Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Keputusan itu diambil Evans malam itu juga.
Tanpa menunggu pagi.
Tanpa mempertimbangkan opini siapa pun.
Begitu ia memastikan gosip murahan itu mulai beredar dan nama Xerra disentuh dengan cara yang tidak pantas Evans langsung bergerak.
Cepat.
Tegas.
Tanpa ampun.
Ia berdiri di depan jendela ruang kerja mansion, cahaya kota London memantul di matanya yang dingin. Ponsel menempel di telinga.
“Majukan tanggal pernikahan,” ucapnya datar.
“Dua hari lagi.”
Di seberang sana, suara panitia nyaris tercekik.
“Tuan Pattinson… Dua hari itu.....”
“Lakukan,” potong Evans tanpa emosi.
“Konsep tetap. Tempat tetap. Aku tidak peduli soal biaya.”
Telepon ditutup.
Evans berbalik.
Xerra duduk di sofa, jemarinya saling menggenggam gelisah. Wajahnya cantik… tapi terlalu polos untuk dunia yang kejam.
“Om…?” panggilnya pelan.
Evans melangkah mendekat, lalu berlutut di hadapannya. Tangannya yang besar menggenggam tangan Xerra dengan kuat bukan menekan, tapi melindungi.
“Kita menikah dua hari lagi,” katanya rendah.
Xerra terdiam. Napasnya tercekat.
“Dua hari…?” bisiknya.
Evans mengangguk. Tatapannya mantap.
“Aku tidak akan membiarkan satu hari pun kau berdiri tanpa namaku melindungimu.”
Xerra menelan ludah.
“Karena gosip itu…?”
Evans menggeleng pelan.
“Tidak,” jawabnya jujur.
“Gosip itu hanya mempercepat sesuatu yang sudah kupilih sejak awal.”
Ia mengangkat tangan Xerra, menempelkannya ke dadanya.
“Di sini,” katanya pelan.
“Kau aman.”
Air mata tipis jatuh di pipi Xerra. Ia mengangguk, lalu memeluk Evans erat seakan takut dunia akan merebutnya.
Undangan pernikahan disebar keesokan paginya.
Eksklusif.
Mewah.
Dengan nama Evans Pattinson tertera jelas.
Dan ada satu detail yang tidak luput dari perhatian
Maxim.
Melanie.
Liona.
Dan Calvin.
Mereka semua diundang secara khusus.
Bukan sebagai keluarga.
Melainkan sebagai saksi.
Di sebuah apartemen kecil, Liona membaca undangan itu dengan tangan gemetar.
“Dua hari lagi…?”
Suaranya hampir hilang.
Calvin terdiam, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Sementara itu Maxim meremas undangan itu hingga kusut.
“Dia menikah dengan Evans Pattinson…” gumamnya penuh amarah.
“Dalam dua hari…”
Melanie tertawa kecil, tapi matanya penuh kebencian.
“Dia ingin kita melihatnya,” desisnya.
“Dia ingin kita tahu… dia menang.”
Dan mereka benar.
Karena di bagian bawah undangan itu, tercetak kalimat singkat yang terasa seperti palu godam
“Kehadiran Anda sangat dinantikan.”
Bukan undangan.
Itu vonis.
Di balkon mansion, Xerra berdiri memandangi langit malam. Angin menyentuh rambutnya, pita kecil masih terikat manis.
Evans berdiri di belakangnya, menyampirkan jas di bahunya.
“Kau takut?” tanyanya pelan.
Xerra menoleh dan tersenyum lembut.
“Tidak,” jawabnya jujur.
“Aku hanya… tidak pernah membayangkan ada seseorang yang mau melindungiku sejauh ini.”
Evans menunduk, keningnya menyentuh kening Xerra.
“Biasakan,” bisiknya.
“Aku tidak berniat berhenti.”
Di kejauhan, lonceng gereja berdentang pelan.
Dua hari lagi
Xerra Collins tidak lagi berdiri sendiri.
Dan mereka yang pernah menyakitinya
akan menyaksikan sendiri
siapa yang kini berdiri di sisinya.
Pagi itu, London cerah.
Langit biru bersih seolah ikut merestui hari yang akan mengubah hidup seseorang selamanya.
Di kamar pengantin Asterion Grand Hotel, Xerra duduk di depan cermin besar berbingkai emas. Gaun pengantinnya sudah terpasang rapi putih lembut, sederhana, dengan detail renda halus yang tidak berlebihan.
Ia terlihat… indah.
Bukan karena kemewahan.
Tapi karena ketenangan di wajahnya.
Stylist terakhir menyentuh sedikit lipstik di bibirnya.
“Selesai,” ucapnya lembut.
“Anda sangat cantik, Nona Xerra.”
Xerra tersenyum gugup. “Terima kasih…”
Pintu kamar diketuk pelan.
Tok. Tok.
Dua sosok masuk hampir bersamaan.
“XERRA!”
Vio langsung menutup mulutnya sendiri begitu melihat sahabatnya.
Rose di sampingnya membeku.
“Astaga…” bisik Rose. “Ini… kamu?”
Vio dan Rose berdiri canggung di ambang pintu.
Gaun yang mereka kenakan sederhana. Rapi. Jelas bukan dari butik mahal. Rambut mereka ditata sendiri, make-up tipis, sepatu yang sudah sering dipakai kerja.
Mereka berasal dari dunia yang sangat berbeda.
Namun mata Xerra langsung berkaca-kaca.
Ia berdiri dan berjalan menghampiri mereka, tanpa peduli gaunnya.
“Kalian datang…” suaranya bergetar.
Vio langsung memeluknya erat.
“Mana mungkin kami tidak datang, bodoh.”
Rose ikut memeluk dari sisi lain.
“Kami bangga sama kamu, Xerra,” ucap Rose pelan. “Bangga banget.”
Xerra tertawa kecil sambil menangis.
“Aku takut kalian merasa… tidak pantas datang ke acara seperti ini.”
Vio menjauh sedikit, menatapnya tajam.
“Kamu lupa ya? Kita pernah makan mie instan bertiga di kamar sempit dan tetap ketawa.”
Rose mengangguk.
“Kalau kamu pantas bahagia, maka kami pantas berdiri di sini.”
Xerra memeluk mereka lagi.
Hari ini ia merasa benar-benar punya keluarga.
Di ballroom, tamu undangan telah memenuhi ruangan.
Gaun mewah. Jas mahal. Nama-nama besar.
Di barisan depan
Maxim dan Melanie duduk kaku.
Liona dan Calvin di belakang mereka, wajah mereka tak bisa disembunyikan dari rasa tidak percaya.
Mereka menyaksikan layar besar menampilkan nama.
EVANS PATTINSON & XERRA COLLINS
Bisik-bisik terdengar.
“Dia yatim piatu, bukan?”
“Tapi sekarang… dia akan jadi Nyonya Pattinson.”
“Evans terlihat sangat serius.”
Dan memang
Evans berdiri di altar.
Setelan hitam sempurna membingkai tubuhnya. Wajahnya dingin seperti biasa, tapi rahangnya tegang tanda satu hal
Ia gugup.
Bukan karena pernikahan.
Melainkan karena menunggu Xerra.
Saat musik mulai mengalun pelan, seluruh ballroom hening.
Pintu besar terbuka.
Xerra muncul.
Gaunnya jatuh sempurna, langkahnya perlahan, anggun. Matanya mencari satu orang.
Dan menemukannya.
Evans.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk sesaat, dunia seakan berhenti.
Evans menarik napas dalam ini pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa ingin berlutut… bukan karena kekuasaan, tapi karena cinta.
Saat Xerra berjalan mendekat, Evans melangkah maju setengah langkah.
Tidak sabar.
Tidak dingin.
Hanya seorang pria yang akhirnya menemukan rumahnya.
Ketika Xerra berdiri di hadapannya, Evans berbisik pelan, hanya untuknya
“Kau nyata.”
Xerra tersenyum bahagia
“Aku di sini.”
Evans menggenggam tangannya.
Kuat.
Pasti.
Dan di barisan tamu, Vio dan Rose menangis tanpa malu.
“Dia beneran menikah sama orang kaya…” gumam Vio sambil terisak.
Rose tersenyum sambil mengusap air mata.
“Dan dia tetap Xerra yang kita kenal.”
Di sisi lain ballroom, dua pria memperhatikan ke arah mereka
Ben, tangan kanan Evans, melirik Vio.
Dan Gerry, sahabatnya, tanpa sadar menatap Rose lebih lama dari seharusnya.
Tapi itu… cerita lain.
Hari ini
Adalah tentang Xerra.
Tentang seorang gadis yang dulu tidak punya siapa-siapa.
Kini berdiri sebagai istri Evans Pattinson.
Dan saat cincin terpasang, Evans menunduk dan berbisik di telinga Xerra
“Sekarang, biarkan dunia mencoba menyentuhmu.”
Ia menatap lurus ke depan.
“Aku di sini.”
Ballroom Asterion Grand Hotel tenggelam dalam keheningan.
Musik berhenti.
Hanya tersisa napas para tamu dan cahaya lembut yang jatuh tepat di altar.
Pendeta berdiri di tengah, kitab kecil terbuka di tangannya.
Evans dan Xerra saling berhadapan.
Tangan mereka saling menggenggam.
Hangat. Nyata.
Pendeta tersenyum lembut.
“Kita berkumpul hari ini untuk menyatukan dua jiwa yang telah memilih satu sama lain.”
Ia menoleh ke arah Evans lebih dulu.
“Tuan Evans Pattinson…
Apakah Anda bersedia menerima Xerra Collins sebagai istri Anda.
Melindunginya, menghormatinya, dan mencintainya dalam suka maupun duka,
selama Anda hidup?”
Evans tidak langsung menjawab.
Ia menatap Xerra.
Bukan tatapan dingin yang biasa dunia kenal
melainkan tatapan seorang pria yang akhirnya menurunkan semua bentengnya.
“Aku bersedia,” ucapnya mantap.
Lalu, tanpa diminta, Evans melanjutkan.
“Aku ingin mengatakan sesuatu.”
Ballroom menahan napas.
Evans menggenggam tangan Xerra lebih erat.
“Xerra datang ke hidupku tanpa apa-apa…
tanpa perlindungan, tanpa jaminan, tanpa siapa pun.”
Matanya sedikit melembut.
“Tapi justru dia yang mengajarkanku arti memiliki.”
Xerra berkaca-kaca.
“Aku berjanji… selama aku bernapas,
tidak akan ada satu hari pun kau merasa sendirian.”
Beberapa tamu menunduk, terharu.
Pendeta kemudian menoleh ke arah Xerra.
“Nona Xerra Collins…
Apakah Anda bersedia menerima Evans Pattinson sebagai suami Anda.
Untuk berjalan bersamanya, mempercayainya, dan mencintainya,
dalam segala keadaan yang akan datang?”
Xerra menarik napas dalam.
Tangannya sedikit gemetar… tapi tatapannya teguh.
“Aku bersedia,” jawabnya lirih namun jelas.
Ia menelan ludah, lalu berkata dengan suara bergetar tapi jujur.
“Aku tidak pernah punya keluarga yang utuh.
Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya dipilih.”
Ia menatap Evans, penuh rasa.
“Tapi hari ini… aku memilihmu.
Dan aku ingin tetap di sisimu… selama aku diizinkan.”
Evans menunduk sedikit, menempelkan keningnya ke kening Xerra,singkat, penuh emosi.
Pendeta tersenyum.
“Dengan ini…
saya nyatakan Anda resmi sebagai suami dan istri.”
Detik itu
Seluruh dunia seakan berhenti.
“Anda boleh mencium istri Anda.”
Evans mengangkat wajah Xerra perlahan.
Sangat hati-hati.
Seolah takut ia akan pecah jika disentuh terlalu keras.
Xerra menutup mata.
Evans mencondongkan tubuh…
dan mengecup bibirnya dengan lembut.
Bukan ciuman tergesa.
Bukan pertunjukan.
Hanya sebuah sentuhan singkat
penuh rasa hormat, perlindungan, dan janji.
Namun cukup untuk membuat seluruh ballroom bergemuruh.
Tepuk tangan menggema.
Beberapa tamu berdiri.
Vio menangis sambil menutup mulut.
Rose memeluknya erat.
Di barisan depan
Maxim membeku.
Melanie menegang.
Liona menggenggam tangan Calvin terlalu kuat.
Evans tidak peduli.
Saat ia menarik diri, ia menempelkan dahinya ke Xerra dan berbisik sangat pelan
“Sekarang… kau milikku secara sah.”
Xerra tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Dan aku bahagia.”
Evans menggenggam tangannya dan menghadap ke tamu undangan.
Untuk pertama kalinya
Ia tidak berdiri sebagai penguasa.
Ia berdiri sebagai suami.
Dan Xerra…
akhirnya berdiri di tempat yang memang pantas untuknya.