Perkenalkan, author merupakan orang desa di pinggiran kota Trenggalek.
Makasih yang sudah mampir. Jika berkenan silahkan tinggalkan jejak.
Semoga terhibur. Happy reading.
Apa salahku, mengapa semua terasa tak adil bagiku?
Cahaya Senja adalah seorang gadis remaja yang berprestasi namun tak pandai bersosialisasi hingga membuatnya tak banyak memiliki teman. Tekanan dari keluarga yang membuatnya demikian. Pertemanannya sangat dibatasi, dan yang tak boleh ada di kamusnya adalah berteman dengan laki-laki. Tanpa Senja tahu, ini semua dilakukan karena adanya luka di masa lalu.
Bertahun-tahun Senja hidup dalam kekangan, hingga akhirnya dia masuk di bangku SMP. Dia mulai merasakan indahnya persahabatan, dan saat mulai timbul rasa penasaran terhadap lawan jenis, hadirlah sosok laki-laki yang membuatnya merasa nyaman. Hari-harinya mulai berwarna, semangat belajar yang kian membara, tidak hanya dalam prestasi juga dalam kehidupan.
Ada cinta, ada hasrat, ada rindu, ada asa, dan ada mimpi yang mulai dia pahami.
"Aku ingin dekat dengannya, tapi tak tahu harus berbuat apa jika bersamanya."
"Pacar? Pacaran itu bagaimana? Apakah untuk dekat aku harus belajar pacaran?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimisan
Sebuah angkot dengan muatan penuh itu berhenti di depan gerbang masuk SMP Negeri 1. Setelah membayar Senja turun dari angkot dan melenggang masuk dengan langkah ringan.
"Wah, Senja emang rajin," lirihnya dengan senyum ceria.
"Selamat pagi semua," teriak Senja.
"Wah tumben akhir-akhir ini rajin. Ada angin apa?" tanya Tyas.
"Ah, nggak usah terlalu memuji," timpal Senja lengkap dengan cengirannya.
"Assalamualaikum." Langkah Ayu terhenti seketika mendapati pemandangan yang tak biasa di kelasnya. "Wo wo wo, Miss telat udah insyaf kayaknya," seloroh Ayu saat tiba.
Ddrrkkk!
Ifa menyeret kursi dan segera duduk di samping Senja, "Iya, tumbenan kamu udah dateng." Di belakangnya Ucik dan Ayu melakukan hal serupa.
"Ellah, pada nggak seneng apa kalau aku sekarang rajin," ucap Senja sambil menopang dagunya.
"Eh, by the way, kalian udah mutusin pengen ikut ekskul apa?" tanya Ucik tiba-tiba.
Ketiganya tampak berpikir. Mereka kemudian berbincang tentang kegiatan ekstrakurikuler yang akan mereka ikuti setiap hari Sabtu. Perbincangan itupun terhenti kala bel masuk berbunyi. Hari Sabtu memang hanya ada 2 jam pelajaran, selanjutnya adalah kegiatan ekstrakurikuler.
2 jam pelajaran pun berlalu, dan bel kembali berbunyi pertanda berakhirnya pelajaran hari ini.
"Itu kak Rivan kan," ucap Senja dengan menunjuk seseorang yang tengah berdiri di depan kelas mereka.
Semua menoleh mencari keberadaan seseorang bernama Rivan yang baru saja ditunjukkan Senja.
"Iya kayaknya," ucap Ayu.
"Ada perlu apa ya dia berdiri di depan kelas kita?" tanya Ifa.
"Senja!" Tiba-tiba Heri, ketua kelas mereka datang dan memanggil Senja.
"Ya," jawab Senja, dia kemudian menatap ketiga rekannya. "Ada apaan ya?" tanyanya kemudian.
"Tau deh. Buruan ke sono, aku juga penasaran," timpal Ifa.
Senja pun berjalan ke arah Heri yang baru saja memanggilnya. "Ada apa?" tanya Senja begitu ia berada di hadapan Heri.
"Nih Kak yang namanya Senja," bukannya menjawab pertanyaan Senja, Heri malah berbicara pada seseorang di hadapannya.
Kak Rivan ngapain nyari aku ya. Batin Senja kala melihat Heri berbicara pada Rivan, ketua OSIS di sekolah mereka.
"Aku udah tahu kok, tadi kan cuma minta tolong buat panggilkan aja", jawab Rivan.
Heri pun segera undur diri.
"Kakak nyari Senja, ada keperluan apa ya?" tanya Senja.
"Sekarang bisa ikut Kakak nggak, mau ada yang dibicarain," ucap Rivan dengan ramah.
"Soal apa ya Kak?" tanya Senja.
"Soal persami minggu depan," jelas Rivan.
Senja manggut-manggut.
"Ayo ikut Kakak ke ruang OSIS, di sana bakal dijelasin lebih lanjut," jelas Rivan.
"Tapi ekskulnya Kak?" tanya Senja.
"Makanya sekarang ikut Kakak, nanti kamu bisa ekskul setelahnya."
"Oke Kak, aku ngambil tas dulu." Senja kemudian berjalan menuju tempat duduknya untuk mengambil tas. Namun di sana masih ada Ucik, Ayu dan Ifa yang tengah menantikan Senja.
"Ada apa?" tanya Ifa penasaran begitu Senja tiba di dekat mereka.
"Nggak tahu, aku suruh ngikut Kak Rivan sekarang. Masalah persami katanya," jelas Senja sambil membereskan barang-barangnya.
"Ada masalah apa emang?" tanya Ayu penasaran.
"Maksudnya?" heran Senja yang menghentikan aktivitas tangannya saat itu juga.
"Kata kamu tadi persami ada masalah," terang Ayu.
pletak!
"Aww!" Ayu meringis kala sebuah pulpen mengetuk kepalanya.
"Beneran enggak sih kamu anak kelas f," cibir Ifa.
"Iya lah, pinter gini," bela Ayu.
"Pinter dari Hongkong," cibir Ifa lagi.
"Kenapa emang?!" nampaknya Ayu tak mengerti sama sekali apa yang membuat dia diragukan kecerdasannya.
"Ya itu, Senja ngomong Kak Rivan mau bahas masalah persami, bukan persaminya yang bermasalah."
Senja manggut-manggut.
"Udah cepet sana, nggak enak Kak Rivan nunggunya kelamaan," ucap Ucik pada Senja.
"Aku ke OSIS dulu ya nanti ekskulnya nyusul," pamit Senja. Dia kemudian berjalan menuju Rivan. Akhirnya mereka pun berjalan beriringan menuju ruang OSIS.
Mendadak menjadi pusat perhatian itulah yang dirasakan Senja saat ini, karena dia tengah berjalan beriringan dengan ketua OSIS di sekolahnya. As you know lah, yang namanya ketua OSIS itu di mana-mana pasti populer.
Tak nyaman, itulah yang Senja rasakan sekarang. Bukan karena apa-apa tapi memang Senja tidak suka jika terlalu menjadi pusat perhatian.
"Kamu masuk aja, di dalam ada Kak Rosida. Dia bakal jelasin apa tugas kamu," terang Rivan pada Senja saat mereka tiba di depan ruang OSIS.
"Iya Kak," jawab Senja.
Kemudian Rivan berbalik meninggalkan Senja.
tok tok tok
"Assalamualaikum," ucap Senja sambil membuka pintu ruang OSIS.
"Waalaikumsalam," jawab Rosida.
"Maaf Kak, tadi Kak Rivan nyuruh saya kesini," terang Senja.
Rosida manggut-manggut. Dia membolak-balik setumpuk kertas kemudian menyodorkan salah satunya kepada Senja. "Ini coba kamu baca," kata Rosida sambil menyerahkan selembar kertas berisi teks kepada Senja.
"Ini apa Kak?" tanya Senja sambil menerima teks yang diberikan kepadanya.
"Teks sambutan pada acara persami nanti. Kami sepakat kamu yang jadi perwakilan siswa baru, bisa kan?" ucap Rosida dengan nada tegasnya.
"Insya Allah Kak," jawab Senja.
"Kalau ada yang menurut kamu kurang sesuai bisa kamu sesuaikan."
"Siap Kak", jawab Senja.
"Kalau ada yang belum jelas bisa ditanyakan, kalau udah, kamu bisa ngelanjutin aktivitas kamu," terang Rosida.
Senja membaca sekilas teks ditangannya dengan serius. Dia memperhatikan dengan seksama setiap kata yang ada di dalamnya.
Koreksi kecil dilakukan saat itu juga. Senja memang sudah biasa pidato atau sekedar menjadi pembawa acara di sekolahnya. Setelah dirasa cukup, Senja menyerahkan kembali teks yang sudah ia sesuaikan kepada Rosida.
"Oke fix ya," ucap Rosida.
"Iya Kak," jawab Senja.
"Kalau gitu saya permisi dulu Kak," pamit Senja.
Senja pun berlalu meninggalkan ruang OSIS. Dia kemudian mencari keberadaan ketiga temannya. Mereka sepakat untuk sama-sama mengikuti ekstrakurikuler Pramuka. Dan di sinilah mereka di tengah lapangan yang berpayung teriknya matahari.
"Ya ampun, aku ikut eskul Pramuka itu karena pengen ngerasain kemah, bukan malah di jemur kayak gini," gerutu Ayu.
"Masih ada kesempatan kok kalau mau ganti ekskul," ucap Senja tiba-tiba.
"Eh bocah sejak kapan kamu berdiri di situ," kaget Ifa karena tiba-tiba Senja sudah berada di belakangnya.
"Barusan, tadi dapet pinjem pintu ajaibnya Doraemon," terang Senja.
"Hey kamu yang tinggi di belakang, maju sini!" teriak seseorang dengan name tag Muda.
Semua yang ada di barisan belakang celingak-celinguk saling memandang satu sama lain.
"Kamu yang rambutnya di kuncir, pakai ransel biru!" teriaknya lagi.
"Senja itu kamu," lirih Ucik.
Senja membelalakkan matanya. Apes bener, baru dateng main suruh maju aja. Batin Senja.
"AWAS!!!" sebuah teriakan keras membuat semua menoleh ke arah sumber suara itu, termasuk Senja.
Dugh!
Sebuah bola tiba-tiba datang menghampiri Senja. Kepala Senja tiba-tiba berdenyut, sesuatu mengalir dari hidungnya kemudian.
"Senja, Senja," Ifa, Ucik, Ayu dan beberapa anak lainnya menghampiri Senja yang tiba-tiba terduduk sambil menunduk.
"Kamu mimisan," panik Ifa.
"Kak, Senja mimisan!" teriak Ayu pada kakak dewan Galang.
"Kamu nggak apa-apa," seseorang tiba-tiba datang membelah kerumunan.
"Dia mimisan Kak," ucap Ayu.
"Eh, kok kamu pucet sih!" panik Ifa.
"Bawa ke UKS," ucap Suci sambil berusaha memapah Senja.
Tiba-tiba seseorang datang menggantikan Ucik memapah Senja. Tanpa permisi, ia segera membopong Senja. "Biar aku aja, tolong bawain tas Senja." Akhirnya ia membopong Senja menuju UKS.
TBC
Alhamdulillah, done ya part ini.
Yuk, yuk, don't be silent rider please.
Semangatin author buat terus belajar ya.
Terimakasih, 🙏