Hai, nama ku Kyra. Aku sekarang ini bekerja di sebuah perusahaan yang berkecimpung dalam bidang teknologi. Aku memiliki cita-cita menjadi seorang Astronot. Sejak kecil aku suka dengan cerita mitologi Yunani.
Kali ini aku diberi kesempatan untuk membuktikan kualitas kinerjaku dengan cara diberi tugas menyelesaikan permasalahan di kantor cabang yang ada di Kanada. Aku menerima tawaran ini bukan sekedar membuktikan kualitas ku tapi berlibur.
Tak seperti ekspektasi ku, tak hanya bekerja dan berlibur tapi banyak sekali hal yang terjadi selama aku di Kanada....
Bahkan aku juga mendapat teror selama 5 tahun terakhir di liburanku ini. Siapakah pelaku teror yang tak lelah mengejarku bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun🙀
Aku butuh kalian untuk selalu mendukungku, memberi support dan semangat lewat jejak kalian 🥰
~ Happy reading ^_^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap
Aku dan Auris melihat Ray dan Felix yang menunggu di depan pintu apartemen kami.
"Dari mana?" tanya Felix.
"Super market," aku mengangkat tangan menunjukkan plastik belanjaan.
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu," ucap Felix.
Aku mengangguk, "Ris, kamu ajak Ray masuk dulu gih."
"Emm.." Auris menganggukkan kepala dan mengajak Ray masuk apartemen.
Aku dan Felix hendak turun apartemen dan berjalan di dekat taman. Belum sampai jarak 5 meter dari pintu, Auris berteriak memanggilku.
"Kyra!"
Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke Auris.
"Ky, ini apa?!"
Auris mengangkat tangannya dan memperlihatkan boneka pada ku. Itu bukan boneka biasa tapi boneka yang sudah koyak. Tak hanya koyak, kepala boneka itu sudah hampir putus, seluruh badannya berlumuran darah. Di tangan boneka itu ada kertas bertuliskan namaku yang diikat pita kecil.
Aku melotot ke arah boneka itu dan ke Auris bergantian. Felix dan Ray juga sama kagetnya denganku. Sorot mata Auris menandakan perasaan cemas, khawatir, kaget dan takut.
Pada akhirnya mereka tau.
"Au, tenanglah," ucap Ray mengelus pundak Auris.
"Bagaimana aku bisa tenang?!" bentak Auris.
Aku menghela nafas dalam, "kita bicarakan di dalam."
Kami duduk di sofa berhadapan. Semua mata tertuju padaku meminta penjelasan. Boneka tadi tergeletak di hadapan kami.
"Sejak kapan kamu mendapat teror, Ky?" Auris menatapku lekat-lekat.
"Cukup lama," jawabku tenang.
"Seberapa lama? Sejak kapan? Kenapa kamu nggak cerita sama sekali?! Sejak di Kanada? Sejak sebelum di Kanada?" Auris menghujaniku pertanyaan tanpa henti.
"Aku nggak ingin membuatmu khawatir. Aku akan nemuin si peneror," aku menatap Auris.
"Ky, ada benda lain?" tanya Felix.
Aku mengangguk dan mengambil pisau dan juga surat yang ku dapat kemarin.
"Dia pasti ada dendam padamu," ucap Ray.
"Sekarang kalian sudah tau. Kalian mau apa?" tanyaku pada mereka.
"Aku akan menemukan si pelaku," ucap Felix penuh tekad. Ray dan Auris mengangguk serempak.
"Kita harus bertindak secara hati-hati. Aku sudah cukup lama mencari si pelaku tapi tidak ada hasil. Dia bergerak penuh perhitungan," ujarku.
Aku memijit keningku pelan. Sekarang mereka sudah mengetahui teror ini dan aku takut mereka akan ditargetkan juga.
"Aku tidak ingin kalian terlibat terlalu dalam," ucap ku pelan.
"Aku takut kalian akan menjadi target juga."
"Kami akan membantumu. Kamu tidak sendirian," ucap Auris lembut.
"Bagaimana kalau kalian pindah aja?" usul Ray.
Aku menggeleng pelan, "ini bukan yang pertama. Jika terus melarikan diri, itu akan menyenangkan bagi si peneror karena dia mengira kita tidak bisa melawan."
"Kyra benar," ucap Felix.
"Mungkin si peneror ada di sekitar kita, mengawasi kita," Auris menatap kami satu persatu.
"Aku akan tidur di sini malam ini," ucap Felix tiba-tiba.
Aku dan Auris menatap Felix kaget.
"Heem, aku juga," imbuh Ray.
Ray juga?
"Kalian pulang saja," aku menolak.
"Nggak! Bagaimana kalau si peneror masih di sekitar sini? Bahaya," Felix menatapku khawatir.
"Bukan ide yang buruk. Itung-itung bodyguard," ucap Auris.
Aku berpikir sejenak, "aahh terserah kalian."
Felix dan Ray tersenyum puas.
"Akan aku ambilkan selimut tambahan."
Auris berlari masuk ke kamar mengambil selimut di lemari.
"Terserah kalian tidur di mana. Asal jangan masuk ke tempatku dan Auris."
Felix dan Ray memilih tidur di sofa. Aku berjalan masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.
***
Aku keluar dari kamar hendak mengambil segelas air. Ku lihat Ray dan Felix tidak tidur tapi menonton tv.
"Kalian nggak tidur?" tanyaku.
"Nggak bisa tidur," jawab Ray.
"Aku juga," imbuh Felix.
"Kita main aja yuk," ajak Auris yang tiba-tiba muncul di belakangku.
"Main apa?" tanya Ray.
Auris duduk di sebelah Ray dan aku duduk di sebelah Felix.Kami berempat duduk berhadapan dengan pasangan masing-masing.
Pasangan?
"Kita main truth or dare," ucap Auris antusias.
"Seru nih," Ray terlihat lebih antusias.
"Oke," aku menyetujui permainan ini.
Auris mengambil tipp-ex yang ada di atas meja dekat televisi.
"Aku memulai duluan, aku akan memutar benda ini, kearah mana benda ini berhenti maka orang itu yang akan mendapatkan misi dariku. Setelah dia menyelesaikan misi, dia bergantian memutar tipp-ex ini dan dia yang memberi misi," ujar Auris.
Aku, Felix dan Ray mengangguk serempak, menyanggupi peraturan permainan TOD ini.
"Aku mulai," ucap Auris bersamaan memutar tipp-ex yang dipegangnya.
Kami berempat menatap tipp-ex yang berputar di depan kami.
"Yes!!" teriak Auris antusias saat benda itu berhenti mengarah pada ku.
"Ck," decak ku.
"Truth or dare?"
"Truth," jawabku.
"Oke. Kamu suka Felix nggak?" tanya Auris sambil senyum. Senyum ngeselin.
Dia sengaja tanya gitu ke aku. Awas nanti aku bales!
"Suka," jawabku datar.
Felix menoleh ke arah ku. Aku merasakan tatapan Felix membuatku tidak bisa bergerak.
"Uwaw. Kyra menyatakan perasaannya," goda Auris.
"Uhuk," Ray pura-pura terbatuk.
"Sini, gantian aku yang puter," aku mengambil tipp-ex dan memutarnya. Dalam hati aku berharap tipp-ex itu berhenti mengarah ke Auris.
Aku tersenyum senang saat harapanku terwujud. Tipp-ex itu berhenti mengarah ke Auris.
"Truth or dare?" tanyaku.
Auris tidak segera menjawab membuatku tidak sabar.
"Truth ajalah," ucapku.
"Em... Oke, aku pilih dare," ucap Auris.
"Aisshh."
"Oke. Dare. Cium orang yang kamu suka atau pijit kaki ku," tantangku.
Semua yang ada di ruangan terdiam. Suasana menjadi hening dan canggung.
Aku dan Felix kaget saat melihat pilihan Auris. Dia menarik dagu Ray dan mencium bibir Ray. Tangan Auris berada di sisi kanan dan kiri kepala Ray. Tak ku sangka dia akan mencium Ray beneran. Aku dan Felix melihat Auris dan Ray dalam diam. Sekitar 5 detik berlalu, Auris melepas ciumannya.
Ray yang tak ingin melepas Auris justru menarik Auris dan berciuman kembali. Auris merespon ciuman Ray. Bibir mereka saling bertautan dan ciuman mereka semakin dalam. Aku menoleh ke Felix, mataku bertatapan dengan Felix. Seketika aku memalingkan wajahku begitu juga Felix. Ray dan Auris berciuman cukup lama, lebih lama dari yang tadi. Aku dan Felix saling memalingkan muka tak berani menatap satu sama lain.
Aku lelah menunggu mereka selesai berciuman memutuskan untuk kembali ke kamar. Saat aku hendak berdiri, tiba-tiba lampu padam. Aku menoleh ke arah Felix, Auris dan Ray melepas ciuman mereka.
"Aku akan menelfon keamanan," ucapku.
Aku mengambil ponsel dan menelfon pihak keamanan gedung. Setelah beberapa saat aku kembali duduk di samping Felix.
"Pihak keamanan tidak tau jika ada pemadaman listrik. Sepertinya hanya tempat kita yang listriknya padam," ucapku.
"Kok bisa?" tanya Auris kaget.
"Ku rasa ini perbuatan seseorang," ucap Felix.
"Apa mungkin si peneror ada di sini? Dia memperhatikan kita?" ucap Ray.
klo diliat sekilas, pemilihan kata2nya cukup baik. semoga didalamnya banyak ilmu baru yg bermanfaat.. 😘
mampir bawa 3 like ya ❤️❤️❤️❤️
Boleh intip "Pengantin Pengganti"