Enam tahun menjadi Nyonya Bramantyo, Kirana belajar satu hal: dicintai diam-diam tak sama dengan dilihat.
Ia menikahi Rendra Bramantyo, presiden direktur yang dingin dan selalu memegang janji pada almarhum kakaknya. Di rumah besar itu Kirana hanya perabot yang rapi. Tidur di kamar terpisah, makan malam yang tak pernah ditemani, dan di mana-mana ada Laras, janda sang kakak, yang selalu lebih dulu dipilih.
Sampai pada satu malam ketika sebuah telepon dini hari mematahkan sisa kesabaran Kirana.
Ia tak lagi menunggu. Ia menyimpan, merapikan, lalu pergi, membawa putrinya Nindy, ilmunya sebagai ahli farmakologi, dan harga dirinya. Di luar rumah itu menunggu hidup yang tak pernah ia kira: perusahaan yang membutuhkan otaknya, tiga lelaki yang mulai memperhatikannya, dan dunia yang ternyata tak sedingin rumah yang ia tinggalkan.
Sementara itu, Rendra mulai menyadari apa yang ia punya, setelah semuanya terlambat. Tapi siapa yang masih mau menunggu seseorang yang baru belajar mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Autora Gabriela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
POV: Kirana
Pengumuman internal masuk ke kotak surelku menjelang sore. Proyek formulasi tertarget tetap berada di bawah koordinasi Ibu Larasati Prasetyo. Dr. Kirana Mahendra dialihkan ke tinjauan teknis portofolio. Dua baris. Mereka mencabutku dari proyekku sendiri dan memberiku meja untuk membubuhkan cap pada pekerjaan orang lain.
Rini muncul di ambang pintu sebelum aku selesai membaca.
"Pak Rendra menghabiskan sore di rumah Bu Laras," katanya pelan. "Katanya Bu Laras menangis, bilang Ibu mau merebut proyeknya dan dia akan diusir dari keluarga. Lalu Pak Rendra berjanji di depan para pembantu: 'Selama ada saya, kamu akan selalu jadi seorang Bramantyo.'"
Aku tidak minta penjelasan lebih lanjut. Pengumuman di layar sudah mengatakan semuanya dalam dua baris.
"Ibu mau saya ajukan keberatan di notulen rapat?" tanya Rini. "Mencatat bahwa data proyeknya tidak cocok?"
"Tidak." Kututup surel itu. "Mencatatnya sekarang cuma membuat mereka menyebutku iri lagi. Kita simpan. Digitalkan buku-bukuku, simpan surelnya, simpan semuanya dengan tanggal. Kalau nanti aku buka mulut, aku akan membawa bukti di tangan dan pada saat yang membuat mereka yang sakit, bukan aku."
Rini memandangku, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari yang tampak di wajahnya adalah rasa hormat, bukan iba seperti hari-hari sebelumnya.
"Serahkan pada saya, Bu Kirana."
Aku tiba di rumah pukul delapan. Nindy duduk di anak tangga paling bawah, memakai piyama, menunggu. Ia berlari ke pangkuanku sebelum aku sempat melepas mantel.
Ponselku berdering. Rendra.
"Aku sudah makan," katanya. "Pulangnya malam, tidak usah menunggu."
Di latar belakang, pelan, ada suara batuk. Halus. Perempuan. Aku hafal batuk itu di luar kepala.
"Iya," jawabku, lalu menutup telepon.
Saat aku memandikan Nindy, ibuku menelepon. Bu Lestari mengelola jaringan apotek, perempuan paling praktis yang kukenal, dan selalu menelepon di penghujung hari untuk memastikan cucunya sudah makan dengan benar.
"Sabtu ulang tahun ayahmu," katanya. "Datanglah, bawa Nindy dan Rendra." Ia berhenti sejenak. "Nak, Ibu dengar soal keributan di kantor. Ibu tidak mau ikut campur. Ibu cuma minta satu hal: berjiwa besarlah. Hibur dia, dia baru kehilangan suami."
Hibur dia. Bahkan ke dalam diri ibuku sendiri Laras sudah masuk, tanpa ada yang tahu siapa dia sebenarnya.
"Aku datang hari Sabtu, Bu," jawabku. Itu saja.
Kamis malam ada jamuan makan di rumah besar Eyang. Eyang Kartika adalah matriark keluarga Bramantyo, ibu dari mendiang ayah mertuaku, perempuan yang taat beribadah, jarang bicara, tapi menentukan segalanya. Sejak dulu ia memperlakukanku dengan kedinginan yang lurus, yang lama-lama kupelajari untuk kubaca sebagai penghormatan. Ia mengetukkan sendok ke gelas sekali, dan seluruh meja sunyi.
"Eyang sudah membeli tiket untuk Laras," umumnya. "Jumat dia berangkat ke Singapura, ke apartemen keluarga. Dia akan beristirahat, jauh dari koran-koran. Ini yang terbaik untuk dia dan untuk nama rumah ini."
Seluruh klan duduk di meja itu, om dan tante yang kusalami saat Lebaran dan nyaris tak kukenali di hari-hari lain. Tak seorang pun berani bicara.
Rendra meletakkan garpunya.
"Laras tidak berangkat," katanya.
Eyang mengangkat mata perlahan.
"Tidak berangkat?"
"Dia tetap di sini. Di bawah tanggung jawab saya. Selama saya ada di keluarga ini, tidak ada yang boleh menyingkirkan janda kakak saya ke luar negeri seolah dia sampah yang harus disapu."
Bu Wulan, ibu mertuaku, langsung menyela, tangan di dada.
"Ibu, demi Tuhan. Demi almarhum Raditya. Anak itu sudah cukup menderita."
Eyang Kartika meletakkan gelasnya pelan-pelan.
"Rendra, Eyang yang membesarkan anak itu sejak kecil. Eyang mengenalnya lebih baik daripada kamu." Suaranya kering, tanpa getar. "Janda muda yang tinggal di bawah perlindungan iparnya yang sudah beristri akan jadi bahan omongan seluruh kota. Eyang sedang menjaga nama rumah ini. Dan pernikahanmu sekalian."
"Pernikahanku aku urus sendiri," Rendra memotong.
"Benar kamu urus?" Eyang menatapku di seberang meja, lalu kembali pada Rendra. Ia tak perlu bicara lebih jauh.
Suara keduanya meninggi. Nindy di sampingku menjatuhkan sendoknya dan mulai menangis, ketakutan oleh pertengkaran orang dewasa. Rendra berdiri, mengangkat putrinya, dan membawanya ke atas, jauh dari meja.
Bu Wulan menoleh padaku dengan mata basah.
"Dan kamu, Kirana? Kamu tidak mau bilang apa-apa? Kamu menantu rumah ini. Satu kata darimu bisa menenangkan semuanya."
Semua orang memandangku. Istri yang selalu setuju, yang menuang teh dan meredakan keadaan.
"Yang memutuskan soal Laras itu Ibu dan Eyang," jawabku. "Bukan wewenang saya. Yang menjadi urusan saya, saya urus. Yang bukan urusan saya, saya tidak mendorong dan tidak menahan."
"Tapi kamu bisa lebih murah hati," Bu Wulan mendesak. "Anak itu sebatang kara di dunia ini."
"Kemurahan hati itu tidak ditagih dari luar, Bu Wulan. Kemurahan hati itu diberikan."
Seluruh meja membisu. Itu bukan jawaban yang biasa diberikan menantu penurut.
Eyang Kartika menatapku sedetik lebih lama dari biasanya. Ia tidak tersenyum. Tapi ia mengangguk tipis, seakan mencatat bahwa sang menantu akhirnya mengucapkan kalimat yang bukan sekadar persetujuan. Pada saat itu, untuk pertama kalinya di rumah itu, kurasa perempuan tua itu mungkin berada di pihakku, bukan di pihak yang menangis paling keras.
Kubawa Nindy tidur lebih awal. Ia terlelap sambil mencengkeram lengan bajuku.
Dalam perjalanan kembali melewati koridor gelap, kudengar langkah kaki. Bukan menuju kamar-kamar. Menuju ruang kerja di ujung koridor, milik mendiang ayah mertuaku, yang terkunci sejak Raditya meninggal. Aku mendekat dan mengintip dari celah pintu. Itu Rendra, berdiri dalam gelap di depan meja kerja kakaknya, tanpa menyalakan lampu, membelakangiku. Aku tidak masuk.
Pertengkaran saat makan malam itu menggantung tanpa pemenang. Eyang tidak membatalkan tiket. Rendra tidak mundur. Hari Jumat belum ada yang tahu siapa yang akan mengalah.
Aku hanya tahu satu hal. Hari Sabtu, aku akan membawa Nindy ke rumah orang tuaku, dengan Rendra atau tanpa dia.