• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.
• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Sudut Ruang yang Sempit
Bel tanda pulang sekolah akhirnya berbunyi nyaring, menggema ke seluruh penjuru gedung SMA Taruna Bangsa. Suara sorak-sorai riuh dari para murid yang bersiap pulang terdengar lamat-lamat sampai ke dalam ruang OSIS di lantai satu. Tapi bagi Eca, suara bel itu sama sekali tidak membawa angin segar kebebasan. Dia masih duduk diam di kursi kerja kebesaran Angkasa, memandangi layar laptop perak yang sudah menampilkan dokumen notulen rapat yayasan yang bersih tanpa cela.
Klik.
Suara pintu ruang OSIS yang terbuka membuat Eca langsung menegakkan punggungnya dengan kaku. Angkasa melangkah masuk dengan gaya santainya yang biasa, namun sepasang mata elangnya langsung mengunci lekat-lekat ke arah posisi Eca. Cowok itu berjalan mendekat, melempar tas ransel hitamnya ke atas sofa kulit, lalu berdiri tepat di samping meja kerja, menjulang tinggi di atas Eca.
"Tugas notulen rapatnya udah selesai?" tanya Angkasa dingin, suaranya berat khas orang yang kelelahan setelah seharian mengurus urusan yayasan.
Eca menggeser laptop perak itu ke depan dada Angkasa dengan gerakan ketus. "Udah. Periksa aja sendiri. Nggak ada yang salah ketik, nggak ada yang kurang satu kalimat pun."
Angkasa membungkuk sedikit, menatap layar laptop selama beberapa menit dengan ekspresi serius. Setelah memastikan semuanya sempurna, dia menutup laptop itu dengan suara klik yang pelan. Cowok itu lalu melirik jam tangan hitam mewahnya yang sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB.
"Bagus. Kerja lo hari ini lumayan becus," ujar Angkasa pelan. Dia tidak kembali duduk di sofa, melainkan memilih untuk duduk di pinggiran meja kerja, tepat di sebelah kursi Eca, membuat jarak di antara mereka mendadak terkikis drastis.
Eca langsung menggeser kursinya mundur satu langkah karena merasa terintimidasi oleh kedekatan jarak mereka. "Kalau kerjaan gue udah becus, sekarang gue boleh pulang kan? Tugas asisten pribadi hari ini resmi selesai."
Angkasa tidak langsung menjawab. Dia memutar tubuhnya menghadap Eca, menyilangkan kedua tangan di depan dada, lalu menatap Eca dengan pandangan mata yang sangat dalam dan penuh selidik dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Gue belum ngasih lo izin buat pulang, Alesya."
"Apalagi sih, Angkasa?!" bentak Eca frustrasi, benar-benar kehilangan sisa kesabarannya. "Gue udah nurutin semua perintah gila lo seharian ini! Gue udah beliin lo kopi sampai kaki gue mau kram, gue udah bantuin lo menangin rapat yayasan dari serangan Reno, dan gue udah ngetik notulen tebal ini sampai jari gue kaku! Mau lo apa lagi dari gue?!"
Mendengar rentetan amarah Eca, Angkasa justru memajukan tubuhnya. Dia mencengkeram kedua lengan kursi kerja Eca dengan kuat, menarik kursi itu maju dengan satu sentakan bertenaga hingga lutut mereka saling bersentuhan. Eca terkesiap kaget, tubuhnya refleks bersandar erat ke bantalan kursi karena wajah Angkasa kini kembali berada hanya beberapa sentimeter di depan wajahnya.
"Gue mau tahu... apa yang lo omongin sama Reno di koridor lantai tiga tadi sebelum gue datang," desis Angkasa dengan suara yang sangat rendah, pelan, namun bergetar penuh ancaman tersembunyi yang pekat. "Jangan bohong sama gue. Gue bisa liat dari gerak-gerik lo kalau lo lagi nyembunyiin sesuatu dari gue."
Eca meremas tali tas ransel di pangkuannya erat-erat, matanya menatap menantang ke arah sepasang mata elang Angkasa meski jantungnya sudah berdegup brutal di dalam dada. "Gue nggak nyembunyiin apa-apa! Reno cuma nanya kenapa gue bisa ada di dalam ruang rapat yayasan, dan gue bilang kalau gue cuma dihukum jadi asisten lo gara-gara insiden kopi! Cuma itu!"
"Cuma itu?" Angkasa menaikkan sebelah alisnya dengan seringai licik yang sangat menyebalkan. Dia perlahan melepaskan satu tangannya dari lengan kursi, lalu jemari tangannya yang hangat tiba-tiba bergerak menyentuh helaian rambut kuncir dua Eca, memutarnya pelan dengan gerakan yang terkesan posesif. "Reno itu nggak bakal buang-buang waktu cuma buat nanya kabar babu baru gue, Alesya. Dia pasti nawarin sesuatu buat jatuhin gue lewat lo, kan?"
Sentuhan jemari Angkasa di rambutnya sukses membuat seluruh tubuh Eca merinding kaku. Ada desiran aneh yang mendadak meledak di dadanya, membuat napasnya terasa tertahan di tenggorokan. "N-nggak ada... lo jangan asal tuduh ya!" cicit Eca, suaranya mendadak bergetar gugup karena tidak kuat menahan intensitas tatapan mata Angkasa yang begitu mengikat di sudut ruangan yang sempit ini.
Angkasa menatap lekat-lekat bibir Eca yang bergetar gugup, lalu pandangannya beralih menatap rona merah samar yang mendadak muncul di kedua pipi cewek itu di balik kacamata tebalnya. Seringai licik di bibir Angkasa perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata misterius yang sangat dalam—sorot mata yang memancarkan ketertarikan yang nyata terhadap sosok asli Eca.
"Gue peringatin lo sekali lagi, Asisten," bisik Angkasa tepat di depan wajah Eca, hembusan napas hangatnya terasa jelas di permukaan kulit pipi Eca. "Reno itu nggak sebaik yang lo pikir. Dia cuma mau manfaatin lo buat ngancurins posisi gue di OSIS. Dan kalau lo berani main gila di belakang gue dengan nerima tawaran dia... gue nggak akan segan-segan buat hancurin reputasi lo di sekolah ini dalam sekejap."
Angkasa menarik kembali tubuhnya dengan lambat, memberikan Eca ruang untuk mengembuskan napas lega yang sempat tertahan. Dia meraba saku celana seragam almamaternya, mengeluarkan kartu pelajar lama Eca yang berwarna hitam, lalu mengetukkannya di atas meja kaca dengan suara ketukan kecil yang sengaja dipamerkan.
"Buku tugas Geografi lo aman di tas gue, dan kartu ini... bakal tetep nangkring di dompet gue sebagai garansi kepatuhan lo," ucap Angkasa tenang. Dia berdiri tegak, merapikan jas almamaternya yang sedikit kusut, lalu berjalan menuju pintu keluar ruang OSIS. "Sekarang lo boleh pulang. Besok pagi jam 06.30, gue mau lo udah ada di ruangan ini lagi buat buatin gue sarapan. Jangan telat semenit pun."
Angkasa membuka pintu ruang OSIS dan melangkah keluar lebih dulu tanpa menunggu jawaban dari Eca. Pintu kayu jati itu tertutup kembali dengan suara klik pelan, meninggalkan Eca sendirian yang kini sedang memegangi dadanya yang berdegup sangat kencang.
Eca menyandarkan kepalanya di meja kerja dengan perasaan frustrasi yang luar biasa. "Sialan... cowok itu bener-bener bikin gue gila!" umpat Eca pelan dengan muka yang memerah padam akibat sisa kedekatan mereka tadi.
Eca buru-buru merapikan tasnya, memakai ranselnya, dan melangkah keluar dari ruang OSIS dengan tergesa-gesa. Namun, begitu dia melangkah melewati gerbang depan sekolah yang sudah sepi, sebuah mobil sedan hitam mewah mendadak berhenti tepat di depannya. Kaca mobil bagian tengah perlahan turun, menampilkan sosok Reno Aliansyah yang duduk di dalam sambil menatap Eca dengan senyuman tenang penuh misteri.
"Butuh tumpangan pulang, Alesya?" tanya Reno lembut. "Gue rasa... kita masih punya urusan kerja sama rahasia yang belum selesai kita bahas tadi siang."
Eca membeku di tempatnya berdiri di bawah temaram langit sore yang mulai menggelap. Di belakangnya, area ruang OSIS Angkasa masih memantau, dan di depannya, tawaran Reno kembali menggodanya untuk melepaskan diri dari rantai perbudakan.