NovelToon NovelToon
Tak Setara

Tak Setara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertunangan

Sore itu di Bali.

Tebing itu menjulang tinggi di atas lautan biru Samudra Hindia. Dari sana, ombak terlihat menghantam dinding karang jauh di bawah, suaranya bergema lembut bersama angin laut yang berhembus pelan.

Area di puncak tebing telah diubah menjadi tempat pertunangan yang megah.

Lantai kayu luas dihiasi hamparan bunga putih dan lilin-lilin tinggi dalam tabung kaca. Lampu-lampu kristal menggantung di antara rangka dekorasi yang menghadap langsung ke laut, berkilau terkena cahaya senja.

Meja-meja bundar dengan taplak satin tersusun rapi, dipenuhi tamu undangan dari kalangan pengusaha, investor, dan tokoh penting. Para pelayan resort berjalan tenang membawa gelas-gelas champagne.

Di tengah area itu berdiri sebuah panggung kecil yang dihiasi rangka bunga elegan. Dari sana, hamparan laut dan langit senja terlihat tanpa batas, seolah seluruh horizon menjadi latar bagi momen istimewa malam itu.

Sore ini bukan sekadar pertunangan biasa.

Ini adalah penyatuan dua keluarga besar yang namanya dikenal di dunia bisnis internasional.

Sebuah papan akrilik besar berdiri di pintu masuk venue.

Tulisan berwarna emas terukir di atasnya, menampilkan nama kedua calon mempelai dengan huruf kaligrafi elegan.

Arka Mahendra & Valerie Addrianne

Di bagian bawahnya tertulis kecil:

Engagement Celebration.

Rangkaian bunga putih dan lampu kecil menghiasi pinggiran papan itu, membuatnya berkilau lembut di bawah cahaya senja.

Arka terdiam menatap lautan dengan ombak yang saling beradu memecah karang.

Sekilas pikirannya teringat akan sosok perempuan yang menyukai lautan, dan juga beberapa kenangan bersamanya.

Dadanya terasa sesak hingga ia sedikit melonggarkan kancing kemeja di bagian lehernya.

Untuk pertama kalinya ia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa.

Pertunangan ini terlalu berisiko untuk masa depan keluarganya.

Ia tahu satu keputusan saja bisa mengguncang semuanya—bisnis, reputasi, bahkan hubungan dua keluarga besar yang telah lama terjalin.

"Arka."

Pundaknya ditepuk, lamunanku buyar.

Arka menoleh.

Ia tersenyum pada sosok pria berbadan besar itu.

"Bagaimana perasaan mu? Berdebar-debar?"

Tanya pria itu merangkul pundak Arka.

Mendengar kalimat berdebar-debar, justru ia langsung teringat pada Aluna, satu-satunya perempuan yang bisa membuatnya berdebar.

“Aku tidak tahu, Kak,” ucap Arka. “Aku tidak tahu apakah keputusan ini sudah benar.”

Pria itu mengelus pundak adiknya.

“Aku mengerti bagaimana perasaanmu,” katanya lembut. “Dari dulu kamu selalu punya cara sendiri untuk melangkah.”

Angin laut berhembus hangat menyentuh kulit mereka.

“Tapi kali ini…” ia berhenti sejenak, “mungkin kamu harus berhenti sejenak dan menjalani apa yang sudah ditentukan.”

Pria itu seolah mengerti perasaan adiknya saat ini. Namun ia pun tidak bisa berbuat apapun.

"Aku takut kak," ucap Arka lirih, kepalanya tertunduk. "Aku takut jika tidak bisa menemukan bahagia ku, lalu berakhir hidup seperti kedua orang tua kita."

Andra melangkah maju menghadap adiknya, kedua tangannya memegangi pundak Arka.

"Hei.. hei.." ia menepuk-nepuk pundak adiknya. "Lihat aku, Arka. Belum tentu kamu akan hidup seperti mereka."

Andra mencoba meyakinkan adiknya.

"Bagaimana dengan ku? Aku juga menikah karena perjodohan keluarga. Tapi buktinya aku dan Stefani bisa saling mencintai dan hidup bahagia hingga saat ini."

Arka mengangkat kepalanya, menatap kakaknya.

"Arka... Cinta bisa tumbuh seiring waktu."

Arka menghela nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya.

Hingga seorang panitia memanggil mereka karena acara akan segera dimulai.

Beberapa saat kemudian.

Kedua cincin saling terpasang di jari manis kedua pasangan itu.

Valerie terlihat bahagia karena impiannya memiliki Arka sudah semakin dekat.

Di sisi lain... Arka berdiri tegak dengan wajahnya yang selalu terlihat datar.

"Kita akan melakukan sesi foto... Tolong tersenyum ya."

Juru kamera memberikan instruksi.

Valerie menatap Arka.

"Hei.. aku tidak ingin momen indah ku dirusak oleh ekpresi datar mu."

Arka memberikan senyuman penuh walaupun senyum itu tidak pernah sampai ke matanya.

Dan pada hari itu, dua orang resmi terikat dalam satu janji.

Semua orang merayakannya sebagai awal sebuah kebahagiaan.

Sementara bagi Arka… itu terasa seperti langkah pertama menuju hidup yang tidak pernah benar-benar ia pilih.

***

Dua Minggu setelah pertunangan itu.

Arka lebih banyak berada di luar kota untuk menjalankan bisnis dengan keluarga Valerie.

Ia bahkan sempat mengantar Valerie kembali ke Australia.

"Kamu besok sudah mau kembali ke Indo?" tanya Valerie saat melihat Arka mengemasi baju kedalam koper.

"Iya. Aku tidak bisa berlama-lama, karena masih banyak urusan dengan beberapa klien."

Tangannya memasukkan beberapa baju.

Valerie memeluk Arka dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung pria itu.

"Tapi aku masih ingin bersama mu."

Nadanya terdengar manja.

"Fokus belajar saja," katanya datar.

Valerie mengangkat tubuhnya, berjalan kehadapan pria itu lalu duduk didepannya.

"Kalau begitu.. biarkan aku tidur bersama mu malam ini."

Arka memalingkan wajahnya, menghela nafas seolah itu adalah permintaan yang terlalu berat baginya.

"Kenapa? Kamu bahkan tidak ingin menyentuh ku, Arka."

Valerie merasa kesal.

"Bukankah seharusnya memang begitu?"

Valerie tertawa sesaat.

"Kamu terlalu munafik," nadanya tegas. "Kita sudah bertunangan.. apa masalahnya?" Lanjutnya.

Arka berdiri dari duduknya.

"Aku hanya ingin menjagamu sampai waktu itu tiba."

Valerie tersenyum tipis, "kamu hanya tidak mencintai ku."

Nada itu terdengar seperti gumaman, namun Arka bisa mendengarnya.

Pria itu memilih keluar dari apartemen meninggalkan Valerie.

Dua Minggu setelah kepulangannya dari Australia, Arka kembali di sibukkan dengan urusan bisnisnya.

Sejak pertunangan itu, hidup Arka semakin dipenuhi urusan bisnis. Beberapa perusahaan baru yang berkaitan dengan keluarga calon besannya kini berada dalam tanggung jawabnya.

Hari-harinya dihabiskan di ruang rapat, menandatangani kontrak dan menghadiri pertemuan dengan para investor.

Kesibukan itu membuatnya hampir tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri—bahkan untuk sekadar mengunjungi perusahaannya sendiri, Aethera Creative Lab.

***

Sudah sebulan berlalu sejak Aluna tidak lagi menghadapi revisi yang tak ada habisnya dari atasannya.

Hari-hari di kantor berjalan seperti biasa.

Namun bagi Aluna, justru “biasa” itu terasa asing.

Kabar pertunangan sang CEO menyebar cepat di seluruh perusahaan.

Menjadi bahan obrolan yang tak pernah habis, seolah itu satu-satunya hal menarik di tengah kejenuhan para karyawan.

Tapi entah kenapa, setiap kali mendengarnya,

ada sesuatu yang terasa sesak… dan memuakkan di telinganya.

Senja memantul di dinding kaca, membalut ruangan dengan warna jingga yang hangat.

Aluna menatapnya dalam diam, jemarinya tanpa sadar menyentuh kalung yang melingkar di lehernya.

Hingga—

duk.

Sebuah tumpukan mie cup mendarat di atas mejanya, mematahkan lamunannya.

Matanya bergerak pelan ke arah sosok di sampingnya—

Revan.

"Daripada bengong, mending makan mie," ucap Revan dengan wajah gembira.

Selama Arka tidak ada, Revan merasa memegang kendali atas Aluna.

Tidak ada lagi yang memisahkan mereka, tidak ada lagi yang menganggu perempuan itu. Karena semua tugas Aluna akan berakhir ditangan Revan, memberinya kesempatan untuk berlama-lama bersama Aluna.

"Jangan mentang-mentang bos tidak ada, kakak seenaknya makan di jam kerja," balas Aluna.

Revan membungkuk sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan Aluna.

"Justru itu... Jangan di sia-siakan."

Ia mengedipkan matanya sebelah.

"Yasudah... Aku juga lapar."

Aluna berdiri dari duduknya, tangannya mengambil mie cup itu dari mejanya.

"Eits... Mau kemana?"

Tangannya menahan langkah Aluna.

"Mau masak mie lah."

"Udah-udah... Tuan putri duduk manis saja."

Revan meraih mie di tangan Aluna dan pergi ke dapur.

Aluna terdiam sesaat.

"Dia bisa bikin mie sendiri?" Gumamnya.

Tiba-tiba pikirannya teringat oleh sesuatu.

Ingatannya melayang pada kejadian di resort waktu itu.

Aluna menyisir rambutnya yang basah, pantulan cermin memperlihatkan bagian tubuhnya yang masih terlihat lembab karena tetesan air dari ujung rambutnya.

Sebagian air itu meresap masuk ke dalam kulitnya yang terbuka, karena ia hanya mengenakan setelan piyama satin berwarna lembut—atasan camisole bertali tipis dengan renda halus di bagian dada, dipadukan dengan celana pendek yang ringan.

"Helena.. meminjam head dryer tapi sampai sekarang belum dikembalikan." Perempuan itu mengomel sendiri.

Tok.. tok.

Terdengar suara ketukan dari arah jendela.

Aluna mengabaikan suara itu, ia kembali fokus pada dirinya di cermin.

Tok..tok.

Suara itu masih samar terdengar.

Tok.. tok.. tok.

Kini ketukan itu semakin cepat.

Brakk.

Aluna memukul meja riasnya.

"Orang-orang kenapa lebih suka mengetuk jendela daripada pintu."

Ia berdiri dari duduknya, melangkah dengan cepat ke arah jendela.

Tangannya membuka kasar jendela itu.

"Sialan... Siap.."

Kalimatnya terhenti, saat matanya menangkap sosok Arka berdiri di ambang jendela.

Arka terdiam karena sedikit terkejut dengan nada perempuan itu.

Kedua tangannya memegangi paperbag.

"Ehh.. Pak Arka," kalimatnya terbata. "Maaf.. saya kira tadi Revan."

Tangannya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.

"Apa dia sering seperti ini?" tanya Arka dengan tatapan datar.

"Tidak.. hanya pernah sekali."

Aluna mencoba mengingat-ingat.

Arka menatap Aluna dari bawah hingga ke atas.

Aluna yang baru menyadari bahwa dirinya hanya memakai pakaian yang terbuka langsung kebingungan mencari sesuatu.

"Ah.. sial. Sweater ku entah dimana."

Gumamnya kesal.

Wajahnya kembali fokus pada Arka yang masih berdiri diluar jendela.

"Bapak ada perlu apa?"

Arka menyodorkan paperbag.

Aluna mengambilnya, melihat kedalam isi paperbag itu.

Mie instan cup.

"Saya tidak lapar, Pak."

"Itu bukan untukmu."

Arka mengerutkan keningnya.

Mata Aluna melotot, ia merasa malu, berusaha memberikan senyuman manis.

"Lalu ini..."

"Itu buat saya." Arka memotong kalimat Aluna.

Aluna merasa bingung.

"Lalu kenapa diberikan pada saya?"

"Karna kamu yang akan memasak nya."

Pria itu melipat kedua tangannya.

Reflek wajah Aluna terlihat kesal.

"Memangnya Bapak tidak bisa memasak mie?"

"Kalau saya bisa, saya tidak perlu datang kesini." Kakinya melangkah melewati jendela, "dan bersusah payah melewati semak-semak hanya untuk sebuah mie instan."

Kini ia telah berdiri dihadapan Aluna.

Reflek Aluna mundur beberapa langkah.

"Sekarang siapa yang terlihat bodoh?"

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Aluna.

Kemudian ia sadar lalu cepat-cepat menutup mulutnya dengan tangan.

"Yasudah kalau begitu, saya ke dapur ambil air panas."

Ia melangkah membuka pintu, namun belum sempat keluar, ia kembali masuk.

Matanya menyapu seluruh kamar.

"Pakai ini."

Arka melepaskan jacketnya lalu memberikan pada Aluna.

Perempuan itu mengambilnya dengan wajah ragu, jacket itu membuat tubuhnya semakin terlihat kecil.

Ia menghela nafas sebelum akhirnya meninggalkan Arka di kamarnya.

Di dapur, ia melihat Revan sedang membuat kopi.

Revan kaget saat menyadari Aluna berada di sampingnya.

"Aluna, sedang apa?"

"Mau mengambil termos."

Ia meraih termos kecil yang berada di atas meja.

Revan sedikit bingung.

"Untuk apa?"

"Mau bikin mie."

Aluna melangkah pergi.

"Kenapa nggak bikin disini saja?"

Langkah Aluna terhenti, wajahnya sedikit menoleh.

"Pengen di kamar."

Revan memandangi perempuan itu pergi, matanya tertuju pada jacket yang dikenakannya.

Seperti pernah melihatnya.

Di kamar itu.

Aluna menyeduh dua mie cup.

Arka memperhatikan setiap gerakan perempuan itu. Mereka duduk di lantai saling berhadapan.

Sambil menunggu mie matang.

Hening kembali merayap diantara mereka.

Aluna membuka bungkus mie, melihat tingkat kematangan nya.

Lalu menuangkan bumbu kedalamnya.

Kemudian ia berikan kepada bosnya yang sedari tadi telah menunggu.

Asap mie instan mengebul di udara.

Arka meniupnya sebelum menyantap mie itu.

Aluna memperhatikan bosnya sambil memakan mie instan miliknya.

"Pak Arka tidak pernah makan mie instan?"

"Pernah."

Mulutnya penuh dengan suapan mie.

"Tapi kenapa tidak bisa masak mie?"

"Kenapa saya harus repot masak, kalau bisa menikmatinya di warmindo."

Ia menyeruput kuah mie di dalam cup.

Aluna menghela nafas, "pantas saja."

Kemudian melanjutkan makannya.

Setelah makan selesai.

Aluna membersihkan sisa sampah bekas mie instan di lantai kamarnya.

Ia kemudian duduk di tepi ranjang, wajahnya tertunduk.

Pintu kamar mandi terbuka dari dalam, Arka yang baru saja selesai menggunakan toilet, matanya bertemu dengan mata Aluna yang juga tengah menatapnya.

Mereka berdua saling menatap beberapa saat.

Sampai akhirnya mata Aluna menyerah kemudian tertunduk.

"Saya ingin tidur."

Katanya pelan.

"Tidur saja," jawab Arka singkat.

Reflek kepala Aluna terangkat.

"Bapak mau lewat jendela lagi atau dari pintu?" tanyanya.

Arka terkekeh kecil sebelum menjawab.

Ia melangkah mendekati jendela, alih-alih keluar justru ia malah berbelok ke arah ranjang lalu membaringkan tubuhnya disana.

Aluna sontak berdiri dari ranjang, matanya melotot menatap pria itu.

"Yang benar saja, Pak," ucapnya kesal. "Jangan bilang Bapak juga ingin tidur disini."

Kedua tangannya terangkat kesisi pinggangnya.

Arka menyilangkan kedua tangannya dengan santai.

"Memangnya kenapa?" Sudut bibirnya terangkat.

Aluna mengepalkan tangannya, matanya menatap sinis pria yang tengah berbaring santai di ranjangnya.

"Kalau begitu, saya akan berteriak ada penyusup."

Arka tertawa.

"Silahkan." tantang nya.

Aluna berpikir sesaat,

mungkin ide itu hanya akan membuatku terlihat bodoh.

Siapa yang akan memandang buruk seorang CEO, dan justru akulah yang akan dikira sebagai karyawan penggoda.

Gumamnya dalam hati.

Aluna hanya pasrah dengan situasinya saat ini.

"Terserah Bapak saja."

Kalimat itu yang akhirnya terucap.

"Tidur saja. Saya akan pergi keluar."

Aluna melangkah menuju pintu, namun langkahnya terhenti karena Arka menahan tubuhnya.

Sehingga membuatnya terhuyung kebelakang, kedua tangan Arka memeluk pinggang Aluna, menahan tubuhnya.

Aluna reflek melihat kearah cermin, ia melihat bayangan dirinya bersama seorang pria yang menempel terlalu dekat dengannya.

Dadanya berdegup kencang, nafas hangat Arka yang menyentuh lehernya membuat sekujur tubuhnya merinding.

Kedua tangan pria itu memeluk erat perutnya.

Tubuh Aluna memberontak ingin melepaskan pelukan pria itu.

"Stop Aluna."

Bentak Arka.

Aluna terdiam menatap dirinya di cermin, rasa takut tergambar di wajahnya.

"Biarkan aku seperti ini," pelukannya semakin erat. "Sebentar saja." Lanjutnya.

Dari pantulan cermin, Aluna melihat setetes air jatuh ke pundaknya.

Arka terisak pelan di pelukannya.

Malam itu, untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu membiarkan dirinya runtuh.

Angin malam berhembus dari jendela yang terbuka, menyentuh tirai yang bergerak perlahan.

Di dalam pantulan cermin, dua bayangan berdiri begitu dekat—

meskipun dunia mereka selama ini terasa begitu jauh.

***

1
Gira Hurary
sukaaaa alurnya... author ini berani beda, tetep semangat ya thor
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Gira Hurary
semangaaaat
Rini
Lanjut thor🤭
Rini
Baru diawal bagus bgt, setiap kata-katanya tersusun rapi mudah dipahami😍 semangat thor💪
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Annida Annida
lanjut tor
Dian
lumayan bagus
Lass96: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang sekali kalau ceritanya bisa kamu nikmati.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!