Romeo bukanlah tokoh dalam dongeng klasik yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, anak tunggal yang hidup tenang dalam rutinitasnya. Namun, hidupnya mendadak berubah ketika sang nenek—satu-satunya keluarga yang ia miliki—mengatur sebuah perjodohan untuknya. Romeo menolak secara halus, tetapi tak mampu membantah keinginan nenek yang sangat ia hormati.
Tanpa ia sadari, gadis yang dijodohkan dengannya ternyata bukan orang asing. Ia adalah Tina—sahabat masa SMP yang dulu selalu ada di sisinya, yang bahkan pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang sekolah. Namun waktu telah memisahkan mereka. Kini, keduanya telah tumbuh dewasa, dan pertemuan kembali ini bukan atas kehendak mereka, melainkan takdir yang disulam oleh tangan tua sang nenek.
Tapi, Romeo merasa ada yang berubah. Tina yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi sahabat kecilnya. Dan yang lebih membingungkan, perasaannya pun mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuka20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Ketemu Rival
Tina mengikuti langkah Romeo menuju dapur, langkahnya sedikit lebih lambat karena masih menikmati suasana pagi yang hangat. Ia berdiri di pintu dapur, melihat Romeo yang sudah sibuk mengatur bahan makanan di atas meja kerja—tangan pria itu bergerak terampil saat mencuci sayuran dan menyiapkan alat masak.
“Gue baru tau kalau Lo bisa masak?”
Tanya Tina dengan suara lembut, matanya penuh dengan rasa kagum yang jelas terlihat. Ia berjalan pelan mendekat ke arah meja, sambil menatap setiap gerakan Romeo dengan perhatian.
Romeo terus mengaduk telur yang sedang mengental di wajan dengan gerakan terampil, hanya melirik ke arah Tina sebentar dengan senyum kecil yang menggemaskan.
“Yaelah, Agus. Lo kira gue cuma bisa kerja doang?” balasnya dengan nada santai, sambil menyodok sedikit bagian telur dengan spatula lalu mencicipinya untuk memastikan rasa pas.
Tina mengangguk perlahan dengan senyum tipis di bibirnya. “Enggak sih, cuma nggak nyangka aja. Dulu waktu SMP, kayaknya lo nggak ada bakat di dapur sama sekali.”
Romeo terkekeh riang, tangannya tidak berhenti mengaduk masakannya. “Itu karena lo nggak pernah liat. Kalau gue masak waktu itu, siapa yang mau apresiasi? Lo malah sibuk bikin gue kesel terus.”
Sebelum Tina sempat membuka mulut menjawab, pintu belakang dapur terbuka dan Nenek Jihan muncul dengan tangan kanannya membawa keranjang rotan berisi sayuran segar yang masih bersih dari tanah kebunnya.
“Wah, pagi-pagi udah rame nih dapur. Romeo lagi masak apa buat Tina?” tanyanya dengan suara yang hangat, mata penuh dengan kebahagiaan melihat cucunya dan Tina.
Romeo menoleh cepat ke arah neneknya, masih dengan spatula di tangan. “Sarapan sederhana aja, Nek. Telur dadar sama nasi goreng spesial.”
Nenek Jihan mendekat hingga bisa mencium aroma masakan yang menggelegar dari wajan. Ia mengamati warna dan tekstur masakan dengan pandangan ahli. “Hmm, aroma masakannya enak juga. Tina, kamu beruntung ya. Romeo ini memang suka bantu di dapur.”
Tina memalingkan wajahnya ke arah nenek dengan ekspresi kaget yang jelas terlihat. “Serius, Nek? Romeo bisa masak?”
Nenek Jihan mengangguk perlahan sambil tersenyum hangat. “Iya, kalau nenek sibuk di kebun, dia sering bantu masak sendiri. Tapi biasanya, dia nggak mau ngaku kalau bisa masak—bilangnya biar kelihatan keren aja.”
Romeo langsung mengeluarkan suara deham kecil, pipinya sedikit memerah karena merasa malu. “Udah, Nek. Jangan bongkar rahasia aku deh.”
Tina tertawa kecil dengan suara yang lembut, mata yang sedang melihat Romeo kini penuh dengan rasa kagum. “Ternyata suami gue punya banyak talenta ya.”
Mendengar itu, Romeo mengangkat spatulanya ke udara dengan gaya yang sedikit dramatis. “Tentu aja. Lo baru liat sebagian kecil dari kehebatan gue, Agus.”
Nenek Jihan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar, merasa sangat senang melihat pasangan muda itu mulai saling mengenal lebih dalam dan akrab satu sama lain.
...****************...
Sinar matahari sudah cukup tinggi ketika Tina memasuki kelasnya—tangannya masih mengecek layar ponsel yang tidak menunjukkan satupun pesan balasan dari Romeo. Tadi pagi, ia sudah mengirim pesan menyatakan bahwa mereka punya janji dan mengharapkan Romeo menjemputnya setelah jam kerja. Namun layar ponsel tetap kosong, hanya menunjukkan pesan yang terkirim sejak pagi.
Sebagai guru SD, hari ini jadwal Tina sedikit berbeda—anak-anak masuk sesi siang sehingga jam pulangnya jatuh pada sore hari. Setelah menyelesaikan semua tugas dan mengantar anak-anak pulang satu per satu, Tina menghela napas panjang dan melihat ke arah gerbang sekolah yang sunyi. Tanpa ada kabar dari Romeo, ia memutuskan untuk tidak menunggu lebih lama dan memutuskan pulang sendiri.
Sebelum mencari taksi, kaki Tina secara tidak sengaja mengarah ke arah kafe kecil yang terletak tidak jauh dari sekolah—tempat yang dulu sering ia kunjungi saat masih kuliah. Ia masuk ke dalam dan memilih tempat duduk di sudut yang tenang, memesan secangkir teh hangat sambil masih sering melihat ke arah ponselnya.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang akrab terdengar dari arah pintu. Tina menoleh dengan refleks, dan matanya langsung bertemu dengan sosok pria yang sedang melepas jaketnya—wajahnya yang sudah tidak dilihat selama bertahun-tahun kini muncul di depannya. Itu adalah Jovan, teman lamanya yang dulu sering bersama-sama.
Jovan juga melihatnya dan terkejut sejenak, kemudian memberikan senyum hangat yang masih sama seperti dulu.
Tina ingin sekali segera bangkit dan pergi dari kafe, namun rasa tidak tega membuatnya menghentakkan niat itu. Ia tetap duduk di sudut tempat yang telah ia pilih, sambil perlahan menyeruput es kopi susu yang telah sedikit mencair di gelasnya. Pikirannya masih terombang-ambing memikirkan bagaimana cara menyampaikan keluhan pada Romeo tentang kebiasaannya yang selalu sibuk bekerja hingga sering lupa janji yang telah disepakati.
Tiba-tiba, suara yang sangat familiar menyapa dari arah belakangnya.
“Tina? Lama nggak ketemu!”
Tina dengan cepat menoleh ke belakang dan mendapati Jovan—teman lamanya saat SMP yang dulu juga menjadi rival Romeo—berdiri dengan senyum lebar yang menutupi wajahnya yang kini terlihat lebih dewasa. Jasnya yang rapi dan gaya rambut yang tertata rapi menunjukkan bahwa ia sudah jauh berbeda dari masa muda dulu.
“Jovan! Ya ampun, udah lama banget!”
Tanpa berpikir panjang, Tina berdiri dari kursinya dan mengangkat tangan untuk menyapa. Ia menggeser kursi di hadapannya perlahan sebagai tanda agar pria itu bisa duduk. Namun Jovan sudah langsung menarik kursinya sendiri dan duduk tanpa menunggu izin lebih lama.
“Apa kabar? Gue nggak nyangka bisa ketemu lo di sini.”
Jovan menaruh tas kerja kecilnya di atas meja, matanya tetap fokus pada Tina dengan ekspresi penuh kegembiraan.
“Baik, baik aja. Lo sendiri gimana?” Tina bertanya sambil kembali duduk, memberikan senyum hangat pada teman lamanya.
Jovan mengangkat bahu dengan santai. “Masih sibuk kerja lah. Lo? Lagi ngapain di sini?”
Tina tertawa kecil dengan suara lembut, jari-jarinya bermain-main dengan gagang gelas di depannya. “Baru pulang kerja, gue ngajar di SD dekat sini. Sebenarnya lagi nunggu jemputan.”
Mata Jovan tiba-tiba berbinar dengan kegembiraan. “Guru SD? Wah, nggak nyangka. Lo pasti guru yang disukai banget sama murid-muridnya ya?”
Tina sedikit tersipu, wajahnya menjadi kemerahan karena pujian yang datang tak terduga. “Ya, gitu deh. Lo sendiri sekarang kerja di mana?”
Obrolan mereka berjalan lancar dan menyenangkan, waktu berlalu dengan sangat cepat tanpa mereka sadari. Kisah-kisah masa SMP yang penuh kenangan membuat Tina terkadang tersenyum dan tertawa lepas. Namun suasana sedikit berubah ketika ponsel di mejanya mulai bergetar dengan kuat.
Tina mengambil ponselnya dan melihat layarnya—ada pesan masuk dari Romeo.
Romeo: Agus, lo di mana? Gue baru selesai kerja. Maaf, tadi nggak bisa balas. Gue jemput sekarang ya.
Ia membaca pesan itu dengan cepat, jari-jarinya langsung mengetik balasan singkat.
Tina: Gue di kafe dekat sekolah. Tapi nggak apa-apa, gue pulang sendiri.
Tak butuh waktu lama, balasan dari Romeo langsung masuk.
Romeo: Tunggu di situ. Gue otw.
Tina menghela napas pelan, rasa canggung mulai menyelimuti dirinya karena Jovan masih berada di depannya. “Eh, Van. Gue harus pulang sekarang. Suami gue mau jemput.”
Ekspresi Jovan sedikit berubah, terlihat terkejut namun segera digantikan dengan senyum. “Suami? Wah, selamat ya, Tin! Gue nggak tahu lo udah nikah.”
Tina hanya memberikan senyum singkat, kemudian berdiri dan mulai merapikan tas serta barang-barangnya yang ada di meja. “Thanks, Van. Senang ketemu lo lagi.”
Tak lama setelah itu, suara mesin mobil terdengar jelas di luar kafe. Saat Tina keluar bersama Jovan yang rela mengantarnya hingga ke pintu kafe, ia melihat Romeo berdiri di depan mobilnya dengan tubuh menyandar pada pintu penumpang. Wajahnya terlihat lelah dengan mata yang sedikit merah, namun ekspresinya berubah drastis saat melihat Tina keluar bersama pria lain yang akrab berdampingan dengannya.
Romeo hanya menatap mereka dengan wajah datar tanpa ekspresi yang jelas, tapi Tina bisa merasakan bahwa suaminya pasti tidak senang melihatnya sedang berbicara akrab dengan teman laki-laki yang dulu pernah menjadi rivalnya.
smngt kakak....