Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.
Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.
Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.
Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan
Pagi itu, Andi baru sadar betapa sunyinya lift kantor ketika tidak ada siapa pun yang menyapanya dengan suara biasa. Biasanya selalu ada saja: candaan receh, keluhan soal macet, atau sekadar anggukan yang mengafirmasi bahwa mereka semua masih manusia sebelum jadi karyawan. Tapi hari ini, orang-orang memilih diam. Bukan diam kosong—melainkan diam yang penuh arah.
Ia bisa merasakannya dari cara tatapan singkat ditarik terlalu cepat, dari senyum yang datang sepersekian detik lebih lambat, dari nada "pagi" yang terdengar terlalu netral seolah setiap intonasi sudah ditimbang agar tidak mengandung makna ganda.
Gosip belum meledak. Justru itu masalahnya.
Di mejanya, Andi membuka laptop. Email masuk berdatangan—semua normal. Terlalu normal. Sampai ponselnya bergetar bukan karena pesan langsung, melainkan notifikasi grup kantor.
Tidak ada foto. Tidak ada nama. Hanya kalimat menggantung yang ia lihat sekilas sebelum tenggelam di antara pesan lain:
"Jakarta kecil ya ternyata."
Tidak ada yang menimpali. Tapi justru karena itu, kalimat tersebut terasa seperti batu kecil yang dilempar ke air tenang—riakannya pelan, tapi menyebar ke mana-mana.
Andi menutup layar ponsel. Ia tahu satu hal dengan pasti: seseorang sedang menonton, dan mereka belum memutuskan mau bersuara atau tidak.
Pesan dari Nayla datang sore hari, tepat ketika Andi sudah mulai lelah berpura-pura fokus.
Kak Andi, kita geser latihan kedua.
Jam 20.00.
Tempat gue.
Tidak ada basa-basi. Tidak ada penjelasan.
Andi menatap layar lama. Ada bagian dari dirinya yang ingin bertanya kenapa harus di tempat kos ? tapi bagian itu kalah oleh yang lebih jujur—bagian yang sudah tahu jawabannya.
Oke.
Gue ke sana.
Ia menambahkan satu kalimat, lalu menghapusnya sebelum terkirim. Ia belajar cepat: semakin sedikit kata, semakin aman.
Alamat yang Nayla kirim tidak bernama—hanya deretan angka diikuti instruksi singkat: "Masuk gang. Kos warna hijau. Lantai dua." Andi hampir melewatinya kalau tidak memperlambat motor. Gang itu terlalu sempit untuk disebut jalan—lebih seperti sela di antara dua kehidupan. Kabel listrik menggantung rendah, jemuran bersilang seperti garis batas wilayah, dan suara televisi bercampur dengan aroma gorengan yang sudah dingin.
Ini Jakarta yang jarang masuk cerita.
Ia memarkir motor, menaiki tangga besi yang sedikit berkarat. Setiap langkah berbunyi nyaring, seolah mengumumkan kehadirannya ke seluruh lantai.
Tempat kos Nayla tidak berisik, tapi juga tidak sunyi. Ada dengung kota yang tersaring melalui jendela, suara AC yang konstan, dan aroma sabun cuci yang bersih—bukan aroma rumah yang dihuni ramai, melainkan rumah yang dirawat agar tidak meninggalkan jejak.
"Masuk," ucap gadis itu sambil membuka pintu. Rambutnya diikat seadanya, tidak ada riasan, tidak ada kostum latihan. Ini bukan versi Nayla yang ia kenal di kafe atau di warung kecil kemarin. Ini Nayla yang tidak sedang tampil.
"Sepatu taruh disudut itu saja " katanya. "Minum?"
"Air putih aja," jawab Andi duduk di sofa abu-abu, menjaga jarak seperti kebiasaan. Nayla duduk di kursi berseberangan, bukan di sofa yang sama. Penataan ruang itu terasa disengaja—batas fisik untuk menahan sesuatu yang lebih sulit dikontrol.
"Kita nggak latihan adegan," kata Nayla membuka pembicaraan. "Kita latihan situasi."
"Apa bedanya?"
"Kalau adegan, kita tahu kapan mulai dan selesai. Kalau situasi..." Ia berhenti sebentar. "...nggak ada aba-aba."
Ia menganggu seperti paham hidup yang tiba-tiba dimasuki orang lain tanpa kontrak jelas.
"Gosip mulai ya?" tanyanya datar memecah kesunyian.
"Belum keras," jawab Andi jujur. "Tapi cukup membuat orang berpikir.
"Berarti cepat," katanya pelan. "Biasanya butuh dua atau tiga pertemuan."
Andi menatapnya. "Lu pernah?"
Nayla tidak langsung menjawab berdiri, mengambil botol air, menuang ke dua gelas. Gerakannya tenang, tapi ada jeda di tengah—seolah menimbang seberapa banyak yang perlu dibagikan.
"Pernah cukup," katanya akhirnya. "Makanya sekarang gue lebih ketat."
Ia meletakkan gelas di meja, jaraknya pas—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Andi baru sadar sesuatu yang mengganggu: Nayla selalu tahu jarak ideal. Dan justru itu yang membuatnya sulit ditebak.
"Foto kemarin," lanjut Nayla, "bukan paparazi. Bukan orang iseng."
"Teman lu?"
"Mungkin," katanya. "Atau mantan rekan kerja. Atau orang yang ngerasa gue keluar jalur."
"Keluar jalur dari apa?"
Nayla menatapnya lama. Kali ini tidak ada lapisan profesional—hanya kelelahan tipis yang jarang ditunjukkan.
"Dari ekspektasi."
Kalimat itu jatuh tanpa drama. Tapi Andi merasakannya seperti pengakuan yang tidak pernah diminta.
Latihan malam itu berjalan tanpa skrip.
Mereka bicara tentang hal-hal kecil: makanan yang tidak sempat dinikmati karena selalu keburu dingin, jam tidur yang berantakan, bagaimana Jakarta membuat orang merasa selalu dikejar bahkan saat diam.
Tanpa sadar, Andi melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja—kebiasaan lama, gerakan refleks. Ia baru menyadarinya ketika Nayla melirik sekilas.
"Lu biasanya nggak gitu," katanya.
"Apa?"
"Ngelepas jam."
Andi terdiam. "Kebiasaan kalau di rumah."
Nayla tidak menegur atau mencatat, tapi ada sesuatu yang berubah di cara ia bersandar di kursi—lebih santai, lebih nyata.
"Itu pelanggaran kecil," katanya akhirnya. "Tapi penting."
"Penting kenapa?"
"Karena lu berhenti akting."
Kalimat itu membuat dada Andi menghangat dengan cara yang tidak ia inginkan.
Mereka diam sejenak—diam yang tidak canggung, tapi juga tidak aman. Diam yang membuat seseorang sadar akan keberadaan orang lain—bukan sebagai peran, melainkan sebagai manusia.
Saat Andi berdiri untuk pulang, Nayla ikut berdiri sambil tetap menjaga jarak.
"Latihan berikutnya," kata Nayla, "kita bakal ketemu orang."
"Siapa?"
"Belum tahu," jawabnya jujur. "Itu poinnya."
Andi mengangguk. Di ambang pintu, ia berhenti. Pertanyaan yang sejak tadi mengendap akhirnya lolos.
"Nay... reuni itu—"
"Belum," potong Nayla cepat. "Bukan sekarang."
"Bukan 'belum pernah'," kata Andi pelan. "Tapi 'belum sekarang'."
Nayla tersenyum tipis—bukan senyum profesional, bukan senyum latihan.
"Lu mulai dengar nada di balik kata," katanya. "Itu juga pelanggaran kecil."
Pintu tertutup perlahan.
Di mobil, Andi duduk lama sebelum menyalakan mesin. Ponselnya bergetar. nama ibunya muncul di layar.
Ia tidak langsung mengangkat. Pesan masuk:
Nak ...apa kabarmu ?Kapan lagi kamu bisa pulang bertemu dengan Sofiah? Ibu tunggu kabar dari mu secepat nya. Ibu tidak mau mendengar kamu dengan perempuan lain .
Ibu nggak mau macam-macam.
Cuma mau tahu kamu baik-baik aja.
Tidak ada tuduhan. Tidak ada desakan. Justru itu yang membuat dadanya terasa lebih berat.
Andi menyandarkan kepala ke jok akhirnya sadar: konsekuensi ini kecil, nyebelin, dan tidak bisa ditunjuk langsung. Tidak ada satu orang yang bisa ia salahkan. Tidak ada foto yang bisa ia bantah.
Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang paling mengganggu:
Latihan kedua ini disebut "aman". Tapi untuk pertama kalinya, Andi tidak lagi yakin apa yang sebenarnya sedang ia latih.
Di kalender, tulisan Latihan Pacaran Kedua masih berdiri rapi. Dan di bawahnya, tanpa ia sadari, ia sudah mulai menghitung—bukan mundur, tapi maju. Menuju sesuatu yang belum ia beri nama.