Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.
Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB Jejak Yang Tidak Pernah Hilang
Empat tahun lalu, kehidupan Mira Lestari berjalan dalam garis yang sederhana. Ia bekerja sebagai office girl di sebuah gedung perkantoran besar di pusat kota. Setiap pagi ia datang lebih awal, mengenakan seragam yang selalu rapi, rambut diikat sederhana, wajah tanpa riasan. Mira bukan tipe yang suka menonjol. Ia bekerja, menyelesaikan tugas, lalu pulang tanpa banyak bicara.
Bagi Mira, pekerjaan itu adalah pegangan hidup. Gajinya tidak besar, tetapi cukup untuk bertahan di kota dan mengirim sedikit uang ke kampung. Ia jarang mengeluh. Ia percaya, selama ia bekerja dengan jujur, hidup akan membawanya ke jalan yang lebih baik.
Sore itu, seperti hari-hari sebelumnya, Mira hampir selesai membersihkan lantai bawah. Tubuhnya sudah lelah, tetapi pikirannya ringan karena sebentar lagi ia bisa pulang. Saat ia hendak menuruni tangga, suara Bu Rini, supervisornya, memanggil dari kejauhan.
“Mira.”
Mira berhenti dan menoleh. “Iya, Bu?”
“Tolong bersihkan satu ruangan lagi di lantai lima,” kata Bu Rini singkat, seolah permintaan itu hal biasa.
Mira sempat ragu. Jam kerjanya hampir habis. “Sekarang, Bu?”
“Iya. Sebentar saja,” jawab Bu Rini tanpa menatapnya lama.
Mira mengangguk. Ia tidak pernah membantah. Dengan membawa perlengkapan kebersihan, ia naik ke lantai lima. Lorong di lantai itu lebih sepi dibanding lantai lainnya. Lampu menyala terang, tetapi suasananya terasa sunyi.
Ruangan yang harus ia bersihkan adalah salah satu ruangan kerja pimpinan. Nama di pintu tertulis jelas, namun Mira tidak terlalu memperhatikannya. Ia hanya fokus bekerja. Ia menyapu lantai, mengelap meja, lalu masuk ke toilet kecil di dalam ruangan.
Pikirannya hanya satu: cepat selesai, lalu pulang.
Saat Mira sedang membungkuk membersihkan wastafel, suara pintu terbuka keras membuatnya terkejut. Ia menoleh refleks.
Seorang pria masuk dengan langkah tidak stabil. Bajunya kusut, wajahnya memerah, dan ucapannya terdengar tidak jelas, seperti orang yang sedang marah atau kehilangan kendali.
Mira membeku di tempat.
Ia mengenali pria itu. Adit.
Salah satu atasan di gedung itu. Orang yang selama ini hanya ia lihat dari jauh, sosok yang tidak pernah berbicara langsung dengannya. Mira menelan ludah, jantungnya berdetak cepat.
“Pak…” ucapnya pelan, berniat keluar dan menghindari situasi yang membuatnya tidak nyaman.
Namun sebelum ia sempat melangkah, pandangan Adit tertuju padanya. Tatapannya kosong, tidak fokus. Tanpa peringatan, ia mendekat dan menarik Mira ke dalam pelukannya.
“Pak, jangan…” suara Mira bergetar, tangannya berusaha mendorong.
Tenaga Adit jauh lebih kuat. Mira berontak, tetapi tubuhnya seperti terkunci. Ruangan itu terasa semakin sempit. Suaranya teredam. Tangisnya pecah, tetapi tidak ada yang mendengar.
Waktu berjalan tanpa belas kasihan.
Ketika semuanya berakhir, Mira terduduk di lantai dengan tubuh gemetar. Air matanya mengalir tanpa bisa ia hentikan. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba menahan rasa hancur yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Adit berdiri tidak jauh darinya. Napasnya berat. Kesadaran perlahan kembali, digantikan wajah panik dan gugup.
“Ini… ini cuma kesalahan,” ucapnya cepat. “Jangan pernah cari aku.”
Mira mengangkat wajahnya perlahan. Di balik matanya yang basah, ada harapan kecil—harapan akan penyesalan, permintaan maaf, atau tanggung jawab.
Namun yang keluar justru kalimat yang lebih menyakitkan.
“Kalau kamu hamil,” lanjut Adit dingin, “gugurkan saja. Aku akan kasih uang. Anggap ini selesai.”
Kalimat itu menghantam Mira lebih keras dari apa pun. Dadanya terasa sesak. Ia tidak mampu menjawab. Tangisnya jatuh tanpa suara.
Adit pergi begitu saja, meninggalkan Mira sendirian di ruangan itu.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Mira tidak pernah kembali ke gedung perkantoran. Ponselnya ia matikan. Seragam kerjanya terlipat rapi di sudut kamar kontrakan kecil yang ia tempati sendirian. Setiap kali ia menatapnya, dadanya terasa sesak, seolah napasnya tertahan.
Mira mengurung diri. Ia takut bertemu orang. Takut ditanya. Takut diingatkan. Tubuhnya memang berada di kamar sempit itu, tetapi pikirannya terjebak di satu sore yang terus berulang dalam ingatan. Setiap malam, Mira terbangun dengan tubuh berkeringat dan napas tersengal.
Uang yang diberikan Adit masih tersimpan di dalam tas kecilnya. Ia tidak pernah menghitungnya. Uang itu terasa kotor, tetapi ia juga tidak tahu harus berbuat apa selain menyimpannya. Bukan karena ia menginginkannya, melainkan karena ia benar-benar tidak punya pegangan lain.
*Sebulan berlalu.
Tubuh Mira mulai memberi tanda-tanda yang tidak biasa. Pagi hari ia sering mual. Kepalanya pusing, badannya lemas. Awalnya ia mengira kelelahan atau stres. Namun hari demi hari, rasa itu semakin kuat, semakin nyata.
Hingga suatu pagi, Mira duduk terdiam di tepi ranjang dengan tangan gemetar, menatap hasil pemeriksaan yang baru saja ia lakukan.
Ia hamil.
Dunia terasa berhenti berputar. Suara di sekitarnya menghilang. Mira memeluk perutnya sendiri tanpa sadar, air mata jatuh membasahi pipinya. Ia tidak berteriak, tidak menangis keras. Hanya diam, seolah seluruh tenaganya habis dalam satu tarikan napas.
Ia mencoba berpikir. Orang tuanya di kampung. Ia tidak berani pulang. Ia takut menghadapi pertanyaan, takut pada penilaian, takut pada rasa malu yang mungkin akan menghancurkan mereka semua. Ia sendirian. Benar-benar sendirian.
Malam itu, Mira duduk bersandar di dinding kamar, memeluk lututnya. Tangisnya pecah perlahan. Semua emosi yang ia tahan selama ini akhirnya tumpah. Marah, sakit hati, takut, dan putus asa bercampur menjadi satu.
“Kenapa harus aku…” bisiknya lirih.
Dalam benaknya terlintas wajah Adit. Kata-kata dinginnya. Sikapnya yang pergi begitu saja. Tidak ada tanggung jawab, tidak ada rasa bersalah.
Mira mengusap wajahnya dengan kasar. Matanya memerah, tetapi sorotnya perlahan berubah. Di balik luka dan ketakutan itu, tumbuh tekad yang pahit.
“Baiklah, Pak Adit,” ucapnya pelan dengan suara bergetar. “Kalau ini caramu…”
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Aku bersumpah,” lanjutnya lirih namun tegas, “anak ini akan lahir. Dan suatu hari nanti, Pak Adit tidak akan memiliki anak lain selain anak yang aku kandung ini.”
Sumpah itu terucap bukan karena kebencian semata, melainkan karena luka yang terlalu dalam untuk diabaikan.
Kehamilan Mira berjalan dengan penuh keterbatasan. Ia jarang memeriksakan diri ke dokter. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena uang yang ia miliki harus dihitung dengan sangat hati-hati. Ia bekerja serabutan—membersihkan rumah orang, mencuci pakaian, apa pun yang bisa memberinya upah kecil.
Tubuhnya sering lelah. Kakinya membengkak. Punggungnya nyeri. Namun setiap kali rasa itu datang, Mira hanya mengelus perutnya dan berbisik pelan, seolah anak di dalam sana bisa mendengarnya.
“Kita bertahan, ya.”
Hari demi hari berlalu. Hingga akhirnya, di sebuah klinik sederhana, Mira melahirkan seorang bayi laki-laki. Tangis pertama itu membuatnya menangis lebih keras dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak semua kejadian itu, Mira merasakan sesuatu yang murni.
Cinta.
Ia memeluk bayinya dengan tangan gemetar, air mata membasahi pipi kecil itu. “Maaf ya,” bisiknya. “Mama tidak punya apa-apa. Tapi mama punya kamu.”
Mira menamai anak itu dengan penuh makna. Sebuah nama sederhana, doa yang ia titipkan untuk masa depan yang belum pasti. Sejak hari itu, seluruh hidupnya berputar pada satu tujuan: anaknya.
Tahun-tahun berikutnya tidak pernah mudah. Mira berpindah-pindah tempat tinggal, bekerja apa saja yang bisa ia lakukan. Kadang ia tertawa bersama anaknya, kadang ia menangis diam-diam ketika malam terlalu sunyi dan uang tak cukup untuk esok hari.
Anak itu tumbuh. Wajahnya bersih, matanya jernih. Semakin besar, semakin jelas kemiripan yang sulit disangkal. Setiap kali Mira menyadarinya, hatinya bergetar. Ada cinta, tetapi juga ketakutan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Kebutuhan hidup semakin besar. Biaya sekolah, makan, tempat tinggal. Semua terasa menekan. Mira sering duduk termenung, menghitung uang di tangannya yang selalu terasa kurang.
Hingga suatu malam, setelah anaknya tertidur pulas, Mira duduk sendirian dan menatap langit-langit kamar sempit itu.
“Aku tidak bisa terus begini,” gumamnya lirih.
Pikirannya kembali ke satu tempat yang ingin ia lupakan. Gedung perkantoran itu. Kota itu. Masa lalu itu.
Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang.
“Aku tidak datang untuk menuntut,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Aku hanya ingin bekerja. Untuk anakku.”
Keputusan itu diambil dengan tangan gemetar, tetapi hati yang mantap.
Beberapa hari kemudian, Mira berdiri di depan gedung perkantoran yang dulu pernah menjadi saksi kehancurannya. Bangunan itu tampak sama, berdiri kokoh seolah tidak pernah peduli pada luka siapa pun.
Mira menggenggam tas kecilnya erat-erat.
“Pak Adit,” ucapnya dalam hati, “aku kembali.”
Haii ,selamat pagi readers selamat membaca jangan lupa like komennya ya..terimakasih..