Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.
Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.
Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyergapan
Kiran mendongakkan kepalanya. Mengusap wajahnya yang penuh air mata, menatap dengan sorot mata ketegasan.
"Ya, aku sudah tidak suci lagi. Kamu dengar, aku sudah tidak suci lagi! Aku tidak pantas untukmu!"
Air mata Kiran meluncur kembali dengan deras. Tangisnya kembali pecah. Rangga terdiam membisu.
Selanjutnya keheningan menaungi mereka. Rangga membiarkan Kiran dengan tangisannya. Ia merasa terkejut dengan ucapan Kiran barusan. Apa maksud dari ungkapan tidak suci tadi? Apakah...?
Rangga menatap Kiran dengan sorot mata penuh tanda tanya, ingin sekali mengorek secara detail penjelasan dari ucapannya. Namun melihat kondisi gadis itu, ia pun menahannya. Membiarkan gadis itu tenang adalah lebih utama.
Tidak berapa lama hanyut dalam isak tangis, Kiran akhirnya tenang. Gadis itu mengangkat kepalanya. Mengusap wajahnya yang basah dengan ujung jilbab. Ia menegakkan tubuhnya. Mencoba duduk dengan lebih tegar.
"Malam itu setelah aku melihat kalian berdua di hotel, aku kembali ke kamar." Kiran mulai cerita. Rangga mendengarkan dengan sabar. Ia tak akan memaksa. Membiarkan gadis itu berbicara dengan sendirinya.
"Aku begitu sedih. Hatiku hancur. Saat itu yang kupedulikan hanya hatiku, hingga aku lupa mengunci pintu kamar. Aku lelah menangis, aku mulai ingin membencimu. Aku masih ingat betul, setelah tangisku reda aku masuk ke dalam kamar mandi dan tidur. Malamnya aku bermimpi. Aku bermimpi...,"
Kiran mengantung ucapannya. Melirik Rangga dan memperhatikan raut wajah pria itu yang masih fokus mendengarkan penjelasannya. Sebenarnya ia merasa malu. Tapi semua ini harus dijelaskan agar pria di hadapannya ini paham dan tidak melakukan tindakan sia-sia lagi hanya untuk dirinya. Gadis itu menghela nafas pelan.
"Aku bermimpi berada di kamar pengantin dan melakukan malam pertama denganmu." Kiran menatap manik mata Rangga yang tampak terkejut.
Hati Rangga bergetar. Kirannya memimpikannya. Mimpi menikah dengannya. Bahkan melakukan malam pertama. Wajah pria itu merona.
"Yang kuingat pada malam itu, kita sudah menikah. Dan kamu yang menyentuhku." lanjutnya lagi.
Rangga menegang. Aliran hangat mengaliri tubuhnya. Pria itu memandang lekat wajah gadis yang ada di hadapannya.
"Paginya aku dapati tubuhku sudah polos tanpa baju dan hanya berbalut selimut. Aku semakin terkejut ketika melihat Ari keluar dari kamar mandi. Ternyata semua yang terjadi bukan mimpi." Buliran bening meluncur kembali di kedua pipi Kiran. Namun ia tak terisak lagi. Ia sudah lelah untuk itu.
Rangga membeku. "Maksudmu...?" Pria itu tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Ya, aku sudah melakukannya dengan Ari. Aku sendiri sama sekali tidak sadar apa yang telah terjadi. Tapi semua sudah terjadi. Mimpi malam pertama yang kuyakini terjadi bersamamu, ternyata adalah malam yang kuhabiskan bersama Ari."
Rangga oleng ke belakang. Ia lemas seketika. Pernyataan ini lebih mengerikan daripada ucapan Kiran sebelumnya.
"Kamu tidak berbohong kan, Kiran?"
Kiran tersenyum kecut. Bahkan dirinya sendiri tidak mengakui hal ini telah terjadi. Kemudian gadis itu menggeleng pelan.
"Ini semua benar." jawabnya singkat
"Aku terlalu malu mengakui ini semua padamu. Aku merasa hina sudah melakukan perbuatan tercela itu. Aku sudah tidak pantas bersanding denganmu. Makanya aku membuat cerita agar kamu membenciku. Tapi ternyata kamu jadi begini. Semua ini memang salahku."
Mereka saling menatap satu sama lain. Mencoba menyelami samudra perasaan yang berada jauh di lubuk hati.
❇❇❇❇
Begitu mendengar kabar Kiran diculik, Radit langsung menghubungi orang suruhannya yang diminta memata-matai Kiran. Di luar dugaan, ternyata mata-mata itu telah mengikuti mobil si penculik secara diam-diam.
Sebelumnya memang Kiran sudah di awasi oleh orang suruhan Ari dan Radit. Yang sebenarnya sama-sama orangnya Radit. Meskipun begitu, sesuai perintah Radit, orang suruhan yang berada di bawah perintah Ari harus mengikuti kemauan Ari yakni hanya mengawasi Kiran ketika di luar kantor.
Namun berbeda dengan Radit. Tanpa sepengetahuan Ari, Radit senantiasa memata-matai adik dan calon istrinya itu di segala tempat. Pertama, ingin memastikan tingkah laku gadis itu. Kedua, ingin memastikan tidak ada lagi kejadian seperti malam yang mereka habiskan di hotel.
Ketika Kiran diculik, mereka~orang suruhan Radit~ tahu, namun demi menjaga kerahasiaan, mereka lebih memilih diam dan mengawasi dari kejauhan.
Setelah Kiran dibawa pergi, mereka segera mengikuti mobil yang membawa gadis itu. Maka saat Radit meminta konfirmasi, mereka langsung membenarkan. Mereka pun menceritakan kejadiannya secara detail, Kiran yang dikepung oleh sepuluh orang laki-laki kemudian dibawa pergi.
Tempat yang dituju sebenarnya tidaklah terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu dua jam perjalanan dari rumah Radit dalam keadaan jalanan lengang. Namun, karena para penculik itu tahu bahwa mobil mereka diikuti. Mereka mencoba mengecoh orang suruhan Radit dengan jalan berputar-putar.
Setelah diperkirakan mereka tidak lagi diikuti, mobil yang membawa Kiran itu pun langsung meluncur ke tempat yang dituju. Padahal sebenarnya, orang suruhan Radit hanya berpura-pura telah berhasil mereka kecohkan. Kenyataannya para penculik itu yang terkecoh. Mereka tetap mengikuti dalam jarak yang tidak dapat dilihat oleh para penculik.
Mobil yang membawa Kiran berhenti di depan sebuah rumah berdinding setengah papan. Rumah itu agak terpencil. Menjorok ke dalam dengan semak belukar di sekitarnya. Jarak antara satu rumah ke rumah lain agak jauh.
Rangga tampak sedang menyambut mereka di depan rumah. Begitu mobil berhenti, Rangga tampak langsung mendekati mobil lalu masuk ke dalamnya. Selanjutnya pria itu tampak keluar dengan membawa Kiran dalam gendongannya. Ia sendiri yang membopong gadis itu masuk ke dalam rumah.
Setelah memastikan bahwa itu lokasi penyekapan, orang suruhan itu langsung menghubungi Radit untuk mengirim lokasi di mana mereka berada.
Selanjutnya Radit memberikan instruksi agar mereka melakukan pantauan seperti biasanya tanpa ada pergerakan. Sampai ada instruksi selanjutnya untuk melakukan penyergapan.
Mobil Radit dan dua mobil yang mengikutinya, menghentikan laju mobil mereka tak jauh dari lokasi penyergapan. Kemudian dua mobil di belakang mereka yang berisikan dua belas orang pria bergerak turun atas perintah Radit. Dengan gerakan satu komando~telunjuk Radit yang menunjuk ke depan~ mereka mengendap, mencari posisi untuk lawan masing-masing. Strateginya, menyerang secara bersamaan. Satu orang, satu lawan. Lumpuhkan tanpa suara.
Secara senyap sepuluh orang pria yang berada di sekitar rumah itu ambruk ke tanah. Secara perlahan tubuh mereka disatukan, diikat menjadi satu dengan mulut terbungkam kain yang sudah disiapkan. Radit ingin semua tanpa suara.
Dua orang lagi menyisir masuk ke dalam rumah, memastikan tidak ada lagi orang di dalam. Setelah steril, mereka langsung memberi kode pada Radit yang berjalan mendekat bersama Ari. Bara tetap di mobil, setia di belakang kemudi.
Dua orang pengawal memberikan isyarat bahwa kamar utama yang ada di depan mereka adalah kamar di mana Kiran di sekap. Radit memberi anggukan. Sebuah tendangan kuat kemudian mendobrak pintu itu dari luar.
Brakkk!! Pintu yang ditendang itu pun terbuka lebar.
Dua orang pria tadi menyerbu masuk. Diikuti oleh Radit dan Ari. Namun mereka membeku seketika melihat apa yang tampak dihadapan mereka. Salah satu dari dua pria tadi bertanya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sebenarnya kita mau menyelematkan seorang wanita atau seorang pria, Bos?" tanya mereka penuh keheranan menatap pemandangan di depan mereka.
Radit menghela nafas kasar kemudian beranjak pergi keluar. Ari yang berada di belakang Radit, mematung dan menatap keheranan.
"Kiran...?"