Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Ia mencengkeram kerah baju Jarot dengan kuat dan mencoba memutar tubuh pria itu menggunakan putaran pinggulnya.
Srett.
Namun tubuh Jarot tiba-tiba terasa seberat gunung batu karang dan sama sekali tidak bisa digeser walau hanya satu sentimeter.
Tata mengernyitkan dahi keheranan sambil mengerahkan seluruh tenaga di kedua tangannya sampai uratnya menonjol.
"Kok nggak mau gerak sama sekali sih nih orang?!" batin Tata mulai panik dan keringat dingin bercucuran di dahinya.
"Mbak Tata lagi ngapain narik-narik baju saya begini? Mau sekalian nyuciin baju saya?" goda Jarot menunduk menatap Tata.
"Brengsek!" umpat Tata yang akhirnya melepaskan cengkeramannya lalu melompat mundur sejauh dua meter.
Nafas gadis atletis itu mulai terengah-engah kelelahan padahal Jarot sama sekali belum membalas serangannya sama sekali.
Lyly yang mengamati perkelahian itu dari jauh mulai merasa ada sesuatu yang sangat tidak masuk akal dari pengawal baru mereka ini.
"Orang ini bukan kebetulan bisa menangkis, dia sengaja nahan semua serangan Tata dengan presisi tinggi," analisis Lyly di dalam hatinya.
"Tata, mundur! Jangan terusin serangan mu ke dia sekarang!" perintah Lyly dengan nada serius.
"Tapi Kak, aku belum ngeluarin jurus rahasia andalan ku!" protes Tata yang masih tidak terima kekalahannya.
"Mundur aku bilang! Kamumu cuma buang-buang tenaga ngelawan orang aneh ini," paksa Lyly menarik lengan adiknya ke belakang.
Tata mendecih kasar lalu membuang muka karena sangat kesal dilarang bertarung lebih lanjut.
Jarot hanya tersenyum tipis melihat kemarahan yang tertahan di wajah ketiga gadis manja itu.
"Udah selesai main kejar-kejaran dan pukul-pukulannya pagi ini?" tanya Jarot sambil membersihkan kerah bajunya dari debu.
"Kamu jangan merasa sombong dulu. Aku akui fisik mu memang kuat dan refleks mu sangat lumayan," ucap Lyly menatap tajam mata Jarot.
"Makasih banyak pujiannya, Mbak Lyly. Saya memang sering latihan angkat galon di kampung," balas Jarot kembali merendah tidak masuk akal.
Melly langsung mencibir jijik mendengar alasan angkat galon yang sangat tidak elit itu.
"Tapi di zaman modern sekarang, otot kuat nggak akan bisa nolong kamu dari kehancuran finansial," ancam Lyly tersenyum dingin.
"Kehancuran finansial? Emangnya saya punya uang banyak buat dihancurin?" canda Jarot sambil tertawa renyah.
"Mungkin kamu nggak punya uang sama sekali, tapi kamu pasti punya titik serakah yang bisa aku beli pakai uang," kata Lyly penuh percaya diri.
"Mbak Lyly mau bayar saya buat pergi dari rumah ini? Boleh aja, berani bayar berapa mahal?" tantang Jarot iseng meladeni.
Lyly langsung merogoh saku blazernya dan mengambil sebuah buku cek kecil beserta pena mahal.
Srek. Srek.
Lyly menulis sederet angka dengan cepat lalu merobek kertas cek itu dan menyodorkannya tepat di depan dada Jarot.
"Satu miliar rupiah. Tunai bisa kamu cairkan di bank pusat hari ini juga," ucap Lyly menyebutkan nominal angka yang sangat fantastis.
"Syaratnya cuma satu dari ku. Kamu kemasi barang mu dan angkat kaki dari rumah ini selamanya," lanjut Lyly dengan nada merasa menang.
Bagi warga biasa, uang satu miliar adalah jumlah kekayaan yang tidak akan pernah mereka lihat seumur hidup mereka.
Lyly sangat yakin pria berpakaian gembel ini akan langsung sujud syukur takluk dan menerima kertas tersebut tanpa berpikir panjang.
Jarot mengambil kertas cek itu perlahan lalu membacanya dengan sangat teliti dari ujung ke ujung.
"Satu miliar ya, nominal yang lumayan sih buat beli kerupuk satu kampung," gumam Jarot pelan seperti orang kecewa.
Ketiga gadis itu tersenyum meremehkan melihat Jarot yang terdiam menatap cek itu agak lama.
Srett. Srett.
Tanpa diduga sama sekali, Jarot merobek cek bernilai satu miliar itu menjadi serpihan kecil dan membiarkannya jatuh berceceran ke lantai.
Mata Lyly langsung melebar maksimal seolah bola matanya mau melompat copot dari tempat asalnya.
"K... Kamu baru aja merobek uang satu miliar dari ku?!" teriak Melly syok berat sambil memegangi kepalanya karena tidak percaya.
Tata juga tidak kalah kaget sampai mulutnya terbuka lebar tanpa suara memandangi potongan kertas mahal di lantai.
"Mbak Lyly, uang segini nggak cukup buat beli kebebasan dan harga diri saya," kata Jarot sambil menatap lurus ke dalam mata Lyly.
"Kamu beneran orang gila! Itu uang asli dari bank, bukan uang mainan monopoli!" jerit Lyly yang harga diri finansialnya baru saja dihancurkan.
"Mama kalian berani bayar saya dengan bayaran yang lebih tinggi dari sekadar uang, Mbak," jawab Jarot dengan nada misterius.
"Bayaran apaan yang bisa lebih tinggi dari satu miliar uang tunai, hah?!" tanya Tata penasaran setengah mati.
"Beliau ngasih saya hiburan sirkus gratis setiap hari dengan ngelihat tingkah laku bodoh kalian bertiga," lanjut Jarot santai tanpa beban.
Jawaban jujur itu benar-benar menampar ego ketiga gadis itu jauh lebih keras daripada tamparan fisik mana pun.
Mereka ditertawakan mentah-mentah dan hanya dianggap sebagai badut hiburan oleh seorang pengawal rendahan.
"Aku nggak peduli lagi sama kamu! Aku pasti bakal bikin kamu nyesel darah karena berani nolak uang dari aku!" ancam Lyly dengan nafas memburu menahan murka.
"Ayo kita pergi dari sini! Udara di dekat dia bikin aku mual dan mau muntah," ajak Lyly kepada dua adiknya dengan nada jijik.
Ketiga gadis itu langsung berbalik badan bersamaan dan berjalan cepat menaiki tangga dengan wajah penuh dendam kesumat.
Jarot menatap kepergian mereka sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Satu miliar... Kalau mereka tahu rekening bawah tanah ku isinya ribuan triliun, mereka pasti langsung pingsan massal di sini," batin Jarot merasa geli sendiri.
Jarot kemudian melangkah santai menuju dapur untuk mencari camilan yang sempat tertunda karena drama barusan.
Ia mulai merasa semakin betah tinggal di rumah yang penuh dengan keributan anak-anak manja keras kepala ini.
Ujian mental dari Lyly dan serangan fisik amatiran dari Tata malah menjadi obat penghilang rasa bosan pensiunnya yang sempurna.
"Semoga aja besok mereka punya rencana balas dendam yang sedikit lebih kreatif lagi dari ini," harap Jarot sambil membuka pintu kulkas yang penuh makanan