Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Yang Lahir Dari Luka
Dan kini, Safira yang di temani Malik duduk berhadapan bersama Hayati dan Yusuf. Sedangkan ibunya, belum juga kembali.
Ya, tadi, Hayati meminta Safira untuk memanggil abangnya. Karena Hayati berasalan jika apa yang ingin disampaikan sangat lah, penting. Dan itu juga sebaiknya di dengar oleh orang tuanya.
Berhubung, ibu dari Safira belum kembali. Maka dari itu, Hayati keukeh meminta Safira untuk memanggil Malik.
Awalnya, Malik sempat menolak. Namun, lagi-lagi permohonan dari Safira membuatnya kalah.
"Aku ingin melamarmu, untuk putraku," ungkap Hayati, seraya menyerahkan sebuah cv yang telah di siapkan oleh Bagas.
Tak lupa, Hayati juga menyerahkan selembar foto Bagas, untuk pertimbangan Safira.
"Kami udah mencari tahu tentangmu. Kamu belum pernah pacaran. Apalagi, bertunangan. Jadi, kami harap, kamu bisa mempertimbangkan, ini ..."
Malik mengambil cv. Dia membaca sekilas.
Melihat uang nafkah yang tertera dengan jelas. Dia tak sadar meneguk ludahnya dengan susah payah.
Empat juta, itu jumlah yang terbilang ada cukup banyak bagi mereka yang hidup di kampung.
"Ini gak salah?" tanya Malik, menunjuk barisan yang memperjelas tentang uang nafkah.
"Insyaallah, Bagas bisa memberikan nafkah seperti yang tertera disana, bahkan jika itu kurang ..." Hayati menjeda ucapanya, sembari menatap Safira, mencoba membaca jalan pikiran gadis itu. "Dia akan berusaha untuk menambahkannya," sambung Hayati, tersenyum hangat.
"Jadi bagaimana?" tanya Hayati lagi, karena sejak tadi hanya dia yang dominan dalam berbicara.
"A-aku ..."
"Terima saja, sudah saatnya kamu bahagia," Malik memotong ucapan Safira.
"Bang," lirih Safira menatap Malik, dengan mata melotot.
"Kamu sudah cukup banyak berkorban di keluarga ini Ra. Dan kesempatan kayak gini gak akan datang dua kali. Kamu mau ya Ra," pinta Malik memohon.
"Kami akan kembali minggu depan. Dan aku harap, kamu bisa memberikan jawabannya," Hayati menggenggam tangan, seraya mengelus pelan punggung tangan Safira.
Karena Hayati dan Yusuf ada beberapa kesibukan. Akhirnya, mereka berdua pamit undur diri tanpa menunggu ibu dari Safira.
Setelah kepergian tamunya. Safira duduk termenung.
Menikah! Itu tak pernah terbayang dalam hidupnya. Apalagi, setelah Malik mengalami kecelakaan. Impian menikah, sudah lama terkubur.
"Terima aja ya? Toh mereka sendiri yang meminta mu," rayu Malik, menggoda Safira.
"Tapi ,,, bagaimana dengan ibu?"
"Aku disini Ra, aku akan jaga ibu," ungkap Malik, menaik-turunkan alisnya.
Safira memutar mata, malas.
"Maksudku, tanpa ku, apakah kalian bisa?" Safira ragu-ragu. "Aku akan menolaknya saja," cetusnya beberapa detik kemudian.
Malam harinya. Kini Safira bersama ibu, abang dan adiknya sedang duduk lesehan di tikar.
"Jika kamu minta pendapat ibu, sebaiknya kamu terima saja. Lagipula, yang ibu tahu, bu Hayati itu orang baik," ibu Safira bernama Juliana memberi pendapat. "Seperti kata abangmu. Sudah saatnya kamu bahagia nak! Mungkin, ini salah satu kuasa Allah. Yang mana, mengijabah doa-doa ibu, disaat yang tepat!"
"Aku sudahmengirimkan pesan padanya," ujar Malik memperlihat sebuah nomor, yang sudah di simpan di ponselnya.
"Eh ..." Safira menarik ponsel dari tangan Malik.
"Abang ..." rengeknya, sesaat, kala membaca pesan, yang telah di kirim oleh Malik.
"Lusa, dia akan kesini!" Malik, tersenyum tanpa merasa bersalah.
Safira spontan memukuli punggung abangnya. Geram, akan tindakan yang di lakukannya.
✨✨✨
Di tempat lain. Nadia, menatap sebuah pesan yang dikirim oleh Bagas. Lelaki itu menegaskan jika ia menyerah. Menyerah.
"Aku menyayangi mu dik. Tapi, melihat luka di wajah orang tua ku, nyatanya itu lebih sakit di bandingkan apapun. Mungkin benar! Kita bukan jodoh,"
"Jadi, hanya sebatas inikah, kamu mencoba bang? Takkah, kamu berusaha, menyakinkan mereka lagi?"
"Maafkan aku, kita akhiri hubungan ini dengan baik. Maafkan segala kekurangan ku, dalam mencintaimu, selama delapan tahun terakhir,"
Nadia tak membalas. Tapi, langsung menghubungi Bagas. Namun, ternyata, nomornya di blokir.
Ingin sekali, dia menghampiri Bagas. Namun sayang, sejak pertemuannya dengan Bagas terakhir kali. Dia diawasi ketat oleh kedua orng tuanya.
Bahkan, setelah pulang menemui Bagas. Dia sempat dikurung oleh orang tuanya di kamar.
Lain Nadia, lain pula dengan Bagas.
Bagas, baru saja memberitahu Bagas. Tentang kedatangannya lusa. Selain penasaran tentang wanita yang di puji-puji oleh kedua orang tuanya. Bagas, juga ingin mencoba, untuk membuka hati pada wanita lain.
Susah sudah pasti. Tapi, tak salah kan? Jika ia mencobanya.
Dan hari ini, dengan mengandalkan alamat pemberian ibunya. Bagas, melaju kesana.
Tentu saja, sebelumnya dia telah memberitahu pada Malik, akan kedatangannya.
Dengan membawa sedikit oleh-oleh, Bagas tiba di rumah yang berwarna abu-abu itu.
Di lihat dari penampakkannya. Rumah itu terlalu sederhana. Bahkan, sangat jauh di bandingkan dengan rumah milik Nadia.
Dengan langkah pelan, Bagas memberi salam pada si empunya rumah.
Malik, keluar menggunakan tongkat. Dia langsung tersenyum, melihat Bagas, yang jauh lebih manis di bandingkan selembar foto yang di berikan Hayati, tempo hari.
"Udah datang, masuk bang," ujar Malik, mempersilakan, Bagas untuk masuk.
Mata Bagas menatap rumah Safira. Disudut, terdapat beberapa tumpukan baju yang telah di masukkan ke dalam plastik.
Tak banyak dekorasi, rumah ini terlalu sederhana. Bahkan, tak ada sofa, ataupun kursi disana.
"Inilah, rumah kami. Tempat kami di lahirkan, dan di besarkan!" seru Malik, ada kebanggaan disana.
Bagas tersenyum simpul.
"Ra ..." Malik memanggil. Tak lama kemudian, Juliana datang dengan nampan di tangannya.
Di belakangnya, seorang gadis berjalan dengan raut malu-malu.
Manis, itulah hal pertama yang di tangkap oleh Bagas. Kala mata keduanya bersitatap.
Namun, jika di bandingkan dengan Nadia. Tentu saja, hati Bagas masih memilih mantan kekasihnya itu.
"Namaku Bagas, seperti kata ibuku. Aku kesini juga ingin bertanya, apakah kamu masih sendiri? Maksudnya, tidak dalam status jadi pacar orang, atau tunangan dari orang lain," tanya Bagas setelah menyesap beberapa kali tegukan minuman yg di suguhkan.
Safira memilin ujung hijabnya. "Iya, aku sendiri," balas lirih.
Malik hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Juliana, hanya tersenyum.
"Jadi, mau kah, kamu menerima lamaran ku?" tanya Bagas to the poin.
"A-aku, akan menjawabnya di hari yang telah aku tentukan, bersama bu Hayati," balas Safira, tanpa menatap ke arah Bagas.
Bagas mengangguk, namun dalam hati dia berharap, jika Safira mau menerima pinangannya.
Sebab, dia sudah lelah. Lelah dengan luka yang di terima oleh orang tuanya.
Apalagi, ayah dan ibu Nadia yang selalu menggosipkan keluarganya.
kebiasaan ih