Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istirahat sejenak
Mobil yang kami naiki terus melaju dan kami hanya diam, sibuk dengan pikiran masing masing. Hingga sebuah panggilan di ponsel milik bu Zahira terdengar membuat kami menolah seketika.
" Halo Nay, ada apa? ". Bu Zahira mengangkat panggilan itu yang sepertinya dari mbak Nayla.
" Ini saya lagi di jalan menuju rumah Amara. Saya akan antar dia pulang saja dulu supaya dia bisa beristirahat. Ada apa? ".
" Yang benar kamu? terus gimana? ". Terlihat bu Zahira begitu kaget, aku jadi penasaran apa yang terjadi.
" Ya sudah. Setelah mengantar Amara, saya segera ke sana. Kalian layani dia saja dulu. TPi yang sabar ya".
Dia menutup panggilan dengan wajah cemas.
" Ada apa bu? ". Aku bertanya karena penasaran tentang apa yang terjadi.
" Apa ada masalah di butik? ". Zuan ikut bertanya, dia juga terlihat mulai khawatir.
" Maria, si pembuat onar yang kemarin dia datang lagi".
" Apa? dia buat onar lagi? ". Aku sungguh kaget. jangan jangan dia mau mengambil gaun lagi. Tapi kok buru buru amat, katanya mau di ambil besok.
" Dia nyari kamu. Mungkin soal gaun persenannya".
" Ya sudah bu, mending kita ke butik aja. Biar saya ketemu dia. Nanti jika dia buat onar lagi, kasihan teman tan di butik".
" Nggk bisa. Kamu harus pulang dan istirahat. Mana bisa saya biarkan kamu bekerja dalam kondisi seperti ini. Bisa bisa hasil kerja kamu tidak maksimal nanti".
" Tapi dia mau ketemu saya. Ini tanggung jawab saya ".
" Saya yang akan hadapi dia. Wajah kamu masih pucat gitu mau menghadapi dia, bisa pingsan nanti kamu. Pulanglah..! Zuan akan mengantar mu. Saya akan turun disini dan naik taksi menuju butik, biar cepat".
" Tapi bu... ".
" Menurut saja kamu. Kalau kamu istirahat bisa cepet sembuh kan besok bisa ke butik dan menghadapi dia. Paling tidak besok kamu sudah tidak pucat lagi, kamu sudah lebih kuat dari pada sekarang".
Diam diam aku mengiyakan perkataannya.
" Mama yakin mau naik taksi aja? mending Zuan antar mama nanti setelah kita mengantar Amara".
" Ini darurat nak, Orang ini bisa bikin rusuh di butik. kasihan anak anak. Sudah, turunkan mama di sini sekarang".
" Ya sudah kalau mama memaksa".
Mobil berhenti dan bu Zahira turun. Dia mengedarkan pandangan mencari taksi.
" Maaf ya bu, gara gara saya, jDi seperti ini".
" Kamu tidak salah. Kamu korban, bukan tersangka, jadi tidak perlu merasa bersalah. Zuan, pergilah,..! Antar Amara sampai rumah dengan selamat".
" Iya ma".
Kami pun pergi meninggalkan bu Zahira sendiri. Tapi begitu kami pergi, langsung ada taksi yang mendekat.
" Maaf ya mas, saya jadi merepotkan ".
Ucapku mencoba menghilangkan kecanggungan. Sebenarnya kaku juga harus berdua di mobil sama dia, tapi ba g bagaimana lagi.
" Tidak perlu sungkan, saya hanya menuruti kata mama saja".
" Iya tapi saya jadi mengganggu acaranya mas Zuan".
" Setelah ini saya cuma mau meninjau perkembangan persiapan untuk membuka cabang di sini Jadi tidak masalah".
" Mas ini pengusaha? ".
" Begitulah, kami akan membuka restoran cabang di sini. ".
" jadi mas ini pengusaha kuliner ya?
" begitulah, tapi saya masih sambil terus belajar".
Beberapa menit kemudian kami sampai didepan rumah ku, Aku turun dari mobil dengan kaki yang masih tertatih.
" Terima kasih sekali lagi ya mas". Ucapku sesaat sebelum aku turun.
" Tidak masalah. Mari saya bantu ".
Di saat aku berjalan mendekati pintu, suara ibu yang kebingungan menyambut ku.
" Masya Allah nak, kamu kenapa? "
Dia membantu ku untuk duduk di kursi yang ada di teras.
" Terima kasih mas".
" Iya. Kalau begitu, saya pamit dulu".
" Iya, hati hati".
Dia pergi meninggalkan rumah begitu saja.
" Amara.. kamu kenapa". Ibu yang dari tadi tidak ku gubris tampak semakin khawatir. Akupun menceritakan kejadian yang hari ini menimpaku.
" Ya Allah nak, tapi kamu tidak apa apa kan? ". Dia memperhatikanku dari atas hingga bawah.
" Hanya lecet bu. Tapi kalau di buat jalan agak sakit ".
" Ya sudah... Kamu istirahat aja di kamar. yuk ibu bantu ".
Aku hanya menurut pasrah.
\*\*\*\*\*
Sementara itu di butik, bu Zahira telah sampai. Dia masuk dengan tergesa. Berjalan menuju tempat Maria berada.
" Maaf mbak, ada yang bisa saya bantu? ". Ucapnya ramah.
" Saya mau bertemu Amara, mau bahas soal gaun ku, bisa anda panggil dia sekarang? ".
" Maaf sekali mbak, tapi dia baru saja kecelakaan. Ini saya baru mengantar dia pulang. Kalau mbak ada yang ingin di sampaikan, biar sama saya aja, nanti akan saya sampaikan".
" Apa dia sampai tak bisa bangun, makanya dia tak datang? ".
" Tidak separah itu, Alhamdulillah. Dia hanya mengalami luka gores di beberapa bagian".
" kalau hanya itu seharusnya dia juga masih bisa datang ke sini. Dia masih bisa bekerja".
" Tadinya dia memang mau tetap kerja, tapi tidak saya ijinkan. Saya tidak mau jika nantinya dia bekerja tidak maksimal karena masih syok dengan peristiwa tabrakan tadi".
" Lalu bagaimana gaun saya? Saya akan mengambilnya besok, apa bisa selesai? ".
" Kami usahakan bisa selesai".
" Awas saja kalau belum siap. Saya akan sebarkan berita kalau salah satu designer di butik ini sama sekali tidak profesional. Dia lalai dalam tugasnya ".
" Iya mbak, jangan khawatir. Besok pasti sudah siap. Besok sore".
" Sebenarnya saya ingin merubah gaun ku sedikit. Tapi ya sudah, tidak jadi saja karena orangnya tidak ada".
" Kalau begitu katakanlah. Akan saya sampaikan pada Amara nanti".
" Apa anda bisa? ".
" Saya akan sambungkan anda dengan Amara. Mari kita ke ruangan saya".
Mereka sudah di dalam ruangan. Kemudian bu Zahira menghubungi Amara..
" Iya bu, bagaimana? "
" Ini ada mbak Maria mau bicara".
Dia menyerahkan ponselnya. Tampak wajah Maria yang terlihat masih sombong.
" Bagaimana mbak. ada apa".
Dia pun mengatakan keinginannya. Dan benar saja, dia mulai berbuat ulah lagi. Dia mengganti design di beberapa bagian. Walaupun kesal tapi Amara tetap mengiyakan saja keinginannya. Amara jadi makin pusing di buatnya.
" Oh iya jangan lupa yang paling penting. saya akan ambil besok sore dan harus sudah sempurna".
" Siap mbak. Saya usahakan".
" Awas saja kalau belum siap".
Sambungan langsung terputus.
Akhirnya Maria pergi meninggalkan butik, membuat bu Zahira dan karyawannya bisa bernafas lega. Tapi bu Zahira jadi teringat Amara. Bagaimana gaun bisa selesai besok sementara Amara saja masih sakit. Semoga besok Amara sudah sehat dan gaunnya bisa selesai sehingga Amara ataupun dirinya tidak harus mendengar kemarahan Maria. Mungkin akan lebih baik jika seseorang ada yang membantu Amara menyelesaikan tugasnya. Agar dia tidak terlalu lelah, mengingat keadaannya. Iya dia harus di bantu, mungkin Nayla akan bisa membantu agar cepat selesai dan tidak ada drama lagi.