NovelToon NovelToon
Pak Dimas (Guru Gen Z Ganteng)

Pak Dimas (Guru Gen Z Ganteng)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Kukuh Basunanda

Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Honor Pertama Mengajar Di Sekolah Negeri

Sebulan sudah, Dimas mengajar di SMKN 1 Nusantara. Kalender berganti tanggal 1 september. Di ruang guru saat jam istirahat pertama, wajah para guru terlihat begitu sumringah karna waktunya mereka menerima gaji sebagai guru PNS.

Dimas sibuk mengoreksi ulangan siswa di mejanya yang terletak di sudut sebelah kiri paling belakang.

“Pak Dimas, punten, njenengan di panggil bu Rani di ruang TU” pak Edi menginformasikan ke Dimas.

“Nggih pak, terimakasih infonya” respon Dimas.

Berjalan Dimas menuju ruang tata usaha kemudian  bertemu bu Rani selaku bendahara sekolah.

“Pak Dimas, ini ada titipan dari sekolah, honor mengajar pak Dimas selama sebulan” ucap bu Rani sembari menyodorkan amplop putih bertuliskan Dimas Aditya, S.Pd.

“Alhamdulillah, nggih bu saya terima, terimakasih bu” balas Dimas sembari menerima amplopnya.

Sepulang mengajar, Dimas membuka amplopnya di rumah ternyata hanya berisi uang sebesar 250 ribu.

“Sebulan mengajar dari pagi sampai sore hanya di bayar segini” gerutu Dimas dalam hatinya.

“Kalau uang segini sih cuma habis buat isi bensin aja” hatinya kembali bergumam.

Dimas memang sudah menyadari sedari awal tentang resiko menjadi guru honorer. Seakan terjebak dalam kebimbangan antara di tuntut keikhlasannya untuk mengajar dan juga tuntutan harus menabung untuk melamar pacarnya.

Semangat Dimas tidak memudar, ia tetap memilih jalah hidupnya menjadi seorang guru. Sesekali ia berfikir.

“Apa sebaiknya aku ngajar les privat lagi aja apa yah buat nambah penghasilan” begitulah lintasan singkat isi benaknya.

Menurut pengalamannya, les privat lebih baik dari segi income daripada jadi guru honorer. Bagaimana tidak, les privat di bayar per pertemuan dengan nominal yang beragam tergantung level kelasnya, sedangkan guru honorer di bayar seikhlasnya.

Tanpa berfikir panjang, ia kembali membuka les privat, baik datang langsung ke rumah siswa atau secara online melalui zoom. Dimas mulai semangat berpromosi menggunakan akun medsosnya, memposting video English conversation dengan siswanya dahulu yang telah berhasil dan juga screenshot whatsApp berisi testimoni dari orang tua siswa.

Tak butuh waktu yang lama, ada pesanWA masuk di handphone nya, ternyata dari seorang ibu yang hendak memakai jasa dirinya untuk membimbing belajar anaknya di rumah.

“Selamat sore Mr., saya ibu Ani, saya mau les privat bahasa inggris untuk anak saya, kelas 4 SD. Rumah saya di jalan watu agung no. 50, untuk jadwal dan biayanya nanti kita bicarakan di rumah ya !” begitu isi pesan WA yang dimas terima.

“Siap bu, nanti saya infokan kalau mau ke rumah ibu, thank you” ketik Dimas membalas pesan WA dengan emoticon senyum.

Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Hasil memang tak menghianati usaha. Dalam hitungan hari, Dimas banjir tawaran les privat hingga jadwalnya penuh tanpa sisa terkecuali malam minggu.

***

Malam minggu tiba, seperti biasa, Dimas apel ke rumah pacarnya. Ayah Nayla bernama pak Junaedi seorang anggota DPRD. Sedari awal dia tidak setuju Dimas menjalin hubungan khusus dengan putri semata wayangnya, namun karna dia melihat Dimas sebagai penyemangat belajar putrinya, pak Jun memilih membiarkannya.

Ada alasan mengapa pak Jun tidak pernah merestui Dimas berpacaran dengan anaknya karna Dimas hanya lah seorang anak yatim dari keluarga biasa yang tak memiliki masa depan yang cerah.

“Teng tong .. teng tong ..” suara bel rumah Nayla berbunyi.

Pak Jun membuka pintu rumahnya, di sambut senyum ramah oleh Dimas.

“Assalamualaikum om, apa kabarnya hari ini ?” Dimas membuka percakapanya.

“Walaikum sallam, baik” jawab pak Jun dengan ekspresi datar tanpa senyuman.

“Nayla nya ada om ?” tanya Dimas kepada pak Jun.

“Silakan duduk dulu !” seperti biasa semua kata-kata Dimas di jawab ketus oleh pak Jun.

Keluar dari kamarnya, muka Nayla begitu ceria menghampiri pujaan hatinya.

“Yah, Nayla ijin pergi dulu yah, mau pergi sebentar sama kak Dimas” ijin Nayla dengan wajah tersenyum bahagia.

“Mau kemana ?” jawab ayahnya.

“Biasalah yah, anak muda, ayah kaya gak pernah muda aja”.

“Ya sudah, tapi ingat yah jam 9 malam harus sudah di rumah lagi” tutur pak jun.

“Ashiap 86 ayah,” suara Nayla sambil mringis, mengangkat tangan kananya ke kepala dan memberi hormat kepada ayahnya layaknya prajurit yang sedang memberi hormat kepada atasannya.

“Dimas tolong jaga anak om yah !” seru pak Jun.

“nggih om siap” jawab Dimas dengan menganggukan kepala sembari tersenyum.

“Kalau begitu, saya ijin bawa Nayla dulu ya om” ucap Dimas sambil mencium tangan pak Jun.

Bergegas dua insan yang sedang dilanda kasmaran di hatinya keluar rumah. Dengan motor matic nya, Dimas membonceng pujaan hatinya tersebut.

Melaju dengan pelan seolah sedang menikmati hembusan angin malam. Tangan Nayla memeluk erat tubuh Dimas dari belakang. Dagunya ia di sandarkan ke pundak Dimas. Hembusan angin yang semakin kencang menambah suasana malam semakin romantis.

Di sebuah cafe yang terletak di pinggir jalan, Dimas menghentikan laju motornya  lalu memarkirkannya. Kemudian masuk, memesan makanan lalu duduk berdua di sudut bagian outdoor cafe.

“Tumben banget yank, kamu ngajakin aku ke cafe, biasanya kalau gak anggringan ya warung bakso”, katanya Nayla sambil sedikit meledek pacarnya.

“Kayanya habis gajian nih ... ?” ucapnya lagi.

“Cie.. cie.. cie.. di gaji berapa yank ?”

Dimas mengeluarkan amplop putih dari saku celananya dan memberikannya kepada Nayla.

“Kamu buka dan lihat sendiri isinya !” seru Dimas.

“250 ribu ? serius ?” wajah Nayla menatap Dimas  sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya serasa ingin tertawa sekencang-kencangnya.

Dimas menganggukan kepala sembari tersenyum tipis.

Melihat Nayla yang begitu terkaget lucu, ia mencoba memecah suasana. Dia mengambil uang seratus ribu dari dalam amplopnya kemudian membuka lebar uangnya.

“kamu tau gak beda nya kamu sama uang seratus ribu ?” tanya Dimas ke Nayla.

“Emm .. apa yah ?” respon Nayla sembari menggelengkan kepala.

“Emang apa bedanya yank ?”

“Kalau uang seratus ribu itu di terawang tapi kamu itu di sayang” gurau Dimas.

“ihhh .. coo ..cuiiit” katanya Nayla sambil tersenyum tersipu malu.

Saat mereka sedang asyiknya becanda, waiter datang mengantarkan pesanan.

“Permisi kak, ini pesananya, satu hot americano, satu red velvet sama mix platter, apa ada lagi yang mau di pesan kak ?” tanya waiternya.

“Gak ada mas, terimakasih ya !" ucap Dimas.

“Sama-sama kak, selamat menikmati kak”, ujar waiter kemudian melangkah pergi.

Kembali Dimas beraksi, melirik secangkir kopi, sorot matanya menatap wajah Nayla dengan senyum berbinar.

“Kalau kopi sama kamu bedanya apa ?” tanya Dimas lagi.

Nayla tersenyum  dan menggelengkan kepala, “Emang bedanya apa yank ?”

“Kalau kopi itu pahit, kalau kamu itu manis” begitulah gombalan Dimas kepadanya.

Lagi dan lagi Nayla tersenyum tersipu malu, wajahnya memerah, hatinya melambung tinggi bagaikan tendangan bebas dalam sepakbola.

Usai mengantar Nayla pulang, di sepanjang jalan Dimas senyum-senyum sendiri yang menandakan hatinya begitu bahagia. Sesampainya di rumah, dia mengetok pintu rumahnya yang kebetulan di kunci dari dalam.

“Assalamualaikum” ucap Dimas.

Diana membuka pintunya,

“Walaikum sallam”

“Cie .. cie ..cie ada yang habis malmingan nih sama kak Nay” ledekan Diana ke kakaknya.

“Apaan sih lu, sok tau” jawab Dimas mencubit pelan pipi adiknya.

“Cie .. cie .. cie, kapan nih kak Dimas ngelamar kak Nay ? gak baik tau lama-lama pacaran” gurau adiknya kembali.

“Hey jomblo, kepo aja lu” canda Dimas.

“Eh jangan salah, aku ini single kak bukan jomblo”

“Emang bedanya apa single sama jomblo ?” tanya Dimas.

“Single itu pilihan kak kalau jomblo itu kutukan” respon Diana.

“Ha..ha..ha” keduanya tertawa lepas.

***

Di tempat yang berbeda, Wulan merebahkan tubuhnya di atas kasur kamarnya.Tangannya menghelai rambutnya yang lurus dan panjang. Ada rasa kebosanan hidup menjanda selama 5 tahun. Ingin rasanya mempunyai pendamping hidup baru yang selalu menemani tidurnya. Namun rasa trauma yang mendalam selalu menghantui hidupnya, seperti ada goresan luka di hatinya yang belum sembuh.

Benaknya melayang ke belakang, mengingat kejadian kelam di masa silam. Saat itu dirinya di kenal sebagai kembang desa yang di nikahi seorang pengusaha bernama Surya.

Sebelum menikah, Surya adalah seorang pengusaha rumah makan yang memiliki nama brand “Ayam Geprek Sang Surya”. Karna gerainya selalu ramai di banjiri pembeli, dia membuka cabang di beberapa kota salah satunya di Brebes.

Ketika itu, Wulan melamar kerja di gerainya. Saat sedang mengikuti test interview, Surya terpesona dengan kecantikan Wulan. Tak butuh waktu yang lama, Surya menemui orang tua Wulan kemudian melamarnya. Tiga bulan kemudian, mereka menikah.

Setelah menikah, rezeki mereka semakin deras. Dalam waktu yang singkat, mereka memiliki beberapa usaha tambahan seperti rumah kost, mini market, biro haji dan umroh serta klinik skin care. Tak heran beberapa orang menuduhnya melakukan pesugihan.

Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya. Seiring kesuksesannya, Surya tergoda oleh wanita lain. Lelaki ketika merasa sudah jaya, maka banyak wanita yang datang menggoda.

Di suatu malam saat Wulan baru saja pulang dari klinik skin care nya. Ia menyaksikan sendiri dengan kedua bola matanya, sang suami meniduri wanita lain tanpa sehelai kain pun menempel di tubuh mereka.

Sontak Wulan terkejut bagai tersambar petir di malam hari.

“Astaghfirullohaladzim ... papah ..” Wulan berteriak dengan mata terbelalak.

Mendengar teriakan tersebut, Surya dan selingkuhannya segera bangkit dan bersicepat memakai pakaian mereka.

Wulan terdiam sejenak, tangannya merenggang menutup mulutnya serasa tak percaya dengan apa yang suaminya lakukan.

“Biadab kamu pah" seru Wulan sambil menangis.

Alih-alih menyesali perbuatannya, Surya malah menampar istrinya.

“Praaakk” suara tamparan keras mendarat di pipi Wulan.

“Aku kan sudah bilang, kalau kamu mau pulang kabarin dulu” kilah Surya.

Lalu Surya memberikan ancaman.

“Awas aja kalau sampai kamu berani buka mulut ke semua orang, akau gak akan segan membunuhmu”

“Bukan cuma kamu tapi juga adikmu, camkan itu” gertak Surya.

Bagai makan buah simalakama, Wulan berada di posisi serba salah. Rasanya ingin menggugat cerai suaminya tetapi di sisi lain ia takut kehilangan segala fasilitas yang di berikan suaminya itu. Segala keputusannya berada di ujung tanduk sehingga dia memilih bertahan meskipun rasa sakit di hatinya menerjang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!