Clarissa Atmaja yang baru kembali dari studinya disambut dengan tanggal pernikahan untuk menikahi laki-laki yang sudah menjadi tunangannya, laki-laki pilihan papanya. Namun, saat kembalinya ia dipertemukan dengan laki-laki yang menggetarkan hatinya, dan membuatnya jatuh cinta.
Angga yang dulunya pria yang hangat, berubah jadi dingin dan tak ingin lagi mengenal dengan yang namanya perempuan karena sakit hati dengan perempuan masa lalunya. Sehingga, membuat orang-orang berpikir dan menganggapnya laki-laki yang tidak normal atau tidak menyukai perempuan. Tetapi, Rissa bertekad untuk mengejar cintanya, dan menaklukkan laki-laki yang ia sukai. Tidak peduli dengan statusnya yang sudah bertunangan, dan tentang isu mengenai laki-laki yang ia sukai.
Mampukah Rissa menaklukkan hati Angga Wijaya atau ia akan menikahi laki-laki pilihan papanya yang sudah menjadi tunangannya?
oh ya kak jika berkenan follow Instagram aku mamika759
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuka hati
Setelah menempuh waktu dua puluh menit, Angga tiba di kediamannya. Ia nampak terkejut, sesaat melihat mobil papinya terparkir di depan halaman rumahnya.
Angga menggelengkan kepalanya, dan menghela nafas kasar. Ia sudah menduga, pasti ulah asisten rumah tangganya yang memberi tahu jika dirinya membawa perempuan ke rumah.
Angga pun segera melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam rumahnya.
"Mi.. Pi...." sapa Angga pada kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa.
"Kamu sudah pulang?" tanya Mami Angga yang terkejut melihat putranya sudah kembali.
"Iya, Mi," jawab Angga sembari mencium tangan, dan pipi kedua orang tuanya.
"Kok cepet banget!" ucap Mami Herti.
"Mi, anak kita pulang cepet kok ditanya! Mami harusnya senang, anak kita nggak suka keliaran malam-malam di luar sana," ucap Papi sambil menggelengkan kepalanya.
"Pi, ini ceritanya beda, Pi! Ini kan ceritanya Angga jalannya sama cewek. Mami nggak masalah, kalo Angga ngga pulang," bisik Mami Herti di telinga suaminya, yang masih samar-samar terdengar di telinga Angga.
Angga hanya terdiam, mendengar ucapan Maminya.
"Ya, ngga gitu juga kali, Mi," ucap Papi Bagus pelan.
"Pi.. Mi.. kenapa Mami ngga bilang kalo Mami.. Papi mau kesini? Mami, Papi sudah lama di sini?" tanya Angga.
"Nggak, kami baru aja di sini. Kamu aja nggak bilang sama Mami, dan Papi kalo kamu ngajak menantu Mami ke sini," ucap Mami Herti.
Angga menghela nafas panjang, "Ini pasti kerjaan Wawan," rutu Angga dalam hati.
Tak lama Wawan pun datang dengan membawa nampan di tangannya, yang berisi dua gelas air putih.
Wawan menundukkan pandangannya, saat mata Angga menatapnya tajam, seperti ingin memangsa dirinya hidup-hidup.
"Silahkan, diminum Tuan, Nyonya!" Wawan meletakkan dua gelas ke atas meja di depan kedua orang tua majikannya. Wawan pun segera pamit kembali ke belakang menghindari tatapan membun*h dari sang majikan.
"Ngga, besok kamu ajak pacar kamu ke rumah! Kenalin sama Mami, dan Papi," ucap Mami Herti.
"Mi, Angga nggak punya pacar," jawab Angga. Raut wajah mami Angga terlihat berubah muram.
"Lalu, perempuan yang kamu bawa kesini siapa?" tanya Mami Herti yang terlihat kecewa, sambil menunjukkan foto Rissa yang ada di galeri ponselnya.
Angga menghela nafas panjang, saat melihat foto Rissa, dan dirinya sedang duduk mengobrol ada do dalam galeri ponsel maminya, "Itu, asistennya Rafi," jawab Angga.
"Asistennya Rafi? Lalu, apa hubungannya dia kemari, kalau dia asistennya Rafi?" tanya Mami Herti penuh selidik.
"Iya, Mi. Rafi cuti. Jadi, asisten Rafi yang gantiin kerjaan Rafi," jelas Angga, yang membuat raut wajah maminya kembali kecewa.
"Pi, kepala Mami pusing, Pi," adu Mami Herti pada suaminya, sambil memegang pelipisnya.
Angga beranjak dari duduknya "Mi, Mami nggak apa-apa?" ucap Angga yang terlihat panik melihat maminya. Ia takut tensi Maminya kembali naik.
"Nggak apa-apa gimana? Ini semua gara-gara kamu," ucap Mami Herti. Angga terkejut, karena maminya menyalahkan dirinya.
"Mi, Mami minum dulu!" Papi meraih gelas yang berisi air putih di atas meja. Papi Bagus memberikan pada istrinya. Mami Herti pun menyeruput gelas yang berisi air putih.
"Sudah, Pi," ucap Mami, sembari menjauhkan gelas yang ada di tangan suaminya.
"Ngga, Mami pengen punya cucu," ucap Mami Herti.
Angga lagi-lagi bingung dibuat permintaan maminya.
"Mi, punya menantu dulu, baru punya cucu," ucap Papi Bagus sambil tersenyum.
"Pi.. Mi.. sebelumnya Angga minta maaf, Angga belum bisa nurutin permintaan Mami dan Papi," ucap Angga lembut.
"Kenapa Nak? Kenapa?" tanya Mami sedih.
"Mi, Angga belum kepikiran untuk menikah," ucap Angga.
"Ngga, apa benar kamu nggak suka sama perempuan, seperti yang digosipkan orang-orang di luar sana?" tanya Mami Herti dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Angga terkejut mendengar perkataan Maminya. Ia juga pernah mendengar, orang-orang ada yang mengatakan dirinya tidak menyukai perempuan. Tapi, ia menganggapnya hanya angin lalu. Namun, dirinya dibuat terkejut karena orang tuanya juga mendengar gosip yang menimpa dirinya, dan malah mempertanyakannya.
"Mi, gosip di luar sana itu semua nggak benar. Mami nggak usah dengerin gosip-gosip itu," jawab Angga.
"Buktikan ... Buktikan Ngga, kalau itu cuma gosip. Kamu buktikan ke semua orang kalo kamu itu laki-laki normal," pinta Mami Herti, sambil mengguncang lengan putranya. Angga hanya terdiam.
"Mi, sudah, Mi," Papi menarik tubuh istrinya.
"Pi, Mami cuma minta satu permintaan sama putra kita. Mami hanya ingin melihat putra kita menikah. Apa Papi nggak mau lihat Angga menikah?" ucap Mami pada suaminya dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
"Mi, Papi juga mau liat Angga menikah. Tapi, yah, mau gimana lagi? Jodohnya Angga belum datang, kita nggak bisa maksa," ucap Papi Bagus dengan bijaksana.
"Gimana mau dapat jodoh? Kalo putra kamu nggak membuka hati untuk mengenal perempuan," ucap Mami kesal.
Angga menghela nafas panjang, lagi-lagi dirinya dibuat tidak bisa berkata-kata oleh Maminya. Dirinya ingin pergi, meninggalkan kedua orang tuanya seperti yang sudah-sudah, setiap maminya meminta dirinya untuk menikah. Namun, sekarang situasinya berbeda, orang tuanya sedang berada di rumahnya. Kali ini, ia tidak bisa berkutik, pikirnya.
"Ngga, please Ngga! Mami harap kamu membuka hati kamu! Kamu itu bukan lagi cukup untuk menikah, tapi memang sudah wajib untuk menikah. Kamu mau cari apalagi," pinta Mami Herti.
"Apa kamu nggak lihat, Papi sama Mami kamu ini sudah tua? Apalagi sekarang, Mami sering sakit-sakitan. Mami takut, suatu hari nanti, Mami ngga bisa liat kamu menikah," cairan bening semakin menetes di pipi Mami Herti.
"Mi...." panggil Papi Bagus, dan Angga berbarengan.
"Mi, Mami jangan ngomong seperti itu!" sambung Papi Bagus, merangkul tubuh sang istri, dan membawanya ke dalam pelukannya.
Angga terdiam, memandangi wajah tua maminya yang terlihat sudah menua.
"Mam.. Pi.. gimana kita makan malam dulu? Wawan sudah menyiapkan makan malam buat kita," ajak Angga. Angga membantu maminya berdiri.
Mami Herti menepiskan tangan Angga, "Nggak, Mami nggak mau makan. Mami mau kamu menikah!" ucap Mami Herti.
"Mi, Mami makan dulu. Nanti, kita bahas lagi," ucap Angga. Ia tahu Maminya sangat keras kepala. Keinginannya harus dituruti. Ia memang selalu menuruti keinginan orang tuanya, tapi keinginan orang tuanya yang ingin melihat dirinya menikah, ia belum bisa, bahkan tidak bisa memenuhi. Di dalam benaknya tidak terpikir untuk menikah.
"Mami nggak mau!" ucap Mami geram.
"Udah Ngga, kamu turuti aja, kata Mami kamu. Nanti darahnya naik lagi. Apa susahnya sih menikah?" ucap Papi Bagus enteng.
Angga menggelengkan kepalanya, "Papi kira menikah itu gampang?" sela Angga.
"Kata siapa menikah itu sulit? Kamu tinggal cari pasangan kamu, lalu kamu nikahin dia. Gampang kan? Masalah lainnya, nanti bisa kamu selesaikan sendiri," ucap Papi Bagus.
"Sini kamu!" Papi menepuk sofa kosong yang berada di sebelahnya. Meminta Angga untuk duduk di sebelahnya.
"Nanti, jika kamu ada masalah, kamu cerita sama Papi. Papi ngadepin Mami kamu yang kayak begini aja bisa!" bisik Papi di telinga Angga.
"Papi lagi bisikin apa?"
"Nggak ada Mi, Papi cuma kasih tau aja cara Angga buat naklukin perempuan," ucap Papi.
"Kayak papi tau aja."
"Papi taulah, buktinya aja Mami takluk sama Papi," ucap Papi percaya diri.
"Takluk apanya? Gimana Mami nggak takluk, Papi nungguin di depan rumah, nggak mau pulang, sampe Mami nerima cintanya Papi," ucap Mami tertawa mengingat masa-masa mudanya dulu.
"Sama aja, Mi. Itu caranya Papi, agar Mami takluk sama Papi. Kalo Papi nggak gitu, jadi panjang urusan Papi, mau ngeluarin jurus-jurus yang lainnya," jawab Papi tertawa.
Angga ikut tersenyum, melihat keharmonisan yang diciptakan oleh kedua orang tuanya.
"Ngga, kamu ajak perempuan itu nemuin Mami sama Papi," ucap Mami.
Angga mengerutkan dahinya, yang masih belum mengerti maksud perkataan Maminya," perempuan mana, Mam?"
"Yang kamu bawa ke rumah tadi."
"Mam, tadi Angga sudah jelasin. Perempuan itu asistennya Rafi, bukan pacar Angga, Mi," jawab Angga.
"Tapi, sepertinya perempuan itu suka sama kamu. Kenapa kamu nggak pacarin sekretarisnya Rafi aja?"
"Betul itu, Ngga! Sepertinya, dia anak yang baik," timpal Papi.
Angga terdiam, dia teringat perkataan Rissa saat mereka berada di dalam mobil.
"Iya Pak! Saya juga tidak yakin, kalau saya bisa melihat wajah tampan Bapak lagi," ucap Rissa yang masih sempat-sempatnya menggoda Angga. Pikirnya, ia tidak ada kesempatan lagi untuk menggoda Angga.
Angga kembali tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Memangnya kenapa? Kamu mau resign?" tanya Angga.
"Bisa jadi, kecuali kalo...." Rissa menghentikan kalimatnya.
"Kecuali apa?" tanya Angga dengan kening berkerut yang sedikit penasaran dengan ucapan asisten sepupunya itu. Ia juga akan merasa bersalah pada sepupunya, jika membiarkan Rissa resign begitu saja.
Rissa tersenyum memikirkan kata yang akan ia ucapkan, "Kecuali Bapak...."
"Saya apa?"
"Bapak mau jadi pacar saya," ucap Rissa yang memegang lengan Angga, dengan tersenyum menggoda.
"Ngga...." suara Mami membuyarkan lamunan Angga.
"Hah.. Iya Mi," sahut Angga.
"Mami harap besok, Mami mendengar kabar baik. Kamu ngenalin ke Mami, asistennya Rafi, jadi pacar kamu," ucap Mami.
Angga tersentak dengan kalimat-kalimat dari mulut maminya.
"Dikira seperti membalikkan telapak tangan apa?" ucap Angga dalam hati.
Bersambung
Hai kak terima kasih sudah baca. Jangan lupa, like, vote, dan komentarnya 😘 Oh ya kak aku mau kasih tau, judul sama covernya ku ganti yah🤭 dari judulnya membuka hatimu. Jadi, Mengejar Cinta Bos