NovelToon NovelToon
PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Konglomerat berpura-pura miskin / Wanita Karir / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: F.A queen

Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.

Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.

Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.

Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.

Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.

Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.

“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”

Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIGA BELAS

Lift berhenti! lembut, tapi suasananya justru makin tegang. Mikhasa diam di tempat, menunggu Axel melangkah lebih dulu. Tatapannya lurus ke depan, tapi dari sudut matanya dia bisa melihat refleksi Axel di dinding lift.

“Mau digandeng?” tanya Axel dengan nada menggoda, seolah menikmati kecanggungan ini.

Mikhasa menoleh, menatapnya tajam. “Nggak.” Jawabnya cepat.

Alis Axel terangkat. “Kenapa nggak buruan keluar?”

“Kamu bosnya, ya kamu duluan lah yang keluar,” jawab Mikha sengit.

Axel terkekeh pelan, lalu menunduk sedikit, suaranya rendah dan lembut. “Baiklah, Nona sopan santun.” Ia melangkah keluar dengan langkah tenang.

Mikhasa mendengus pelan sebelum akhirnya mengikuti dari belakang. Bau parfum maskulin Axel masih terasa kuat, membuat jantungnya berdebar tak karuan. Kenapa sih cowok ini harus wangi banget dan nyebelin banget di saat bersamaan? Kan nyebelin.

Mereka berjalan di sepanjang koridor berkarpet tebal menuju ruangan besar di ujung. Dua staf yang berpapasan segera menunduk memberi salam, sementara Axel hanya mengangguk ringan tanpa menghentikan langkahnya.

Begitu pintu ruangan besar itu terbuka, Mikhasa hampir terpana. Ruang kerja Axel benar-benar seperti ruangan big boss di drama Korea, dinding kaca tinggi dengan pemandangan kota, rak buku elegan, dan meja kerja besar yang tampak terlalu rapi untuk pria arogan seperti dia.

Axel segera duduk di kursi kerjanya dengan gerakan tenang. Kursinya berputar sedikit menghadap Mikhasa. “Duduklah, Mikhasa."

“Di sini?” tanya Mikhasa sambil menunjuk kursi di depan meja.

Axel mengangguk pelan, bibirnya melengkung tipis. “Di lantai juga boleh, kalau kamu mau.”

“Kamu pikir aku kucing?” sergah Mikhasa, langsung menarik kursi dan duduk dengan kesal.

“Letakkan surat lamaran kamu di atas meja,” ujarnya santai, tapi nadanya seperti perintah militer.

Pelan, Mikhasa meletakkan surat lamarannya di atas meja kerja Axel, meja besar dari kayu gelap yang tampak terlalu mahal untuk disentuh. Ia menunduk sedikit, tak berani menatap mata pria itu terlalu lama.

Axel mengambil berkas itu perlahan, membukanya, dan membaca dengan tatapan datar. Ruangan itu senyap.

Mikhasa mengigit bibir. Setiap detik terasa seperti ujian kesabaran. Ada banyak alasan kenapa ia seharusnya tidak berada di ruangan ini. Tapi setiap kali ingatan itu datang, tentang Axel yang ternyata sakit dan bahkan sempat ingin mengakhiri hidupnya, dadanya selalu terasa sesak.

Ia tidak suka Axel. Tidak suka sikapnya yang seenaknya. Tapi di sisi lain, ia tidak bisa menyingkirkan kekhawatiran yang tumbuh begitu saja.

Axel memang keras kepala, tapi tubuhnya tidak sekuat itu. Dan meski Mikhasa tidak mau mengakuinya, ia tidak ingin Axel kenapa-kenapa.

“Jadi aku harus nerima kamu atau nggak nih?” suara Axel memecah lamunannya. Matanya menatap tajam dari balik map lamaran.

Mikhasa berkedip, tersentak kecil. “Hm?”

Axel menutup map itu pelan. “Kalau kuterima, takut tiba-tiba kamu ngundurin diri lagi.” Ada senyum samar di bibirnya.

“Kali ini nggak bakal, Tuan.” Mikhasa berusaha terdengar tegas. “Tolong terima saya. Saya… sangat butuh pekerjaan ini, Tuan. Mohon bantu saya.”

Axel menatapnya beberapa detik, sebelum akhirnya tertawa kecil. Suara tawanya agak serak, tapi tidak menyebalkan kali ini. “Kamu tuh unik, ya,” katanya sambil meletakkan map itu di meja. “Sebentar marah-marah, sebentar kesel, sebentar patuh, terus sekarang kayak minta dikasihani.”

Mikhasa menatap Axel. 'Kalau bukan karena empatiku yang tinggi ini, aku sih ogah deket-deket cowok kayak kamu, Axel. Serem. Suka maksa, suka seenaknya. Nyebelin.'

“Oke, kamu diterima di perusahaan ini." Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Axel dengan mudah.

Mata Mikha langsung berbinar, binar yang sebenarnya ia paksakan. Lalu tersenyum lebar hampir seperti iklan pasta gigi. Ia membungkuk sedikit di kursinya, pura-pura bahagia.

“Terima kasih banyak, Tuan Axel. Terima kasih banyak!” ucapnya cepat. Lalu, dengan suara lembut ia menambahkan. “Semoga Anda sehat selalu dan panjang umur.”

Kalimat itu meluncur begitu tulus, bahkan Mikhasa sendiri tak sadar betapa seriusnya ia mengucapkan itu. Meskipun Axel menyebalkan tapi ia ingin Axel sehat dan panjang umur.

Axel terdiam. Senyum samar di wajahnya lenyap, digantikan sorot mata yang sendu, nyaris tak terlihat oleh siapa pun. Ada jeda panjang sebelum ia mengangguk perlahan.

Dalam diam, jantungnya berdetak sedikit lebih berat dari biasanya. Nyeri samar menjalar di dada kirinya, mengingatkan pada luka akibat benturan keras tiga tahun lalu. Mengingat bahwa jantung ini tidak baik-baik saja.

Ia tahu… jantungnya bisa berhenti berdetak kapan saja. Tapi mendengar Mikhasa mendoakannya 'panjang umur', entah kenapa dadanya terasa hangat.

“Kamu mulai bekerja hari ini," kata Axel rendah. Ia menekan tombol interkom di meja. Suara elektronik berbunyi pelan. Tak lama, pintu terbuka dan asisten pribadinya masuk.

“Tuan Axel, Anda memanggil?”

“Ya.” Axel membuka laptop dan mengetik cepat sebelum mengirimkan sesuatu ke perangkat asistennya. “Siapkan kontrak kerja Nona Mikhasa. Poin-poin tambahan sudah saya kirimkan.”

Asisten itu membungkuk hormat. “Baik, Tuan. Akan segera saya siapkan.”

Ia lalu keluar dengan langkah tenang dan sopan, meninggalkan keduanya dalam keheningan yang agak janggal.

Axel menutup laptopnya pelan. “Sambil nunggu kontrak kerja, kamu boleh tetap duduk diam di situ.”

Mikhasa mengerjap, menatap Axel yang kini sedang menyandarkan tubuhnya di kursi kulit hitam dengan tangan terlipat.

“Saya harus apa, Tuan?” tanya Mikhasa

“Nyanyi,” sahut Axel enteng tetap menatapnya.

Mata Mikhasa langsung melebar. “Nyanyi?! Yang bener aja.”

“Kamu tadi nanya harus ngapainkan?"

“Ya tapi bukan nyanyi juga, Tuan. Saya bukan pengisi acara kantor,” protes Mikhasa.

Axel mencondongkan tubuh sedikit. “Jadi, kamu nolak perintah boss di hari pertama kerja?”

Mikhasa menghela napas panjang. Tuh kan, suka maksa. Emang dasarnya nyebelin banget nih orang.

“Baik, kalau Tuan Axel mau saya nyanyi, saya nyanyi.”

Ia membersihkan tenggorokannya, menegakkan punggung, lalu mulai dengan nada asal-asalan.

“Balonku ada lima…” Suara Mikhasa menggema di ruang kerja mewah itu.

Axel spontan menunduk, menutupi tawa dengan tangan. “Serius? Balonku ada lima?”

“Ya, itu lagu yang saya hafal,” jawab Mikhasa datar. “Atau mau saya lanjut ‘Cicak di Dinding’?"

Axel akhirnya tertawa keras, tawa yang jarang sekali terdengar di ruangan itu. Suara beratnya bergema dan membuat Mikhasa sedikit tertegun. Gadis itu tersenyum. Ikut merasa bahagia melihat tawa Axel.

'Hidup itu indah, Tuan. Jangan mati dulu ya.'

Tawa itu... entah kapan Axel tidak memilikinya. Mungkin sejak tiga tahun yang lalu. Dan tawa itu kembali dengan mudah saat ini. Tidak, bukan hanya saat ini, tawa itu bahkan kembali saat mereka pertama bertemu, saat Mikhasa mengatakan ingin bunuh diri tapi sebenarnya takut mati.

🍀🍀🍀

Malam ini, lampu kamar Mikhasa redup. Dia bersiap untuk tidur. Ponselnya bergetar di sisi bantal. Nama di layar membuat jantungnya berdegup pelan. Nyonya Mercier.

Dengan ragu, Mikhasa menekan tombol hijau.

“Halo, Nyonya?”

“Malam, Mikhasa.” Suara lembut itu terdengar agak serak, seperti menahan emosi. “Aku bahagia kamu berhasil bertemu Axel hari ini. Dan… apa kau tahu? Dia datang ke rumah sakit tanpa paksaan petang tadi.”

Mikhasa membeku, pandangannya kosong ke arah langit-langit. Ia bisa mendengar senyum lega dalam nada suara Nyonya Mercier.

“Terdengar seperti anak kecil, ya?” lanjut Nyonya Mercier pelan. “Ya, Axel kami memang begitu. Terkadang keras kepala, tapi juga manis. Harus ada iming-iming kecil agar dia mau melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.”

Suara tawa lembut terdengar, tapi di baliknya ada isak samar yang nyaris tak terdengar.

Mikhasa diam. Tidak tahu harus berkata apa. Dalam hatinya, rasa iba bercampur rasa bersalah. Nyatanya, dia melakukan ini demi uang.

Di seberang sana, Nyonya Mercier menarik napas panjang. “Mikhasa, terima kasih… sudah bersedia bertemu Axel lagi.” Suaranya lirih tapi penuh makna. “Mungkin kau tak menyadarinya, tapi kehadiranmu membuat dia sedikit lebih hidup hari ini.”

Hening sejenak. Hanya suara napas Nyonya Mercier yang lembut.

“Saya hanya melakukan apa yang Nyonya minta,” jawab Mikhasa akhirnya, pelan. Tapi bahkan di telinganya sendiri, kata-kata itu terdengar seperti pembelaan yang lemah.

“Aku tahu,” bisik Nyonya Mercier. “Tapi kadang hal kecil seperti itu… bisa berarti besar bagi seseorang yang hampir kehilangan semangat.”

Telepon berakhir dengan ucapan selamat malam yang tenang. Namun setelah panggilan berakhir, Mikhasa masih terdiam lama, menatap layar ponselnya yang gelap.

1
☀IKA APRIL SSC🌷
dapet julukan baru lagi skrg wkwkwkwkwkkk Mikha si alien udah 4 julukan klo gk salah 😂
Nda
🤣🤣oh kacamata.. 🤭gra² kacamata ya..
taju gejrot
Mikha gampang tersenyum saat bersama orang lain karena gak ada tekanan😂
Nay@ka
intinta cuma patuh mikha...jgn ngeyel ntar tuan muda ngambek🤣
Nay@ka
pas banget..buka apk ada yg up tuh💃
Momogi
wakakakkkk sabar, tuan. sabaarrrr😆
Momogi
karena axel pikir kamu suka pria berkaca mata 🤣🤣
Momogi
Langsung pake kaca mata dooong 🤣🤣🤣 ciee yg cari perhatian cieee
Momogi
uhukkk awaaasss ya
Momogi
bisa dong. kenapa? kesel ya liat mikha senyum ke orang lain
Momogi
semoga setelah ini kalian akur ya
Momogi
alahh bilang aja cemas mikha pake alesan short drama
Momogi
timpuk aja Mikha, timpuk 🤣🤣
Momogi
semoga kamu segera sadar ya akan luka hati Mikha. jangan bikin dia sedih
Momogi
berharap ini happy end buat kalian. sama2 saling menyembuhkan
Momogi
Yuhuuu mantap Mikha jangan mau ditindas Axel
Momogi
untungnya Mikha tau tentang ini lebih dlu jadinya dia ga bakal nyesek
Momogi
nyesek banget perjalanan hidupmu mikha 😭
Momogi
ya ampun mikha 🥺 kamu dimanfaatin keluarga bibimu ternyata ya
Momogi
Aihh kok kita sama sih. curiga besok aku ketemu cogan ternyata ceo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!