Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.
Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.
Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.
Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.
Mari mengikuti ceritanya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 Penegasan Refisha
Laudya saat ini kelihatan ingin memasuki mobil, tetapi tiba-tiba saja tangannya dicegah Refisha membuat Laudya kaget.
"Kak!" Laudya dengan cepat melepaskan tangan itu.
"Kenapa kamu menceritakan segala sesuatu yang tidak benar faktanya pada Ezra?" tanya Refisha to the point harus mempertanyakan secara langsung kepada adiknya tentang maksud dan tujuannya.
"Apaan sih, aku nggak ngerti," sahut Laudya dengan mengalihkan pandangannya.
"Jangan berpura-pura tidak tahu Laudya. Kamu menceritakan tentang sahabat Kakak Andre yang meninggal kecelakaan pada saat kami berdua merayakan kelulusan dan kami mengalami kecelakaan, kamu membuat narasi seolah-olah laki-laki itu menjadi bagian penting dalam hidup Kakak dan tidak bisa dilupakan, menjadi alasan terpenting dalam hidup Kakak tidak dekat dengan laki-laki manapun dan karena sudah kadung umur semakin tua dan akhirnya menerima lama Ezra untuk menjadikannya sebagai pelampiasan?" ucap Refisha.
Suaminya pada akhirnya memang menceritakan semua yang membuat pikirannya tidak tenang belakangan ini karena perkataan Laudya.
Laudya benar-benar panik sekarang sudah tidak bisa mengelak lagi.
"Lihat Kakak Laudya? pandangan kamu jangan kesana kemari, jelaskan apa maksud kamu melakukan semua ini?" tanya Refisha lagi.
"Aku tidak akan menjawab jika tidak ditanya, lagi pula benar, dia mantan kekasih Kakak dan kecelakaan secara bersamaan, apa yang salah dari jawaban yang ditanyakan oleh kak Ezra," ucapnya masih berusaha ngeles.
"Untuk apa juga Ezra harus mempertanyakan segala sesuatu hal yang tidak dia ketahui, jika bukan kamu yang memulai pembicaraan? 1 lagi Laudya sejak kapan Andra menjadi mantan kekasih Kakak, sejak kapan hubungan kami lebih dari sahabat?" tanya Refisha.
Laudya sudah tidak tahu harus menjawab apa, dia benar-benar ketahuan oleh Refisha orang banyak cerita Ezra.
"Baiklah untuk kali ini kamu Kakak maafkan, tetapi ingat Laudya, sekali lagi kamu berani melakukan hal seperti ini, membicarakan segala sesuatu yang bukan menjadi kapasitas kamu dan maka, Kakak tidak akan bisa memaafkan kamu!" tegas Refisha.
Refisha kemudian langsung berlalu dari hadapan adiknya.
"Apaan sih, dia mengancamku seperti itu, sombong sekali, belum tentu juga suaminya akan setia kepadanya," umpat Laudya benar-benar kesal.
*********
Refisha dan Ezra terlihat berjalan berdua malam-malam seperti ini, keduanya hanya mencari udara segar di taman yang tidak jauh dari kediaman tempat tinggal mereka.
"Refisha, maaf ya, aku salah paham kepada kamu, seharusnya aku mencari tahu terlebih dahulu tetapi aku malah termakan omongan yang belum tentu benar," ucap Ezra merasa bersalah Refisha menghentikan langkahnya dan menghadap suaminya itu.
"Wajar saja, jika posisi itu juga ada padaku dan pasti aku akan kepikiran," sahut Refisha.
Ezra menghela nafas dengan memegang tangan sang istri sembari jari-jarinya mengusap punggung tangan Refisha, Ezra juga mendekatkan wajahnya Refisha.
"Katakan kepadaku bahwa kamu tidak pernah pacaran dan aku pria yang pertama dekat dengan kamu?" tanyanya.
Refisha menganggukkan kepala, "seperti yang aku katakan kepada kamu sebelumnya, bahwa aku memang tidak pernah menjalin hubungan asmara dengan siapapun, berteman dengan pria mungkin ada beberapa, tetapi hanya sebatas itu ada yang tidak lebih," ucap Refisha.
"Artinya aku adalah laki-laki beruntung di dunia ini yang menikah dengan kamu?" ucapnya.
Refisha tidak bisa menjawab dan hanya memberikan senyum tipis.
Ezra mencium lembut kening istrinya, Refisha memejamkan mata mendapat perlakuan romantis seperti, malah sebenarnya dia sedikit gelisah karena tempat itu adalah tempat umum, tetapi Ezra masih tahu batasan dan hanya kecupan di kening yang dia berikan.
"Hmmm, kamu tidak ingin tahu bagaimana tentang hubunganku dengan wanita sebelumnya?" tanya Ezra.
Rasanya dia juga ingin menceritakan banyak hal kepada istrinya agar kelak tidak menjadi kesalahpahaman, tetapi sayangnya Refisha tidak tertarik dan dengan enteng menggelengkan membuat Ezra mengerutkan dahi.
"Why?" tanya Ezra.
"Kamu menikah denganku bukan sembarangan dan pasti mempertimbangkan banyak hal, untuk apa harus mengetahui masa lalu, kita memiliki tujuan dan janji di hadapan Allah untuk rumah tangga ini, dan masa lalu biarlah menjadi masa lalu," jawab Refisha.
"Kamu benar-benar tidak ada cemburu-cemburunya ya, padahal aku tuh ingin melihat kamu cemburu sedikit saja kepadaku, apa jangan-jangan karena kamu belum memiliki perasaan apapun kepadaku?" tanya Ezra benar-benar ingin meminta kepastian dari sang istri biasanya wanita yang selalu meminta kepastian.
"Hmmmm, bukankah kita rencananya ingin mencari jagung bakar?" tanya Refisha mengalihkan pembicaraan mereka.
Ezra menghela nafas panjang,
"Oke," sahut Ezra menganggukkan kepala dan menggenggam tangan sang istri dengan keduanya melanjutkan langkah mereka.
"Aku akan membuat kamu jatuh cinta kepadaku, cinta secara ugal-ugalan dan takut kehilanganku!" Ezra masih sempat-sempatnya berbisik menekankan kepada sang istri Refisha geleng-geleng kepala dalam senyum-senyum atas tingkah suaminya yang memang protektif kepadanya.
********
Setelah jalan-jalan bersama akhirnya pasangan suami istri itu kembali pulang ke rumah, keduanya sudah keluar dari mobil.
"Astagfirullah!" Refisha menepuk jidatnya saat mengingat sesuatu ketika keduanya sudah di depan pintu.
"Ada apa Refisha?" tanya Ezra.
"Ponselku tertinggal di dalam mobil, aku ambil sebentar!" ucap Refisha.
"Biar aku saja yang ambil kamu masuk duluan," ucap Ezra.
"Tidak apa-apa, Ezra, aku saja yang mengambil!" Refisha tidak ingin merepotkan suaminya dan kemudian kembali memasuki mobil untuk mengambil ponselnya.
Ezra menghela nafas dan kemudian memasuki rumah terlebih dahulu.
"Kamu baru pulang Ezra?" Ezra langsung dihadang oleh ibunya yang berada di ruang tamu bersama dengan sang ayah.
"Kenapa wajah Mama dan Papa tegang seperti itu?" tanya Ezra
"Jadi kamu pakai uang Robi sepupu kamu dengan jumlah banyak untuk membayar sewa gedung dan acara resepsi Refisha waktu itu?" Bitha langsung to the point membahas pada putranya.
"Ezra, bukankah Mama sudah mengatakan kepada kamu, Mama dan Papa akan menyelesaikan urusan pernikahan kamu Refisha, kamu kenapa tiba-tiba punya ide untuk meminjam uang segala. Kamu seperti orang tidak punya saja, harus pinjam uang ini dan itu untuk biaya pernikahan," lanjut Bitha merasa konyol dengan tingkah putranya.
"Sudahlah nanti Papa akan menemui Robi dan akan membayar seluruh uang yang sudah kamu pakai," sahut Dellon.
"Ma, Pa!" Ezra belum sampai berbicara tiba-tiba sudah merasa bahwa ada seseorang yang berdiri di belakangnya dan sesuai dengan Refisha ternyata sudah kembali.
"Refisha....." lirih Ezra.
Bitha menghela nafas melihat menantunya itu.
"Ini semua gara-gara kamu, untuk masalah pernikahan kalian itu sudah menjadi kewajiban orang tua, tetapi yang kamu minta terlalu banyak syarat dan harus uang putra saya, kamu lihat putra saya harus berhutang seperti orang tidak punya dan melakukan segala sesuatu yang tidak pernah dia lakukan yang hanya merendahkan harga dirinya," Bitha sudah pasti akan menyalakan Refisha.
"Ma apaan sih, kenapa jadi bawa-bawa Refisha? Jelas-jelas ini tidak ada hubungannya dengan Refisha. Ini pernikahan dan memang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab ku, Mama dan Papa tidak perlu membayarkan apapun dan aku akan menyelesaikan semua ini," tegas Ezra.
"Ya, tapi....."
"Ma sudah cukup membahas permasalahan ini, aku sudah tidak ingin mendengar apapun lagi!"
"Ayo Refisha!" Ezra kemudian langsung membawa istrinya pergi.
"Anak itu," Bitha semakin kesal dengan putranya yang sampai harus meminjam uang kepada orang lain untuk biaya pernikahannya karena memang selama Ezra masih bergantung pada orang tua.
Bersambung......