NovelToon NovelToon
Dari Benci Jadi Rindu

Dari Benci Jadi Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: Aulia Cemmzz

Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Orang Lain Mulai Melihat

Sejak hari di koridor itu, sesuatu berubah di antara mereka. Mereka tidak lagi saling menyapa dengan sindiran. Saat berpapasan di koridor, Arka tidak lagi membuang muka duluan. Dia akan mengangguk pelan, dan Laras akan membalasnya dengan senyum kecil yang tulus.

Namun perubahan kecil itu tidak luput dari perhatian orang lain. Terutama Siska. Gadis itu sejak lama mengagumi Arka, dan dia tidak pernah menyukai Laras. Melihat Arka bersikap lebih baik pada gadis itu membuat hatinya terasa panas.

Suatu siang saat jam istirahat, Laras sedang berjalan menuju kantin membawa dua bungkus makanan. Dia berencana mengajak Dinda makan bareng. Tiba-tiba Siska muncul di depannya bersama dua teman lainnya.

"Lama banget ya lu jadi dekat sama Arka. Siapa tahu lu pakai cara licik biar dia perhatiin lu ya?" ucap Siska dengan nada yang terdengar ramah tapi matanya tajam menatap Laras.

Laras menurunkan tangannya pelan. "Lu salah paham. Kita cuma teman sekelompok tugas, itu saja. Nggak ada yang lain kok."

"Cuma teman? Kalau cuma teman kenapa dia lebih sering senyum ke lu daripada ke orang lain? Hati-hati ya, jangan harap lu bisa merebut dia dari gue. Gue tahu lu cuma ingin cari perhatian supaya lu terlihat penting di sini," sindir Siska semakin keras.

Laras menarik napas dalam-dalam. Dia tidak ingin membuat keributan di tempat ramai. "Gue nggak punya waktu buat dengerin omongan yang nggak jelas. Lu bebas mikir apa pun, tapi tolong jangan halangi jalan gue."

Laras mencoba melangkah melewati mereka, tapi salah satu teman Siska sengaja menyenggol bahunya hingga salah satu bungkus makanan jatuh ke tanah.

"Hei, hati-hati dong!" seru Laras.

"Maaf, nggak sengaja. Atau memang nasib lu yang emang nggak seberuntung itu?" tertawa Siska sinis.

Laras menatanya dengan mata yang berkaca-kaca tapi dia menahan air matanya agar tidak jatuh. Di saat itu, sebuah tas dilemparkan ke meja dekat mereka dengan suara keras. Semua orang menoleh. Itu Arka.

"Cukup, Siska!" suara Arka terdengar tegas dan berwibawa. "Lu pikir lu siapa berani perlakukan Laras kayak gitu?"

Siska terkejut, wajahnya memerah karena malu sekaligus senang karena Arka memperhatikannya. "Arka... gue cuma mau ngingetin dia supaya nggak terlalu berharap sama lu. Gue lakukan ini demi kita kan?"

Arka menggeleng tidak percaya. "Kita? Nggak ada kita di antara kita, Siska. Dan Laras berhak diperlakukan dengan hormat sama siapa pun, termasuk lu. Kalau sekali lagi gue lihat lu ganggu dia, gue nggak akan segan lapor ke guru BK. Lu tahu gue nggak bercanda."

Suasana hening seketika. Siska menatap Arka dengan tak percaya, lalu berlari pergi sambil menahan tangis. Teman-temannya buru-buru menyusul meninggalkan Laras dan Arka sendirian di sana.

Arka menatap Laras yang sedang menatap makanan yang jatuh di lantai. Dia mengambil dompet dari saku celananya, lalu menyodorkan selembar uang.

"Ini buat beli yang baru. Maaf tadi gue terlambat datang."

Laras menolak dengan lembut. "Nggak usah, makasih. Gue masih punya uang kok. Tapi... makasih ya udah belain gue tadi. Lu nggak perlu lakukan itu sebenarnya, nanti orang salah paham."

Arka tersenyum tipis. "Biarkan mereka salah paham yang penting gue tahu yang benar. Lu nggak salah, Laras. Jangan pernah merasa lu yang bermasalah cuma karena orang lain nggak nyaman sama kebaikan lu."

Laras menatapnya, ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. Dia mengangguk pelan. "Makasih, Ka. Benar-benar makasih."

Arka berjalan pergi setelah memastikan Laras baik-baik saja. Di sepanjang jalan menuju kelas, dia tidak bisa berhenti berpikir tentang tatapan mata Laras tadi. Tatapan yang penuh terima kasih sekaligus kelembutan yang belum pernah dia temukan pada siapa pun sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!