Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 033 : KANOJO DI BALIK JENDELA BAVARIA
..."Kesunyian itu tidak pernah sunyi. Mata telanjang, adalah deskripsi semu yang sebenarnya buta menatap kesunyian secara nyata. Nyatanya, kesunyian itu berpenghuni. Dan mereka berjalan beriringan bersama nafas kita!"...
...________...
Dinginnya musim dingin di Jerman pada hari kelima ini terasa lebih menggigit, seolah-olah suhu udara yang turun drastis membawa serta aura melankolis ke dalam penginapan Keluarga Gautama.
Namun, suasana di dalam kamar Rara jauh lebih menyesakkan daripada badai salju di luar sana.
Sejak pagi, Anako, hantu cilik asal Jepang yang biasanya tenang atau sekadar mengamati dalam diam, mendadak kehilangan kendali.
Ia meringkuk di sudut tempat tidur, membenamkan wajahnya di antara lutut, dan menangis tersedu-sedu.
Suara tangisannya bukan seperti tangisan hantu yang mengerikan, melainkan tangisan seorang anak kecil yang sangat ketakutan dan berduka secara bersamaan.
Rara dan Cak Dika berdiri di samping ranjang dengan raut wajah yang campur aduk antara bingung dan kasihan.
Rara berkali-kali mencoba menyentuh bahu transparan Anako, namun hantu kecil itu justru semakin mengeratkan pelukannya pada dirinya sendiri.
"Ada apa, Anako? Katakan pada kami, siapa yang membuatmu seperti ini?" tanya Rara dengan nada suara yang sangat lembut, mencoba menyalurkan ketenangan melalui getaran batinnya.
Anako mendongak sedikit, matanya yang besar dan hitam tampak basah oleh air mata ghaib.
Dengan tangan gemetar, ia menunjuk ke arah jendela besar yang tertutup rapat, yang di baliknya hanya tampak hamparan salju putih yang luas.
"Kanojo!" bisik Anako lirih, suaranya parau seolah-olah ia sudah menangis berjam-jam.
"Kanojo... Kanojo!" bisik Anako lagi dan lagi.
"Kanojo? Apa artinya itu, Cak?" tanya Rara tanpa melepaskan pandangannya dari jendela.
Cak Dika menghela napas panjang, jemarinya memutar tasbih kayu dengan ritme yang teratur.
"Kanojo... dalam bahasa Jepang artinya adalah perempuan, Ra. Dia sedang memberitahumu bahwa ada sesosok wanita di luar sana."
Rara mengernyitkan dahi. Ia berdiri dan melangkah perlahan menuju jendela. Di luar sana, Jerman sedang dihujani salju yang cukup lebat.
Putihnya salju menumpuk di sisi-sisi bingkai jendela, menciptakan pemandangan yang indah namun sunyi.
Rara menajamkan penglihatannya, menyisir setiap sudut halaman penginapan yang tertutup salju, namun ia tak melihat siapa pun. Bahkan, saking bersihnya salju itu, tak ada satu pun jejak kaki yang tertinggal.
Tak ingin terlarut dalam kebingungan, dan karena telinganya mulai terasa panas mendengar tangisan pilu Anako yang tak kunjung berhenti, Rara memutuskan untuk membuka jendela itu.
Buss!
Angin musim dingin yang liar segera menyeruak masuk ke dalam kamar, membawa serta butiran salju yang mendarat di atas karpet hangat.
Rara membiarkan wajahnya terpapar dinginnya angin Bavaria sesaat sebelum ia menyadari bahwa Anako mendadak berhenti menangis. Hantu kecil itu menatap lurus ke arah jendela yang kini terbuka.
Pada detik itulah, di hadapan Rara, muncul sesosok wajah. Mata sipitnya begitu menawan namun menyimpan kesedihan yang tak berujung.
Wanita itu mengenakan kimono sutra klasik dengan corak bunga yang memudar, rambutnya ditata sangat rapi dalam sanggul tradisional Jepang yang dihiasi jepit kuno yang indah. Ia tidak berdiri di tanah, melainkan melayang tepat di depan jendela Rara.
"Siapa kau?" tanya Rara tegas namun tetap tenang.
Sepasang mata sipit itu menoleh ke arah Anako. Terjadi keheningan panjang di mana seolah-olah kedua entitas dari negeri matahari terbit itu sedang melakukan telepati yang dalam. Wanita itu kemudian menatap Rara kembali.
"Aku dengar, kalian bisa membantuku. Anako bilang kepadaku, bahwa aku bisa berbicara dengan kalian melalui bantuanmu," tutur setan Jepang itu.
Suaranya terdengar seperti bisikan angin, namun jelas bisa dipahami oleh Rara dan Cak Dika.
Rara sedikit terkejut karena hantu ini memahami bahasa mereka, meski logatnya terdengar sedikit kaku.
"Masuklah. Di luar sangat dingin, meski aku tahu kau tak lagi merasakannya," jawab Rara.
Sosok itu melayang masuk ke tengah kamar. Cahaya lampu kamar seolah meredup saat ia melintas. Ia mendekati ranjang dan mengusap kepala Anako yang kini sudah tenang.
"Jangan sedih, Adik Kecil. Kau sudah melakukan hal yang benar dengan mempertemukanku dengan mereka."
Cak Dika melipat tangan di dada, matanya menatap tajam namun penuh rasa ingin tahu.
"Jelaskan. Siapa namamu? Dan bagaimana kau bisa bicara bahasa kami?"
Wanita itu tersenyum getir, senyum yang lebih mirip dengan rintihan.
"Namaku Iruna Tomoe. Aku bisa bicara bahasa kalian karena suamiku adalah orang Jerman. Dia yang membawaku kemari dengan janji kebahagiaan. Namun, di tanah ini pula, aku menerima perlakuan yang menghancurkan martabatku sebagai manusia pada masa perang itu."
Iruna menatap ke arah luar jendela dengan pandangan kosong.
"Kalian bisa bayangkan? Ketika suamiku menungguku di rumah dengan penuh cinta untuk melayaninya, takdir justru menyeretku ke sebuah tempat di mana aku harus pasrah melayani lima pria bejat hingga napas terakhirku!"
Mendengar itu, Rara merasakan desiran panas di dadanya. Amukan yang dipendam Iruna terasa begitu nyata memenuhi ruangan.
"Kau tak perlu menceritakannya jika itu terlalu menyakitkan, Iruna. Biarkan aku yang melihatnya secara langsung," tutur Rara.
Rara melangkah mendekat dan mengulurkan telapak tangannya. Iruna menyambutnya. Meskipun tangan mereka transparan bagi manusia biasa, bagi Rara yang merupakan pawang ghaib, sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik dingin yang menarik sukmanya masuk ke dalam portal waktu.
...__________...
Rara mendapati dirinya berdiri di sebuah sudut kota di Jerman, beberapa dekade yang lalu. Suasana terasa mencekam dengan bangunan-bangunan yang rusak akibat perang.
Ia melihat Iruna muda, seorang wanita Jepang yang sangat anggun, sedang berjalan pulang setelah berbelanja kebutuhan dapur.
Wajahnya berseri-seri, tangannya mendekap erat bungkusan kertas berisi makanan, mungkin untuk kejutan bagi suaminya.
Iruna memutuskan mengambil jalan pintas melalui sebuah gang sepi di dekat gudang penyimpanan batu bara.
Di sana, lima pria berseragam militer sedang duduk-duduk sambil menenggak minuman keras.
"Hei, lihat itu! Ada mainan baru di wilayah kita!" seru salah satu pria dengan tawa kasar.
Iruna mempercepat langkahnya, namun kelima pria itu sudah mengepungnya.
"Maaf, permisi... aku harus pulang," ucap Iruna dalam bahasa Jerman yang terbata-bata.
"Pulang? Nanti saja. Kami sangat kesepian di sini, Nona Jepang," sahut pria lainnya sambil menarik paksa keranjang belanja Iruna hingga isinya berhamburan ke salju.
Iruna meronta, berteriak meminta tolong, namun suaranya tenggelam oleh tawa bejat mereka.
Mereka menyeret Iruna ke dalam gudang yang gelap dan lembap. Di sana, tragedi itu terjadi.
Secara bergilir, kelima pria itu memperkosa Iruna. Iruna menangis, memohon, dan memanggil nama suaminya, namun mereka justru semakin beringas.
"Kenapa dia tidak mau diam? Berisik sekali!" bentak salah satu pemerkosa setelah mereka puas melampiaskan hasrat.
"Bunuh saja! Kalau dia lapor ke perwira, kita habis!"
Dalam amukan emosi dan kebencian yang tak masuk akal, mereka menghantam kepala Iruna hingga ia tak berdaya. Namun kekejaman mereka tidak berhenti di situ.
Dengan kebencian yang mendalam terhadap identitas Iruna sebagai istri seorang pria Jerman yang mereka benci, salah satu dari mereka mengambil sekop kecil berisi batu bara yang masih membara dan kerikil tajam.
Mereka menjejalkan batu-batu hitam itu ke dalam lubang kelamin Iruna hingga penuh sesak sebagai bentuk penghinaan terakhir sebelum wanita itu tewas mengenaskan.
Penglihatan itu berakhir dengan sentakan hebat.
"Yaa Allah!" ujar Rara tak kuasa rasanya membayangkan betapa sakitnya rasa sakit Iruna.
Rara membuka matanya, napasnya memburu dan air matanya mengalir tanpa sadar. Rasa sakit dan kehinaan yang dirasakan Iruna seolah tertular padanya.
Tepat saat itu, pintu kamar terbuka perlahan. Rachel yang berada di atas kursi roda didorong oleh Adio masuk ke dalam kamar. Mereka membawa beberapa tas berisi buku-buku horor yang baru saja dibeli dari toko buku di pusat kota.
Rachel tertegun sejenak melihat sosok wanita berkimono yang melayang di tengah kamar, namun ia segera menangkap situasi dari wajah Rara yang pucat.
Cak Dika memberi instruksi dengan isyarat tangan agar mereka tidak memutus pembicaraan.
Rachel mengangguk pelan, ia tetap di kursinya sementara Adio berdiri siaga di belakangnya.
"Aku sudah melihat semuanya, Iruna... betapa kejamnya mereka padamu," bisik Rara pelan.
Iruna Tomoe menunduk, bahunya bergetar ghaib.
"Suamiku... dia pingsan berulang kali saat melihat jasadku di ruang forensik waktu itu," tutur Iruna dengan suara yang mengandung kepedihan mendalam.
"Hanya tiga orang yang tertangkap, dan mereka dihukum mati. Tapi polisi dan pihak militer merahasiakan detail kejadian itu darinya. Mereka hanya bilang aku adalah wanita yang 'mengesalkan' sehingga memicu amarah para pelaku. Suamiku hidup dengan rasa bersalah dan pertanyaan yang menyiksa selama empat puluh tahun. Dia tidak tahu bahwa aku mati karena mempertahankan kehormatanku untuknya." jelas Iruna perih.
Iruna menatap Rachel, lalu kembali pada Rara.
"Suamiku sekarang berada di rumah sakit kota ini. Namanya Johan. Dia terkapar tak berdaya, hidupnya hanya ditopang oleh mesin. Dia sendirian di ruangan yang dingin itu. Aku mohon... temui dia. Ceritakan kebenaran yang sebenarnya terjadi empat puluh tahun lalu. Biarkan dia tahu bahwa aku mencintainya sampai napas terakhirku, agar dia bisa pergi dengan tenang."
Rachel menatap Iruna dengan penuh simpati, lalu beralih ke Cak Dika dan Rara.
"Pergilah. Kasihan suaminya. Dia sudah menanggung beban ini terlalu lama. Biar aku dan Adio yang menjaga Anako di sini."
Setelah Iruna, Rara, dan Cak Dika menghilang melalui portal ghaib untuk menuju rumah sakit, kamar itu kembali sunyi.
Anako masih menundukkan kepalanya di sudut ranjang, jari-jarinya memainkan ujung kimono kecilnya. Ia tampak takut jika Rachel marah karena telah menyibukkan tim dengan urusan hantu asing.
Rachel mendekati Anako perlahan.
"Tenang saja, Anako. Jangan takut. Kamu sudah melakukan hal yang luar biasa hari ini. Kamu membantu satu jiwa untuk menemukan kedamaian."
Rachel mengambil sebatang coklat dari kantong belanjanya, membukanya, dan memberikannya pada Anako.
"Ini, makanlah. Ini hadiah karena kamu sudah menjadi anak yang hebat."
Anako mendongak, matanya yang basah mulai berbinar. Ia menerima coklat itu dan mulai memakannya dengan lahap, sementara Adio hanya bisa tersenyum melihat sisi lembut kekasihnya itu.
Sementara itu, setelah beberapa menit berlalu menyusuri jalanan kota. Rara dan Cak Dika tiba di Rumah Sakit, tempat di mana suami Iruna terbaring lemah di sana. Setibanya di kamar perawatan Johan.
Rara dan Cak Dika tiba di sebuah ruangan yang sangat tenang. Di atas ranjang, seorang pria tua Jerman bernama Johan terbaring dengan berbagai selang di tubuhnya.
Matanya yang cekung menatap langit-langit dengan pandangan kosong, seolah jiwanya sedang menunggu sesuatu.
Iruna Tomoe melayang di sisi ranjang, ia mencoba menyentuh tangan suaminya yang keriput, namun tangannya selalu menembus tubuh Johan.
"Tuan Johan..." panggil Rara lembut.
Johan menoleh perlahan. Matanya tampak sedikit melebar saat melihat aura ghaib di sekitar Rara dan Cak Dika.
"Kami membawa pesan dari istrimu, Iruna Tomoe," lanjut Cak Dika.
Mendengar nama itu, napas Johan yang tadinya tersengal melalui mesin ventilator mendadak menjadi lebih teratur. Air mata mulai menggenang di matanya.
Rara mulai menceritakan semuanya. Ia menceritakan kejadian di gudang batu bara itu, tentang keberanian Iruna, tentang betapa ia tetap memanggil nama Johan saat disiksa, dan tentang kebenaran sadis yang sengaja disembunyikan pihak berwajib darinya. Ia menjelaskan bahwa Iruna tidak pernah "mengesalkan", Iruna adalah pahlawan bagi cintanya sendiri.
Johan mendengarkan setiap kata itu dengan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Beban berat, rasa penasaran yang menyiksa, dan keraguan yang selama empat puluh tahun menghantui mimpinya, seketika luruh. Ia kini tahu bahwa Iruna tetaplah Iruna yang suci dan mencintainya.
"Iruna..." desis Johan dengan bibir bergetar.
Di sisi ghaib, Iruna tersenyum sangat cantik. Ia mencium kening suaminya. Pada saat itulah, alat monitor jantung di samping ranjang mengeluarkan bunyi panjang yang stabil.
Piiiiiiiiiiiiiiiiiiip...
Garis di layar itu menjadi lurus. Johan telah mengembuskan napas terakhirnya dengan senyum paling damai yang pernah dilihat oleh para perawat di sana.
Di pandangan batin Rara dan Cak Dika, jiwa Johan yang kini sudah kembali muda dan mengenakan seragam perwira rapi, berdiri di samping ranjang. Ia menggandeng tangan Iruna Tomoe.
Keduanya membungkuk hormat kepada Rara dan Cak Dika sebagai tanda terima kasih yang tak terhingga, sebelum akhirnya keduanya menyatu dalam sebuah cahaya putih yang hangat dan menghilang ke alam yang lebih tinggi.
..._______...
Hallo Guys, Readers terhormat. Bab ini aku tulis tepat di ruang jenazah. 💆 Gila, ngerinya kerasa banget.
Tapi, kisah horor ini aku dapat dari satu orang pembacaku yang bersuara perihal sosok "Iruna Tomoe".
Dia indigo, dan Iruna adalah temannya. Mereka bertemu dan saling sharing. Oh iya, nama "Iruna Tomoe" adalah nama samaran, ya! Sebab mbak hantu Jepang itu tidak memperbolehkan nama aslinya disebut.
💆 Sekian dari saya cerita ini... Dan kak, yang sudah membagi kisah horornya untuk dimasukkan ke dalam novel ini. Terima kasih sudah berbagi kisahnya. Ini hutang naskahku tentang cerita kakak dan teman baik kakak. Thank you 🫂💌 Salam sayang dari Gautama Family... Semoga sehat selalu, Aamiin...
duh gemesin si arka tau2an Rachel ada didepan
untung yg hampir nabrak Aldo jadi seenggaknya kamu sedikit aman sekarang
wah kemana pak dokter sama pasiennya 😄
etdah Tami kamu yaa blak2an banget
semoga nanti Tami bisa ketemu orang tua nya berkat bantuan Rachel ya
merinding bayangin kematian toby 🥺
jadi kalau Rahel nikah dy harus melepaskan kekuatan nya
Tami kan bener dia random banget