Rendra menatap mata Luna, "Lo tadi liat?"
Luna mengangguk kecil, "Iya aku tadi liat, lagi pula kan tempat itu lumayan deket sama toko roti tempatku kerja."
"Terus kenapa tadi lo tiba-tiba samperin gue, dan obati luka gue? Lo suka sama gue?"
"Iya," balas singkat Luna membuat Rendra terdiam sebentar, hingga akhirnya ia tertawa.
"Hahaha, lo konyol banget," ucap Rendra masih tertawa, mungkin baru kali ini ia bisa tertawa lepas, setelah kurang lebih 5 tahun ia hidup seperti vampire yang jarang tertawa.
"Lo itu masih bocil, bau kencur lagi. Udah jangan mikir aneh-aneh. Sana lo pulang, abis tuh cuci kaki terus tidur," ucap Rendra.
"Emang kalau suka sama orang harus memandang umur ya?" tanya Luna.
"Sekarang gue tanya sama lo. Apa alasan lo suka sama gue?" tanya balik Rendra.
Luna menggelengkan kepalanya, "Entah aku cuma pengen deket sama Om landak aja."
"Lo aja manggil gue Om, ntar orang lain ngira gue ini Om lo, bukan pacar lo," balas Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bocil Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Halangi Aku!
Seorang wanita dengan histeris meminta masuk ke dalam rumah Keluarga Wilson. Para penjaga yang berada di sana mulai kewalahan, saat berusaha menarik wanita tersebut untuk pergi.
"Biarkan saya bertemu dengan Tuan Danu!" wanita tersebut bersikeras untuk masuk ke dalam, sambil terus mendorong para penjaga yang menghalangi jalannya.
"Maaf, Tuan Danu sedang tidak berada di rumah. Lebih baik ibu keluar dari sini! Jangan buat kekacauan, sebelum kami seret ibu secara paksa sekarang juga!"
Seolah tidak peduli dengan ancaman mereka, wanita tersebut masih nekat ingin masuk ke dalam rumah Keluarga Wilson.
"TUAN DANU!" ia berteriak dengan suara keras, disertai rasa amarah yang memuncak. Kedatangannya kesini untuk meminta pertanggung jawaban Danu, atas kematian anaknya, Kevin.
"Kembalikan anak saya!" kini tangisnya mulai pecah, saat ia tidak kuat mengetahui fakta jika anaknya sudah meninggal. Dan itu semua akibat ulah penjahat berdarah dingin, Danu Altara Wilson.
"TUAN Danu!!!! KEMBALIKAN NYAWA ANAK SAYA!!!" wanita tersebut terus berteriak, dan membuat para penjaga merasa geram.
Bruak
Wanita tersebut jatuh tersungkur ke tanah, saat penjaga dengan kasar mendorong tubuhnya. Ia berusaha ingin bangkit, namun sorot matanya melihat ada sepatu hitam yang berada di hadapannya.
Ia mendongak keatas, dan melihat jika pemilik sepatu hitam tersebut adalah ...
"Tuan Danu!" gumam wanita tersebut. Tanpa berpikir panjang lagi, ia bangkit dan langsung menampar pipi Danu.
Plak
Tamparan keras mendarat mulus di pipi Danu. "Dasar manusia biadab! Bisa-bisanya anda tega membunuh ajudan anda sendiri, Hah!" gertak wanita tersebut, menatap tajam wajah Danu.
Danu yang mendapat tamparan, dan gertakan dari wanita yang berada di hadapannya, hanya menatapnya dingin. "Anda siapa?"
"Saya Wulan, ibunya Kevin."
"Oh!" Danu hanya merespon singkat, dan memilih masuk ke dalam rumahnya.
"Tuan!" panggil Wulan namun Danu tidak menghiraukannya. Bahkan saat ia ingin mengejar Danu, dengan cepat para penjaga langsung menahannya.
"Maaf, lebih baik ibu keluar dari sini!" usir penjaga menyeret Wulan, agar segera pergi dari kediaman Keluarga Wilson.
"Gak! Saya gak mau!" Wulan terus bersikeras mengejar Danu.
"Tuan Danu! Tuan harus tanggung jawab atas kematian anak saya!"
Langkah Danu menjadi terhenti, dan berbalik menatap kesal ke arah Wulan. "Berisik! Berapa sih uang yang anda mau?"
"Saya tidak mau uang, Tuan. Saya ingin anak saya kembali!"
"Anak anda sudah mati, itu balasan karena sudah mengkhianati saya. Lebih baik anda pergi dari sini! Dan ini...." Danu mengambil segepok uang dari balik setelan jasnya, dan melempar ke arah Wulan.
"Itu buat tanggung jawab saya atas kematian anak anda," Danu berbalik pergi meninggalkan Wulan. Darah Wulan seakan mendidih melihat sikap Danu yang ....
"DASAR MANUSIA DURJANA!!! ANDA PIKIR BISA MENGGANTIKAN ANAK SAYA DENGAN UANG, HAH!!!"
"Jangan cuma karena bergelimang harta, anda dengan seenaknya mengganti rugi nyawa orang lain dengan uang!"
"Saya tidak terima, saya bakal tuntut Tuan ke pengadilan. Saya tuntut... saya tuntut aahhhhh!!!" tangis Wulan histeris ia merasa seperti orang gila yang berharap keadilan, sementara Danu sama sekali tidak peduli.
*********************************
"Bapak mengenalnya?" tanya Luna yang merasa heran, melihat Pak Adit seperti terkejut saat ia menyebutkan nama 'Rendra'.
Adit terdiam seribu bahasa tanpa ingin menjawab pertanyaan Luna. Ia terlihat sangat gelisah, dan was-was seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Pak Adit?"
Adit tersentak dari lamunannya, saat Luna memanggilnya, "Ah iya. Kenapa?" tanyanya merasa gugup.
"Kenapa Bapak terlihat seperti sedang ketakutan? Bapak mengenal Tuan Muda Rendra?" tanya Luna sekali lagi.
Sebentar Adit mengatur emosinya, "Saya kenal kok sama Tuan Muda Rendra. Terlebih semua orang di seluruh kota ini pasti juga mengenalnya,"
"Tapi, kalau boleh saya menyarankan. Kenapa kamu gak pikir ulang dua kali, sebelum kamu benar-benar bekerja bersamanya."
Luna mengernyitkan alis merasa bingung, mendengar saran dari Adit. "Kenapa Bapak menyarankan hal itu? Apa Bapak mengetahui sesuatu tentang Kak Rendra?"
Adit dibuat terkejut mendengar Luna memanggil Rendra dengan sebutan 'Kak'. "Kamu panggil Tuan Muda dengan sebutan itu?" tanyanya dan membuat Luna menganggukkan kepala, sebagai tanda jawabannya.
Adit menghela napas panjang, "Sedekat apa hubungan mu dengan Tuan Muda?"
"Ya sedekat, emmm..." Luna menggigit bibirnya sendiri, karena merasa bingung untuk memberi jawaban kepada Adit. Kan gak mungkin ia mau mengatakan sedang menjalin hubungan dengan Kak Rendra. Ya meski itu cuma pura-pura 1 minggu sih.
"Kenapa kamu diam?" tanya Adit.
"Ya intinya saya sama Kak Rendra-"
"Pacaran?" Adit menyela perkataan Luna, mencoba menebak jika Luna telah menjalin hubungan spesial dengan Tuan Muda Rendra.
Sementara Luna dibuat terkejut mendengar tebakan Adit. "Hah! Nggak kok, kami cuma..." lidahnya tiba-tiba terasa kelu saat ingin membantah tebakan Adit.
"Kamu jangan bohong sama Bapak!" Adit menatap dingin ke arah Luna.
"Huff! Iya Pak. Saya sama Kak Rendra pacaran," ucap Luna mengakui hubungannya dengan Rendra. Bagaimanapun, ia tidak bisa menyembunyikan, atau bahkan membohongi Pak Adit yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.
Mendengar jawaban Luna, semakin jelas terpancar raut wajah gelisah Adit yang mulai bingung harus berbuat apa, untuk menyelamatkan Luna dari ....
"Luna, tolong dengarkan saya baik-baik. Lebih baik kamu jauhin Tuan Muda sekarang juga," pinta Adit menatap sendu ke arah Luna.
Tatapan matanya terlihat seperti seorang ayah mengkhawatirkan anak perempuannya. Adit tidak ingin jika sesuatu hal buruk terjadi kepada Luna.
"Kalau gitu Bapak jelasin dulu alasannya. Kenapa saya harus menjauh dari Kak Rendra?" tanya Luna meminta penjelasan Adit.
"Bapak gak bisa jelasin semua. Tapi percayalah! Bapak tidak ingin sesuatu terjadi padamu, Nak." Adit menggenggam tangan kanan Luna di atas meja.
"Kamu udah Bapak anggap sebagai anak Bapak sendiri. Jadi tolong, menurut sama Bapak! Kamu boleh bekerja dimana saja, asal jangan bersama dengan Tuan Muda Rendra."
Luna merasa tersentuh mendengar perkataan Adit, yang terlihat sangat mengkhawatirkannya. Tapi keputusannya sudah bulat. Ia tetap ingin bekerja bersama Rendra menjadi asisten pribadinya.
"Sebelumnya saya berterima kasih sama Bapak, karena udah peduli sama saya, dan menganggap saya sebagai anak Bapak sendiri. Tapi.." Luna menaruh tangan kirinya, di atas tangan Adit yang menggenggam erat tangan kanannya.
"Saya tetap memutuskan untuk bekerja menjadi asisten pribadi Kak Rendra."
Adit hanya bisa menghela napas panjang, mendengar keputusan terakhir Luna. Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain berdoa supaya Luna dijauhkan dari hal-hal yang buruk.
"Baiklah, Nak. Bapak terima keputusanmu. Tapi ingat! Kalau ada apa-apa kabari Bapak," pinta Adit tersenyum menatap Luna.Luna juga membalasnya dengan senyuman manis.
"Siap, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu," pamitnya mencium tangan Adit, dan bergegas pergi keluar.
Sedangkan Adit terus menatap punggung Luna yang semakin menjauh, sampai tidak terlihat lagi. Hingga ia dikejutkan dengan suara handphonenya yang berdering, menandakan jika ada panggilan masuk.
Saat Adit melihat siapa yang menelponnya, tangan kanannya tiba-tiba gemetar sampai tidak bisa menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut. Ia hanya terdiam mematung, sambil terus melihat nama pemanggil yang tertulis ....
Tuan Danu
***************************
"Luna!" panggil Satya berlari menghampiri Luna, yang sedang berada di parkiran Glide Cakes.
"Satya?" Luna sedikit bingung melihat temannya itu tergesa-gesa menghampirinya. "Ada apa?" tanyanya menatap Satya yang sudah berada di hadapannya.
"Kamu beneran keluar dari Glide Cakes?" tanya Satya dengan napas tersengal.
Luna menganggukkan kepala, "Iya aku keluar dari sini. Maaf ya sebelumnya aku gak ngomong dulu ke kamu," ucapnya merasa bersalah.
"Tapi kenapa kamu berhenti dari sini, Lun?" tanya Satya yang merasa bingung dengan keputusan Luna.
"Ya karena aku udah dapat pekerjaan di tempat lain."
"Jadi asisten pribadi Tuan Muda Rendra?" tebak Satya membuat Luna terkejut.
"Kamu tau darimana?"
"Aku tadi gak sengaja menguping obrolan kamu dengan Pak Adit," balas Satya. "Luna, aku minta kamu jangan jadi asisten dia ya?"
"Kok kamu ikut-ikutan Pak Adit yang melarang ku buat jadi asisten pribadi Kak Rendra," ucap Luna merasa bingung, melihat mereka seakan tidak setuju dengan keputusannya itu.
"Ada hal yang belum saatnya kamu tau. Tapi untuk sekarang, aku minta kamu dengerin perkataanku. Tolong batalkan rencanamu yang ingin kerja jadi asisten pribadi Tuan Muda Rendra," ujar Satya memberi pengertian sambil menggenggam erat kedua tangan Luna.
"Tapi maaf, Sat. Aku tetap memutuskan untuk jadi asisten pribadi Kak Rendra," Luna melepaskan genggaman tangan Satya.
Satya terlihat sangat kesal, menatap ke arah Luna. "Kenapa kamu keras kepala banget sih!"
"Kamu membentak aku, Sat?" tanya Luna merasa tidak percaya mendengar Satya, yang baru kali ini membentaknya.
"Sorry, aku gak bermaksud membentak kamu. Tapi tolong! Dengerin aku sekali ini aja. Karena aku gak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Satya tulus menatap Luna.
"Aduh, Sat! Memang kamu pikir aku bakalan di apain sama Kak Rendra? Aku kan cuma kerja jadi asisten pribadinya. Terus kenapa kamu, bahkan Pak Adit juga berpikir, kalau aku bakalan kenapa-kenapa?" Luna sampai menggelengkan kepala karena merasa aneh dengan pemikiran Satya, dan Pak Adit. Yang terkesan terlalu berlebihan mengkhawatirkannya.
"Luna aku serius. Aku gak mau hal buruk terjadi kepada mu. Kalau kamu sampai kenapa-kenapa, aku orang pertama yang merasa gagal karena gak bisa jagain kamu, " ucap Satya mencoba membuat Luna mengerti dengan sikapnya ini.
Luna merasa aneh dengan sikap, dan perkataan Satya kali ini. "Maksud kamu apa?"
"Aku suka sama kamu."
"Hah!" Luna terkejut mendengar pengakuan Satya, yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya, jika Satya ....
"Kamu suka sama aku?" tanya Luna memastikan jika pendengarannya tidak salah.
Satya mengangguk, "Iya aku suka sama kamu,"
"Sebagai Kakak, dan Adik," sambungnya dengan suara pelan.
Luna bernapas lega, "Ish kamu ini bikin aku kaget aja," ucapnya merasa kesal melihat Satya, yang sengaja membuatnya terkejut.
"Hahaha, emang kamu pikir aku suka sama kamu sebagai pacar ya?" Satya mengacak-acak rambut Luna.
"Ck! Apaan sih gak ada ya!" balas Luna memasang wajah kesal.
Satya tersenyum, "Ya udah. Jadi kamu mau pertimbangkan permintaanku yang tadi kan?"
"Sebelumnya makasih banget, Sat. Kamu sama Pak Adit sama-sama mengkhawatirkan aku, meski aku sendiri gak tau pasti alasan kalian tuh apa? Tapi..." sebentar Luna menarik napas dalam-dalam.
"Aku tetap pada keputusanku menjadi asisten pribadi Kak Rendra."
Satya menghela napas kasar. "Ya sudah, kalau memang itu keputusanmu. Tapi ingat kalau ada apa-apa, kabari aku secepatnya!" pintanya dan langsung pergi meninggalkan Luna begitu saja.
"Tuh anak kenapa sih sebenarnya?" gumam Luna merasa bingung, melihat Satya yang bersikap aneh.