Sebuah jebakan kotor dari mantan kekasih memaksa Jenara, wanita karier yang mandiri dan gila kerja, untuk melepas keperawanannya dalam pelukan Gilbert, seorang pria yang baru dikenalnya. Insiden semalam itu mengguncang hidup keduanya.
Dilema besar muncul ketika Jenara mendapati dirinya hamil. Kabar ini seharusnya menjadi kebahagiaan bagi Gilbert, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak remaja, ia didiagnosis mengidap Oligosperma setelah berjuang melawan demam tinggi. Diagnosis itu membuatnya yakin bahwa ia tidak mungkin bisa memiliki keturunan.
Meskipun Gilbert meragukan kehamilan itu, ia merasa bertanggung jawab dan menikahi Jenara demi nama baik. Apalagi Gilbert lah yang mengambil keperawanan Jenara di malam itu. Dalam pernikahan tanpa cinta yang dilandasi keraguan dan paksaan, Gilbert harus menghadapi kebenaran pahit, apakah ini benar-benar darah dagingnya atau Jenara menumbalkan dirinya demi menutupi kehamilan diluar nikah. Apalagi Gilbert menjalani pernikahan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Dalapan
Di sebuah apartemen mewah bergaya kontemporer, suasana masih terasa intim. Hilya Prameswari melangkah anggun menghampiri Nicolas yang sedang duduk dengan dahi berkerut di depan laptopnya. Hilya mengecup pipi Nicolas dengan lembut, memberikan hiburan yang selalu berhasil meluluhkan ketegangan pria itu.
"Sabar sayang, apa yang kita lakukan kemarin sudah cukup baik. Hampir saja perusahaan Jenara bangkrut jika tidak ada 'keajaiban' itu," ucap Hilya sembari mendaratkan kecupan di bibir Nicolas. "Tapi kejutan kecil itu cukup membuat si sombong Jenara terguncang. Wanita angkuh itu berhasil kita buat kelabakan, bukan?"
Nicolas menghela napas, jemarinya masih menari di atas keyboard. "Memang benar, Hilya sayang. Namun aku heran, siapa yang berhasil membuat keadaan Digdaya Guna yang terjun bebas berhasil naik kembali secepat itu? Logikanya, butuh waktu berminggu-minggu untuk menstabilkan saham setelah kebocoran data separah itu. Ini pasti bukan orang sembarangan."
Hilya tersenyum sinis, matanya berkilat penuh ambisi. Selama ini, publik hanya tahu Hilya adalah sosialita biasa. Padahal, dialah pemilik asli PT Martha Cipta, kompetitor terkuat Digdaya Guna. "Jangan khawatir, aku akan mencari tahu semuanya. Tak ada yang bisa lepas dari genggaman seorang Hilya Prameswari. Apa yang Jenara miliki, harus menjadi milikku. Bisnis, martabat, bahkan urusan asmaranya."
"Memang kesayanganku yang terbaik," Nicolas menarik pinggang Hilya, tatapannya berubah lapar. Tangannya mulai menjamah tubuh Hilya kembali.
"Ooh, Nico... Ya, di situ. Aku suka," rintih Hilya, melupakan sejenak dendamnya pada Jenara demi memuaskan hasratnya bersama Nicolas yang baru saja selesai tiga puluh menit lalu.
...***************...
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah gorden kamar utama di mansion Gilbert. Jenara terbangun dengan tubuh yang terasa remuk. Ia mencoba menggerakkan bahunya, namun rasa pegal luar biasa langsung menyerang punggung dan pinggangnya.
"Sial," umpatnya pelan.
Ingatannya melayang pada kejadian semalam. Gilbert benar-benar seperti pria yang kerasukan. Ia begitu liar, seolah melampiaskan seluruh amarah, cemburu, dan rasa haus akan kehadiran Jenara dalam satu waktu. Penyatuan mereka semalam bukan lagi sekadar pemenuhan kebutuhan biologis, melainkan sebuah peperangan emosi yang berakhir dengan Jenara yang menyerah total.
Ranjang di sampingnya sudah kosong. Jenara mendesah berat. "Lagi-lagi dia bangun duluan. Pernikahan ini benar-benar dingin. Hanya hangat di ranjang, tapi beku di komunikasi," batinnya pahit.
Suara gemericik air dari kamar mandi tiba-tiba berhenti. Tak lama kemudian, pintu kaca itu terbuka. Gilbert keluar dengan uap air yang masih mengikuti tubuhnya. Ia hanya mengenakan handuk putih yang melilit pinggang bawahnya, memamerkan otot perut yang keras dan dada bidang yang masih basah. Tetesan air jatuh dari rambutnya, mengalir melewati rahang tegasnya.
Jenara tak sengaja meneguk salivanya. Ia harus mengakui, suaminya terlihat sangat seksi dan menggoda dalam keadaan seperti itu. Aroma sabun maskulin dan sampo menyegarkan indra penciumannya, membuat jantungnya berdegup tidak keruan.
Cup.
Tanpa peringatan, Gilbert menghampiri ranjang dan mengecup kening Jenara yang sedang melamun.
"Istriku pagi ini kenapa diam saja? Mulai terpesona dengan suamimu yang gagah dan rupawan ini, hm?" goda Gilbert dengan nada percaya diri yang tinggi.
Jenara tersentak, wajahnya memerah. Ia segera mendorong dada Gilbert. "Cih... Jangan kepedean. Aku hanya sedang memikirkan jadwal rapat!"
Jenara mencoba beranjak dari ranjang. Perutnya terasa penuh dan ia sangat ingin buang air kecil. Namun, begitu kedua kakinya menyentuh lantai, lututnya terasa lemas seperti jeli. Tenaganya seolah habis terkuras semalam.
"Ah!" Jenara hampir saja tersungkur jika tangan kekar Gilbert tidak sigap menangkap pinggangnya.
Gilbert menarik Jenara kembali ke dalam dekapannya. Ia menunduk, menatap mata Jenara dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari semalam. "Maaf jika semalam aku berlaku sedikit... kasar," bisiknya sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Jenara.
Jenara tidak menjawab. Ia terlalu malu untuk menatap mata pria itu. Bayangan posisi-posisi berani yang mereka lakukan semalam mendadak terputar kembali di otaknya. Semalam, Gilbert benar-benar mendominasi, menunjukkan siapa tuan di kamar itu.
"Aku mau ke kamar mandi," gumam Jenara pelan.
"Kaki kamu lemas begitu," Gilbert terkekeh pelan. Tanpa aba-aba, ia langsung menggendong Jenara secara bridal style.
"Ahhh! Apa yang kamu lakukan, Gilbert! Turunkan aku!" Jenara berteriak kaget, tangannya refleks melingkar di leher Gilbert agar tidak jatuh.
"Aku akan memandikanmu, istriku. Diam dan jangan bergerak," jawab Gilbert dengan nada perintah yang tak bisa dibantah.
"Gilbert jangan macam-macam! Aku bisa mandi sendiri!"
Gilbert menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar mandi, menatap Jenara dengan seringai tipis. "Aku suamimu, Jenara. Tentu bermacam-macam dengan istrinya sendiri tidak apa-apa, bukan? Lagipula, aku ingin memastikan wanitaku ini bersih sebelum berangkat kerja."
"Kamu menyebalkan!"
"Dan kamu menikmatinya semalam," bisik Gilbert tepat di telinga Jenara sebelum membawanya masuk ke dalam uap air yang hangat.
Di dalam kamar mandi, di bawah guyuran shower, Gilbert benar-benar memegang ucapannya. Ia membersihkan tubuh Jenara dengan sangat telaten, seolah wanita itu adalah porselen mahal yang mudah pecah. Tak ada nafsu liar seperti semalam, yang ada hanyalah keintiman yang dalam. Jenara yang awalnya memberontak, akhirnya hanya bisa bersandar di dada Gilbert, menikmati perhatian yang jarang ia dapatkan.
"Setelah ini, sarapan. Jangan langsung pergi ke kantor," ucap Gilbert sembari mengeringkan tubuh Jenara dengan handuk besar.
"Aku ada janji dengan arsitek baru jam sepuluh pagi, Gil."
Gilbert menghentikan gerakannya. "Arsitek baru? Siapa?"
"Albani Gunawan. Teman lama," jawab Jenara tanpa sadar bahwa nama itu akan memicu badai baru di hati suaminya.
Rahang Gilbert mengeras, namun ia mencoba menahan diri. "Teman lama atau... mantan tunangan?"
Jenara mendongak, terkejut. "Bagaimana kamu tahu?"
"Tak ada yang tidak aku ketahui tentangmu, Jenara," Gilbert meletakkan handuknya dan menatap Jenara tajam. "Temui dia di kantor, tapi pastikan Alexa ada di sana. Dan satu lagi... jangan biarkan dia menyentuhmu, bahkan untuk sekadar jabat tangan yang terlalu lama."
Jenara mendengus, namun ada rasa hangat di hatinya. "Kamu cemburu?"
"Aku hanya menjaga asetku," jawab Gilbert dingin, kembali ke mode angkuhnya, meski tangannya tetap memeluk pinggang Jenara dengan sangat protektif.
,, pokokny kalian berdua akn terus dihantui malam penuh ehem itu dn membuat kalian gk bisa tenang /Grin/
minimal tertantang bang, kamu ice king dia ice queen,, ayo lawan! jangan kasih kendor /Determined/