Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
_____🌺
Di teras Depan, Pukul 10.00 Pagi.
"PAKEEEET! Permisi, COD atas nama Ibu Ratna! Totalnya tiga ratus lima puluh ribu rupiah, Bu!"
Suara teriakan kurir ekspedisi dari balik pagar besi itu sukses membuyarkan konsentrasi Nisa yang sedang fokus mengetik naskah novel di ruang tengah.
Ia baru saja mau berdiri dari duduknya, namun sosok mertuanya sudah lebih dulu melesat dari arah dapur dengan kecepatan kilat layaknya pembalap profesional.
"Eh, iya, Mas Kurir! Sebentar! Paket Mama udah datang nih akhirnya!" seru Bu Ratna kegirangan sambil berlari memegang daster batiknya agar tidak tersandung.
Nisa kembali duduk santai di depan laptop, mengira urusan paket sudah selesai. Namun lima detik kemudian, teriakan melengking itu kembali terdengar memanggil namanya dengan sangat tak sabaran.
"Nisa! Sini kamu cepat ke depan! Bawa dompetmu sekalian sekarang juga!"
Nisa menghela napas panjang, menutup laptopnya, lalu berjalan ke teras depan dengan wajah bingung berkerut. "Ada apa, Ma? Bayar paket COD kan? Tumben Mama minta dompet Nisa? Biasanya Mama selalu sedia uang tunai tebal di dalam dompet merah kebanggaan Mama itu."
"Uang tunai Mama lagi habis dipakai bayar iuran kebersihan kompleks sama bayar uang kas arisan tadi pagi! Udah, kamu talangin dulu bayar paket ini ke kurir. Cuma tiga ratus lima puluh ribu doang kok harganya. Pelit amat kamu jadi menantu sama mertua sendiri," omel wanita paruh baya itu tanpa rasa bersalah sedikit pun, tangannya sudah merebut paksa kotak paket kecil berlapis plastik gelembung tebal dari tangan kurir yang menunggu kepanasan.
"Bukannya pelit, Ma. Uang tunai Nisa di dalam dompet juga tinggal seratus ribu sisa kembalian beli galon air mineral kemarin sore. Sisanya ada di ATM semua," jawab Nisa jujur apa adanya.
"Ah, alasan aja kamu pinter banget ngelesnya! Kurir zaman sekarang kan bisa ditransfer lewat aplikasi ponsel! Mas, ini menantu saya mau transfer aja ke rekening situ ya langsung. Nanti dia yang urus pencet-pencet hapenya. Ayo, Nis, buruan kamu transfer! Jangan bikin Mas Kurirnya nunggu lama kepanasan begini, kasihan tahu dia harus keliling lagi!" paksa ibu dari suaminya itu seenak jidatnya sendiri.
Nisa menahan diri sekuat tenaga untuk tidak memutar bola mata karena kesal. Ia terpaksa mengeluarkan ponsel pintarnya dan menanyakan nomor rekening sang kurir pengantar barang. Setelah transaksi perbankan selesai dan kurir pergi meninggalkan rumah, Nisa menatap tajam kotak kecil di tangan mertuanya dengan penuh rasa curiga.
"Itu paket isinya apaan sih, Ma? Kok bentuk kotaknya kecil banget tapi harganya sampai tiga ratus lima puluh ribu? Mama beli perhiasan kalung imitasi lagi di toko daring abal-abal itu ya?" selidik Nisa penasaran.
Mertua julidnya itu mendengus kasar merasa tersinggung ditegur. "Sembarangan kamu kalau ngomong! Ini tuh sabun pembersih aura pesugihan putih! Mama beli dari tontonan langsung orang pinter di aplikasi semalam suntuk! Katanya sabun ajaib ini kalau dipakai mandi rutin tiap jam empat subuh, bisa bikin aura wajah Mama bersinar terang benderang ngalahin lampu jalan raya depan kompleks!"
Nisa langsung menepuk jidatnya sangat keras hingga berbunyi pelan.
"Astaghfirullah, Ma! Sabun mandi aura apaan harga segitu mahalnya?! Itu mah Mama jelas-jelas ditipu mentah-mentah sama trik pedagang palsu! Kemarin jus delima pencahar bikin mencret, sekarang sabun pesugihan putih pembersih aura. Lama-lama rumah kita penuh sama barang klenik gaib begini, Ma!"
"Heh! Kamu itu anak muda jangan sok tahu urusan aura orang tua! Aura Mama ini udah mulai meredup gelap gara-gara tiap hari kepikiran terus nasib kamu yang mandul nggak kunjung ngasih cucu penerus! Wajar dong kalau Mama cari perawatan ekstra mahal dari luar, biar nggak kelihatan tua keriput duluan di depan ibu-ibu arisan!" balas Bu Ratna sompral dan sangat pedas, tak peduli ucapannya selalu sukses menusuk ulu hati menantunya.
"Ya tapi kan nggak usah pakai uang tabungan Nisa juga belinya, Ma. Nisa ngetik novel siang malam nahan kantuk itu buat nabung masa depan, bukan buat beli sabun cuci muka gaib yang nggak jelas izin edarnya," keluh Nisa pelan namun sarat akan kekecewaan.
"Alah, ngetik doang pencet-pencet huruf di kamar dapet recehan aja sombongnya udah selangit nembus awan! Uang tiga ratus lima puluh ribu itu anggap aja uang sewa kamu tinggal numpang di rumah mewah ini! Belum bayar listrik tagihan mahal, belum air bersih! Kamu itu cuma numpang hidup gratis sama anak Mama, sadar diri sedikit kenapa sih jadi perempuan?!" sentak wanita tua itu dengan mulut tajamnya yang tak pernah direm.
Nisa terdiam kaku membeku di teras. Ucapan kasar dan sompral itu kembali menampar keras kewarasannya. Ia memilih berbalik badan dan masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah gontai tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meladeni mertuanya berdebat soal uang tagihan hanya akan membuat kepalanya meledak sia-sia.
_____🌺
Pukul 12.30 Siang.
Siang harinya, Nisa sedang asyik menggoreng tempe mendoan untuk makan siang saat sebuah jeritan histeris yang memekakkan telinga terdengar keras dari arah kulkas.
"NISAAAAAAA! ASTAGA NAGA BERKEPALA DUA! YA ALLAH, BERIKAN KESABARAN BUAT HAMBA!"
Nisa terkejut hebat hingga sutil kayu di tangannya nyaris terlempar masuk ke dalam wajan berisi minyak goreng panas. Ia buru-buru mengecilkan api kompor dan menoleh cepat ke arah mertuanya yang sedang berdiri mematung di depan pintu kulkas dua pintu yang terbuka lebar.
"Ada apa lagi sih, Ma? Teriak-teriak siang bolong panas begini, nanti dikira tetangga sebelah ada perampokan masuk rumah lho," tegur Nisa panik, buru-buru mengelap tangannya dengan serbet kain lap.
Wanita paruh baya itu berbalik badan dengan wajah memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Di tangan kanannya yang gemetar, ia memegang sebuah wadah kotak plastik berwarna ungu transparan berukuran sedang.
"Ini murni perbuatan kamu kan?! Ngaku kamu sekarang juga, Nis! Kamu apain wadah mahal warna ungu edisi terbatas kebanggaan Mama ini, hah?!" teriak Bu Ratna sambil mengacung-acungkan wadah plastik kosong itu tepat ke arah depan wajah Nisa.
Nisa memicingkan matanya, melihat teliti isi wadah tersebut. "Oh, itu... itu kan sisa kuah seblak Nisa yang semalam, Ma. Sayang banget kalau dibuang ke tempat sampah, soalnya masih banyak kerupuk basah sama sosisnya. Rencananya mau Nisa panasin lagi nanti sore buat nyemil sambil nulis bab baru."
"SISA SEBLAK KAMU BILANG?!" Mata ibu mertuanya nyaris meloncat keluar dari kelopaknya. Ia membuka tutup wadah plastik mahal tersebut dengan gerakan kasar, lalu menyodorkannya kuat-kuat ke arah hidung Nisa.
"Kamu cium ini baunya sekarang! Cium dalam-dalam! Wadah plastik mahal impor dari luar negeri ini sekarang baunya berubah total jadi bau kencur, bawang putih mentah, sama bau micin murahan! Aromanya menempel sangat kuat nggak bisa hilang luntur, Nis!"
"Astaga, Ma. Tinggal dicuci pakai sabun cuci piring wangi jeruk nipis sama disiram air hangat juga hilang kok bau kencurnya. Lebay banget sih Mama urusan wadah plastik doang," jawab Nisa santai mencoba meredakan situasi tegang di dapur.
"Lebay katamu?! Ini wadah warna ungu, Nisa! Ungu langka! Kamu tahu nggak perjuangan Mama dapetin barang langka ini gimana susahnya?! Mama harus cakar-cakaran rebutan hadiah undian di kocokan arisan Bu RW tahun lalu sampai kerudung Mama miring sebelah! Ini tuh lebih berharga dari ginjal kiri Mama, tahu nggak?!" teriak wanita sosialita itu semakin menjadi-jadi hilang akal sehat.
"Ya ampun, Ma. Cuma wadah plastik bekal makanan doang lho. Di pasar tradisional luar kompleks banyak yang jual model mirip begini, harganya sepuluh ribuan dapet tiga biji. Nanti sore Nisa gantiin deh beli yang baru di pasar kalau Mama sebegitu kehilangannya," tawar Nisa mulai merasa sangat lelah berdebat soal hal sepele.
Mendengar kata wadah plastik sepuluh ribuan pasar, harga diri Bu Ratna sebagai pengoleksi barang bermerek langsung meronta-ronta terhina hebat. Ia tidak terima barang mewahnya disamakan dengan barang murah.
"Heh! Mulutmu itu ya makin hari makin sompral nggak ada sopan santunnya sama mertua! Berani-beraninya kamu nyamain koleksi eksklusif kesayangan Mama sama barang loakan pasar murah! Kamu itu emang beneran perempuan yang nggak tahu diuntung sama sekali! Ngerawat wadah plastik kotak aja kamu gagal total bikin bau kencur menyengat, gimana kamu mau ngerawat janin hidup di dalam rahimmu itu?!"
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh