Dijual oleh ibu tiri ke pada seorang duda kaya berumur 40 tahun tidak serta merta membuat Citara bahagia.
Kekejaman pria beranak dua itu menjadikan Citara sebagai pelampiasan hasratnya.
Sampai sebuah fakta mengejutkan diketahui oleh Citara. Jika, pria yang dinikahinya bukan pria biasa.
Sisi gelap dari pria itu membuat Citara menjulukinya dengan sebutan Monster Salju. Pemarah, dingin, misterius dan mengerikan.
Akankah Citara mampu meluluhkah hati ayah dan anak itu? Simak kisahnya hanya di "Pelampiasan Hasrat Suami Kejam "
Author : Kacan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PHSK 17
Sinar mentari menyelimuti bumi, Citara yang kelelahan tidak kunjung membuka mata.
Wanita itu tampak betah berlama-lama di dalam mimpinya. Sementara Varen sudah terbangun dari tadi.
Pria dengan julukan Monster Salju itu memperhatikan wajah Citara dengan seksama, ia merasa tidak sabar menunjukkan tempat yang akan membuat Citara tidak berani lagi untuk mencoba kabur.
Dirinya tidak akan membiarkan Citara lepas dari genggaman tangannya.
Bermenit-menit sudah Varen menghabiskan waktunya untuk menatap wajah Citara yang terlelap.
Ketika kelopak mata Citara bergerak, Varen dengan segera memejamkan mata dan berpura-pura tidur.
Perlahan mata Citara yang mengerjab terbuka dengan sempurna. Citara menolehkan kepala ke arah samping.
Hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah si Monster Salju yang terlihat lebih baik ketika tidur.
Citara mengalihkan pandangannya, melihat wajah pria itu membuat dirinya teringat setiap hentakan kasar yang dilakukan Varen semalam.
Dalam hati Citara merutuki semua perbuatan Varen. Ia sedikit mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan kemeja hitam.
Citara menarik ke bawah kerah kemeja yang dikenakannya.
"Dia benar-benar Monster Salju kejam," batin Citara dalam hati.
Mata wanita itu menatap nanar dadanya yang terdapat bekas gigitan dan sesapan dari mulut Varen.
Napas Citara terdengar berat, hal itu dapat didengar oleh Varen yang hanya berpura-pura tidur.
Varen juga dapat merasakan ranjang yang bergoyang, pria itu tahu Citara sedang berusaha untuk turun dari ranjang yang mereka tempati. Namun, gerakan wanita itu terasa sangat hati-hati.
"Ssttss, kenapa masih terasa perih." Citara meringis menahan perih di area bawah pusarnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Varen tiba-tiba.
Suara berat Varen mengagetkan Citara sehingga tubuh yang tampak lemah itu tersentak.
"T-tuan ...." Citara tidak berani menoleh, ia menatap apa saja kecuali wajah si Monster Salju.
"Mau ke mana, ha?!" Varen merubah posisinya menjadi duduk, ditariknya lengan Citara sampai terjatuh ke atas ranjang.
Mata Citara reflek terpejam kuat, wanita itu tidak berani menatap wajah Varen yang selalu membuatnya ketakutan.
Varen yang tidak mendapat jawaban dari Citara kembali meradang, ia benci diabaikan.
"Jawab!" bentak Varen.
Tubuh Citara tersentak dan sedikit gemetaran.
"S-saya mau ke kamar mandi, Tuan," jawab Citara, seiring dengan itu matanya kian terbuka perlahan.
Setelah mendapati jawaban dari Citara, Varen memilih melepaskan lengan itu dengan kasar.
Pria itu kembali berbaring sambil menatap langit-langit kamar tanpa perduli dengan perasaan yang saat ini dirasakan oleh Citara.
Citara kembali mendudukan diri, saat kakinya hendak turun dari ranjang tercipta lah rasa perih di area sensitif yang rasa sakitnya menjalar hingga ke seluruh tubuh.
Lagi-lagi suara ringisan keluar dari mulut wanita itu.
Varen yang merasa terganggu memilih untuk bersuara.
"Berisik, cepat berbaring!" titah Varen dilengkapi dengan suara berat yang membuat bulu kuduk Citara berdiri sempurna.
Citara tidak berani menolak perintah Varen, hingga mau tak mau ia kembali berbaring.
"Tekuk kedua lututmu dan buka paha yang lebar!" Varen kembali memerintah.
Pria itu sudah berubah posisi menjadi duduk.
Citara merasa malu untuk membuka kedua pahanya, apalagi Monster Salju itu berada di di dekat kakinya.
Varen yang tidak sabaran menekuk paksa kaki wanita itu dan membukanya lebar-lebar sampai Citara yang tidak siap meringis kesakitan.
"Apa yang tuan lakukan." Suara Citara terdengar panik saat Varen berada di antara sela kakinya semakin membungkuk.
Varen tidak menjawab, matanya hanya fokus pada milik Citara yang digempurnya semalaman.
Citara berusaha merapatkan kedua pahanya yang membuat Varen merasa geram.
Tangan kokoh pria itu menahan lutut Citara agar tetap terbuka lebar, ia kembali mengecek area sensitif Citara yang terlihat merah, dan sepertinya lecet.
Satu jari Varen menyentuh titik sensitif itu, dan benar saja Citara langsung meringis.
"Sakit?" Varen bertanya. Namun, bernada seperti meledek.
Kepala Citara mengangguk, wanita itu menutup rapat mata dan mulutnya. Varen semakin mempermainkan Citara dengan menekan jari itu lebih dalam.
"Sttsss, hentikan tuan," pinta Citara.
Kedua tangan Citara mere-mas seprai dengan kuat, melampiaskan rasa perih yang mendera.
Seringai di bibir Monster Salju itu terbit bersamaan dengan matahari yang semakin naik dan menunjukkan sinar terangnya.
Varen menarik jarinya dengan perlahan, saat itu pula suara yang dinanti-nantinya terdengar mengalun seperti melodi indah.
"Kau kesakitan, tapi yang keluar dari mulutmu suara desa-han," ejek Varen yang sukses membuat wajah Citara memerah.
Citara benci dengan dirinya sendiri, ia merasakan perih. Tapi, entah kenapa yang keluar dari mulutnya adalah suara desa-han.
Pria itu semakin puas saat melihat ekspresi Citara. Sebenarnya, Varen masih ingin bermain-main dengan Citara.
Ah! Lebih tepatnya dengan milik Citara. Namun, mengingat jika hari ini ia akan membawa Citara ke suatu tempat sehingga mau tak mau ia mengundurkan keinginannya.
Varen bergeser, dan saat mendapat secercah kesempatan Citara langsung merapatkan pahanya.
Varen memilih acuh, ia berdiri dengan tubuh yang tidak tertutupi oleh sehelai kain pun.
Citara tidak berani melihat ke arah suaminya, wanita itu lebih memilih menatap langit-langit kamar daripada melihat tubuh Monster Salju yang telan-jang.
"Bawakan obat salep A ke kamar istriku sekarang juga!" titah Varen.
Ternyata pria itu menghubungi salah satu anak buahnya.
Sambil menunggu, Varen mengambil celananya yang tergeletak di atas lantai, lalu memakainya.
Tidak berapa lama anak buah Varen datang dengan membawa obat yang diperintahkan.
Varen keluar dari kamar itu dan menutup pintunya.
Anak buah berseragam hitam memberikan obat itu ke pada tuannya, Varen.
Tanpa sengaja anak buah yang sering berjaga di lorong lantai tiga itu melihat bekas cakaran di dada kekar sang tuan.
"Jaga matamu atau kucongkel mata itu!" ancam Varen sungguh-sungguh.
"Maaf, Tuan." Pria berseragam hitam itu langsung undur diri dari hadapan tuannya.
Varen kembali masuk ke dalam kamar, dilihatnya Citara masih dengan posisi yang sama.
"Buka kedua pahamu!" ucap Varen tiba-tiba sambil melangkah ke sisi ranjang.
Citara tersentak, takut mengalami pemaksaan seperti tadi membuat Citara membuka kedua pahanya sebelum Monster Salju itu yang melakukannya.
"Good." Varen tidak perlu bersusah payah lagi menahan kedua lutut Citara.
Pria itu membuka tutup salep, lalu sedikit memencet ujung kemasan salep sampai cairan kental bewarna bening keluar dari ujung salep itu.
Varen mengambil isi produk itu dengan ujung jarinya, lalu dengan perlahan mengoleskannya pada dinding aset Citara.
Kali ini Citara cukup beruntung karena Varen tidak kembali menekan jarinya. Pria itu benar-benar hanya mengobatinya.
"Selesai, hari ini kau bebas dari kungkunganku. Tapi, besok aku menginginkan ini kembali," kata Varen yang diakhiri dengan meniup kecil pusat tubuh Citara.
Citara merinding mendapat perlakukan kurang ajar dari suaminya. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana nasibnya dihari esok.
Bersambung ....