NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27 - Video Mama Ratih

Tidak ada orang yang bertepuk tangan. Tidak ada yang langsung berteriak.

Yang ada hanya sunyi yang lebih menyakitkan daripada caci maki.

Nadira tahu jenis sunyi itu. Di ruang gawat darurat, sunyi seperti itu muncul saat semua orang sadar satu nyawa hampir lepas dari tangan. Di aula malam ini, sunyi itu muncul karena puluhan orang sedang menimbang apakah mereka harus percaya pada potongan video seorang ibu yang ketakutan.

Reza mematikan layar dengan gerakan lambat.

"Sekali lagi, saya minta maaf," katanya. "Saya tidak bermaksud mempermalukan siapa pun."

Maya, yang entah bagaimana berhasil masuk dan berdiri dekat pintu media, tertawa kering. Suaranya kecil, tapi cukup tajam.

"Kalau tidak bermaksud mempermalukan, kenapa videonya diputar di layar sebesar itu?"

Beberapa kepala menoleh.

Reza melihat ke arah Maya. "Anda siapa?"

"Orang yang masih bisa membedakan klarifikasi dan jebakan."

Kevin bangkit dari kursinya. "Reza, turun."

"Mas Kevin, ini demi nama keluarga."

"Turun."

Nada Kevin rendah, tapi keras. Reza tidak langsung menurut.

Nadira merasakan semua mata bergerak dari layar ke wajahnya. Ia mendengar bisik-bisik kecil.

"Itu ibunya?"

"Orang tua angkat, katanya."

"Jadi benar dia mengejar kompensasi?"

"Padahal dokter..."

Kata dokter diucapkan seolah profesinya membuatnya tidak mungkin punya keluarga miskin. Seolah menjadi dokter berarti ia harus bersih dari kebutuhan, dari malu, dari ibu yang bisa salah bicara ketika ditakut-takuti.

Arga sudah berdiri di bawah panggung.

"Matikan semua proyektor," perintahnya kepada petugas hotel.

Petugas itu menatap Reza.

Arga tidak menaikkan suara. "Sekarang."

Petugas bergerak cepat.

Reza tersenyum. "Mayor, ini acara keluarga Hartono. Anda bukan komandan di sini."

"Benar," kata Arga. "Saya bukan komandan. Saya suami perempuan yang baru kamu serang dengan video ilegal."

Kalimat itu jatuh terang-terangan.

Nadira menoleh kepadanya.

Beberapa orang kembali berbisik, kali ini lebih ramai.

Reza mengangkat bahu. "Suami? Setahu saya, proses cerai masih berjalan."

"Proses hukum tidak menghapus fakta bahwa saya yang bersalah dalam rumah tangga itu," kata Arga. "Kalau kamu ingin bicara tentang drama rumah tangga, bicara kepada saya. Jangan memakai ibunya."

Nadira berjalan ke depan sebelum Arga bicara lebih jauh.

"Pak Reza," katanya.

Suaranya tenang. Ia berterima kasih pada tubuhnya karena tidak runtuh.

Reza menoleh dengan wajah bersimpati palsu. "Dokter Nadira, saya paham ini berat."

"Tidak. Bapak tidak paham."

Ruangan diam lagi.

"Ibu saya didatangi seseorang yang mengaku dari lembaga bantuan keluarga militer. Namanya Dewi. Dia merekam percakapan dengan alasan arsip bantuan. Video itu dipotong. Kalau Bapak merasa ini transparansi, putar rekaman penuh."

Senyum Reza menipis. "Saya hanya menerima file dari pihak yang peduli."

"Pihak yang peduli biasanya tidak menyembunyikan nama."

"Dokter, saya tidak menuduh Anda."

"Tapi Bapak memutar wajah ibu saya di depan investor, dokter, dan pejabat. Bapak membuat orang mengira keluarga saya menjual saya. Kalau bukan tuduhan, itu apa?"

Kevin turun dari meja utama dan berdiri di sisi Nadira. "Reza, berikan file aslinya."

"Mas, jangan naif. Kita semua tahu setelah skandal Vania dan Laras, nama Hartono jadi sasaran. Kalau orang ini masuk terlalu jauh ke proyek, apa jaminannya tidak ada tuntutan macam-macam?"

"Orang ini punya nama," kata Kevin. "Dan dia konsultan medis yang kita undang resmi."

Reza tertawa kecil. "Kamu membela dia karena proyek, atau karena hal lain?"

Pukulan itu diarahkan ke Kevin, tapi mengenai Nadira juga. Beberapa orang mulai melihat Kevin dengan tatapan baru.

Arga melangkah ke samping Nadira. Tidak menyentuhnya, hanya berdiri cukup dekat.

"Jangan pindahkan isu," katanya.

"Mayor Arga juga lucu," balas Reza. "Dulu meninggalkan istri sendiri, sekarang tiba-tiba jadi pahlawan. Mungkin karena ada laki-laki lain yang lebih cepat menghargai dia?"

Nadira menahan napas.

Wajah Arga tidak berubah, tapi tangan kanannya mengepal.

Nadira berkata pelan, "Arga."

Satu kata itu cukup.

Arga membuka kepalan tangannya. "Saya tidak akan memukul kamu di depan orang banyak."

Reza tersenyum puas.

"Tapi saya akan melaporkan kamu," lanjut Arga. "Pencemaran nama baik, penyebaran rekaman tanpa izin, dan pemalsuan konteks. Kalau rekaman itu berasal dari orang yang sedang buron atau terkait ancaman terhadap istri saya, urusannya lebih panjang."

Wajah Reza berubah sedikit.

Maya sudah mengangkat ponselnya. "Tenang, Mas Reza. Saya rekam semuanya. Biar publik lihat siapa yang paling transparan."

"Matikan itu," bentak Reza.

"Tidak bisa. Saya wartawan."

"Ini acara tertutup."

"Tertutup sampai Anda menayangkan ibu orang tanpa izin?"

Nadira hampir tersenyum, tapi rasa sakit di dadanya masih terlalu kuat.

Saat itulah telepon Kevin berbunyi. Ia melihat layar, lalu wajahnya menegang.

"Mama Ratih ada di lobi," katanya pada Nadira.

Nadira menoleh cepat. "Apa?"

"Ada orang yang menjemput beliau dari Purwokerto. Katanya atas nama kamu."

Kaki Nadira seperti ditarik dari lantai.

"Aku tidak pernah..."

Arga langsung memberi tanda kepada Bima. "Amankan lobi. Jangan biarkan siapa pun membawa beliau pergi."

Bima berlari.

Reza terlihat kaget hanya sepersekian detik, tapi Nadira melihatnya.

"Bapak tahu ibu saya datang?" tanya Nadira.

"Mana saya tahu."

"Tapi Bapak tidak terkejut."

"Jangan menuduh tanpa bukti."

Arga menatap Reza. "Kamu baru saja memberi kami banyak alasan untuk mencari bukti."

Nadira tidak menunggu lagi. Ia berjalan cepat menuju pintu. Maya menyusul. Arga mengikuti dua langkah di belakang, tidak mendahului sampai Nadira sendiri mempercepat langkah.

Di lobi hotel, Mama Ratih berdiri dengan kerudung kusut dan wajah pucat. Di tangannya ada tas kecil. Papa Hendra tidak terlihat.

"Nad," katanya begitu melihat Nadira.

Nadira berlari kecil dan memegang lengan ibunya. "Mama kenapa ke sini?"

Mama Ratih menangis sebelum bisa menjawab. "Ada perempuan menelpon. Katanya kamu pingsan setelah video itu. Katanya Ibu harus cepat datang, nanti ada mobil jemput."

"Siapa yang jemput?"

"Sopir. Dia turun beli minum tadi. Bima menahan dia di luar."

Arga menoleh kepada petugas keamanan hotel. "Bawa sopir itu ke ruang keamanan. Jangan pakai kekerasan. Saya mau lihat KTP dan ponselnya."

Nadira tidak peduli pada sopir. Ia memeluk Mama Ratih.

Awalnya pelukan itu kaku. Ada marah di tubuh Nadira, ada malu di tubuh ibunya. Lalu Mama Ratih terisak di bahunya.

"Ibu bodoh, Nad. Ibu kira membantu."

"Mama tidak bodoh."

"Semua orang lihat video itu?"

Nadira menelan sakit. "Iya."

Mama Ratih menutup wajah. "Ya Allah. Ibu bikin kamu malu."

"Yang bikin malu bukan Mama. Yang memotong video itu."

Di belakang mereka, Arga berdiri diam. Ia tidak ikut dalam pelukan. Tapi saat seorang tamu yang penasaran mulai mengangkat ponsel untuk merekam, Arga melangkah menutup sudut pandang.

"Tidak ada rekaman," katanya pendek.

Tamu itu cepat menurunkan ponsel.

Kevin datang dari aula bersama beberapa staf. Wajahnya pucat karena marah.

"Dokter Nadira, saya minta maaf. Ini kesalahan pengamanan acara saya."

Nadira melepas pelukan perlahan. "Saya ingin ibu saya pulang aman."

"Mobil saya siap."

Arga berkata, "Saya yang antar."

Mama Ratih menatapnya. Ada takut, ada benci lama, ada bingung.

Nadira berkata sebelum ibunya menolak, "Tidak. Kita semua ke ruang keamanan dulu. Aku ingin dengar dari sopir itu siapa yang menyuruhnya."

Maya mengangkat alis. "Akhirnya."

Di ruang keamanan hotel, sopir itu duduk dengan kepala menunduk. Namanya Yusuf, pekerja lepas yang mengaku hanya menerima pesanan melalui aplikasi pesan.

"Siapa pemesan?" tanya Arga.

Yusuf menyerahkan ponsel dengan tangan gemetar. "Namanya Dewi, Pak. Tapi fotonya kosong."

Nadira melihat layar.

Nomor itu tidak tersimpan. Pesannya singkat.

Jemput Ibu Ratih. Antar ke Dharmawangsa. Setelah video diputar, bawa keluar lewat parkir B.

Nadira membaca kalimat terakhir dua kali.

"Setelah video diputar," katanya.

Kevin mengepalkan rahang. "Berarti semua direncanakan."

Ponsel Yusuf bergetar lagi.

Pesan baru masuk dari nomor yang sama.

Sudah gagal? Tinggalkan ibu itu. Ambil amplop di bawah kursi.

Yusuf terbelalak. "Pak, saya tidak tahu ada amplop."

Bima memeriksa mobil. Lima menit kemudian ia kembali membawa amplop cokelat.

Di dalamnya ada uang tunai dan satu foto kecil.

Foto Nadira keluar dari Pengadilan Agama bersama Arga.

Di belakang foto, ada tulisan tangan.

Dia akan hancur kalau ibunya ikut jatuh.

Mama Ratih membaca tulisan itu dan hampir jatuh.

Nadira memegangnya cepat.

Arga maju setengah langkah, tapi berhenti ketika Nadira sudah menahan ibunya sendiri.

Nadira menatap foto itu, lalu menatap Arga.

"Vania?"

Arga tidak langsung menjawab.

Kevin mengambil foto itu dengan tangan gemetar. "Tulisan ini bukan tulisan Vania."

Nadira menoleh. "Kamu yakin?"

"Aku tumbuh dengan dia. Ini bukan tulisannya."

Maya mendekat. "Kalau bukan Vania, berarti..."

Kevin menyelesaikan dengan suara dingin.

"Reza."

1
neni supraptini
seorang ibu bisa merasakan keresahan anaknya meski ditutupi
Wa Sarah
kalau Vania suka Kevin trus siblaras suka Arga....ya sudah atuh....ambil aja.
ayok Nadira selesaikan perceraiannya lalu pindah ketempat lain, punya ijazah dokter mau kerja di rumah sakit mana aja sama aja.
Wa Sarah
benar2x ye.....ceritanya. kan mau cerai, trus hubungannya sama si Vania tu apa kok ceritanya malah melenceng🙏
Wa Sarah
ini si Arga komndan ya....jadi ceritanya ni....soal parcntaan atau pekerjaan yg gak masuk dalam alur ceritanya.🙏🙏🙏
Amelia suhartono
wanita bodoh,sok kuat,tinggal lepas yg bukan urusannya
Nyagus Gunawan
𝙠𝙡𝙤 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙧𝙖 𝙨𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥 𝙨𝙞𝙝 𝙘𝙚𝙧𝙖𝙞 𝙖𝙟𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝘼𝙧𝙜𝙖...𝙟𝙜𝙣 𝙢𝙖𝙪 𝙟𝙖𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙞 𝙡𝙪𝙗𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙜 𝙨𝙖𝙢𝙖...𝙣𝙖𝙙𝙞𝙧𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙞𝙣𝙜 𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙤𝙧𝙜 𝙗𝙖𝙧𝙪...
Sintaram Keumala
2in broo🗿👍
Dokkan Battle
nama Arga emang goblok dan tukang selingkuh amit amit
Si Memeh
bagus cerita nya thor
Wakana
arga kena azab
Wakana
nadira kamu malaikat atau apa
Hamdiah Arrahim
makanya jangan cepat2 ambil keputusan... kalau begini baru sadar... ternyata istrinya hebat...
Hera sasuwe
👍
Nurul Syahriani
ini cerita kenapa sih? vania gak suka nadira kenapa? karna kevin? kok sampe segitu misterius nya
Annie Soe..
Makin belibet, rumit tapiii aku sukaaa. Genre romance tapi jadi misteri ato apalah tapi selama benang merahnya terjaga ga masalah..
Jadi ga membosankan ga melulu romance, masalah rumah tangga,
Semangaatt thor..
😍💪
Andri Yeni
komunikasi nadira sama raka padahal dah nikah lama punya nak.kok msh kaku.kayak percakapan AI
Eka Anam
Nadira di telantarin 4 tahun tp nyamperin Laras bisa,udah gitu 4 th gaji nya di TF kesiapa?
Econ Ibrahim Latawa
♥️♥️
Annie Soe..
Ini bukan sekedar bacaan novel atau karya tulis biasa,,
Ada banyak pembelajaran yg bisa diambil, terutama di dialog dr. shafira sebagai psikiater. Thanks thor ..
Anita Shabrina
Kapan malam pertamanya...tau2 sdh hamidun sj... diskip yaaa ninaninuuuu nya thor... kan pengen tau awal ciuman dkk nya 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!