"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Permintaaan Rieta
Evan terbangun pada keesokan harinya dengan tubuh lelah. Netranya memindai kamar, mendapati sinar mentari sudah menerobos masuk melalui celah tirai yang sedikit terbuka, tetapi pagi ini semua terasa kosong.
Pandangan Evan beralih ke sofa tempat biasa istrinya tidur, tetapi tempat itu masih kosong, mengikat dirinya dalam keheningan menyesakkan.
"Apakah Rie tidur di kamar lain?" pikirnya kalut.
Evan beranjak bangun dari ranjang, memeriksa kamar mandi, tetapi tidak menemukan tanda-tanda istrinya menggunaan kamar mandi seperti pagi sebelumnya. Tidak ada lagi yang membangunkan paginya, tidak ada yang menyiapkan pakaian untuknya, dan kini ia merasakan benar-benar hampa, padahal inilah yang selalu ia inginkan setiap kali istrinya menyiapkan semua yang ia butuhkan.
Dengan gontai, ia melangkah menuju kamar mandi, membersihkan diri dan keluar dari kamar dengan satu tujuan, mencari sang istri di kamar lain. Akan tetapi yang ia dapatkan justru laporan dari pelayan rumah bahwa istrinya tidak pulang tadi malam, dan yang lebih membuat dirinya terkejut adalah pamannya juga tidak terlihat.
"Kemana paman pergi? Apakah bersama Rieta?" batin Evan gusar, tapi kemudian segera menggelengkan kepala, mengenyahkan pikiran buruk yang hadir ke dalam pikirannya.
Evan membawa langkahnya menuju ruang makan, tetapi segera tertegun ketika ia tidak melihat siapapun di sana.
"Papamu sudah berangkat ke kantor sejak pagi buta."
Satu kalimat itu membuat Evan berbalik cepat, hanya untuk menemukan ibunya berdiri dalam jarak beberapa langkah, menatap dirinya dengan raut kecewa.
"Apakah kamu mengharapkan pagi ini akan terasa sama setelah apa yang kamu lakukan Evan?" Nyonya Melani melangkah maju, mengamati putranya dari atas sampai bawah.
Setelah memergoki putranya di hotel dan suaminya membawa Evan pulang secara paksa, ia bertengkar hebat dengan suaminya. Menuduh suaminya tidak menyayangi putra sendiri dan hanya peduli pada Rieta yang statusnya hanyalah anak jalanan yang suaminya temukan belasan tahun silam.
Nyatanya, kehadiran Rieta di dalam keluarga Larson ternyata sudah diatur sejak awal.
"Mama benci mengakui ini, tapi ternyata apa yang papamu katakan benar. Kamu belum siap memimpin perusahaan, justru Rieta-lah yang lebih unggul darimu. Dia hanya seorang sekretaris, tapi mampu menangani proyek dengan cepat, sedangkan kamu...." Nyonya Melani menunjuk putranya dari atas sampai bawah menggunakan satu tangannya, lalu menggeleng.
"Kamu sudah melemparkan kotoran ke wajah kami, apa lagi yang kamu harapkan sekarang" tekannya.
"Dia menjebakku, Ma. Aku tidak benar-benar melakukannya," sahut Evan membela diri. "Aku bahkan tidak ingat kenapa aku bisa di kamar itu."
"Dan kamu ingin Mama percaya? Rieta sudah melihatmu dalam keadaaan..." Nyonya Melani menghembuskan napas kasar disertai gelengan kepala.
"Apakah selama pernikahanmu dengan Rieta, kamu masih menjalin hubungan dengannya?"
Pertanyaan ibunya membuat Evan bungkam, ia bahkan menciptakan drama koma hanya karena ingin menikmati waktu bersama Rihana, dan sekarang, penyesalan menyergap hatinya. Melihat bagaimana istrinya di pesta tadi malam, betapa ia tidak rela istrinya disentuh pria lain membuat ia sadar, ia sudah mencintai istrinya.
"Aku salah, Ma. Aku ingin memperbaikinya, tolong bantu aku kali ini. Apakah Mama tahu di mana Rieta?"
"Rieta menemani Arlan di rumah sakit sepanjang malam, dan pagi ini mengatakan dia akan langsung ke kantor bersama Arlan," terang Nyonya Melani.
"Kenapa di rumah sakit? Apakah Paman sakit?" tanya Evan.
"Ada seseorang memasukkan obat ke dalam minuman Arlan, dan pagi ini keadaannya sudah membaik," jawab Nyonya Melani.
"Kalau begitu, aku akan ke kantor Paman untuk menemui Rieta." putus Evan segera berbalik pergi meninggalkan ibunya, mengabaikan teriakan sang ibu yaang meminta dirinya untuk sarapan.
.
.
.
"Enghh..."
Erangan lembut itu keluar dari mulut Rieta yang saat ini masih terbungkus selimut hampir menutupi wajahnya. Kedua matanya mengerjap singkat, lalu membukanya perlahan. Begitu ia membuka mata, pandangannya bertemu dengan Arlan yang tengah menatap dirinya, tersenyum lembut.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Arlan mengusap lembut kepala wanitanya.
"Sudah pagi?" tanya Rieta dengan suara parau.
Rieta mengucek kedua matanya, hingga ia bisa melihat lebih jelas sosok Arlan yang berada dalam posisi berbaring miring bertelanjang dada, menopang kepalanya menggunkan satu tangan.
"Paman!"
Rieta memekik kaget, segera menutupi wajah menggunakan kedua tangan yang segera ditahan oleh Arlan.
"Kenapa harus malu? Bukankah kamu sudah melihat semuanya?" goda Arlan menggerakkan kedua alisnya jahil.
Wajah Rieta merona seketika, mengingat malam yang sudah ia lewati bersama Arlan. Ia melakukannya dengan kesadaran penuh, dan ketika melihat wajah Arlan pagi ini setelah apa yang sudah mereka lakukan, ia segera membalikkan badan, lalu beranjak dari tempat tidur yang sayangnya urung ia lakukan saat ia merasakan sakit yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya di bagian intinya.
"Ehm..." Rieta mengernyit, sedikit meringis.
"Sakit?" tanya Arlan seraya beranjak dari berbaringnya, mengitari tempat tidur, menyibakkan selimut, lalu mengangkat tubuh Rieta tanpa meminta ijin.
"Paman! Turunkan aku!" Rieta memekik panik, berusaha menutupi tubuh polosnya menggunakan tangan.
Namun, Arlan mengabaikan protes yang Rieta layangkan, membawa wanitanya ke kamar mandi, dan mendudukan tubuh polos wanita itu di closet sementara dirinya mengisi bathtub dengan air hangat.
"Setelah apa yang sudah kita lakukan..." Arlan mencondongkan wajahnya pada Rieta, membuat wanita itu memundurkan wajah.
"Kamu masih memanggilku dengan sebutan paman? Berani sekali," sindir arlan menatap lekat manik mata Rieta.
"Panggil aku seperti saat kamu mende*sahkan namaku tadi malam. Atau..." Arlan menggantung kalimat yang akan ia ucapkan, tangannya merayap ke paha Rieta yang terbuka.
"Iya... Iya..." Rieta menjawab dengan wajah merah padam karena malu, menahan tangan pria itu yang hampir menyentuh pangkal pahanya.
"Apa?" alis Arlan terangkat, tidak mengalihkan pandangan dari Rieta, menunggu.
"Ar," lirih Rieta, wajahnya semakin merah.
"Apa? Aku tidak dengar," Arlan mendekatkan telinganya.
"Ar," ulang Rieta mengeraskan suaranya.
Arlan tersenyum puas, mengusap lembut kepala wanitanya sebelum keluar dari kamar mandi. Ia membawa langkahnya menuju tempat tidur, tersenyum samar kala netranya menemukan bercak darah pada seprai yang mereka berdua gunakan tadi malam, lalu menariknya dan menggantinya dengan seprai bersih, memilih mencuci seprai itu sendiri.
"Saya, Tuan?"
Suara Liam terdengar dari ponsel yang Arlan tempelkan di telinga sesaat setelah ia meletakkan seprai kotor di sudut ranjang.
"Belikan beberapa stel pakaian formal dan santai untuk Rieta, bawa ke ruang kerjaku di kantor, aku beri kau waktu setengah jam."
Dengan seenaknya, Arlan memutus panggilan tanpa menunggu jawaban, hingga ia tidak mendengar, Liam yang berada di seberang sana menggerutu kesal meninggalkan sarapan yang baru akan ia nikmati.
Rieta keluar dari kamar mandi mengenakan kemeja Arlan. Kebesaran di tubuh kecilnya, tetapi sukses membuat Arlan enggan berpaling. Pria itu mendekat, segera melingkari pinggang wanitanya dan menariknya mendekat.
Alih-alih menolak, Rieta justru melingkarkan kedua tangannya di leher Arlan, tersenyum tipis.
"Menggodaku pagi-pagi seperti ini, harusnya kamu tahu apa akibatnya bukan?" ucap Arlan seraya mendekatkan wajah.
"Jangan lagi." cegah Rieta menahan wajah Arlan mendekat.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," imbuhnya memasang wajah serius.
Dahi Arlan berkerut tipis. "Apa itu?"
"Bisakah kamu membantuku mengurus perceraian, Ar?"
. . . .
. . . .
To be continued...