Juliana membuka mata di kamar mewah yang tak dikenalnya dan merasa baru berumur delapan belas tahun. Di cermin, ada perempuan dua puluh empat tahun yang menatap balik. Di jarinya melingkar cincin. Di rumah itu ada anak kecil yang menatapnya penuh harap, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulut mungilnya.
Dan pria yang ada di sampingnya, ayah dari anak itu, adalah Samudra Adhitama Wiratama. Cowok es dari kampus yang dulu dia kejar-kejar. Suaminya.
Masalahnya, Samudra memandangnya seperti orang asing. Seluruh kota mengenalnya sebagai istri yang dingin, matre, dan kejam. Orang tuanya sendiri sudah enam tahun tak mau bicara dengannya. Sahabatnya menyimpan luka. Tak ada yang percaya padanya, dan sebagian besar dirinya pun tak tahu lagi siapa dia.
Enam tahun lenyap begitu saja. Siapa yang merampasnya, dan kenapa?
Sementara Ju berusaha memahami perempuan yang pernah dia jadi, Samudra mulai curiga bahwa kebenaran yang dia pegang selama ini hanyalah cerita yang ditanam orang lain. Ada foto yang terlalu rapi. Ada dokter yang terlalu tenang. Dan ada orang-orang yang diam-diam diuntungkan.
Cinta pertama yang tertunda enam tahun. Keluarga kaya raya yang saling menjerat. Seorang putri kecil yang berhenti bicara. Dan seorang istri yang bertekad merebut kembali namanya.
Kalau cinta bisa dihapus, apakah ia masih bisa ditemukan lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
POV: Ju
Aku menghabiskan seluruh pagi mengumpulkan keberanian untuk mengirim pesan tiga kata. "Lala, bisa bicara?"* Kuhapus sepuluh kali. Akhirnya kukirim, dan dia butuh berjam-jam untuk membalas dengan satu kata saja, "Di mana"*, kering, tanpa tanda tanya, tanpa apa-apa. Itu sudah lebih dari yang kuharapkan.
Lala sahabatku sejak umur lima belas. Laras Pramesti, ilustrator, orang paling setia sekaligus paling ceplas-ceplos yang kukenal, bisa membelamu mati-matian lalu semenit kemudian memakimu gara-gara kamu memilih antrean kasir yang salah di supermarket. Kami berbagi segalanya sejak SMA. Atau dulu begitu. Karena perempuan yang duduk di depanku di kafe Kemang itu tidak menatapku dengan sesuatu yang mirip cinta.
Kupilih meja di pojok dan kupesankan kolak labu kuning untuknya sebelum dia datang, karena kolak labu adalah milik kami, hidangan penutup yang selalu kami bagi berdua waktu umur tujuh belas. Begitu melihat mangkuk kecil itu, wajahnya makin mengeras.
"Ini permainan apa lagi, Juliana?" Dia melempar tasnya ke kursi tanpa benar-benar duduk. "Kolak labu. Serius? Kamu pikir bisa semudah itu?"
"Bukan permainan apa-apa," kataku. Suaraku keluar tipis. "Aku cuma... aku butuh banget bicara sama kamu."
Dia melipat tangan dan menumpahkan semuanya sekaligus, enam tahun sakit hati keluar bertubi-tubi. Bagaimana aku menertawakannya di depan semua orang di sebuah pesta keluarga Wiratama. Bagaimana aku menyebut karyanya "coretan orang yang gagal". Bagaimana aku tidak datang di pembukaan pameran pertamanya, pameran yang dia impikan seumur hidup, demi pergi ke lelang perhiasan bergandengan tangan dengan Evan. Bagaimana aku menghilang dan membuang sembilan tahun persahabatan ke tempat sampah seperti membuang gelas plastik sekali pakai.
Setiap kalimat adalah pukulan, dan yang terburuk, aku tak bisa membela diri dari satu pun, karena aku tidak ingat apa-apa. Rasanya seperti mendengar kejahatan seorang asing lalu harus mempertanggungjawabkannya karena si asing memakai wajahku. Aku ingin bilang "bukan aku", tapi semua bukti menunjuk sebaliknya, dan bukti terburuk dari semuanya adalah luka di wajah sahabatku.
"Aku nggak ingat," hanya itu yang sanggup kuucapkan, mataku perih. "Lala, aku tahu ini kedengarannya tebal muka banget. Tapi aku kecelakaan. Parah. Dan waktu aku bangun, hal terakhir di kepalaku adalah kita di beranda rumahmu, kamu mencoret-coret wajahku pakai cat poster lama itu, dan aku cerita ke kamu kalau Samudra bilang dia mau mencoba denganku."
Lala tertegun. Hanya sedetik. Matanya berkedip cepat.
"Semua orang tahu cerita itu," katanya, tapi suaranya sudah tak seteguh tadi.
"Baiklah." Aku menarik napas dalam. "Kamu menyembunyikan sebotol anggur merah di dalam sepatu bot karet ibumu, karena cuma itu tempat yang nggak pernah digeledah beliau. Kamu nangis karena takut merusak semuanya waktu menggambar hidungku yang miring, dan hasilnya bagus, dan gambar itu kusimpan sampai sekarang. Atau dulu kusimpan. Kamu memaksaku bersumpah, kalau suatu hari Samudra mematahkan hatiku, kamu akan datang ke SCBD dan menghajar mukanya pakai sepatu hak tinggi."
Sekarang dia menatapku dengan cara yang berbeda. Tangannya, yang tadi terlipat marah, perlahan bergeser ke tepi meja. Dagunya bergetar.
"Berhenti," bisiknya. "Berhenti begitu."
Tapi dia sendiri tidak berhenti. Dia mengujiku, dan aku langsung paham itu ujian, karena nada suaranya sengaja dibuat santai.
"Dulu kita kasih nama apa buat anjing tetangga, yang menggonggong semalaman itu?" tanyanya, matanya terpaku ke mataku.
"Kita nggak pernah kasih nama," jawabku tanpa berpikir. "Kamu mau menamainya Beethoven dan aku bilang itu norak. Kita bertengkar seminggu gara-gara itu dan akhirnya anjing itu mati tanpa nama sama sekali, dan kamu nangis diam-diam lalu bilang ke semua orang itu karena alergi."
Lala memejamkan mata. Setetes air mata lolos dan dia bahkan tak repot menyekanya.
"Nggak ada yang tahu soal anjing itu," katanya, suaranya melengking tipis. "Nggak ada. Suamiku pun nggak tahu. Cuma aku dan kamu. Aku nggak pernah cerita ke siapa pun kalau aku nangisin anjing kampung jelek itu."
"Aku nggak bisa berhenti, karena semuanya benar." Kuulurkan tanganku melewati meja, tanpa menyentuhnya, hanya menawarkan. "Ceritakan padaku apa yang sudah kulakukan, Lala. Aku takut setengah mati, tapi aku harus tahu aku jadi siapa selama tahun-tahun yang hilang itu. Karena perempuan yang digambarkan semua orang padaku, yang mempermalukan kamu dan menelantarkan anakku... aku menatapnya dan tak mengenalinya."
Hening itu berlangsung begitu lama sampai barista lewat dua kali untuk melihat apakah kami mau memesan sesuatu lagi. Lala menatap kolak labu, lalu aku, lalu kolaknya lagi, seperti orang membandingkan dua foto dan tak percaya keduanya orang yang sama.
"Tahu masalahnya apa?" katanya pelan, setelah akhirnya sanggup bicara. "Juliana yang beberapa tahun terakhir ini nggak akan pernah memesan kolak itu. Dia sudah lupa soal itu. Dia akan melihatnya, mengernyit, lalu bilang labu bikin gemuk." Suaranya pecah di tengah. "Kamu bicara persis seperti Ju umur delapan belas. Dan itu lebih menakutkan daripada kalau kamu berbohong."
Itu pertama kalinya setelah entah berapa tahun dia memanggilku Ju.
Kuremas serbet agar tidak runtuh di sana. Dia mengembuskan napas pelan, melepaskan tas yang masih dipegangnya, dan akhirnya duduk dengan benar, seperti orang yang sudah memutuskan untuk tinggal.
"Kalau kamu memang dia," kata Lala, dan sekarang matanya yang memerah, "berarti kamu nggak tahu seberapa besar yang sudah hilang. Atau apa yang sudah kamu lakukan." Dia menarik mangkuk kecil itu mendekat, seperti orang menerima gencatan senjata. "Duduk yang benar. Minum air putih. Karena aku akan ceritakan semuanya, dan ini nggak bakal enak didengar."
Dia menarik napas dalam, lalu membuka mulut untuk memulai.