Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Dunia modern tidak lagi membutuhkan pedang untuk menghancurkan seseorang, cukup dengan beberapa klik di balik layar, dan hidup seseorang bisa runtuh dalam sekejap. Arga Mandala menyadari hal itu terlalu lambat.
Pukul 08.00 pagi, Arga sudah berada di ruangannya, memastikan presentasi untuk proyek 'Sudirman Central Integrated' telah siap. Ini adalah proyek prestisius yang akan menentukan masa depan Airborne Group di tangan investor asing.
Arga telah begadang selama tiga malam untuk menyempurnakan skema anggaran dan desain strukturalnya. Ia menyimpan file tersebut di server internal perusahaan yang hanya bisa diakses oleh level manajerial ke atas.
"Satu jam lagi," gumam Arga sambil menyesap kopi hitamnya. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan sejak kejadian parfum kemarin.
Ia membuka folder Shared Drive. Jemarinya bergerak lincah di atas mouse. Namun, saat ia mengklik folder bertanda 'FINAL PROJECT SUDIRMAN', matanya terbelalak.
Empty Folder.
Arga mengerjap. Ia menyegarkan halaman itu berkali-kali. Kosong. File presentasi setebal seratus slide, video simulasi 3D, dan tabel Excel yang rumit itu hilang tanpa bekas. Ia memeriksa Recycle Bin, namun hasilnya nihil. Ia mencoba mencari melalui fitur search, namun file itu seolah-olah menguap ke udara.
Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. "Tidak mungkin... aku baru saja memeriksanya tadi malam."
Arga segera memanggil tim IT. "Cek server utama sekarang! File proyek Sudirman hilang!"
Sepuluh menit kemudian, kepala IT datang dengan wajah pucat. "Pak Arga... file itu bukan hilang karena sistem. File itu dihapus secara permanen dari akun administrator pusat pukul tujuh pagi tadi. Dan maaf, Pak... jejak digitalnya dibersihkan secara profesional. Kami tidak bisa memulihkannya dalam waktu singkat."
Arga jatuh terduduk di kursinya. Akun administrator pusat? Hanya ada tiga orang yang memegang akses itu - Pak Roy, dirinya, dan... Siska Roy.
Arga segera berdiri dan berjalan cepat menuju ruangan Siska. Ia tidak lagi peduli pada etika. Ia mendobrak pintu ruangan itu tanpa mengetuk.
Siska sedang duduk dengan santai di kursinya, memegang tablet sambil menyesap teh hijau. Ia menoleh perlahan, tampak sama sekali tidak terkejut.
"Arga? Kau terlihat sangat berantakan di pagi yang cerah ini. Ada masalah?" tanya Siska dengan nada yang dibuat-buat khawatir.
"Kau menghapusnya, bukan?" suara Arga bergetar karena amarah yang ditahan. "Kau menghapus file presentasiku satu jam sebelum rapat besar dimulai!"
Siska meletakkan tabletnya. Ia berdiri dan berjalan mendekati Arga, matanya menatap tajam namun penuh kemenangan. "Menghapus? Itu tuduhan yang berat, Arga. Kenapa aku harus melakukan hal sekecil itu? Aku adalah Direktur Eksekutif, keberhasilan proyek ini adalah keberhasilanku juga."
"Jangan bermain-main denganku, Siska! Kau ingin aku terlihat tidak kompeten di depan Pak Roy, kan?"
"Ssshhh... kecilkan suaramu. Pak Roy ada di ruangan sebelah," Siska meletakkan jari telunjuknya di bibir Arga, gerakan yang sangat provokatif. "Jika kau tidak punya file itu, kau akan tamat. Investor dari Jepang itu tidak suka menunggu. Pak Roy akan sangat kecewa melihat 'anak emasnya' melakukan kesalahan amatir seperti menghilangkan data."
Arga mengepalkan tinjunya. "Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Pak Roy."
"Dan siapa yang akan dia percaya? Istrinya yang punya gelar dari London, atau seorang manajer yang sedang stres berat karena masalah rumah tangga?" Siska tersenyum sinis. "Tapi tenanglah, Arga. Aku bukan wanita jahat. Aku punya... solusi."
Siska kembali ke mejanya dan mengangkat sebuah flashdisk perak. "Aku punya data cadangan. Aku diam-diam menyalinnya kemarin saat aku memeriksa laporanmu. Di dalamnya bahkan ada revisi cerdas yang kubuat untuk menutupi celah di anggaranmu. Dengan file ini, kau akan terlihat seperti pahlawan."
Arga menatap flashdisk itu seolah-olah itu adalah ular berbisa. "Apa maumu?"
Siska melirik jam di dinding. "Empat puluh menit lagi rapat dimulai. Kau butuh ini, atau kau ingin dipermalukan?"
Arga tidak punya pilihan. Investor sudah dalam perjalanan. Pak Roy sudah menunggu. Harga diri perusahaan dipertaruhkan. Dengan tangan gemetar, ia menerima flashdisk itu.
"Bagus," bisik Siska. "Nanti malam, jam delapan. Restoran L'Atelier. Hanya kita berdua. Kau harus merayakan keberhasilan rapat ini bersamaku sebagai imbalan karena aku telah menyelamatkan kariermu."
"Itu pemerasan, Siska."
"Bukan, Arga. Itu disebut 'tanda terima kasih'. Sampai jumpa di ruang rapat."
Rapat berjalan dengan sangat sukses. Presentasi yang ada di dalam flashdisk Siska memang luar biasa. Siska bahkan menambahkan beberapa poin strategis yang membuat para investor Jepang itu berdecak kagum.
Pak Roy terlihat sangat bangga. Di akhir rapat, ia berdiri dan menepuk bahu Arga. "Luar biasa, Arga! Kerja kerasmu tidak sia-sia. Tapi aku harus berterima kasih juga pada istriku. Siska bilang padaku tadi pagi kalau dia membantumu menyempurnakan data teknisnya. Kalian benar-benar tim yang hebat!"
Arga hanya bisa tersenyum kaku. Ia merasa seperti pecundang yang sedang dipuji atas pekerjaan yang disabotase lalu dikembalikan dengan syarat yang menghina. Ia melirik Siska yang sedang bersalaman dengan para investor. Wanita itu memberinya kedipan mata yang membuat Arga ingin muntah.
~
Pukul enam sore, Arga pulang sebentar untuk berganti pakaian. Ia melihat Nabila sedang sibuk di depan laptopnya, kemungkinan besar sedang mengerjakan berkas persidangan.
"Mas? Kok sudah pulang? Katanya ada perayaan besar setelah rapat sukses?" tanya Nabila sambil menghampiri suaminya.
Arga menghindari tatapan mata Nabila. "Iya, sukses. Tapi... Pak Roy memintaku ikut makan malam dengan beberapa kolega penting untuk menindaklanjuti proyek tadi."
Lagi-lagi kebohongan. Arga merasa jiwanya perlahan-lahan terkikis.
Nabila terdiam sejenak. Ia teringat akan parfum kemarin, akan struk kopi, dan akan keraguan yang mulai menggunung di hatinya. "Kolega yang mana, Mas? Bukannya Pak Roy bilang dia ada janji dengan asosiasi kontraktor malam ini?"
Arga terhenti saat sedang memakai kemeja bersih. "Oh... ini tim kecil saja, Nabila. Siska... maksudku Bu Siska yang memimpin makan malamnya karena Pak Roy berhalangan."
Nabila mendekati Arga, membantunya merapikan kerah kemeja. "Siska lagi? Sepertinya Direktur baru ini sangat bergantung padamu, ya?"
"Dia hanya ingin memastikan semuanya lancar, Nabila. Ini profesional," ucap Arga pelan.
"Profesional atau obsesif?" tanya Nabila dengan nada yang sangat tenang namun menusuk. "Mas, aku ini pengacara. Aku dilatih untuk melihat kebohongan bahkan dari cara seseorang bernapas. Kau tidak sedang menatap mataku sejak tadi."
Arga memegang pundak Nabila. "Aku hanya lelah, Sayang. Tolong, percayalah padaku. Aku melakukan ini demi masa depan kita."
Nabila melepaskan tangan Arga. "Masa depan yang dibangun di atas kebohongan tidak akan pernah memiliki fondasi yang kuat, Mas. Pergilah. Aku tidak akan melarangmu. Tapi ingat, setiap kali kau berbohong, ada sesuatu yang retak di antara kita."
Arga pergi dengan perasaan yang hancur. Ia merasa seperti pengkhianat, padahal ia sedang berusaha menyelamatkan kariernya agar tetap bisa menafkahi Nabila. Ia tidak sadar bahwa Siska sedang memaksanya menghancurkan rumah tangganya dengan tangannya sendiri.
~~
Restoran itu sangat sepi dan eksklusif. Siska sudah menunggu di meja pojok yang remang-remang. Ia mengenakan gaun hitam yang sangat terbuka di bagian punggung, kontras dengan citra profesionalnya di kantor tadi pagi.
Arga duduk di hadapannya dengan wajah kaku. "Aku sudah datang. Sekarang, katakan apa maumu yang sebenarnya."
Siska memesan sebotol wine mahal tanpa bertanya pada Arga. "Jangan terlalu tegang, Arga. Kita hanya merayakan kemenangan. Kau tahu, tadi pagi saat aku melihatmu panik karena file yang hilang, aku merasa sangat... berkuasa. Aku sadar bahwa masa depanmu ada di jemariku."
"Kau gila, Siska. Kau menghancurkan integritasku."
"Integritas tidak memberimu makan, Arga," Siska menuangkan wine ke gelas Arga. "Lihat dirimu sekarang. Kau tampan, sukses, dan berada di lingkaran kekuasaan. Semua itu karena kau pernah mengenalku. Jika kau tetap bersama Nabila yang membosankan itu, kau hanya akan jadi manajer kelas menengah selamanya."
Siska mengulurkan tangannya di atas meja, mencoba menyentuh jari Arga. Arga segera menarik tangannya.
"Aku mencintai istriku." tegas Arga.
Siska tertawa mengejek. "Cinta? Cinta itu variabel yang tidak stabil. Kekuasaan dan gairah, itu yang nyata. Kau tahu, Arga... aku bisa memberimu jabatan Wakil Direktur bulan depan. Tanpa audit, tanpa syarat yang rumit. Aku hanya ingin satu hal."
"Apa?"
Siska mencondongkan tubuhnya ke depan, aroma parfumnya kembali menyerang indra penciuman Arga. "Aku ingin kau mengakuinya. Mengaku bahwa kau masih menginginkanku. Mengaku bahwa setiap kali kau mencium Nabila, kau membayangkan wajahku."
"Itu tidak akan pernah terjadi," Arga berdiri, ia tidak sanggup lagi berada di sana. "Terima kasih atas 'bantuannya' hari ini, Bu Siska. Tapi jangan pernah harap aku akan menjual jiwaku padamu."
Arga melangkah pergi, namun suara Siska menghentikannya.
"Kau boleh pergi sekarang, Arga. Tapi ingat, besok pagi aku bisa saja 'menemukan' ketidakberesan di data cadangan yang kau gunakan tadi di depan investor. Aku bisa bilang kau memanipulasi angka tanpa sepengetahuanku. Pikirkan itu saat kau tidur di samping istrimu malam ini."
Arga terus berjalan tanpa menoleh, namun ia tahu, Siska tidak sedang menggertak. Sabotase digital hari ini hanyalah permulaan. Siska baru saja menunjukkan bahwa dia bisa mengontrol narasi hidup Arga, dan Arga tidak punya cara untuk membuktikan kebenaran di dunia yang kini dipimpin oleh Siska Roy.
Malam itu, Arga pulang dengan rasa takut yang lebih besar dari sebelumnya. Ia masuk ke apartemen dan mendapati Nabila masih bangun, duduk di meja makan dengan sebuah berkas di depannya.
Bukan berkas hukum. Melainkan sebuah profil lengkap perusahaan Siska Roy di masa lalu. Nabila sedang memulai perangnya sendiri.
...----------------...
Next Episode....
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰