Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.
Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Yang Katanya Liburan
Siang berganti sore dengan cepat. Tadi, mereka juga sudah melaksanakan makan siang bersama dan kembali ke kamar masing-masing.
Kini Anin tengah bersiap karena mereka semua sudah berjanji untuk jalan-jalan sore sambil menjelajah tempat indah di sekitar resort.
“Harus banget pakai dress gitu?” tanya Harsa yang tampak tak setuju dengan pakaian yang Anin kenakan. Ia duduk di ujung tempat tidur sambil mengawasi Zura yang sibuk ke sana kemari sambil menghambur beberapa mainan yang mereka bawakan.
Anin menoleh dengan kening mengkerut. Ia memandang penampilannya, sebuah mididress motif floral dengan model V neck– Ah, ya, Anin hampir lupa. Sejak awal Harsa memang tak suka apabila ia mengenakan pakaian yang terbuka. Meski Anin tak pernah mengenakan pakaian yang mengekspos tubuh secara berlebihan, tetapi ia tahu betul suaminya itu terlalu over protective soal itu. Harsa bahkan sudah pernah memintanya untuk mengenakan hijab kembali, tetapi belum bisa ia tunaikan. Entahlah, ia hanya belum siap saja. Mungkin nanti saat ia benar-benar siap.
Dan kini, jelas suaminya itu melayangkan protes hanya karena dress yang ia kenakan agak mengekspos bagian bahunya.
“Ya udah aku pakai kardigan.” Anin mengalah, ia tak ingin ada pertengkaran. Toh, ia pun sadar dirinya juga salah jika tak menuruti perintah suami.
Anin membuka kopernya dan memilih kardigan polos model krop top untuk menutupi bagian yang membuat Harsa tak terima.
“Kamu jelas tahu mana batas aurat wanita. Kamu pernah jadi santri, gak mungkin gak tau, kan? Hmm.”
Anin hanya diam, ia tak berani menjawab. Ia tahu dirinya salah. Hal yang dari awal Harsa inginkan darinya memang memakai sepenuhnya hijab sebagaimana masa sebelum ia menempuh pendidikan Pramugari dan memutuskan untuk lepas hijab bahkan hingga ia berhenti dari profesi itu Anin sama sekali belum bisa konsisten memakainya, ia hanya pakai disaat tertentu saja.
“Kamu marah kalau aku mabuk, katanya itu dosa. Tapi kamu sendiri juga ngelakuin dosa.”
Telinga Anin rasanya kian panas. Anin akui ia salah, ia paham, tapi haruskah Harsa membahas hal seperti ini di saat mereka berniat liburan hanya karena dipicu pakaian yang ia kenakan? Anin bertanya-tanya, karena tahu dirinya salah ia tak berniat menjawab atau membantah.
“Kamu tahu kan berapa dosa yang didapat bila sehelai rambut kamu dilihat yang bukan mahram?” tanya Harsa serius. Wajahnya kelihatan datar, ia duduk sambil menyilangkan kaki. Jujur ia marah, ia kesal setiap kali melihat hal yang seharusnya hanya boleh dilihat oleh dirinya, tetapi bisa dilihat juga oleh orang lain. Harsa tahu, ia pun bukan orang yang taat. Ia juga tak sesempurna itu, tapi sungguh ia ingin sekali Anin kembali memakai jilbab sebagaimana foto masa lalu istrinya sebelum masuk ke dunia penerbangan.
Harsa akui istrinya memang secantik itu. Postur tubuh Anin cukup tinggi–ya dia dulunya pramugari, ia bahkan masih tetap langsing meski sudah melahirkan. Baginya tubuh cantik istrinya hanya boleh ia yang lihat.
“Sebenarnya kapan kamu benar-benar siap pakai jilbab kembali?” tanyanya lagi dengan wajah serius.
“Kamu tahu kan aku gak rela dan gak suka keindahan istriku dinikmati juga sama orang lain.”
Anin memejamkan mata, berusaha menahan diri. Ucapan Harsa seharusnya terdengar sangat manis dan membuatnya senang karena jarang sekali suaminya itu mau bermulut manis, mengakuinya seperti ini. Sayangnya hal ini hanya bisa Harsa ungkapkan setiap sedang bereaksi tak suka terhadap pilihannya, Anin tahu pakaian yang ia kenakan memicu amarahnya.
“Emang harus banget ya bahas hal seperti ini sekarang?” Anin berbalik menatap Harsa dengan jengah. Meski tahu diri salah, tapi entah kenapa Anin merasa sedang dihakimi oleh Harsa. Rasanya ia tak terima, apalagi situasinya mereka sedang liburan. Ini jelas merusak suasana.
“Bisa gak bahasnya nanti aja?”
“Kapan?” sergah Harsa cepat. Tatapan yang nanar dan menatap lurus ini jelas adalah tatapan Harsa yang paling Anin benci. Tatapan intimidasi yang kuat, tegas dan menantang. Membuat Anin sakit hati bila Harsa sudah menatap demikian. Tapi inilah Harsa, ia memang sedang marah. Ia benar-benar tak terima.
“Kenapa kalau diingetin hal baik reaksi kamu selalu begini? Kamu gak terima?!”
“Sementara kalau aku yang salah, dikit aja, udah jelas kamu langsung ngamuk. Nuduh aku yang nggak-nggak, aku dianggap gak menghargai lah, gak jaga perasaan kamu lahb ....”
“Udah ya, mas!“ Anin menyentak, sungguh ia kesal sekali. Sekali lagi Anin tegaskan ia memang salah, tapi baginya Harsa lebih payah karena selalu tak bisa baca situasi. Harsa selalu merusak suasana dan tak bisa menahan diri untuk tidak membicarakan hal yang membuat mereka bertengkar seperti ini.
“Aku bukan mau membantah, aku cuma mau bahasnya nanti aja pas kita gak lagi liburan.”
“Ya berarti kamu mau aku diam aja gitu lihat kamu pakai baju yang ekspos leher jenjang kamu, gitu?” tanya Harsa kini yang sudah berdiri, meraih Zura saat anaknya itu berhasil ke luar menuju balkon, tapi langsung ia raih tubuh kecil itu. Membawanya masuk kembali.
“Kalau aku gak tegur, udah pasti kamu keluar gitu aja. Padahal apa sih susahnya pakai pakaian yang benar, gak harus gitu” Harsa menunjuk tak habis pikir. Menyorot tubuh Anin dari atas hingga ujung kaki. “Padahal pakai celana panjang sama blouse kayak tadi aja bagus banget loh, harus banget pakai dress gitu.”
“Ya ini udah bener loh, Mas. Emang kapan aku pernah pakai pakaian yang gak benar seperti yang kamu bilang?” Anin menyela tak terima. Harsa benar-benar membuatnya tersudutkan.
“Kamu emang ngeyel kalau dikasih tahu, gak pernah nurut apa kata suami!” sambar Harsa cepat. Ia pun benar-benar tak bisa mengontrol diri. Sebenarnya ia tak ingin memaksa. Meski jarang, tapi setiap kali Anin memakai pakaian yang menurutnya kurang, walau hanya menampakkan leher yang berlebih membuat ia tak terima. Ia pun kebingungan. Tapi satu yang pasti, nalurinya sebagai seorang suami hanya tak terima saja.
“Udahlah, aku gak mau kita bertengkar di depan Zura!”
“Emang ya kamu, coba kalau aku yang gini. Udah pasti reaksi kamu akan lebih dari aku. Kamu pasti marah besar. Tapi kenapa kalau aku, kamu selalu membantah?” cecar Harsa yang mana setelahnya ia langsung melangkah meninggalkan Anin dengan membawa Zura setelah menggeleng tak habis pikir.
Padahal baru beberapa jam lalu mereka harmonis, memadu kasih, berbagi peluh, tapi sekarang situasinya sudah panas begini. Tiba-tiba bertengkar hanya karena hal sesepele memakai dress.
Anin menghela napas. Kadang ia sangat menyayangi suaminya itu, tapi di saat yang bersamaan juga Harsa selalu berhasil membuatnya kesal setengah mati.
“Iya, aku tau aku salah. Tapi kan gak harus sekarang juga!” omel Anin saat pintu kamar sudah tertutup.
.
.
Pertengkaran memang bumbu mutlak yang jelas ada dalam setiap rumah tangga. Ia tak bisa dihindarkan, tak bisa pula dicegah. Sebab, kala ego beradu dengan ambisi tak ingin terkalahkan telah berebut tahta, maka jelas yang tercipta hanyalah pertengkaran.
Meski begitu, keprofesionalan dalam rumah tangga tetap harus terjalin. Seakan tak rela membiarkan siapa pun tahu bahwa pertengkaran baru saja menginvasi, maka hal lain yang harus ditunjukkan hanyalah keharmonisan. Sebesar apa pun pertengkaran, dunia tak boleh tahu. Seperti itulah kira-kira prinsip dalam rumah tangga Anin dan Harsa. Lebih tepatnya mereka malu jika pertengkaran harus diketahui pihak luar.
Demikianlah Anin dan Harsa saat ini. Berusaha terlihat baik-baik di depan orang lain, meski baru saja beradu bacot.
Setelah beberapa saat kemudian, Anin menyusul. Meski sempat melawan, pada dasarnya ia tetap memikirkan ucapan suaminya, hanya saja ia merasa tak seharusnya Harsa memarahi, dia hanya ingin diberitahu secara lembut, perlahan. Buktinya, kini ia tak keluar dengan dress yang kena somasi oleh Harsa. Melainkan menggunakan overall denim dress dengan dalaman lengan panjang berwarna cokelat susu, senada dengan celana pendek yang Harsa kenakan. Bahkan sneakers yang dikenakan pun couple.
“Aduh, maaf ya, kalian nunggu lama. Jadi, kita mau ke mana nih?” tanya Anin yang baru saja sampai, ia tersenyum menatap semua yang ada. Tak lupa tersenyum ceria menatap anaknya yang kegirangan setelah melihatnya.
Dari balik kaca mata hitamnya Harsa memerhatikan penampilan Anin. Senyumnya tampak sedikit tersungging, dalam hati ia tertawa menyadari ternyata istrinya ini memberatkan tegurannya walau harus dengan bantahan terlebih dulu. Harsa terharu karena ternyata Anin pun berusaha untuk menurutinya walau tak bisa langsung sepenuhnya. Hmm, dia nurut juga ternyata.
“Santai aja, Nin. Aku juga baru sampai kok.” Laksmi menjawab, wanita dengan hijab segitiga hitam itu memang baru sampai beberapa saat sebelum Anin. Maklum, dia ibu dengan dua anak jadi agak sedikit rempong.
“Jadi mau ke mana nih sebenarnya?” tanya suami Gita.
“Tempat ini katanya luas banget ya, ada banyak spot wisatanya.” Suami Laksmi ikut menimpali, ia baru saja berbincang dengan istrinya tadi soal apa saja spot yang ada di tempat yang sedang mereka kunjungi. Maklum, ia hanya bapak-bapak yang ngitkut tanpa banyak tanya di awal.
“Ada area trackingnya juga, bagus kalau kita coba. Mas Harsa sama Pak Septian mau coba gak?” tanya Suami Gita lagi, memberi info sekaligus mengajak.
Harsa menoleh pada Anin setelah menaikkan kacamatanya seakan tengah meminta izin secara tak langsung. Sebenarnya ia tipe yang suka menjelajah dan mencoba semua hal, apalagi jika menyangkut alam. Harsa suka, tapi mengingat yang mulia istri, ia jadi tak boleh main mengiyakan tanpa persetujuannya.
“Ya, kalau mau kamu pergi aja kali, Mas.”
Semua yang ada nampak menahan senyum mendengar perkataan Anin. Semuanya tahu bagaimana Harsa, laki-laki itu memang kelihatan cuek, acuh, agak pendiam tapi pada dasarnya ia selalu minta izin istri pada hal apa pun.
“Tuh, mas Harsa. Jadi fix ya, besok pagi kita bertiga berangkat.”
Harsa mengangguk sambil tersenyum. Ketiga laki-laki itu sudah mendapat list kegiatannya untuk besok.
Pembahasan itu pun berakhir setelah masing-masing dari mereka memutuskan menjelajah keindahan alam yang ada di sekitar dengan tujuan yang berbeda, berjalan-jalan sambil menikmati suasana sore yang menentramkan.
Keluarga Gita dan Laksmi memilih naik shuttle untuk mengelilingi kawasan yang membentang sekitar 10 hektar itu, menjelajahi berbagai macam wahana yang ingin dicoba. Karena Gita memberi tahu ada tempat budi daya taman hias, alhasil Laksmi mengajak ke sana.
Sementara Harsa, Anin, dan Nana lebih memilih berkeliling sore sambil naik sepeda listrik. Masing-masing mengenakan satu, dan Harsa bersama Zura–Harsa memang demikian, setiap ada waktu luang dan kesempatan dia selalu dengan senang hati mengurus anaknya. Meski kadang sebagian orang menganggap Harsa tak seharusnya seperti itu. Katanya dia sudah sibuk bekerja, maka tak perlu direpotkan dengan mengurus anak, dan kadang hal itu pula yang kerap membuat Anin dicibir karena katanya memperlakukan suami seperti baby sitter. Namun, seiring berjalannya waktu, Anin sudah tak peduli dengan perkataan orang lain, selagi Harsa tak merasa demikian maka ia tak akan ambil pusing. Toh yang Harsa urus dan ayomi anaknya sendiri, bukan anak orang lain.
Pasangan yang tadi sempat cekcok itu bahkan sudah berbaikan. Berbicara santai, seakan sebelumnya mereka tak pernah bertengkar karena hal sepela. Ya, kata sebagian orang, hubungan yang langgeng dan kuat bukanlah hubungan yang tanpa konflik, melainkan hubungan yang didasari oleh kemauan untuk terus belajar, berkompromi, dan bertumbuh bersama. Dan begitulah cara Harsa dan Anin menghadapi masalah. Kadang tiba-tiba bertengkar, tetapi secepat itu pula berdamai.
“Kita mau ke mana, mas?” Anin bertanya sembari menghirup dalam aroma alam yang sangat menyejukkan. Dari kejauhan, gunung Salak nampak berdiri gagah menjulang dengan kabut awan yang menghiasi puncaknya. Untuk saat ini Anin pun sudah tak mau mempermasalahkan hal tadi, sehingga ia lebih memilih menurunkan ego dengan mengajak suaminya berbicara lebih dulu.
Anin menatap Zura, dia ceria dan menikmati perjalanan sore. Berdiri di depan Harsa yang juga menatap kagum pada area hijau yang asri dari balik kaca mata hitamnya. Suaminya itu masih mengenakan setelan casual yang santai seperti tadi pagi. Anin tersenyum menyadari pakaian yang keluarga kecilnya kenakan tampak seperti seragam karena warna yang senada.
Harsa menoleh menatap istrinya, ia mengikuti arah pandang Anin menatap jejeran hunian berbentuk Mongolian Camp dengan takjub, dan jejeran tanaman di setiap sisi jalan yang mereka lalui. Ia dan Anin pernah menginap di sini, tempatnya bahkan semakin bagus dari terakhir kali mereka datang.
“Dari kamu aja mau ke mana.” Ia hanya menjawab singkat, sementara istrinya itu hanya memanyunkan mulut karena merasa tak dapat solusi atas kebingungan yang menghampiri.
Ya, perlu Anin ingat. Mau sebagaimana pun Harsa, dia tetaplah sosok yang menyebalkan saat diajak cerita. Kadang terlalu kaku, dan to the point tanpa embel-embel nanya balik kalau bukan dari kemauan sendiri. Apalagi sekarang bukan hanya ada mereka berdua, Harsa jelas tidak akan terlalu banyak bicara.
“Aku pengen naik flying fox, tapi pakai dress gini mana bisa. Main di waterboom juga kayaknya enak, tapi males banget kalau harus ganti baju.” Anin menghela napas, memakai dress membuat ia terbatas mencoba. Tidak leluasa. Ada benarnya juga Harsa bilang ia bagus memakai celana panjang seperti tadi pagi. Mau bermain air pun rasanya terlalu berat kalau harus kembali ke kamar untuk berganti pakaian.
“Besok aja naik itu, coba yang lain aja dulu.” Harsa berceletuk memberi saran sambil merespon setiap ocehan tidak jelas Zura yang begitu antusias, memanggil dan mengharuskan Papanya melihat apa yang ditunjuknya.
Anin menghela napas pelan, “kamu sendiri mau ke mana, Na?” tanya Anin menoleh pada Nana yang sejak tadi sibuk merekam perjalanan mereka, sudah seperti vloger sungguhan.
“Sibuk banget kelihatannya. Udah cocok kamu jadi konten kreator.”
Gadis dengan setelan santai menggunakan celana dan kaos krop. Rambut yang ia ikat asal karena gerah itu tampak menahan senyum mendengar pertanyaan Anin. Ia mematikan rekamannya lalu menoleh cekikikan. “Sebenarnya pengen banget, tapi aku takut mulainya.” Nana menyampaikan keinginannya.
“Ih, mulai aja. Apa salahnya mencoba, banyak loh orang-orang yang sukses jadi konten kreator. Kamu bisa bikin daily vlog.” Anin memberi saran, obrolan mereka tiba-tiba mengalir begitu saja dari yang awalnya bingung mau ke mana malah berujung bahas konten kreator.
“Makanya ayo barengan, sama-sama kita jadi konten kreator terus sukses bareng-bareng.” Nana terkekeh menyadari khayalannya.
Anin mendesah pelan mendengar ajakan Nana. “Aku udah riweh duluan urus anak sama rumah. Gak ada waktu buat gitu-gituan.”
“Ya, maka dari itu kamu jadiin aja daily life atau bikin konten ngedekor, masak atau apa gitu. Kamu kan juga suka ngerecord, skill editing kamu juga bagus loh.”
Anin tampak diam, ia pusing menyadari saran Nana yang agak masuk ke otaknya. Ah, tapi menyadari pembahasan mereka makin ngalor-ngidul. Anin lalu menepis angin, mengusir pembahasan tentang jadi konten kreator.
“Ck, dah lah. Bahas apaan sih kita, ini gara-gara kamu nih.” Ia berdecak, menatap Nana dengan tak habis pikir.
Sementara Harsa yang berada di belakang mereka hanya memutar mata mendengar obrolan dua wanita di depannya, lalu kembali sibuk menemani Zura berceloteh dan bernyanyi.
“Tadi aku nanya kamu mau ke mana. Eh, pembahasannya malah lari ke mana,“ lanjut Anin lagi.
Nana tertawa menyadari ia dan Anin memang agak-agak kalau sudah mengobrol. Kadang tidak jelas.
“Nanti kita bahas lagi soal misi jadi konten kreator itu, ya. Sekarang gimana kalau kita foto-foto dulu, abadikan moment.”
“Sekalian cari mbak Gita sama Mbak Laksmi.”