NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Milikku Di Atas Net

Livia menyentak lengannya, melepaskan diri dari dekapan Rangga dengan dorongan yang nyaris membuatnya terjungkal.

Ia mundur selangkah, menyeka air mata secara brutal dengan punggung tangan, seolah ingin menguliti kelemahannya sendiri.

Hujan turun semakin gila sekarang, membasahi kaus hitam ketatnya hingga transparan, mencetak jelas bra olahraga yang menahan dadanya yang naik-turun hebat.

"Ambil raketmu," desis Livia. Suaranya tajam, membelah deru hujan.

"Liv, lapangan ini sudah jadi lumpur. Kamu mau cari mati? Kita masuk sekarang."

"Aku bilang ambil raketnya, Rangga!" Livia menyambar raket yang tergeletak di rumput basah, menggenggamnya hingga buku jarinya memutih. "Kita selesaikan ini. Kalau kamu memang 'pilih' aku, buktikan di lapangan. Kalau aku menang, aku pergi ke Jakarta besok pagi. Sendiri. Dan kamu nggak punya hak buat larang aku."

Rangga menyeringai dingin, tawa pahit lolos dari bibirnya. "Oh, jadi ini taruhannya? Oke. Tapi kalau aku menang... kamu tetap di sini, dan kamu harus nurut sama apa pun yang aku mau malam ini. Semua amarahmu, semua drama ini, aku yang ambil alih. Deal?"

Livia menatapnya dengan api dendam. "Mulai."

Livia bergerak seperti binatang liar. Smash-nya brutal, setiap hantaman ke lantai terdengar seperti ledakan kemarahan. Rangga membalas tak kalah keras. Ia mengejar Livia ke depan net, memaksa istrinya tergelincir di tanah basah.

"Kamu masih ragu, kan?!" teriak Livia saat tubuhnya jatuh berlutut karena tanah yang licin. "Kamu main curang, sama kayak kamu bohong soal foto itu! Kamu hampir kabur, Rangga! Kamu hampir tinggalin aku di altar!"

"Aku nggak kabur, Liv! Kamu yang nggak pernah mau dengar!" Rangga meraung, suaranya menggelegar mengalahkan suara petir. Ia merangsek maju, membuang raketnya sendiri ke tanah. "Kamu pikir aku nggak sakit liat kamu begini? Hah?!"

Livia bangkit, maju ke arah net yang memisahkan mereka. Ia memukul dada Rangga dengan raketnya yang masih di tangan. "Kamu bajingan! Kamu biarkan aku jadi pilihan cadangan!"

Rangga menyambar raket itu dari tangan Livia dan melemparnya jauh ke pagar. Dengan satu gerakan kuat, ia merengkuh leher belakang Livia, menarik wajah istrinya hingga hidung mereka bersentuhan melewati jaring net.

"Kamu bukan pilihan cadangan. Kamu satu-satunya yang bikin aku gila sampai detik ini!"

Rangga membungkam bibir Livia dengan ciuman yang kasar dan menuntut. Bukan ciuman manis, tapi perang lidah yang penuh rasa lapar. Livia memberontak, mencakar bahu Rangga, tapi napasnya justru memburu saat gairah mulai mengambil alih benci. Bau hujan, keringat, dan feromon bercampur jadi satu.

Rangga mengangkat tubuh Livia, mendudukkannya di atas net yang tegang.

Jaring itu berderit, menekan kulit paha Livia yang terbuka. Rangga menyusupkan tangannya ke bawah kaus basah Livia, merobek kain tipis itu dengan satu tarikan dominan hingga dadanya terekspos di bawah guyuran hujan.

"Rangga... ahh..." Livia mengerang saat bibir Rangga pindah ke lehernya, menggigit kulitnya hingga meninggalkan tanda merah yang kontras.

"Benci aku, Liv. Terus benci aku sambil kamu bergetar di bawahku begini," bisik Rangga parau. Tangannya merenggut celana pendek Livia ke bawah, membiarkannya tersangkut di kaki. Tanpa persiapan lembut, Rangga menyingkirkan penghalang terakhir dan masuk sepenuhnya dengan satu dorongan keras.

Livia memekik, suaranya hilang ditelan gemuruh hujan. Tubuhnya melengkung, tangannya mencengkeram bahu berotot Rangga, kuku-kukunya menancap dalam. Net di bawahnya bergoyang liar, setiap hantaman Rangga membuat seluruh tubuhnya terguncang. Rangga memegang kendali penuh—ia mencengkeram pinggul Livia, memandu ritme yang cepat dan tanpa ampun.

"Bilang... bilang kalau kamu milikku!" geram Rangga, napasnya panas di telinga Livia.

"Aku... benci... kamu... ahh, Rangga!" Livia memejamkan mata, kepalanya terlempar ke belakang, membiarkan air hujan membasahi wajahnya yang memerah. Di tengah kebencian yang menyiksa, tubuhnya justru mengkhianatinya dengan mencari kenikmatan lebih dalam dari pria yang ia kutuk itu.

Mereka memacu adrenalin di atas net yang hampir putus, telanjang dan basah kuyup, mengabaikan dunia yang seolah runtuh di sekitar mereka.

Tepat saat Livia mencapai puncaknya dengan teriakan serak, Rangga meledak di dalamnya, memeluk tubuh istrinya erat-erat seolah tak ingin membiarkannya lepas lagi.

Tiba-tiba, suara pintu kaca bergeser terdengar dari arah teras rumah.

"Mas Rangga? Mbak Livia? Kok nggak masuk, ini hujannya—" Itu suara asisten rumah tangga senior, suaranya makin dekat ke arah lapangan. "Lho, Mas? Ini ada tamu penting dari Jakarta sudah sampai di ruang tamu utama. Bapak Komisaris mau ketemu sekarang!"

Livia tersentak, matanya membelalak panik.

Rangga mengumpat pelan, "Sialan." Ia segera menarik Livia turun, berusaha menutupi tubuh istrinya dengan tubuh besarnya yang masih basah kuyup karena keringat.

Begitu ponsel ketemu, ia menelpon asistennya dengan napas masih putus-putus.

​"Hadi! Tamu Jakarta sudah sampai? Alihkan mereka! Bawa ke galeri kek, kasih makan gudeg kek, terserah! Bilang aku dan Livia lagi... uh, kecelakaan air. Jangan ada yang ke lapangan belakang!"

​Livia, yang tadinya mau pasang tampang femme fatale penuh dendam, malah terlihat seperti kucing kecebur got. Ia merangkak di semen licin, mencoba memungut bra-nya yang nyangkut di ujung raket dengan gerakan seanggun mungkin—yang gagal total karena ia hampir terpeleset lagi.

​"Sialan, Rangga! Kalau Komisaris itu liat aku telanjang cuma ditutupin jaring net, karier kita tamat!" seru Livia panik. Ia berhasil berdiri, tapi kakinya gemetar parah. Antara kedinginan, malu, atau karena sisa "hantaman" Rangga barusan yang membuatnya lemas.

​Rangga mematikan telepon, lalu menyudutkan Livia ke tiang net. Mata pria itu tidak membantu—masih gelap dan lapar. "Ingat taruhannya, Liv. Aku menang. Kamu nggak ke Jakarta."

​Livia mau protes, tapi mendadak ia tersentak. Udara Solo yang dingin menusuk kaus compang-campingnya, dan sialnya, tubuhnya memberikan reaksi yang sangat tidak sopan. Putingnya menegang hebat, menonjol jelas di balik kain basah yang menempel.

Ia merasa gila; bagaimana bisa di tengah situasi hidup-dan-mati reputasi ini, organ tubuhnya malah minta jatah lagi? Ini nggak normal, kan?

​"Kamu nakal hari ini, Liv," bisik Rangga, jarinya mengusap tanda merah di leher Livia. "Masuk ke guest house. Mandi. Aku akan temui tamu itu sebentar dengan bekas cakaranmu di punggungku ini. Tapi nanti malam? Aku bakal hukum kamu sampai kamu nggak bisa jalan ke Jakarta sebulan."

Livia hanya bisa melongo, merasa awkward sekaligus horny berat sampai ubun-ubun. "Hukum aja! Aku nggak takut!" tantangnya dengan suara pecah yang malah terdengar seperti desahan.

Livia berbalik dan lari terbirit-birit menuju pintu samping guest house, mengabaikan bunyi plok-plok sepatunya yang penuh air. Di dalam kepalanya, logika sedang berperang hebat dengan hormon. Gila, Livia! Kamu harusnya marah, bukan malah basah begini! Tapi setiap kali ia mengingat tatapan lapar Rangga, rahimnya berdenyut nyeri.

1
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
ngerinyee
Hafidz Nellvers
gak bahaya ta😂
Tulisan_nic
Badas kali Thor, tenang yang mematikan🫣
Tulisan_nic
wih promotenya keren nih ke Livia, tapi aku beda...🤭
Mentariz
Dari sinopsisnya aja udah menarik banget, terus pas baca bab 1 langsung masuk konflik seru abisss, dibuat penasaran terus sama bab selanjutnya, sangat rekomen 👍👍
Panda%Sya🐼
So far, semuanya menarik. Buat yang suka romance gelap dan, with a deeper meaning behind it. Di sini jawapannya.
Panda%Sya🐼
Kadang ini selalu jadi masalah, kalau enggak ceweknya pasti cowoknya. So damn proud of you, Rangga/CoolGuy/
Panda%Sya🐼
Takutnya nanti ada yang nangis, kan susah itu/Facepalm/
j_ryuka
wah bahaya ini
Tulisan_nic
Thats true Rangga, stand applouse buat kamu
Tulisan_nic
Body spek jam pasir apa gitar spanyol nih Livia🤭
chas_chos
rangga sedikit posesif ya
chrisytells
Malah jadi Berita Utama lagi
chrisytells
Mantap sekali Livia, sanggahan anda👍
chrisytells
Wah... wah... wah... gawat nih Livia!
Nadinta
LIVIA sumpah ya... bikin gregetan/Facepalm/
Mentariz
Panassss, kok panas ya bacanyaa 🤣
Mentariz
Aakkhh pengen teriakkk, aku mau ranggaaa 😍
Mentariz
Adududu~~~ berbahaya niihh 🤣
Mentariz
Badaasss sekaleee 😁👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!