Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Malam hari,
Kediaman keluarga Draco
Di ruang makan kediaman keluarga Draco, suasana hangat memancar dari wajah-wajah yang berkumpul.
Di atas Meja penuh dengan hidangan yang menggugah selera, satu demi satu tersaji sesuai keinginan masing-masing.
Di tengah keheningan yang menggelayuti sebelum makan, Arjuna Fernandez Draco kepala keluarga yang wajah tampannya masih menyimpan kilau kegagahan meski usianya tak muda lagi, membuka keheningan itu dengan suara penuh wibawa.
“Selamat makan malam,” ucapnya, nadanya berat namun mengalun hangat, seperti panggilan hati untuk menyatukan mereka.
Seruan itu dijawab serempak, penuh kehangatan yang mengalir, seolah ikatan darah dan jiwa semakin erat dalam momen sederhana itu.
Lalu, sendok dan garpu mulai bergerak, mengantar mereka menyelami kelezatan yang tersaji bukan sekadar makanan, tapi kebersamaan yang menguatkan.
Di bawah lampu yang redup, tawa kecil dan sapaan lembut menyelinap di antara hiruk-pikuk makan malam ini bukan sekadar rutinitas, tapi pelarian manis dari kerasnya dunia di luar dinding rumah Draco.
Beberapa saat setelah makan malam usai, Arjuna berdiri tegap, menatap istri dan anak-anaknya dengan mata penuh ketegasan.
“Setelah ini, kita pindah ke ruang keluarga. Ada hal penting yang harus kita bicarakan,” suaranya dingin, membuat suasana langsung berubah.
Arion menatap ayahnya penuh penasaran. “Apa ini tentang acara amal dengan jamuan makan malam mewah, Dad?” tanyanya ragu.
Seketika, bibir Arion mengukir senyum kecil, “Kalau begitu, berarti keluarga Harvey juga akan datang, kan?” Suaranya bergetar sedikit, penuh harap.
seorang wanita yang usianya tak lagi muda itu memandang putranya dengan tatapan penuh tanda tanya. “Kenapa kamu terdengar begitu bahagia saat menyebut keluarga Harvey?”
Araina yang duduk di sampingnya malah menyeringai sambil melemparkan candaan. “Sepertinya Arion sudah melirik putri kandung keluarga Harvey yang baru ditemukan itu mom,”
wanita itu adalah Elva Kirana Bimantara, istri dari Arjuna dan nyonya Draco sekaligus ibu dari arion dan Araina.
Arion menatap saudaranya itu dengan tatapan kesal yang mendalam, tak percaya Araina tega membuka kartu sedari awal.
Semuanya terasa tegang, dan udara malam itu seolah penuh dengan rahasia yang siap meledak kapan saja.
Arjuna dan Elva saling bertatapan, wajah mereka membeku oleh sebuah kabar yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Putri kandung yang baru ditemukan? Jadi Anjani bukan darah daging keluarga Harvey? Bagaimana bisa?"
Elva menatap Araina dan Arion dengan mata penuh kebingungan dan keraguan, alisnya mengerut tajam seolah ingin menangkap kebenaran yang tersembunyi di balik dusta.
Araina menghela napas, suaranya pelan tapi penuh beban. "Benar, Mommy... Aurora dan Anjani tertukar sejak bayi. Dua nyawa yang saling terbalik takdirnya. Aku tak tahu persis bagaimana semuanya bisa terjadi, tapi ini mengubah segalanya."
“Baiklah, kita pindah ke ruang keluarga saja. Tak pantas membahas hal seperti ini di meja makan,” tegas Arjuna, suaranya menggema penuh otoritas.
...****************...
Mereka segera beranjak ke lantai dua, ke ruang keluarga yang eksklusif hanya untuk anggota keluarga Draco. Di sana, udara seolah berubah tegang dan sarat makna.
Tanpa basa-basi, Arjuna memulai pembicaraan yang sudah lama tertunda. “Acara amal dengan jamuan makan malam akan digelar besok malam. Daddy juga mengundang seluruh keluarga Harvey,” ucapnya dengan mata menatap serius ke arah keluarganya yang diam, terpaku pada setiap kata.
“Selain itu, Daddy mengundang mereka bukan semata karena acara. Ada urusan lain yang lebih pribadi. Salah satunya, membahas pertunangan antara salah satu putri mereka dengan kamu, Arion.” Mata Arjuna menyorot putranya dalam-dalam, menunggu reaksi yang sama sekali tak terucap.
Arion terdiam, pikirannya berlari tanpa henti. Satu nama tiba-tiba menyeruak kuat di benaknya 'Aurora'. Keheningan memecah ruang itu.
“Semuanya sudah jelas, sepertinya Arion sudah punya jawabannya, Dad,” sela Araina dengan nada penuh arti, senyuman tipis terukir di bibirnya.
Keringat dingin mengalir di pelipis Arion, tapi kata-kata masih tertahan bagai badai yang siap meledak dalam diam.
"Ahhh, Mommy tahu! Itu Aurora, kan?" Elva tiba-tiba teringat ucapan putrinya tadi, matanya berbinar penuh arti.
Arion menggaruk hidungnya dengan malu yang tak bisa disembunyikan, sementara Arjuna, Elva, dan Araina saling bertatapan, lalu pecah dalam gelak tawa yang tulus.
“Hahahaha... Astaga! Ternyata putra kita sudah menaruh hati pada dia, ya, Dad?” Elva melepas tawa penuh kehangatan, sekaligus menggoda suaminya dengan senyum penuh rahasia.
Momen sederhana itu menyimpan haru dan kebahagiaan, menandai sebuah awal kisah yang tak terduga di antara mereka.
Setelah pembicaraan singkat tentang pertunangan yang baru saja mereka lalui, suasana langsung berubah serius.
Arjuna menatap tajam ke arah istrinya, suaranya bergetar penuh harap. “Tempat dan makanan untuk acara amal besok… apa benar-benar sudah siap?” tanyanya dengan nada yang tak bisa diganggu gugat.
Elva membalas pandangannya dengan mata penuh tekad. “Semua sudah beres sayang. Tak ada yang terlewat.”
Arjuna mengangguk pelan, namun suaranya kini memancarkan kewaspadaan yang menuntut perhatian penuh. “Kalau begitu, pastikan kalian semua hadir tepat waktu di Hotel Diamond. Jangan sampai ada yang terlambat, ini bukan sekadar jamuan biasa.” Kata-katanya seperti peringatan tegas yang menggantung di udara, menegaskan betapa pentingnya momen esok hari bagi mereka semua.
...****************...
Malam itu udara di luar kamar mewah milik Aurora terasa hening. Keadaan semakin di perparah dengan pertikaian kecil yang Aurora dengar dari balik pintu.
"Pokoknya malam besok aku nggak mau Aurora ikut!" suara Anjani menegaskan, dia berharap kali ini Aruna mau membantu.
"Mana mungkin? Kau tahu kan Aurora adalah keturunan Harvey, jelas dia harus ikut dan menghadiri jamuan!" kata Aruna, dia menolak membantu Anjani karena bagaimana pun Aurora adalah keturunan asli dari Harvey.
"Oh, jadi Kakak menganggap aku ini bukan anak kandung Harvey jadi aku tidak berhak begitu?" ujar Anjani dengan nada sinis.
"Bukan begitu? Kau tahu tak mungkin membuat Aurora tidak hadir, Mama dan Papa pasti mengajak dia, Jani!" ungkap Aruna.
"Kak, tapi aku benar-benar tidak mau melihat dia hadir, wajahnya kampungan dan tak cocok untuk ada di acara besar itu," jelas Anjani, dia terus membujuk Aruna agar mau memikirkan cara supaya Aurora tak akan hadir.
"Jani, Kau in-"
"berarti Kakak tidak sayang padaku lagi jika menolak membantuku?" Anjani mengeluarkan jurus andalannya, merajuk agar Aruna mau membantu dia.
Sedangkan Aurora yang mendengar pertikaian kecil hanya bisa tersenyum sinis, dia segera membuka pintu dan berseru,"Kalian ini membicarakan aku tapi di depan pintu kamar ku," suara Aurora membuat ke-dua menoleh cepat.
"Rora," panggil Aruna, dia mengusap tengkuknya karena merasa malu.
selalu d berikan kesehatan😄