NovelToon NovelToon
Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Amirur Rijal

Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang Dibuka Kembali

Pagi itu, suasana kantor Hartono Group terasa lebih tegang dari biasanya.

Di layar televisi yang tergantung di ruang rapat, berita tentang penyelidikan proyek lama terus diputar berulang-ulang.

Seorang pembawa berita berkata dengan suara serius,

“Komisi Anti Korupsi telah membuka penyelidikan awal terhadap proyek energi yang dilakukan Hartono Group sepuluh tahun lalu. Dokumen baru yang muncul diduga menunjukkan adanya aliran dana tidak resmi.”

Beberapa staf saling menatap dengan cemas.

Arsen mematikan televisi dengan ekspresi kesal.

“Media selalu suka drama.”

Namun ia tahu ini bukan drama biasa.

Di ujung meja panjang ruang rapat, Rania duduk dengan tenang.

Ia membaca dokumen di depannya tanpa terlihat terganggu oleh berita itu.

Arsen akhirnya berkata,

“Penyelidikan resmi berarti Darmawan sudah menyiapkan semuanya.”

Rania menutup map perlahan.

“Tidak semuanya.”

Arsen menatapnya.

“Bagaimana kau bisa begitu yakin?”

Rania menatap jendela besar di belakangnya.

Langit pagi kota terlihat cerah.

Terlalu cerah untuk sebuah hari yang penuh masalah.

“Karena orang yang terlalu yakin dengan rencananya biasanya membuat kesalahan.”

Arsen menyilangkan tangan.

“Kau berharap Darmawan membuat kesalahan?”

Rania tersenyum tipis.

“Aku hanya menunggu.”

Namun sebelum Arsen sempat menjawab pintu ruang rapat terbuka.

Sekretaris Rania masuk dengan wajah tegang.

“Bu Rania… ada beberapa wartawan di lobby.”

Arsen langsung mendesah.

“Lagi?”

Sekretaris itu melanjutkan,

“Dan mereka tidak datang untuk wawancara biasa.”

Rania mengangkat alis.

“Maksudnya?”

Sekretaris itu menelan ludah.

“Mereka membawa rekaman lama.”

Arsen langsung menoleh.

“Rekaman apa?”

Sekretaris itu berkata pelan,

“Rekaman dari tiga tahun lalu.”

Suasana ruangan langsung berubah.

Arsen menatap Rania dengan ekspresi serius.

Ia tahu persis apa yang dimaksud.

Tiga tahun lalu.

Hari ketika Rania diusir dari keluarga Adrian.

Arsen berkata pelan,

“Ini bukan kebetulan.”

Rania berdiri dari kursinya.

“Tentu saja bukan.”

Ia mengambil tasnya.

“Darmawan ingin menyerang reputasiku dari semua sisi.”

Arsen mengerutkan kening.

“Dia bahkan menyeret masalah pribadi?”

Rania menjawab tenang,

“Karena itu yang paling mudah dijual ke media.”

Beberapa menit kemudian mereka turun ke lobby.

Seperti yang diperkirakan para wartawan sudah menunggu.

Begitu Rania muncul, kamera langsung mengarah padanya.

Seorang wartawan maju lebih dulu.

“Nona Rania, apakah Anda bersedia memberikan komentar tentang video ini?”

Ia mengangkat tablet.

Di layar terlihat rekaman lama.

Rekaman dari halaman rumah keluarga Adrian.

Dalam video itu seorang wanita terlihat berdiri di depan gerbang besar.

Wanita itu adalah Rania.

Wajahnya terlihat lebih muda.

Dan di depannya beberapa anggota keluarga Adrian sedang berbicara dengan nada keras.

Suara dalam rekaman itu cukup jelas.

Seorang wanita tua berkata dengan dingin,

“Mulai hari ini kau bukan bagian dari keluarga ini lagi.”

Beberapa wartawan langsung berbisik.

Arsen mengepalkan tangannya.

Rania menonton rekaman itu tanpa ekspresi.

Wartawan itu melanjutkan,

“Apakah benar Anda diusir dari keluarga Adrian?”

Seorang wartawan lain ikut bertanya,

“Apakah konflik pribadi ini berhubungan dengan kerja sama bisnis Anda sekarang?”

Semua mikrofon hampir menyentuh wajah Rania.

Arsen hampir maju untuk menghentikan mereka.

Namun Rania mengangkat tangannya sedikit.

Ia memberi tanda agar Arsen diam.

Lalu ia menatap para wartawan dengan tenang.

“Video itu nyata.”

Semua orang langsung terdiam.

Tidak ada yang menyangka ia akan menjawab secepat itu.

Wartawan tadi terlihat sedikit terkejut.

“Jadi Anda mengakui bahwa Anda diusir dari keluarga Adrian?”

Rania mengangguk pelan.

“Ya.”

Bisik-bisik langsung terdengar di antara para wartawan.

Namun Rania melanjutkan sebelum mereka sempat menanyakan hal lain.

“Dan saya juga ingin mengatakan sesuatu.”

Semua mikrofon kembali terangkat.

Rania berkata dengan suara yang sangat tenang.

“Tiga tahun lalu saya memang diusir.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi hari ini saya berdiri di sini sebagai CEO Hartono Group.”

Ruangan lobby menjadi sunyi.

Rania melanjutkan,

“Jadi jika Anda ingin menulis berita…”

Ia menatap mereka satu per satu.

“…pastikan Anda menulis semuanya.”

Beberapa wartawan terlihat sedikit gugup.

Namun satu orang masih mencoba menyerang.

“Apakah kerja sama Anda dengan Adrian Group adalah cara untuk membalas dendam?”

Pertanyaan itu membuat suasana semakin tegang.

Rania tersenyum tipis.

“Dalam bisnis tidak ada istilah balas dendam.”

Ia melanjutkan,

“Hanya ada keputusan.”

Namun sebelum ia pergi sebuah suara terdengar dari pintu lobby.

“Dia tidak berbohong.”

Semua orang menoleh.

Adrian baru saja masuk.

Ia berjalan mendekat tanpa ragu.

Para wartawan langsung bersemangat.

“Tuan Adrian! Apakah Anda ingin memberikan komentar?”

Adrian berdiri di samping Rania.

Lalu ia berkata dengan jelas,

“Tiga tahun lalu keluarga saya memang mengusirnya.”

Semua orang langsung terdiam.

Tak ada yang menyangka ia akan mengakuinya begitu saja.

Adrian melanjutkan,

“Dan itu adalah kesalahan terbesar yang pernah kami buat.”

Kamera langsung berkedip lebih cepat.

Rania menatap Adrian dengan ekspresi sulit dibaca.

Namun Adrian belum selesai.

Ia menatap para wartawan dengan tajam.

“Jika Anda ingin menulis berita…”

Ia berkata dingin.

“…tulis juga bagian itu.”

Beberapa detik lobby itu benar-benar sunyi.

Para wartawan saling menatap.

Tak ada yang tahu harus bertanya apa lagi.

Rania akhirnya berkata pelan pada Adrian,

“Kau tidak perlu melakukan itu.”

Adrian menjawab tanpa menoleh padanya,

“Aku hanya mengatakan kebenaran.”

Rania menatapnya beberapa detik.

Lalu ia berkata dengan nada datar,

“Sayangnya kebenaran tidak selalu memperbaiki masa lalu.”

Adrian tidak menjawab.

Rania akhirnya berjalan menuju lift.

Arsen mengikuti di belakangnya.

Namun sebelum pintu lift tertutup, Arsen sempat melirik Adrian.

Ia berkata pelan,

“Kau tahu ini belum selesai, kan?”

Adrian menjawab dengan tenang,

“Aku tahu.”

Pintu lift tertutup.

Sementara itu di luar gedung—

sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan.

Di dalam mobil itu, seorang pria tua sedang menonton siaran langsung di tablet.

Pria itu tersenyum tipis.

“Menarik.”

Pria itu adalah Darmawan.

Ia menutup tablet perlahan.

“Kalau begitu kita naikkan sedikit tekanannya.”

Ia menoleh ke pria yang duduk di depan.

“Siapkan dokumen berikutnya.”

Pria itu mengangguk.

“Baik, Pak.”

Mobil hitam itu perlahan bergerak meninggalkan tempatnya.

Tanpa disadari Rania dan Adrian, serangan berikutnya sudah mulai disiapkan.

1
Amirur Rijal
siap, makasih
Lena mula
Semangat terus nulisnya ya kak💪🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!