NovelToon NovelToon
Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sablah

aku berdiri kaku di atas pelaminan, masih mengenakan jas pengantin yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya. tamu-tamu mulai berbisik, musik pernikahan yang semula mengiringi momen bahagia kini terdengar hampa bahkan justru menyakitkan. semua mata tertuju padaku, seolah menegaskan 'pengantin pria yang ditinggalkan di hari paling sakral dalam hidupnya'

'calon istriku,,,,, kabur' batinku seraya menelan kenyataan pahit ini dalam-dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sablah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

senja dan ungkapan hati

Beberapa jam kemudian,

di sisi Rama, setelah beberapa jam bekerja di tengah perkebunan kopi, akhirnya waktu istirahat pun tiba. matahari berada tepat di atas kepala, membuat suasana semakin terik. para pekerja duduk di bawah rindangnya pepohonan, menikmati makan siang sederhana yang mereka bawa. beberapa orang terlihat mengobrol santai, sementara yang lain meregangkan badan setelah bekerja sejak pagi.

Rama duduk di ambang gubuk seraya mulai membuka kedua sepatunya, disusul Andre dan rekan lain yang juga mulai berjalan kearah yang sama.

namun, sebelum mereka berkumpul, niat itu tiba-tiba terusik ketika suara deru mobil terdengar mendekat. dari jalan tanah yang berdebu, sebuah sedan hitam meluncur ke area perkebunan, lalu berhenti tidak jauh dari gubuk tersebut. jelas saja semua mata tertuju pada kedatangan nya

beberapa pria turun dari mobil, berpakaian rapi dengan kemeja dan celana bahan, salah satu dari mereka, seorang pria berusia sekitar empat puluhan, berjalan mendekat dengan ekspresi serius.

"pak Rama?" panggil pria itu dengan suara berat.

Rama langsung berdiri dan tersenyum ramah. "ada yang bisa kami bantu?"

pria itu menarik napas, lalu mengumumkan sesuatu yang membuat semua pekerja terkejut. "saya ingin menyampaikan bahwa proyek ini secara resmi dihentikan lebih awal". ujar nya dengan nada tegas. "pihak perusahaan telah memutuskan untuk mengakhiri kerja sama di titik ini. kami sangat mengapresiasi kerja keras anda dan seluruh tim."

kabar tersebut langsung disambut dengan ekspresi terkejut dari para pekerja. namun, dalam sekejap, keterkejutan itu berubah menjadi kegembiraan.

"jadi, kita bisa pulang lebih cepat?" tanya salah satu pekerja dengan antusias.

"benar," jawab perwakilan klien. "anda semua diperbolehkan kembali lebih awal"

sontak, suasana menjadi riuh. beberapa pekerja saling bersorak kecil, membayangkan waktu luang yang kini bisa mereka manfaatkan. namun, berbeda dengan yang lain, Rama justru mengernyitkan dahi. ada sesuatu yang janggal dalam keputusan ini. sejak awal, pihak klien selalu menuntut pekerjaan yang sempurna, bahkan sampai ke detail terkecil. mereka begitu ketat dalam setiap tahap produksi. tapi sekarang, tiba-tiba mereka menghentikan proyek di tengah jalan tanpa alasan yang jelas?

Rama melirik Andre, yang terlihat santai dan ikut tersenyum. Rama kemudian menatap pria dari pihak klien dengan penuh selidik. "ini keputusan yang cukup mendadak, Pak. biasanya kalian selalu melakukan inspeksi akhir sebelum menyelesaikan proyek. kenapa kali ini berbeda?"

pria itu tetap tersenyum, tapi ada sedikit kegugupan dalam tatapannya. "perusahaan kami sudah mempertimbangkan ini dengan matang. tidak ada masalah apa pun, pak Rama. kami hanya merasa sudah cukup dengan hasil yang ada."

Rama semakin merasa ada yang tidak beres. tapi anehnya, tidak ada seorang pun di sini yang memikirkan hal yang sama. semua terlalu sibuk merayakan kabar baik ini.

Rama mencoba mengorek lebih dalam. "apa ada sesuatu yang terjadi? mungkin ada perubahan kebijakan di pihak kalian?"

pria itu tertawa kecil. "tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pak Rama. semua sesuai prosedur."

Rama tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. tapi dalam hati, ia yakin ini bukan keputusan yang diambil begitu saja.

Rama menatap pria itu lebih tajam. ia merasa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan. jika proyek benar-benar dihentikan mendadak, setidaknya Karina sebagai penanggung jawab seharusnya ada di sini untuk menjelaskan langsung.

"kalau memang proyek ini dihentikan lebih awal, lalu di mana Karina?" tanya Rama, nada suaranya lebih tegas. "bukankah beliau penanggung jawab resmi dari pihak kalian. harusnya dia yang memberi keputusan ini secara langsung."

pria itu terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis, seolah sudah menduga pertanyaan ini akan muncul. "Bu Karina sudah terbang pulang lebih dulu, Pak Rama. ada urusan mendesak yang harus beliau tangani."

mata Rama sedikit menyipit. "pulang? secepat itu?"

"benar. dia meninggalkan semua urusan di sini pada kami," jawab pria itu dengan tenang. "jadi, tidak perlu khawatir. semua sudah beres, dan pembayaran akan segera diproses."

tanpa disadari jawaban ini semakin memperkuat kecurigaan Rama. ia tidak langsung menanggapi, hanya mengangguk kecil seolah menerima informasi tersebut, namun pikirannya berputar cepat. 'Karina pergi tanpa memberi kabar langsung? keputusan dihentikan tanpa alasan jelas? semua ini terasa semakin tidak masuk akal!'

tiba-tiba, ponsel Rama bergetar di sakunya. ia segera mengeluarkannya dan membaca pesan yang baru masuk dari pihak pabrik.

"proyek telah resmi dihentikan lebih awal. seluruh tim diizinkan kembali lebih cepat ke kota. sisa masa cuti dapat digunakan sebagai waktu libur."

Rama membaca pesan itu dengan saksama, memastikan bahwa ia tidak salah paham. keputusan ini terasa semakin aneh baginya. namun, ia tetap harus menyampaikan kabar ini kepada seluruh tim.

Rama menghela napas sebelum berbicara, "aku baru saja menerima pesan dari pihak pabrik. kita semua diperbolehkan kembali lebih awal. selain itu, sisa masa cuti dapat kita manfaatkan sebagai waktu libur."

sontak, suasana semakin riuh. para pekerja tampak bersorak senang, beberapa bahkan sudah mulai membahas rencana mereka untuk menghabiskan waktu luang.

"ini benar-benar kabar baik, pak Rama! akhirnya kita bisa pulang lebih cepat," ujar salah seorang pekerja dengan wajah berbinar.

"betul! saya sudah rindu dengan rumah," tambah yang lain.

Andre, yang berdiri di samping Rama, ikut tersenyum, "kelihatannya kita bisa bersantai lebih cepat dari yang kita kira."

namun, berbeda dengan rekan-rekannya, ekspresi Rama tetap sama, serius dan penuh tanda tanya. pikirannya terus berputar. semua ini terlalu tiba-tiba dan tidak masuk akal. Rama menarik napas dalam dan bergumam pelan, lebih kepada dirinya sendiri, "ada sesuatu yang tidak beres di sini."

******

di sisi rumah singgah,

suasana sore di rumah ini terasa begitu santai. Alda, Ayu, dan Laras tengah duduk-duduk di teras, menikmati udara segar setelah seharian beraktivitas. obrolan mereka ringan, sesekali diselingi tawa kecil.

tak lama kemudian, Arya dan gani muncul dari arah warung. Gani membawa beberapa kantong kresek berisi camilan ringan, sementara Arya berjalan di sampingnya dengan tangan kosong.

"apa yang kalian beli?" tanya Laras sambil melirik kantong di tangan Arya.

"hanya beberapa makanan ringan untuk menemani obrolan," jawab Arya santai. ia lalu duduk di pagar teras, menaruh belanjaannya di samping.

namun, sebelum obrolan kembali mengalir, Arya tiba-tiba menyeletuk, "oh, tadi di warung, aku tidak sengaja mendengar beberapa warga membicarakan danau di dekat sini. katanya, pemandangannya sangat indah saat sore hari."

mendengar kata "danau", Ayu dan Laras langsung terlihat antusias.

"serius? aku sudah lama tidak pergi ke danau," ujar Laras dengan mata berbinar.

"kalau tidak terlalu jauh, bagaimana kalau kita ke sana? mumpung belum gelap," timpal Ayu dengan nada bersemangat.

Alda, yang sedari tadi mendengarkan, akhirnya ikut menanggapi, "baiklah, kita pergi ke sana saja. sekalian aku menunggu Rama. karena kebetulan danau itu searah dengan jalur pulangnya"

akhirnya keputusan pun dibuat. setelah bersiap, mereka mulai berjalan menuju danau. jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari rumah singgah.

Alda berjalan di depan, ditemani Laras dan Ayu yang terus mengobrol dengan penuh semangat. sementara itu, Arya dan Gani mengikuti di belakang, sesekali melemparkan candaan.

setibanya di danau, Laras dan Ayu langsung berlari ke tepian, mata mereka berbinar penuh antusias.

"lihat, Ayu! pemandangannya benar-benar indah!" seru Laras.

Ayu mengangguk cepat sebelum menoleh ke belakang, "Arya, kau harus mengambil gambar kami! langit sore ini terlalu sayang untuk dilewatkan!"

Arya, yang memang paling pandai dalam mengambil foto, hanya terkekeh kecil sebelum mengeluarkan ponselnya. "baiklah, berdirilah di sana, cari posisi terbaik kalian."

tanpa menunggu lama, Laras dan Ayu segera berpose di berbagai sudut, tertawa-tawa kecil setiap kali hasil foto mereka terlihat memuaskan.

sementara itu, Alda hanya tersenyum kecil, melihat betapa antusiasnya teman-temannya menikmati momen ini. namun, tanpa disadarinya, Gani yang sejak tadi berdiri di sampingnya tiba-tiba berucap.

"kamu tidak tertarik untuk berfoto juga, Da?" tanyanya dengan nada santai.

Alda menggeleng kecil. "aku lebih suka menikmati suasana secara langsung daripada melalui layar kamera."

Gani mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis. "sepertinya kamu selalu seperti itu, lebih suka mengamati daripada ikut serta."

Alda hanya menatapnya sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangan ke arah danau. namun, tanpa diduga, Gani dengan ringan menarik pergelangan tangannya.

"mari duduk di sana," ajaknya sambil menunjuk salah satu pohon rindang yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Alda sedikit terkejut, tetapi ia tidak menolak. Gani pun tak segan berpamit kepada teman-teman mereka yang masih sibuk berfoto.

"kalian,, aku dan Alda menunggu di sana," ucapnya santai.

karena Laras, Ayu, dan Arya masih sibuk dengan aktivitas nya, alhasil mereka hanya menanggapi singkat tanpa benar-benar memperhatikan. "iya, iya, nanti kita susul!"

dengan begitu, Gani membawa Alda ke bawah pohon rindang. angin sore yang sejuk berembus perlahan, menciptakan suasana yang semakin tenang. tanpa berkata-kata, mereka duduk berdampingan, menikmati keindahan danau yang mulai berpendar dalam cahaya senja.

Gani menatap Alda yang duduk di sampingnya, tampak tenang dalam diamnya. ia menarik napas pelan sebelum akhirnya membuka suara.

"kamu masih ingat, Da?" tanyanya, membuat Alda menoleh.

"iya, Gan?," Alda balas bertanya dengan nada datar.

Gani tersenyum kecil. "saat kita masih duduk di bangku SMP, dulu aku sering mengikutimu ke mana-mana. kamu selalu lebih cepat dariku, lebih pintar, dan lebih dewasa. aku yang bodoh ini hanya bisa mengejarmu dari belakang."

Alda mengernyit samar, mencoba mengingat kenangan yang disebut Gani. ia menghela napas pendek sebelum menjawab, "kamu tidak seperti itu, Gani. kita hanya selisih beberapa nilai saja"

Gani terkekeh. "tetap saja, Alda. aku selalu merasa kamu berada di depan, dan aku di belakang."

Alda tidak menjawab, hanya membiarkan keheningan sejenak mengisi celah di antara mereka.

"aku tidak pandai berbicara, Alda. Jadi, biarkan aku menyampaikan ini dengan caraku." tiba-tiba Gani membuka pembicaraan dengan serius.

"seandainya takdir membiarkanku memilih,

aku ingin tetap di sisimu, Da. meski hanya sebatas bayangan.

tapi aku bukan siapa-siapa,

hanya seorang pengecut yang terlambat menyadari bahwa,

kamu adalah bagian dari mimpi yang tidak bisa kumiliki.

Da, aku sudah lama menyukaimu, tapi kenapa harus Rama yang bisa mendapatkan mu?"

Alda terdiam, matanya masih menatap Gani dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. kata-kata Gani barusan seakan menghantam sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan secara mendalam. udara sore yang tadinya menenangkan, kini terasa lebih berat.

sementara itu, Gani menundukkan kepalanya, kedua tangannya mengepal di atas lutut. wajahnya penuh dengan kesedihan dan kekecewaan yang selama ini ia pendam. ia menarik napas dalam, sebelum akhirnya melanjutkan, suaranya terdengar lebih lirih, lebih dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!