NovelToon NovelToon
DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / CEO
Popularitas:850
Nilai: 5
Nama Author: BayouDarda Novelis

“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 — Hari Jadi yang Berakhir dengan Surat Cerai

Pukul tujuh malam, aku meletakkan kue kecil di tengah meja makan.

Harganya delapan puluh ribu rupiah. Kue cokelat sederhana dengan tulisan putih di atasnya: Selamat Hari Jadi Pernikahan Kita.

Tulisan itu sedikit miring. Ukuran kue terlalu kecil untuk kalimat sepanjang itu, tetapi aku tetap membelinya. Aku sudah meminta pegawai toko menuliskan kata-kata tersebut dengan rapi. Hasilnya tidak sempurna, tetapi setidaknya aku sudah berusaha.

Malam ini, aku ingin merayakan tiga tahun pernikahanku dengan Laras.

Aku menata dua piring putih berdampingan. Di samping masing-masing piring, kutaruh satu gelas berisi air putih. Sebuah vas kosong kuletakkan tepat di tengah meja, tidak jauh dari kotak kue.

Aku sempat berpikir untuk membeli bunga, tetapi uang yang kubawa hanya cukup untuk kebutuhan lain. Lagi pula, Laras tidak pernah meminta hadiah mahal dariku.

Setidaknya, itulah yang kupercaya selama ini.

Aku mundur beberapa langkah untuk memeriksa susunan meja. Dua piring. Dua gelas. Satu kue kecil. Satu vas kosong.

Sederhana, tetapi cukup untuk dua orang.

Aku menarik kursi dan duduk. Kursi di seberangku masih kosong. Aku membayangkan Laras pulang, melihat meja yang kusiapkan, lalu tersenyum kecil seperti yang kadang dilakukannya dulu.

Sudah lama aku tidak melihat senyum itu ditujukan kepadaku.

Namun, aku tidak ingin memikirkan hal buruk pada hari jadi kami. Aku hanya ingin melewati malam ini bersama istriku, tanpa membahas pekerjaan atau persoalan rumah tangga.

Tiga tahun lalu, kami menikah dengan keadaan yang jauh dari mewah. Tidak ada pesta besar atau hadiah mahal. Kami hanya memiliki keyakinan bahwa selama saling mendukung, kami bisa membangun kehidupan yang lebih baik.

Laras pernah menggenggam tanganku dan berjanji tidak akan meninggalkanku hanya karena keadaan berubah. Aku membalas janji itu dengan mengatakan bahwa aku akan tetap berada di sisinya.

Aku masih mengingat hari tersebut.

Karena itu, meski sekarang hidup kami tidak selalu berjalan seperti yang kuharapkan, aku tetap ingin memperingati tanggal ini.

Pukul tujuh lewat lima belas menit, aku memeriksa ponsel.

Belum ada pesan dari Laras.

Aku membuka percakapan kami. Pagi tadi, aku sempat menanyakan apakah dia ingin makan malam di rumah. Pesan itu sudah dibaca, tetapi belum dijawab.

Aku tidak mengirim pesan lagi. Laras sedang bekerja, dan aku tidak ingin mengganggunya.

Pukul tujuh lewat tiga puluh menit, ponselku akhirnya bergetar.

Pesan dari Laras muncul di layar.

“Pulang agak malam. Ada urusan kantor.”

Aku membacanya, lalu membalas.

“Baik. Hati-hati di jalan. Aku tunggu.”

Dua tanda centang muncul. Setelah itu, tidak ada balasan.

Aku meletakkan ponsel di samping piring dan kembali memandang kue. Krim cokelat di permukaannya mulai tampak lembut. Aku mengambil tisu untuk mengusap noda kecil pada pinggir kotaknya, lalu merapikan posisi kue agar tulisan di atasnya menghadap ke kursi Laras.

Pukul delapan malam, aku kembali melihat jam dinding.

Detiknya terdengar jelas di ruang makan yang sepi.

Aku bangkit untuk memeriksa makanan yang sudah kusiapkan. Setelah memastikan semuanya tertutup, aku kembali ke meja. Gelas Laras sedikit bergeser, jadi aku mengembalikannya ke tempat semula.

Aku hafal kebiasaan kecilnya. Aku tahu sisi meja yang biasa dipilihnya, makanan yang disukainya, dan cara dia memegang gelas ketika sedang bercerita.

Dulu, hal-hal seperti itu terasa biasa. Kami sering menghabiskan waktu bersama, bahkan ketika tidak punya banyak uang untuk pergi ke luar rumah.

Belakangan, semuanya berubah perlahan.

Laras lebih sering pulang malam. Percakapan kami semakin pendek. Kadang-kadang, dia masuk kamar tanpa bertanya bagaimana hariku berjalan. Ketika aku mencoba bercerita, perhatiannya kerap tertuju pada ponsel.

Aku berusaha memahami kesibukannya. Pekerjaan memang bisa melelahkan. Aku tidak ingin menjadi alasan yang membuatnya merasa terhambat.

Jadi, aku memilih menunggu.

Pukul delapan lewat tiga puluh menit, aku memeriksa ponsel lagi. Tidak ada pesan baru.

Aku mencoba membaca berita, tetapi pikiranku terus kembali ke pintu depan. Beberapa kali aku mengangkat kepala setiap kali terdengar suara kendaraan melintas.

Pukul sembilan malam, aku berdiri dan berjalan ke ruang tamu. Dari sana, meja makan masih terlihat jelas. Lampunya menyinari kue kecil dan dua piring putih yang belum tersentuh.

Aku kembali duduk.

Mungkin Laras benar-benar sibuk. Mungkin urusannya di kantor belum selesai. Aku mencoba mencari alasan yang masuk akal, meski semakin lama semakin sulit mengabaikan kenyataan bahwa hari ini bukan hari biasa bagiku.

Aku tidak pernah menyalahkan Laras karena ingin maju. Aku tahu dia menginginkan kehidupan yang lebih baik. Aku mendukungnya dengan cara yang bisa kulakukan.

Namun, aku mulai merasa bahwa jarak di antara kami bukan lagi soal waktu pulang.

Ada banyak hal yang tidak lagi diceritakan Laras kepadaku. Ada keputusan yang baru kuketahui setelah semuanya selesai. Aku sering merasa seperti orang terakhir yang mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan istriku sendiri.

Meski begitu, aku masih berharap malam ini bisa menjadi awal untuk memperbaiki keadaan.

Pukul sembilan lewat tiga puluh menit, aku merapikan kembali posisi kedua piring. Aku hampir tertawa melihat diriku sendiri. Sejak tadi, tidak banyak yang kulakukan selain menunggu dan memastikan meja makan tetap rapi.

Aku melirik jam dinding.

Dua puluh menit lagi menuju pukul sepuluh.

Aku memutuskan tetap menunggu.

Pukul sembilan lewat lima puluh menit, suara kendaraan berhenti di depan rumah. Aku segera berdiri.

Beberapa detik kemudian, kunci berputar di pintu. Laras masuk dengan tas kerja masih menggantung di bahunya. Rambutnya sedikit berantakan. Dia melepas sepatu, menutup pintu, lalu menatapku.

“Akhirnya pulang,” kataku.

“Iya. Hari ini melelahkan.”

Aku tidak bertanya lebih jauh. Aku hanya menunjuk meja makan.

“Aku menyiapkan sesuatu.”

Laras melangkah mendekat. Pandangannya menyapu dua piring putih, dua gelas air, vas kosong, lalu berhenti pada kue cokelat di tengah meja.

Dahinya berkerut.

“Oh, aku lupa.”

Aku terdiam.

Tiga kata itu keluar begitu saja, tanpa penjelasan atau permintaan maaf. Laras melihat kue tersebut, lalu memandangku sebentar. Dia tahu hari apa ini. Aku tidak perlu menyebutkan tanggal atau mengingatkannya tentang pernikahan kami.

Aku sudah membayangkan banyak kemungkinan. Laras mungkin pulang terlambat. Dia mungkin terlalu lelah untuk makan bersama. Bahkan jika kami hanya sempat memotong kue sebentar, aku tetap akan menganggap malam ini berarti.

Aku tidak menyangka dia melupakannya.

“Tidak apa-apa,” jawabku.

Laras tidak menanggapi. Dia meletakkan tas kerjanya di kursi, lalu merogoh bagian dalam tas. Sebuah map cokelat dikeluarkannya.

Dia membawanya ke meja dan meletakkannya tepat di samping kue. Salah satu sudut map itu sedikit tertekuk.

Aku menatap benda tersebut.

“Ini untukmu,” kata Laras.

Aku mengangkat wajah. “Apa ini?”

Laras berdiri di hadapanku. Wajahnya tampak lelah, tetapi sorot matanya tegas. Seolah-olah dia sudah menyiapkan kata-kata yang akan disampaikannya dan tidak berniat mengubah keputusan.

“Aku ingin kita berpisah.”

Kalimat itu membuat tanganku berhenti di atas meja.

Tidak ada teriakan. Tidak ada pertengkaran. Laras mengatakannya dengan suara datar, seolah sedang membicarakan sesuatu yang sudah lama selesai baginya.

Aku memandang map cokelat itu, kemudian kembali menatap wajahnya.

“Buka saja,” katanya.

Aku menarik map tersebut mendekat dan membukanya perlahan.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen yang tersusun rapi. Mataku bergerak dari bagian atas halaman ke bagian bawah. Aku membaca kata-kata yang tercetak di sana, lalu kembali ke bagian awal untuk memastikan bahwa aku tidak salah memahami isinya.

Permohonan perceraian.

Pada bagian identitas pemohon, tercetak nama lengkapku: Arkana Pramudya.

Aku menahan napas.

Tanggal yang tercantum di dokumen itu langsung kukenali. Tanggal pernikahan kami. Hari ketika Laras menggenggam tanganku dan berjanji tidak akan meninggalkanku hanya karena hidup sedang sulit.

Jari-jariku menekan ujung kertas.

“Kenapa tanggalnya ini?”

Laras menatap dokumen tersebut.

“Supaya semuanya jelas.”

Aku ingin bertanya mengapa dia memilih tanggal itu. Aku ingin mengetahui apa yang membuatnya sampai pada keputusan ini dan kapan perasaannya berubah. Ada begitu banyak hal yang belum kumengerti.

Namun, aku tidak ingin mengubah percakapan ini menjadi pertengkaran. Aku tidak akan memaksanya menjawab semua pertanyaanku sekaligus.

Aku meletakkan dokumen itu di atas meja, di samping kue yang kubeli sore tadi.

Tulisan putih di permukaan kue masih terlihat miring.

Selamat Hari Jadi Pernikahan Kita.

Aku menatapnya sebentar sebelum kembali memandang Laras.

“Sejak kapan?”

“Sudah lama.”

Jawabannya singkat.

Aku mengangguk pelan. Bukan karena aku mengerti, melainkan karena aku tidak tahu harus berkata apa lagi.

Laras mengambil tasnya dari kursi. Dia tidak duduk. Dia juga tidak menyentuh kue yang sudah kusiapkan untuk kami.

Aku tetap berdiri di dekat meja makan. Di hadapanku ada map cokelat, dua piring putih, dan kue kecil yang belum dipotong.

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan WhatsApp dari Pak Surya muncul di layar.

“Pak, rapat jam 9 sudah siap.”

Aku membaca pesan itu, lalu mengetik balasan singkat.

“Besok pagi. Siapkan dokumen.”

Setelah mengirim balasan, aku mematikan layar ponsel dan memasukkannya ke saku. Aku tidak mengatakan apa pun kepada Laras tentang pesan itu. Malam ini, pikiranku sudah cukup penuh.

Laras berjalan meninggalkan ruang makan. Aku tidak memanggilnya.

Aku merapikan dokumen ke dalam map cokelat, menutupnya, lalu meletakkannya kembali di samping kotak kue.

Di dekat kotak itu ada kartu kecil dari toko kue. Sejak sore, aku sudah menyiapkan kartu tersebut dan menuliskan satu kalimat dengan tanganku sendiri.

Terima kasih sudah menjadi rumah tempatku pulang selama tiga tahun ini.

Aku mengambilnya dan membaca kalimat itu sekali lagi.

Dulu, aku mengira rumah adalah tempat seseorang selalu ingin kembali. Aku percaya bahwa selama kami masih saling memiliki, keadaan sesulit apa pun bisa kami hadapi bersama.

Namun, aku tidak bisa memaksa Laras untuk tetap tinggal hanya karena aku masih memegang janji yang pernah kami buat.

Aku merobek kartu itu menjadi dua bagian.

Suara kertas yang terkoyak terdengar kecil di tengah kesunyian. Aku meletakkan kedua potongnya di samping kotak kue, lalu mematikan lampu ruang makan.

Tulisan pada kue perlahan menghilang dalam gelap.

Aku berdiri beberapa saat tanpa bergerak. Dua piring itu masih berdampingan. Dua gelas air masih utuh. Kue kecil itu belum tersentuh.

Semua yang kusiapkan sejak sore tetap berada di tempatnya.

Hanya Laras yang tidak lagi ingin merayakannya bersamaku.

Tiga tahun lalu, aku berjanji tidak akan meninggalkan Laras. Malam ini, Laras yang meninggalkanku.

1
BayouDarda Novelis
Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
Renjana
hadir kk
BayouDarda Novelis: Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!