Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.
Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!
Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Tak ada maaf bagi penghianat.
Sehari setelah kecelakaan yang menimpa Reynand, menyebabkan kelumpuhan total, dari pinggang hingga kakinya, Helga pergi ke Amerika sebenarnya bukan untuk bekerja justru sedang masa break setelah menyelesaikan kontrak kerjaan yang rencananya cuti tersebut untuk menikah dengan tunangannya.
Dia pergi untuk menghibur diri dan menghindar dari posisinya sebagai calon isteri pewaris kepemimpinan keluarga Old Money Ambrosia. Karena berita sudah menyebar di antara keluarga besar, Calvin pun mengetahui putus keduanya dan memanfaatkan bertemu Helga yang sedang terpuruk.
Keduanya bertemu di Amerika saat Calvin masih menyelesaikan kuliah di tingkat akhir. Dengan alasan memberi dukungan sebagai sahabat masa kecil, Calvin ke apartemen Helga dan keduanya akhirnya, larut dalam dosa dan tak mampu keluar dari pusara cinta terlarang. Mereka menghianati sesama anggota keluarga. Mereka hidup bersama satu atap selama 6 bulan di belakang keluarga masing-masing.
Mendekati pukul dua dini hari, keduanya pulang ke mansion dan melintasi bangunan besar dalam progres penyelesaian namun tampak depan diberi penghalang baja ringan yang tinggi, cukup menghalangi pandangan mata dan lokasinya persis di depan mansion. Keduanya memasuki kediaman Ambrosia.
Reynand terbangun sebelum setengah jam kedatangan keduanya dan merasa haus. Entah mengapa dia tidak bisa tidur malam ini. Tidurnya sedikit dan gelisah. Dia merasa gerah dan seluruh badannya serasa terbakar.
"Ya, Allah! Pinggangku sakit. Astaga, sepertinya lukaku mengeluarkan cairan, apa basah lagi, yah! Seharusnya mengering setelah pengobatan terakhir!" lirihnya sambil menggeliatkan tubuh mencari kenyamanan namun sia-sia, sakit tersebut semakin panas dan berdenyut.
Reynand bangkit dari tidur dan menggapai kursi roda dengan merayap. Kursi roda tersebut cukup canggih bisa auto pilot dan berfungsi menggunakan perintah suara. Pengunciannya kuat sehingga roda tidak bergeser saat dirinya mencapai pegangan kursi. Dengan susah payah dia bisa duduk sendiri sejak dua tahun yang lalu. Biasanya ada maid pria atau Jacky yang menemaninya di kamar.
Keringat dingin membasahi tubuhnya. Ada setetes air mata keluar dari netra birunya.
"Ya, Allah! Sakit sekali. Hamba tak tahan!" rintihnya sambil duduk di kursi roda.
Nafasnya tersengal dan duduknya gelisah. Sesekali dia membungkuk dan tegak kemudian membungkuk lagi untuk mengatasi nyeri hebat di sekitar pinggang dan punggung. Setelah minum obat pereda nyeri dan dirasa sedikit mereda, Reynand pun keluar kamar dari lantai tiga menuju lift yang selalu menyala setiap hari. Saat mencapai lantai dasar dimana pantry berada, ketiganya bertemu di dapur. Rupanya, keduanya merasa haus.
"Eehhh, om Rey. Mengapa ada di lantai dasar!?" tanya Calvin kaget mendapatkan sang paman berada satu ruangan dengannya.
"Haus!" jawab Reynand datar sambil mengambil gelas kaca dan segera menuju dispenser air mineral.
Calvin dan Helga saling pandang.
"Bukannya di lantai tiga ada pantry, khusus untuk om?" tanya Calvin heran.
"Airnya habis. Mungkin maid lupa memasang galon baru!" ucap Raden datar.
Dia memang sangat malas bertemu pasangan ini walaupun Calvin keponakannya. Baginya, keduanya adalah Duo Penghianat tak tahu diri. Selama tiga tahun ini, keduanya seperti kucing dan tikus. Satu rumah tapi saling menghindar. Kalaupun bertemu, tidak tegur sapa kalau tidak ada keperluan atau terpaksa karena suatu keadaan. Seperti sekarang.
Bagaimana perasaannya saat ini? Tentu saja sudah biasa bahkan sudah mati seperti saat ini mereka bertiga bertemu di pantry. Tiada getaran apapun seperti dahulu saat dia remaja dan sebelum kecelakaan itu terjadi. Dan tak ada maaf bagi penghianat!
Helga menatap telaga biru mantan tunangannya dengan tatapan sulit diartikan antara rasa iba dan rasa cinta yang masih ada walaupun tidak utuh seperti dahulu. Sejujurnya, masih ada rasa dalam hatinya pada pria tampan di hadapannya namun dia berfikir realistis.
Dia masih muda dan ingin mengecap kebahagiaan yang banyak dalam kehidupan pernikahan dengan limpahan cinta dan material dan itu tak mungkin didapat dari pria di depannya.
Reynand mengisi Jar seliter dari plastik tanpa memperdulikan seolah keduanya aksesoris di rumah ini.
Selama tiga tahun hidup bersama dalam keluarga Ambrosia, pria itu begitu dingin, acuh dan datar setiap berinteraksi dengannya. Hanya kata pedas yang terlontar dari mulutnya. Pria dihadapannya yang dahulu selalu bersikap hangat, manis, ramah, murah senyum dan sangat memujanya, kini berubah drastis. Tidak ada cinta yang membara dalam telaga biru itu.
Walaupun geram dia tetap menahan diri. Bagaimanapun dia membela diri, tetap saja disalahkan apalagi api kebencian berkobar di mata wanita sepuh yang menjadi nenek mertuanya saat ini. Sakit hati sih, saat dia selalu dibandingkan dengan saudara lain terutama Rembulan saat dirinya menjadi kekasih Calvin.
Orangtuanya selalu menyarankan untuk bersabar demi menjadi wanita terpandang, dia selalu melampiaskan di rumahnya dengan membanting semua benda di kamarnya untuk meluapkan kemarahannya dan menahan diri untuk menjaga imej sebagai wanita rapuh dan juga anggun.
Akhirnya, setelah puas menenggak air dari gelas, Reynand membawa botol satu liter berisi penuh air untuk dia simpan di kamar bila haus datang menyerang. Dia melewati keduanya begitu saja, memasang raut wajah datar dan dingin seolah orang asing yang baru bertemu.
Pagi di hari minggu itu begitu dingin. Hujan membasahi bumi sejak subuh hingga saat ini waktu pagi, di mansion Ambrosia tapi serasa pukul enam pagi. Semua anggota keluarga berkumpul untuk melakukan ritual setiap pagi sebelum memulai aktivitas yaitu sarapan bersama.
Hanya di hari minggu wajib berkumpul dan sarapan di mulai pukul 08.00 WIB. Oma sebagai ratu di kerajaan Ambrosia memandang ke arah lift. Setelah menunggu sepuluh menit, putera bungsunya tak kunjung turun bergabung.
"Tidak biasanya anak itu telat. Biasanya selalu tepat waktu!" dalam hati Marina dengan perasaan waswas.
Marina bangkit dari duduknya hendak beranjak ke kamar putera bungsunya.
"Mom! Mau kemana?" sergah opa Jonathan sambil mencekal lembut tangan sang isteri.
"Dad! Tidak biasanya Rey terlambat begini. Aku takut terjadi sesuatu di kamarnya. Dia kan baru diterapi seminggu yang lalu, khawatirnya masih terasa sakit di seputar lukanya."
"Tunggu saja dahulu. Mungkin sedang bersiap diri. Terlambat sedikit waktu, wajarlah!" cegah Jonathan pada sang isteri yang bersikeras ingin menghampiri sang putera.
Marina segera melepas diri dari suaminya yang posesif. Hatinya merasa gundah. Segundah saat sebelum anak bungsunya ini terlibat kecelakaan!
Wanita yang masih cantik di usianya yang tak muda itu, bergegas menuju lift dan segera naik ke lantai tiga. Di dalam lift, hatinya tetap tak tenang ingin segera terbang menuju puteranya. Kalau keadaan normal sih, hatinya tak seresah ini. Masalahnya, anak lelaki semata wayangnya ini sedang tidak normal.
Sesuatu bisa terjadi sewaktu-waktu dan kejadian buruk bisa terjadi walaupun itu di dalam rumah dengan keamanan maksimum. Hati seorang ibu tidak busa dikelabui.
Kakinya segera beranjak lebar dari lift begitu menepi di lantai tiga dan bergegas ke kamar yang hanya ada satu di lantai ini.
Tok tok tok!
"Rey! Nak! Kenapa terlambat!? Maafkan mommy menjemputmu karena tidak biasanya kamu terlambat barang semenit pun!" tanya Marina dengan perasaan sulit dilukiskan.
Suasana hening.
Tidak ada jawaban sama sekali dari balik pintu. Dan suasananya semakin membuat Marina gelisah.
"Sayang! Anak mommy yang paling ganteng sedunia! Mommy masuk, yah!?" ucap Marina hati-hati dan tak sabaran dengan nada lembut, membujuk seperti saat puteranya ngambek saat masih kecil.
Tetap tak ada suara dan itu membuatnya semakin yakin ada masalah dengan keadaan puteranya. Wanita paruh baya itu membuka pintu magnetik yang serepnya tergantung di tembok dan mendorong pintu kamar segera setelah tidak terkunci.
Kreekkk!
Begitu pintu terkuak lebar mendapati hal yang membuatnya kaget. Firasat seorang ibu memang tak pernah salah!
"Ya Allah, Reyyy! Anakku sayanggg!!!" jeritnya saat mendapati sang anak terkapar di lantai samping tempat tidur dengan keadaan tengkurap tak sadarkan diri.
Isi air dalam keadaan tumpah di lantai dan kursi roda menjauh dari posisi jatuh. Marina bergegas ke arah tubuh sang putera dan menyingkap belakang kaos. Ada darah keluar dari luka di pinggang belakang dan tubuhnya panas membara.
"Panas sekali tubuhnya dan demam!" gumamnya dengan gusar dan tangan gemetaran.
Marina meraba tubuh serta dahi puteranya dari samping. Dari arah pintu, muncul opa dan anggota keluarga lainnya begitu mendengar jeritannya dari lantai tiga.
"Mom! Kenapa Reynand?" tanya opa dan lainnya serentak.
"Entahlah! Ketika mommy masuk, keadaannya sudah tergeletak di lantai. Sepertinya punggungnya mengeluarkan darah dan infeksi. Tubuhnya panas dan demam!" seru Marina histeris di samping tubuh sang anak.
"Damian, Calvin! Coba kalian angkat tubuh Reynand ke kasur!" teriak Marina.
"Ellena! Periksa di laci nakas. Di situ ada termometer tembak. Mommy sengaja menaruhnya disana bersama kotak obat!" perintahnya dengan gemetaran sambil duduk di tepi ranjang dan memangku sang anak.
Ketiga bapak-ibu dan anak pun mengikuti titah Marina membetulkan tubuh Reynand yang terkulai tak berdaya ke atas Bibirnya membiru. Tampak buliran keringat membasahi dahinya. Kepalanya terkulai di pangkuan sang bunda. Marina menerima termometer dan menembakan di dahi.
"Panas 41°celcius!" seru Marina tercekat.
Tubuh Reynand terduduk dipangkuan sang bunda. Marina membuka kota obat dan mengambil satu tablet obat penurun panas. Menggerus obat dengan air sisa botol yang tumpah di sendok obat serta obat anti kejang. Dia meminumkan ke mulut sang putera.
"Ayo, nak! Diminum dulu agar panasmu tak meninggi dan tubuhmu tak menggigil!" ucapnya lirih.
Marina menepuk mulut anaknya agar terbuka sedikit lebar guna memperlancar jalannya obat. Reynand bereaksi atas tepukan lembut sang bunda dan sedikit demi sedikit obat masuk ke mulutnya walau dengan gerakan lemah.
"Cepat! Telepon ambulan dan hubungi Hanz!" perintah Marina.
Setengah jam kemudian ambulance tiba di kediaman Ambrosia beserta Hanz Azario, dokter kepercayaan keluarga sekaligus keponakan nyonya sepuh.