Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyonya Besar
Sekarang jelas, kenapa beberapa pakaian Rama bermerek. Juga sepatu, tas, dan topi. Selain, rumah kontrakan yang ditinggali Rama bersih dan teratur. Benar yang dikatakan Intan, suaminya punya selera tinggi.
Nara memandang Rama, lalu menunduk, lalu menarik napas dalam-dalam. Mendongak lagi.
Rama meraih tangan Nara.
"Aku minta maaf. Baru sekarang mengatakan hal itu."
Tangan Nara membalas genggaman tangan Rama.
"Nggak apa-apa, Mas. Kalau boleh tahu... kenapa Mas Rama menjauh dari keluarga?"
"Aku diusir. Dikeluarkan dari kartu keluarga. Karena difitnah kakak ipar," ungkap Rama.
Malam itu, Rama pulang dari pesta ulang tahun seorang teman. Kondisinya yang agak mabuk tapi masih bisa fokus. Untuk pertama kalinya Rama minum minuman beralkohol.
Saat memasuki rumah, dia melihat Bianca berjalan mendekat. Terjadi obrolan basa-basi. Bianca ikut masuk ke kamar Rana mencoba merayu. Tentu saja ditolak mentah-mentah.
"Kak Bia aku memanggilnya, dia mendadak teriak-teriak minta tolong. Menampar pipinya sendiri, merobek baju tidur, mengacak-acak rambut. Lalu orang rumah terbangun, papa mama dan Mas Radit." Rama menarik napas dalam-dalam.
"Bianca menuduhku hendak memperkosanya. Melecehkan. Dia menangis histeris. Sedangkan aku mengelak dari tuduhan itu. Sayang sekali, aku bau alkohol. Aku dipukuli kakak kandungku. Karena kejadian di kamar nggak ada bukti seperti rekaman cctv."
Nara melihat kesedihan di mata Rama. Helaan napas sang suami terdengar berat.
"Aku pun ditendang keluar. Hanya Mama, Opa dan Oma yang percaya, tetapi mata mereka bertiga menunjukkan kebalikannya. Ada keraguan," lanjut Rama.
"Makanya ada larangan minum alkohol karena banyak efek negatif."
Di kafe, tersedia berbagai jenis alkohol. Tidak pernah sedikitpun Rama tergoda.
"Apa mereka menyuruh Mas Rama kembali? Atau Bianca sudah mengakui fitnahnya?"
"Aku tidak tahu hal itu, Nara. Hanya Oma yang ingin bertemu karena sakit. Aku tidak akan pernah kembali."
"Tapi mereka mencari keberadaan Mas Rama ...." gumam Nara.
"Pasti ada alasannya, kan?"
Rama mengedikkan kedua bahunya. "Aku nggak peduli, Nara. Aku hanya ingin hidup seperti sekarang. Kamu nggak kecewa, kan?"
"Kecewa karena apa, Mas? Karena keputusanmu? Nggak lah," tegas Nara. Baginya, juga lebih baik hidup berdua dengan Rama tanpa drama keluarga orang kaya.
"Aku nggak bisa kerja kantoran, Nara. Karena papaku dulu selalu menjegal saat aku diterima bekerja di perusahaan," kata Rama.
"Sepertinya beliau ingin mengujiku."
"Banyak pekerjaan lain, Mas," tukas Nara. Tidak masalah dengan pekerjaan Rama yang sekarang. Karena Rama sangat perhatian.
"Mas Rama lulusan apa?"
"Manajemen bisnis...."
"Eh, Rama butuh uang kagak? Ditunggu Pak Zidan." Roy berdiri di ujung meja.
"Hmm, pengantin baru pegangan tangan terus."
Rama melepas tangan istrinya. "Aku ke dalam sebentar. Setelah itu kita pulang."
Nara mengangguk. Memandangi sang suami yang berjalan cepat menuju ruang belakang.
"Kita belum kenalan. Aku Roy," ucap Roy.
"Nara...." Nara menyalami Roy. Lelaki itu cepat pergi karena dipanggil perempuan berpakaian modis dan feminim. Gaun terusan halter neck di atas lutut warna hijau mint motif bunga. Sepatu hak tinggi hitam dan rambut panjang yang bergelombang indah.
Nara menunduk, mengamati celana kulot lebar dan kaus putihnya. Lebih menunduk lagi, melihat sepatu slip on yang dia kenakan.
Mendadak merasa rendah diri. Walaupun Rama sekarang bukan orang kaya, tapi tetap dia anak orang kaya. Pergaulannya dulu pasti di lingkaran kelas atas dan berpendidikan tinggi. Juga berteman dengan perempuan-perempuan cantik, kaya, dan pintar.
"Ayo, pulang." Rama mengambil jaketnya.
Memandangi Nara yang bergeming, tidak mendengar suaranya. Disentuhnya pundak istrinya.
"Ngelamunin apa?"
Nara agak terkejut. "Ngelamunin Mas Rama," jawabnya jujur seraya memakai jaket.
"Ada yang mengganjal di hati dan pikiranmu?"
"Sedikit banyak. Perbedaan pendidikan, keluarga... ada kekhawatiran." Nara berterus terang. Diraihnya tas, kemudian melangkah.
Rama berjalan di belakang istrinya menuju pintu keluar. Sesampainya di tempat parkiran, Rama berkata, "Tidak ada yang bisa memisahkan kita, Nara. Sejak diminta bapak menikahi mu, sejak hari itu aku yang menjaga dan bertanggung jawab, memastikan kamu bahagia."
Nara tersenyum, bisa melihat keseriusan di wajah Rama.
"Tolong, jangan ragukan aku," kata Rama serius.
"Iya, Mas Rama...." Nara duduk membonceng.
Kalau waktu berangkat hanya memegang jaket, sekarang berani memegang area pinggul sang suami.
"Sudah aku bilang, kalau pegangan yang bener," ujar Rama menarik kedua telapak tangan Nara melingkari pinggang.
Dalam perjalanan pulang, Nara merasakan ada cairan yang merembes dari area intim. Dipeluknya bahu Rama beberapa kali.
"Mampir ke minimarket bentar," pinta Nara.
Rama sign kanan, kemudian secara perlahan belok menuju minimarket. Motor berhenti di halaman berpaving block.
"Mas Rama yang masuk." Nara berdehem. Aduh, terasa mulai basah. Di rumah kontrakan tidak ada stok pembalut. Kalau di rumah orang tuanya masih ada sisa pembalut satu bungkus.
"Mau dibelikan apa? Kamu nunggu di motor?"
"Pembalut yang ada sayapnya. Aku nggak bisa masuk, Mas." Nara menunjuk pantatnya.
"Aku mens mendadak. Tembus kayaknya...."
"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Rama.
Tanpa melepas helm ia masuk minimarket yang sepi. Bertanya pada kasir rak pembalut di sebelah mana.
Rama melihat berbagai merek pembalut. Karena bingung, dipotretnya pembalut yang berjajar di rak. Lalu dikirim lewat wa.
Rama: [Nara, merek apa?]
Nara meminta pembalut yang berwarna oranye dan biru muda. Rama segera mengambilnya dan membayar di kasir.
"Nih." Rama memberikan kantong plastik putih.
"Itu aja, kan?"
Nara mengangguk, mengecek isi kresek.
"Udah bener?"
"Iya, Mas."
Nara memeluk cukup erat karena Rama ngebut. Agak-agak khawatir karena sat set di jalanan yang ramai.
"Mas, nanti aku bersihkan joknya. Aku ke kamar mandi dulu!" ucap Nara begitu motor berhenti di depan rumah kontrakan. Ada noda besar di jok warna hitam itu.
Rama mengambil lap yang dibasahi air dan sedikit sabun, mengelap jok yang kotor. Lap itu kemudian dibilas di kran air. Dijemur di atas tanaman.
Motor itu pun dimasukkan ke dalam rumah. Rama memastikan pintu sudah dikunci. Nara masih di kamar mandi, terdengar suara gemericik air.
Rama mencantolkan jaket. Lalu berganti pakaian. Celana pendek selutut dan kaos oblong.
Nara keluar dari kamar mandi, memakai setelan piyama hitam.
"Udah Mas bersihin?"
"Iya, udah." Giliran Rama yang masuk ke kamar mandi.
"Mas, harusnya aku yang bersih darahku!"
Rama tidak menyahut. Sibuk gosok gigi dan membersihkan wajah. Rama memandangi wajahnya di cermin kecil. Rahangnya mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Mas, amis dan bauk loh...." kata Nara saat suaminya keluar kamar mandi.
"Kamu istriku, bukan orang lain," sahut Rama mengenyakkan tubuhnya di kasur.
Nara merangkak naik lewat sisi lain. Berbaring di sisi Rama yang tidur telentang.
"Pantesan tadi ngamuk-ngamuk, ternyata mau mens...." celetuk Rama.
"Ngamuk-ngamuk?"
"Tadi hampir jambak-jambakan dengan Rena."
"Beda, Mas. Walaupun nggak datang bulan tetap ngamuk liat cewek terang-terangan goda suamiku," omel Nara, memunggungi suaminya yang tertawa.
"Tengahnya kasih guling nggak?" sindir Rama karena biasanya Nara memberikan batas.
"Terserah Mas saja."
Awalnya Rama tidur membelakangi Nara seperti biasanya. Selang lima menit, tubuhnya bergerak mendekati istrinya. Memeluk dari belakang.
Nara yang belum tidur, tidak menolak. Hanya saja, makin susah tidur seiring jantung yang berdetak hebat.
...****************...
Di kediaman yang besar dan mewah, seorang perempuan paruh baya duduk di sofa tunggal. Rambutnya disanggul rapi, kuku-kuku jari bercat merah tua, gaun hitam panjang melekat di tubuh yang langsing. Berkat perawatan kecantikan, menjaga pola makan, dan rajin olahraga, tubuhnya terlihat bugar. Wajah pun segar walaupun ada sedikit keriputan di ujung mata dan dahi.
"Nyonya Sekar memanggil saya?" tanya Frans.
"Apa kau sudah memberikan kado untuk Nara?"
"Sudah, Nyonya."
"Bagaimana kondisi Rama?"
"Den Rama agak hitaman, Nyonya .... Tapi terlihat sehat."
Frans kemudian pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Sekar yang masih mengamati foto-foto Nara.
"Cantik natural, lugu, perlu dipermak sana sini," gumam Sekar. Tidak menyadari menantunya berjalan mendekat.
Seorang perempuan hamil berdiri di belakang sofa yang diduduki Sekar.
"Apa Mama memaafkan Rama? Orang yang telah melecehkan aku?"
"Aku masih ragu, Bia. Aku yang membesarkan Rama dari bayi. Tahu sikap Rama," jawab Sekar. Tiga kali dia menyelidiki Bia, tidak menemukan apapun. Menantunya tidak aneh-aneh. Sekar menyewa penyelidik lain dan hasilnya sama.
Sejak Radit koma karena terjatuh saat panjat tebing, Sekar mulai ingin tahu keberadaan dan aktifitas Rama. Terkejut, karena putranya sudah menikah.
"Papa nggak akan setuju. Mama telah menyakiti aku karena menginginkan Rama kembali. Masih ada Papa yang menjalankan bisnis," protes Bianca.
Sekar membesar foto Nara yang sedang duduk di halte bus, lalu menjawab santai, "Jangan mengaturku, Bia."
"Mama memanfaatkan suamiku yang sekarat."
"Kenapa sekarang kamu terlihat sangat ambisius, Bia?" Sekar meletakkan iPad di meja.
"Bukan ambisius. Ini mengenai harga diriku. Dulu, aku menurut saja waktu dicegah melapor ke pihak berwajib! Aku menyesal telah melakukan itu," kata Bianca.
"Simpan energimu, tidak baik marah-marah," tukas Sekar. "Istirahat, sudah malam."
Bianca mendengus jengkel. Berlalu dari ruangan keluarga. Sekar memanggil asisten pribadinya. Menyuruh menghubungi fashion stylist.
"Kirim foto menantuku ke Anita, Jia."
"Nyonya Bianca?" Jia yang memegang iPad bertanya sopan.
"Bukan. Hinara Rahmat. Istrinya Rama. Suruh beli beberapa baju, tas, perhiasan dan sepatu."
"Baik, Nyonya. Apa sudah tahu ukuran baju dan sepatunya Nona Nara?"
"Ah iya, aku lupa. Mungkin perhiasan saja. Tapi aku ingin dia berpakaian lebih baik." Sekar agak manyun.
"Nara lebih sering memakai kaos. Tanganku juga gatal ingin merias wajah menantuku itu."
Jia menahan senyum. Nyonya besar yang kadang baik, lucu, galak, nyinyir, dan perfeksionis.
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬