Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI YANG SETIA
Pagi menyapa dengan kejam. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar penthouse itu terasa terlalu silau bagi mata Melisa yang sembab. Tubuhnya terasa kaku dan linu, setiap inci kulitnya seolah masih menyimpan jejak sentuhan kasar Harvey dari malam tadi.
Ia bangkit dari tempat tidur dengan perlahan, memunguti pakaiannya yang berserakan. Di ruang tengah, ia melihat Harvey sudah rapi dengan kemeja kerjanya, duduk tenang sambil membaca koran digital dan menyesap kopi hitam, seolah badai gairah dan amarah semalam hanyalah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi.
Melisa segera masuk ke kamar mandi. Di depan cermin, ia terkesiap melihat pantulan dirinya. Leher dan bahunya dipenuhi noda kemerahan—tanda kepemilikan yang ditinggalkan Harvey dengan penuh dendam.
Dengan tangan gemetar, ia mengambil concealer dari tasnya. Ia memulas lapisan tebal untuk menutupi jejak-jejak itu. Ia tidak boleh membiarkan siapa pun di rumah sakit, terutama para perawat yang mengenalnya, melihat kehinaan ini. Ia harus tetap menjadi istri Narendra yang tabah.
"Cepatlah. Taksinya sudah di bawah," suara Harvey terdengar dari balik pintu kamar mandi, datar dan tanpa emosi.
Melisa keluar dari kamar mandi dengan pakaian tertutup, syal tipis melilit lehernya meski udara pagi itu cukup hangat. Ia melewati Harvey tanpa berani menatap matanya.
"Harvey... aku berangkat," pamitnya lirih.
Harvey hanya bergumam kecil tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya. Namun, tepat saat Melisa hendak memegang gagang pintu, Harvey memanggilnya.
"Melisa."
Melisa membeku. "Ya?"
"Jangan terlambat kembali. Dan pastikan kau menghapus semua bau rumah sakit itu dari tubuhmu sebelum aku pulang nanti malam. Aku tidak ingin mencium aroma obat-obatan saat menyentuhmu."
Kalimat itu bagai tamparan. Melisa hanya mengangguk kecil lalu bergegas keluar.
Tepat pukul delapan pagi, Melisa sudah berada di depan ruang perawatan Narendra. Saat pintu terbuka, aroma antiseptik yang khas menyambutnya. Ia melihat suaminya masih dalam posisi yang sama, tenang dalam komanya, tidak tahu bahwa istrinya baru saja keluar dari neraka demi membiayai napasnya.
Melisa duduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan Narendra yang dingin. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah.
"Mas... aku datang," bisiknya serak. Ia mulai mengambil baskom air hangat untuk menyeka tubuh suaminya, rutinitas yang kini terasa seperti satu-satunya penebusan dosa baginya. "Maafkan aku, Mas. Maafkan aku karena harus sekotor ini demi menjagamu tetap hidup."
Saat ia sedang menyeka lengan Narendra, pintu kamar terbuka. Seorang perawat masuk untuk memeriksa infus, diikuti oleh seorang dokter dengan jas putih yang sangat ia kenali.
Itu Harvey.
Dia datang untuk kunjungan pagi sebagai dokter penanggung jawab. Matanya yang dingin menatap grafik medis di ujung tempat tidur, lalu beralih menatap Melisa seolah wanita itu adalah orang asing yang tidak pernah ia sentuh semalam.
Ketegangan di dalam ruangan itu begitu pekat hingga rasanya oksigen pun sulit untuk dihirup. Melisa terpaku, tangannya yang memegang handuk kecil masih berada di atas lengan Narendra. Ia menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang pucat dan mata yang masih sedikit bengkak.
Harvey berdiri tegak di sisi lain tempat tidur. Jas putihnya yang bersih dan stetoskop yang melingkar di lehernya memberikan aura otoritas yang mutlak. Ia tampak begitu berwibawa, sangat kontras dengan sosok pria yang semalam menghimpit Melisa dalam kemarahan di apartemen.
"Bagaimana kondisinya pagi ini, Suster?" tanya Harvey dengan suara bariton yang tenang, matanya tertuju pada monitor jantung.
"Stabil, Dok. Saturasi oksigen bagus, tapi belum ada respons motorik dari pasien," jawab perawat itu sambil mencatat sesuatu.
Harvey melangkah mendekat, tepat ke arah Melisa. Ia mengambil senter medis dari sakunya. "Permisi, Bu. Saya harus memeriksa refleks pupil suami Anda," ucapnya dengan nada formal yang begitu asing di telinga Melisa.
Melisa terpaksa bergeser. Saat Harvey membungkuk untuk memeriksa mata Narendra, aroma parfum kayu manis yang sama dengan yang Melisa cium semalam di tempat tidur Harvey kini menyeruak kembali. Melisa merasa mual karena ironi ini. Pria yang baru saja meniduri istrinya dengan penuh kebencian, kini sedang bertindak sebagai penyelamat nyawa sang suami.
Saat memeriksa kabel monitor di dekat tangan Melisa, jemari Harvey dengan sengaja bersentuhan dengan tangan Melisa. Sentuhan itu singkat, namun terasa seperti sengatan listrik. Harvey melirik ke arah leher Melisa, memastikan apakah concealer yang dipakai wanita itu cukup tebal untuk menutupi tanda yang ia buat.
"Istri pasien tampak sangat lelah," ucap Harvey tiba-tiba kepada suster, namun matanya menatap tajam ke arah Melisa. "Pastikan dia tidak terlalu memaksakan diri. Kita tidak ingin ada dua pasien di ruangan ini, bukan?"
"Benar, Dok. Bu Melisa memang sangat setia menunggu suaminya," puji perawat itu dengan tulus, tanpa menyadari pedang tajam yang sedang dimainkan Harvey.
Melisa meremas ujung bajunya. "Saya... saya baik-baik saja, Dok. Terima kasih," jawabnya dengan suara bergetar.
Suster tersebut kemudian pamit keluar untuk mengambil cairan infus baru, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang menyesakkan selama beberapa saat.
Harvey segera mengubah ekspresinya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Melisa saat ia berpura-pura memeriksa selang NGT Narendra.
"Kau melakukan tugasmu dengan baik, Istri yang Setia," bisiknya dengan nada sarkasme yang sangat tajam. "Tapi jangan sampai air matamu jatuh ke tubuhnya. Itu akan merusak sterilitas tempat ini, sama seperti kau yang sudah merusak kesucian pernikahanmu sendiri malam tadi."
Melisa memejamkan mata, membiarkan penghinaan itu merobek hatinya. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, Harvey. Tolong, jangan hancurkan waktu singkatku bersama suamiku."
Harvey menegakkan tubuhnya kembali saat mendengar langkah kaki perawat kembali mendekat. "Lanjutkan perawatanmu, Bu Melisa. Saya akan kembali memeriksa kondisi Tuan Narendra nanti sore. Pastikan semuanya tetap bersih."
Harvey berlalu pergi dengan langkah tegap, meninggalkan Melisa yang nyaris ambruk di samping ranjang Narendra. Ia menatap wajah suaminya yang damai, merasa sangat berdosa karena di ruangan yang sama, ia baru saja dilecehkan secara verbal oleh pria yang telah merenggut kehormatannya.
***
Bersambung...
......................
......Sebelum lanjut, bantu author lebih semangat dengan memberikan Like, komen, vote, dan gift semampu kalian ya 🥰🥰🥰......