Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Protokol Pasangan Perang
Fajar di Obsidiana tidak pernah benar-benar terang. Cahayanya hanya berupa semburat abu-abu pucat yang menembus kabut tebal di balik jendela menara. Aethela terbangun dengan tubuh yang kaku karena kedinginan. Tempat tidur batu yang dilapisi kulit binatang itu sama sekali tidak empuk, namun anehnya, ia tidur lebih nyenyak daripada malam-malam terakhirnya di Solaria. Mungkin karena di sini, ancamannya nyata dan terlihat, bukan berupa senyuman palsu di balik koridor istana.
Pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Valerius masuk dengan langkah yang berat, mengenakan pakaian latihan dari kulit hitam yang praktis. Tidak ada jubah kebesaran, tidak ada mahkota. Ia tampak seperti seorang prajurit yang siap untuk berperang.
"Bangun," perintah Valerius singkat. "Kau tidak di sini untuk menjadi pajangan menara. Di Obsidiana, siapa pun yang tidak bisa bertarung adalah beban, dan aku tidak mentoleransi beban."
Ia merasa tersinggung sekaligus tertantang. Rasa kantuknya hilang seketika, digantikan oleh percikan api amarah yang sudah menjadi bahan bakar hidupnya sejak tiba di sini. Ia bangkit, merapikan gaun sutranya yang kini tampak sangat tidak selaras dengan lingkungan batu itu.
"Aku seorang penyihir, Valerius. Kekuatanku ada di pikiranku dan darahku, bukan di ototku," sahut Aethela, suaranya serak namun tegas.
"Sihirmu tidak akan berguna jika seseorang memotong lehermu sebelum kau sempat mengucapkan mantra," balas Valerius sambil melemparkan sebundel pakaian ke arahnya. "Pakai itu. Kita mulai di arena bawah tanah dalam sepuluh menit."
Pakaian itu terdiri dari celana kulit yang ketat, sepatu bot tinggi, dan tunik pelindung. Saat Aethela mengenakannya, ia merasa asing melihat bayangannya di cermin perak yang retak. Ia tidak lagi tampak seperti putri yang cantik; ia tampak seperti seorang gerilya.
Valerius berdiri di tengah arena bawah tanah yang luas, tempat yang dipahat dari batu basal yang sangat keras. Suara tetesan air dari langit-langit gua menciptakan gema yang ritmis. Di tangannya, ia memegang dua pedang kayu latihan.
Valerius merasa tegang. Melatih Aethela adalah bagian dari "Protokol Pasangan Perang"—sebuah tradisi kuno di mana pasangan penguasa naga harus bisa bertarung berdampingan. Namun, tujuannya lebih dari sekadar tradisi. Ia tahu Dewan Penasihat sedang mengawasi melalui mata-mata mereka. Jika Aethela terlihat lemah, mereka akan menemukan alasan untuk menyingkirkannya.
Aethela masuk ke arena dengan langkah ragu namun dagu terangkat tinggi. Pakaian latihan itu membalut tubuhnya dengan pas, menonjolkan bentuk tubuhnya yang ramping. Valerius berdehem, mencoba membuang pikiran yang tidak perlu.
"Prinsip pertama," kata Valerius, melempar salah satu pedang kayu ke arah Aethela. Aethela menangkapnya dengan kikuk. "Jangan pernah mengandalkan sihirmu sebagai pertahanan pertama. Di Obsidiana, ada area di mana sihir bisa ditekan. Kau harus bisa menggunakan tubuhmu."
"Kau ingin aku bertarung melawan naga?" tanya Aethela dengan nada tidak percaya.
"Aku ingin kau bertahan hidup melawan siapa pun," jawab Valerius. "Serang aku."
Aethela ragu sejenak, lalu menerjang maju. Gerakannya lambat dan tidak terlatih. Dengan satu gerakan mudah, Valerius menangkis pedangnya dan memutar tubuh Aethela hingga punggung wanita itu menempel di dadanya, dengan pedang kayu Valerius berada di leher Aethela.
Napas Valerius terasa hangat di telinga Aethela. "Kau sudah mati," bisik Valerius.
Aethela berbalik dengan cepat, wajahnya memerah karena malu dan amarah. "Lagi!"
Selama dua jam berikutnya, arena itu menjadi saksi bisu dari jatuh bangunnya sang Putri Bulan. Valerius tidak memberikan belas kasihan. Ia menjatuhkan Aethela berulang kali, mengoreksi posisi kakinya dengan sentuhan tangan yang tegas, dan memaksa Aethela untuk terus bergerak hingga napas wanita itu memburu.
Aethela jatuh ke lantai arena untuk yang kesepuluh kalinya. Keringat bercucuran di pelipisnya, dan lututnya terasa nyeri. Ia menatap Valerius yang berdiri tegak, bahkan tidak tampak berkeringat.
Ia merasa frustrasi dan terhina, namun di balik itu, ada rasa kagum yang enggan. Ia menyadari bahwa setiap koreksi yang diberikan Valerius—meski disampaikan dengan kata-kata tajam—adalah pengetahuan berharga untuk bertahan hidup. Valerius tidak meremehkannya; ia justru memperlakukannya sebagai lawan yang perlu dibentuk.
"Cukup untuk fisik hari ini," kata Valerius, mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
Aethela menatap tangan itu sejenak sebelum menyambutnya. Saat tangan mereka bersentuhan, percikan energi statis kembali terjadi. Rasa panas yang akrab itu merambat dari telapak tangan Valerius ke seluruh tubuh Aethela.
"Sekarang, bagian kedua," lanjut Valerius, suaranya mendadak berubah menjadi lebih serius. "Sinkronisasi sihir."
Valerius memejamkan mata, dan seketika itu juga, bayangan di dalam gua mulai bergerak secara tidak alami. Mereka merayap di lantai, berkumpul di sekeliling kaki mereka seperti kabut hitam yang pekat.
"Sentuh sihirku, Aethela. Jangan melawannya. Temukan frekuensi jantung gunung ini melalui aku."
Ini adalah bagian yang paling ia takuti. Membiarkan sihirnya bersentuhan dengan sihir Valerius berarti membiarkan pria ini masuk ke dalam bagian terdalam dari jiwanya. Namun, ia tidak punya pilihan. Ia menutup matanya dan melepaskan sedikit demi sedikit sihir bulannya yang dingin.
Cahaya perak bertemu dengan kegelapan obsidian.
Rasanya seperti terjatuh ke dalam jurang yang tak berdasar. Aethela tersentak saat merasakan emosi Valerius yang bocor melalui ikatan sihir mereka—rasa sakit yang terpendam, kesepian yang membeku selama bertahun-tahun, dan rasa lapar akan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
"Valerius..." bisik Aethela.
Valerius membuka matanya. Pupil emasnya bergetar. Ia dengan cepat memutus kontak sihir itu, seolah-olah ia baru saja menyentuh api. Ia berbalik membelakangi Aethela, bahunya tampak tegang.
"Latihan selesai," katanya dengan suara parau. "Bersihkan dirimu. Makan malam akan dikirim ke kamarmu. Jangan keluar tanpa pengawalku."
Aethela berdiri diam di tengah arena yang kini kembali sunyi. Ia menyentuh dadanya, merasakan jantungnya yang masih berdegup kencang. Ia baru saja melihat sekilas ke dalam kegelapan Valerius, dan yang ia temukan bukanlah monster, melainkan seorang pria yang sedang berjuang agar tidak tenggelam.
Rasa bencinya perlahan mulai terkikis, digantikan oleh rasa penasaran yang berbahaya. Valerius melatihnya untuk menjadi pasangan perang, namun tanpa sadar, ia juga mulai membuka jalan bagi Aethela untuk menghancurkan benteng di sekeliling hatinya.
Aethela berjalan kembali ke menaranya dengan tubuh yang pegal, namun dengan pandangan yang lebih tajam. Ia menyadari satu hal: di Obsidiana, sihir bukan hanya tentang kekuatan, tapi tentang bagaimana dua jiwa yang rusak mencoba untuk saling menopang agar tidak hancur oleh beban dunia.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca📖
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️