Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Bukti Di Atas Meja Bundar
Setelah teguran keras Maharani, suasana di ruang takhta tegang namun terkendali. Dia berdiri dari singgasananya, langkahnya anggun namun penuh tujuan. "Komandan Alistair, Magister Valtor, Duke Frostweaver, Lord Kaelenor, dan sekretaris pribadiku, Lady Seraphine. Ikutlah. Yang lain, kalian boleh pergi."
Beberapa bangsawan yang tidak disebutkan tampak kecewa tetapi membungkuk dan mundur. Yang tersisa adalah lima orang: Komandan militer yang tegas, Magister sihir tua yang masih menyimpan kemarahan, seorang bangsawan elf dengan tatapan dingin, seorang bangsawan manusia yang lebih muda dengan ekspresi penasaran, dan seorang asisten wanita manusia yang membawa papan tulis dan pena. Mereka semua adalah pilar kekaisaran.
"Dan sekarang," ucap Maharani, menatap para penjaga yang masih berdiri di dekatku. "Lepaskan borgolnya."
Magister Valtor langsung bersuara. "Yang Mulia, mohon pertimbangkan! Dia adalah buronan berbahaya! Kekuatannya tidak dipahami! Membebaskannya di dalam istana—"
"Saya tidak meminta pendapat, Magister," potong Maharani, nadanya seperti baja dingin. "Saya memberi perintah. Apakah perintah Maharani sudah tidak lagi memiliki bobot di ruangan ini?"
Komandan Alistair, meski raut wajahnya tegang, mengangguk pada salah satu penjaga. "Lakukan seperti perintah Yang Mulia."
Penjaga itu, dengan tangan gemetar, mendekatiku dan membuka kunci borgol dengan sebuah kunci kecil. Klik. Rasa dingin dan tekanan di pergelangan tanganku menghilang. Aku menggosoknya perlahan, tidak menunjukkan emosi berlebihan. Ini bukan kemenanganku; ini adalah keputusan sang penguasa, dan aku tidak ingin terlihat seperti memanfaatkannya untuk bersikap sombong.
Maharani mengamati reaksiku yang datar, lalu berbalik. "Ikuti saya."
Kami dibawa melalui koridor pribadi yang lebih kecil namun tak kalah mewah, menuju sebuah ruangan yang berbeda. Ini bukan ruang takhta yang intimidatif, melainkan sebuah ruang rapat dengan meja bundar besar dari kayu gelap berukir halus. Jendela-jendela besar memberikan pemandangan taman istana yang tertata rapi. Di sinilah, di sekitar meja itu, duduk kekuatan sejati Kekaisaran Aethelgard.
Aku disuruh duduk di satu kursi, tepat berseberangan dengan kursi yang nantinya diduduki Maharani. Eveline tetap berdiri di belakangku. Kelima orang penting itu duduk mengelilingi, memandangiku dengan berbagai ekspresi. Aku merasa sangat kecil. Ini bukan lagi sekadar tentara yang takut; ini adalah otak dan hukum kerajaan. Rasa tidak percaya diri menyergap, tetapi aku berusaha menekannya. Takut tidak akan menyelesaikan apa pun.
Maharani duduk, meletakkan tongkatnya di samping kursi. "Santailah, Rian Saputra. Di ruangan ini, kita akan berbicara sebagai... pihak-pihak yang berkepentingan. Sekarang, ceritakan pada kami. Dari awal. Bagaimana mungkin seorang pemuda dari dunia lain, tanpa pengetahuan sihir, mendapatkan kekuatan untuk membangkitkan orang mati?"
Aku menarik napas. Inilah saatnya. Kejujuran, dengan segala risikonya. Aku menceritakan semuanya. Dari kehidupanku yang biasa di Jakarta, PHK, patah hati oleh Yuni, keputusasaan, hingga momen terdampar di rumah kayu tua di dunia ini. Aku jelaskan suasana mencekam, penemuan tengkorak, dan lelucon bodoh yang meluncur begitu saja: "Coba aja gue bisa idupin lagi. Buat jadi pacar, hehe."
"Dan itu terjadi," bisikku, suara serak saat mengingatnya. "Tengkorak itu... berkumpul kembali menjadi daging dan tulang. Menjadi Eveline van der Linden, yang mati puluhan tahun lalu karena Tuberculosis, terisolasi dan dilupakan keluarganya sendiri."
Semua orang di ruangan itu terdiam. Namun, aku bisa melihat ketidakpercayaan yang nyata di mata mereka. Magister Valtor mendengus. "Cerita yang menarik untuk pengantar tidur. Kekuatan setingkat itu, muncul dari sebuah... lelucon? Mustahil. Pasti ada ritual tersembunyi, atau mungkin kau adalah korban—atau penerus—dari kultus kematian kuno."
Bangsawan elf, Duke Frostweaver, menambahkan dengan suara mendayu, "Kematian karena Tuberculosis puluhan tahun lalu? Dan tubuhnya masih utuh menjadi tengkorak? Itu tidak lazim. Kau pasti menyembunyikan sesuatu."
Aku hanya mengangkat bahu, lelah. "Itu yang terjadi. Aku tidak bisa memberi penjelasan yang lebih memuaskan bagi kalian. Itu fakta yang bahkan aku sendiri masih berusaha memahaminya."
Maharani belum berkomentar. Dia menatapku dengan pandangan analitis. "Jadi, motivasi awalnya... karena dia cantik?" tanyanya, tanpa nada menghakimi, hanya penasaran.
"Jujur?" aku menjawab, menatap lurus padanya. "Ya. Saat melihat lukisannya, aku berpikir, dia cantik sekali. Sayang sudah jadi tulang. Lelucon itu muncul dari sana." Aku sadar kedengarannya dangkal, tapi itulah kebenarannya.
Seketika, ledakan tawa ringan—dan beberapa yang sinis—mengisi ruangan. Duke Frostweaver menyembunyikan senyumnya di balik tangan. Lord Kaelenor, bangsawan manusia yang lebih muda, terkekeh. "Kecantikan? Dia?" ucap Lord Kaelenor, menunjuk Eveline yang ekspresionless. "Dia memang memiliki fitur elok, tapi tanpa jiwa. Standar kecantikan yang aneh untuk membangkitkan arwah, Nak."
Mereka tertawa pada preferensiku, tapi aku tidak tersinggung. Dunia mereka, nilai mereka, berbeda. Hanya Maharani yang tidak ikut tertawa. Dia tetap serius.
"Dan jika dia 'mati' lagi—misalnya, tubuhnya hancur—apakah kau bisa membangkitkannya untuk kedua kalinya?" tanya Maharani, melompat ke pertanyaan inti.
Aku berpikir sejenak. "Berdasarkan pengalaman, iya. Tapi... aku belum tahu batasannya. Berapa kali? Apa ada penurunan? Aku belum pernah mengujinya sampai habis."
Magister Valtor menyeringai. "Lihat! Bahkan dia sendiri tidak mengerti kekuatannya! Itu bukti betapa berbahaya dan tidak stabilnya dia!"
Maharani mengabaikannya. Matanya yang biru tajam menatapku. "Kata-kata dan cerita bisa dimanipulasi, Rian Saputra. Kekaisaran tidak bisa membuat kebijakan berdasarkan dongeng. Saya perlu bukti. Bukti nyata tentang apa yang bisa dan tidak bisa kau lakukan. Saya perlu tahu persis siapa yang sedang saya hadapi: apakah seorang pemuda malang yang tersesat dengan kutukan, atau ancaman eksistensial yang harus dinetralisir."
Dia berbalik kepada Lady Seraphine, sekretarisnya. "Seraphine, perintahkan pada pengawal. Bawakan satu mayat ke ruangan ini. Yang baru mati, penyebab alami, dari rumah sakit istana."
RUANGAN ITU MENDADAK SUNYI.
"YANG MULIA!" teriak Magister Valtor, berdiri. "Itu tidak pantas! Tidak suci! Membawa kematian ke ruang rapat kerajaan—"
"YANG MULIA, TIDAK!" Komandan Alistair juga protes. "Keamanan! Jika dia benar-benar bisa... dan mayat itu bangkit dan menyerang—"
"Ini adalah perintah saya," ucap Maharani, suaranya tidak lagi tegas, tapi seperti pisau es yang memotong segala bantahan. "Saya sedang mencoba memahami sebuah fenomena yang bisa berarti perdamaian atau kehancuran bagi kekaisaran kita. Saya tidak akan mengambil keputusan berdasarkan ketakutan dan desas-desus. Saya perlu melihat dengan mata kepala saya sendiri. Apakah Rian Saputra ini layak disandang sebagai 'buronan kelas atas', ataukah dia sekadar sumber daya—atau ancaman—yang harus kita pahami dengan benar. LAKUKAN."
Kata terakhirnya menggema. Lady Seraphine, dengan wajah pucat tapi patuh, membungkuk dan bergegas keluar ruangan.
Para petinggi di ruangan itu duduk dengan kaku, wajah mereka campur antara kengerian dan ketidakpercayaan. Mereka melihat sang penguasa mereka, seorang wanita yang biasanya bijaksana dan kalem, mengambil langkah radikal yang belum pernah terbayangkan. Aku sendiri duduk diam, jantung berdebar kencang. Ini bukan lagi tentang membuktikan siapa aku. Ini adalah ujian langsung, di depan para pemimpin kerajaan. Dan hasilnya akan menentukan apakah aku akan menjadi tamu, tahanan, atau mungkin... sesuatu yang lain sama sekali.
Tidak lama setelah perintah Maharani, sebuah ketukan di pintu terdengar. Dua pengawal istana memasuki ruangan dengan wajah pucat dan tegang, mendorong sebuah kereta dorong kayu sederhana yang ditutupi kain putih. Di atasnya, terlihat bentuk tubuh manusia.
Mereka berhenti di tengah ruangan, persis di hadapan meja bundar. Maharani memberi isyarat. Salah satu pengawal menarik kain penutup itu.
Di sana, terbaring seorang wanita yang sudah tua. Rambutnya putih tipis, wajahnya keriput, dan ekspresinya damai dalam tidur terakhirnya. Dia mengenakan gaun linen sederhana, bersih. Tidak ada luka atau tanda kekerasan.
"Seorang wanita tua dari panti jompo istana," ucap Maharani, suaranya datar namun terdengar jelas di keheningan ruangan. "Meninggal kemarin karena usia tua. Tidak ada keluarga yang masih hidup. Dia telah melayani istana selama enam puluh tahun."
Aku menatap wajah wanita tua itu. Ada kedamaian di sana. Kehidupan yang telah mencapai garis finisnya dengan wajar. Dadaku merasa sesak.
"Apakah... apakah ada yang mengizinkan?" tanyaku, suaraku rendah. "Izinkan aku untuk... melakukan ini padanya?"
Magister Valtor mendengus kesal. "Kami sudah bilang, dia tidak punya keluarga! Apa artinya izin bagimu? Bukankah kau sudah melakukannya sekali?" Dia menunjuk ke arah Eveline.
"Ini berbeda," bantahku, mencoba menjelaskan perasaan rumit di dalam hatiku. "Eveline... itu adalah kecelakaan. Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Dan untuk ini... ini disengaja. Menggunakan tubuh seseorang, bahkan setelah mati, tanpa persetujuan mereka atau keluarganya... itu seperti melanggar hak mereka. Aku tidak ingin memain-mainkan tubuh manusia. Kematian harus dihormati."
Maharani memiringkan kepalanya, matanya yang biru tajam seolah menelanjangi jiwaku. "Lalu, bagaimana dengan dia?" Dia mengangguk ke arah Eveline. "Jika 'menghormati kematian' begitu penting bagimu, bukankah kebangkitannya sudah melanggar prinsip itu? Apa bedanya? Hanya karena yang satu tidak sengaja dan yang lain disengaja? Tapi hasilnya sama: seorang yang mati kembali berjalan."
Dia menyentuh titik yang paling sakit. Aku tertegun, mencari kata-kata. "Aku... aku tahu. Itu konsistensi yang buruk. Tapi saat itu, aku tidak tahu. Sekarang aku tahu. Dan jika aku bisa memilih kembali, bahkan dengan Eveline... mungkin aku akan memilih untuk tidak melakukannya."
"Huh. Munafik yang nyaman," ucap Maharani tiba-tiba, suaranya dingin dan memotong seperti pisau bedah. "Kau bersembunyi di balik 'ketidaktahuan' untuk yang pertama, lalu bersikap suci untuk yang kedua. Padahal, intinya sama: kau memiliki kekuatan itu. Dan sekarang, di hadapan kami, kau ragu-ragu. Itu membuatku bertanya, Rian Saputra: apakah keraguanmu ini karena moral, atau karena ketakutan untuk menunjukkan kekuatan sebenarnya di depan kami?"
Dia bersandar ke depan, tekanan di ruangan itu terasa semakin fisik. "Sekarang, buktikan. Hidupkan dia. Atau aku akan menyimpulkan bahwa segala ceritamu hanyalah kebohongan, dan kau tidak lebih dari penipu yang kebetulan memiliki revenant pelindung. Dan sebagai penipu yang membuang-buang waktu kekaisaran, konsekuensinya akan jauh lebih cepat dan lebih keras."
Ancaman itu menggantung di udara. Aku melihat ke sekeliling. Komandan Alistair tangannya sudah di gagang pedang. Magister Valtor mengumpulkan energi sihir samar di ujung jarinya. Duke Frostweaver dan Lord Kaelenor memandang dengan dingin. Hanya Lady Seraphine yang terlihat sangat tidak nyaman.
Aku tahu debat sudah berakhir. Kata-kataku tidak akan mengubah apa pun. Di sini, di jantung kekuasaan, yang berbicara adalah bukti dan kekuatan. Dan aku terjepit.
Dengan hati berat, aku mengalihkan pandangan dari tatapan menghakimi mereka, menuju wajah wanita tua yang damai itu. Di dalam hati, aku berbisik, "Maaf. Maafkan aku untuk ini. Aku tidak punya pilihan lain."
Aku mengulurkan tanganku, tidak menyentuh, tetapi mengarahkan telapak tanganku ke arah jasad itu. Aku memusatkan perasaan itu—perasaan "menarik dari samudra kekosongan" yang dijelaskan Lyra. Kali ini, aku lebih sadar. Aku merasakan aliran sesuatu yang halus namun tak terbatas mengalir dari dalam diriku, seperti mengalirkan secangkir air dari sebuah sumur yang dalam.
Tidak ada cahaya dramatis. Hanya keheningan yang semakin pekat.
Lalu, dada wanita tua itu bergerak. Tarikan napas pertama yang tersendat.
Semua orang di ruangan itu menahan napas.
Kulitnya yang keriput dan kendur mulai berubah. Seolah-olah waktu berjalan mundur dengan cepat. Keriput-keriput halus itu melicinkan, menghilang. Kulit yang pucat dan berbintik-bintik menjadi lebih kencang, lebih halus, mendapatkan kembali warna kemerahan yang sehat. Rambut putih tipis di kepalanya tidak berubah warna, tetapi menjadi lebih tebal dan berkilau. Tubuhnya yang kurus dan bungkuk karena usia tampak meregang sedikit, posturnya menjadi lebih tegak.
Dalam hitungan menit, di atas kereta dorong, bukan lagi seorang wanita tua yang terbaring. Melainkan seorang wanita dewasa dengan usia mungkin sekitar pertengahan tiga puluhan, dengan wajah yang masih membawa kemiripan dengan versi tuanya, tetapi penuh dengan vitalitas muda yang kontras dengan kematian beberapa saat lalu. Dia membuka matanya. Matanya berwarna cokelat, awalnya kosong persis seperti Eveline.
Dia duduk dengan kaku, memandang sekeliling ruangan tanpa ekspresi.
"Demi Langit..." bisik Lord Kaelenor, suaranya nyaris tidak terdengar, wajahnya pucat bagai kain kafan.
Magister Valtor terduduk kembali di kursinya, mulutnya menganga, semua kesombongan dan kemarahannya lenyap digantikan oleh ketakutan yang murni dan tak terbantahkan. Tangannya yang tadi berkumpul energi sihir, sekarang gemetar tak terkendali di pangkuannya.
Duke Frostweaver, sang elf yang biasanya dingin, kini matanya membelalak. "Regenerasi... temporer tapi sempurna... Ini... ini melampaui sihir pemulihan tertinggi sekalipun..." ucapnya, suara penuh kekagetan yang tak bisa disembunyikan.
Komandan Alistair berdiri kaku, tangan masih di gagang pedang tapi tak berdaya. Dia melihatku, lalu melihat revenant baru itu, dan kembali padaku. Di matanya, kini bukan lagi ketakutan pada monster, tetapi pada sebuah prinsip yang telah dilanggar dengan begitu mudahnya—prinsip akhirat itu sendiri.
Bahkan Lady Seraphine menjatuhkan papan tulis dan penanya. Bunyinya klak di lantai marmer, memecah kesunyian.
Dan Maharani Aurelia Theodora van Aethelgard?
Dia tidak bersuara. Dia hanya duduk tegak, tangan berpegangan erat di lengan kursinya, hingga buku-buku jarinya memutih. Ekspresinya yang biasanya terkendali dan penuh perhitungan, kini benar-benar kosong oleh keterpukauan total. Matanya yang biru itu menatap proses yang tak masuk akal itu, dari awal hingga akhir, tanpa berkedip. Tidak ada kemenangan, tidak ada kepuasan karena telah membuktikan sesuatu. Yang ada adalah kengerian yang tercampur dengan ketakjuban yang paling mendalam. Dia menyaksikan bukan hanya sebuah kebangkitan, tetapi pengubahan zaman. Kematian yang tak terhindarkan, dikalahkan dalam sekejap. Dan kekuatan itu ada di tangan seorang pemuda asing yang terlihat begitu biasa.
Revenant wanita muda itu menoleh ke arahku, sumber energinya. Suaranya keluar, datar dan tanpa jiwa, namun dengan vokal yang jelas. "Perintah?"
Aku, dengan suara yang masih serak oleh emosi yang bergejolak, menjawab, "Berdirilah. Dan jawablah apa yang maharani tanyakan."
Dia patuh, turun dari kereta dorong dan berdiri tegak di samping Eveline, kedua revenant sekarang berjejer di belakangku—sebuah pengingat yang mengerikan tentang apa yang baru saja terjadi.
Ruangan itu masih diam, tapi kini diamnya berbeda. Bukan lagi diam penantian, melainkan diam yang terengah-engah, dipenuhi oleh realitas baru yang terlalu besar untuk dicerna. Mereka semua, para penguasa Kekaisaran Aethelgard, baru saja melihat tabir antara hidup dan mati disingkapkan, dan di baliknya berdiri bukan dewa atau iblis, tetapi seorang pria bernama Rian Saputra. Dan tidak seorang pun di ruangan itu yang tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.