah baik-baik aja sekarang ". Maya menenangkan Zee. Meski luka nya kadang masih terasa nyeri, namun sudah jauh lebih baik. Apalagi obat-obatan yang diberikan adalah yang terbaik, sesuai permintaan Leon.
" Mas Ilham istirahat saja dulu.. kamarnya sudah emak bereskan". Maya mengangguk dan bangkit dari duduknya.
Sementara Zee masuk kedalam kamar emak setelah sebelumnya mengantar Maya ke kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, ia harus segera mandi dan bersiap.
Satu jam berlalu, kini Maya serta emak dan Zee sudah duduk di meja makan. Maya memperhatikan penampilan Zee, menatap intens wajah cantik itu.
Tidak ada yang kurang dari seorang Zee. Wajahnya cantik, pun dengan hatinya. Kepribadian nya tak usah ditanyakan lagi. Bisa diibaratkan Zee adalah wanita sempurna.
Ingin sekali Maya menjadi lelaki sejati dan menjadikan Zee sebagai pendamping nya. Namun ia tak bisa. Benar-benar tidak bisa merasakan ketertarikan pada seorang wanita. Bahkan wanita secantik dan sebaik Zee sekalipun.
...¥¥¥°°°¥¥¥...
...Alurnya pelan aja ya bestieee.. kita selow-selow saja dulu yaa😊...
...Happy reading semuanyaa 🫰🫰 semoga suka dan semoga kedepannya semakin banyak yang mampir baca tulisanku ini🤲😇...
...Sarangheyo readerskuuhh💋💋💋 🥰🤩❤😍❤💋😘😘😘❤😘❤...