NovelToon NovelToon
THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Mobil yang membawa Arkan dan Gladis meluncur membelah jalanan kota pelabuhan menuju rumah sakit terbesar di sana.

Suasana di dalam kendaraan begitu sunyi, hanya ada genggaman tangan Arkan yang tak pernah lepas dari jemari Gladis, seolah ia adalah sauh yang menjaga Gladis agar tidak hanyut oleh badai pikiran.

Sesampainya di rumah sakit, proses pengambilan sampel dilakukan dengan cepat.

Gladis memberikan sampel darahnya, sementara tim medis mengambil data rekam medis mendiang Ibu Widya yang tersimpan di bank data rumah sakit tersebut untuk dibandingkan.

"Hasilnya akan keluar dalam beberapa hari, Nyonya," ucap dokter laboratorium tersebut dengan ramah.

"Sesuai permintaan Kapten Arkan, kami akan mengirimkan hasil resminya lewat email pribadi Anda segera setelah prosesnya selesai."

Gladis menganggukkan kepalanya pelan, wajahnya tampak sedikit pucat namun ia berusaha tegar.

"Terima kasih, Dokter."

Setelah urusan medis selesai, mereka melangkah keluar dari rumah sakit.

Angin laut mulai terasa bertiup kencang, menandakan waktu sandar kapal hampir habis. Mereka segera kembali ke dermaga, di mana Ocean Empress sudah menunggu dengan megahnya.

Begitu mereka menapakkan kaki kembali di atas dek, Arkan menarik Gladis ke dalam pelukannya.

Di bawah langit yang mulai menggelap, kapal pesiar itu mulai melepaskan tambatannya. Suara klakson kapal bergema panjang, menggetarkan permukaan air, menandakan dimulainya kembali perjalanan panjang mereka keliling dunia.

"Jangan dipikirkan lagi untuk saat ini, Sayang," bisik Arkan sambil menatap dermaga yang perlahan menjauh.

"Kita punya waktu delapan bulan di atas samudra. Biarkan laut menenangkan hatimu sampai email itu tiba."

Gladis menyandarkan kepalanya di bahu tegap suaminya, menatap buih-buih ombak yang dihasilkan oleh mesin kapal.

"Aku hanya takut, Arkan. Tapi selama aku bersamamu, aku rasa aku akan baik-baik saja."

Kapal terus melaju, meninggalkan daratan dan segala luka yang terjadi di sana.

Mereka kembali ke kabin, bersiap menghadapi malam pertama dari sisa perjalanan panjang mereka, sambil menunggu sebuah email yang akan menentukan siapa sebenarnya Gladis.

Langkah kaki Arkan terhenti tepat di depan pintu kabin yang tertutup rapat.

Biasanya, Gladis akan menyambutnya dengan senyum tipis atau setidaknya lampu meja yang menyala hangat. Namun malam ini, kegelapan total menyelimuti ruangan, hanya menyisakan suara deburan ombak yang menerpa dinding kapal.

"Sayang? Kenapa tidak menghidupkan lampu?" tanya Arkan lembut sambil meraba dinding untuk mencari sakelar.

Begitu lampu menyala, Arkan terkesiap. Gladis meringkuk di balik selimut tebal, tubuhnya menggigil hebat hingga ranjang mereka bergetar pelan.

Wajahnya yang biasanya cerah kini tampak pucat pasi, namun kedua pipinya merah merona karena panas yang membakar.

Arkan segera mendekat dan meletakkan punggung tangannya di kening Gladis.

"Astaga, panas sekali! Tubuhmu seperti terbakar!"

Gladis hanya mengerang pelan, matanya terpejam rapat.

Saat Arkan mencoba membenarkan posisi selimutnya, ia tidak sengaja menyentuh tangan kanan Gladis.

Gladis memekik kesakitan dalam tidurnya, membuat Arkan tersentak.

Arkan menarik perlahan lengan baju Gladis dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak.

Luka bekas cakaran dan lecet akibat memanjat pohon kelapa di pulau yang sempat dibersihkan seadanya kini tampak membengkak hebat.

Garis-garis merah mulai menjalar ke arah lengannya, dan luka itu mengeluarkan aroma yang tidak sedap serta cairan bening.

"Infeksi..." desis Arkan dengan rasa bersalah yang menghantam dadanya.

"Bodohnya aku, seharusnya aku lebih memperhatikan lukamu, bukan malah membawamu ke kantor polisi."

Arkan segera menekan tombol darurat di dinding kabin.

"Dokter Sarah! Segera ke kabin Kapten! Nyonya Gladis mengalami syok karena infeksi luka, suhunya sangat tinggi!"

Sambil menunggu tim medis, Arkan mengambil handuk kecil yang dibasahi air hangat.

Ia duduk di tepi tempat tidur, memangku kepala Gladis yang terasa sangat panas.

"Tahan sebentar, Sayang. Dokter akan segera datang," bisik Arkan parau.

Ia mencium jemari Gladis yang sehat, sementara hatinya terasa perih melihat istrinya menderita.

"Maafkan aku, aku lalai menjagamu."

Gladis sedikit membuka matanya yang sayu, menatap Arkan dengan pandangan yang kabur karena demam.

"Arkan... dingin... tubuhku sangat dingin..." rintihnya lirih.

Arkan memeluk tubuh istrinya lebih erat, mencoba membagikan kehangatan tubuhnya sendiri.

"Aku di sini, aku tidak akan pergi ke mana pun."

Pintu ruang medis akhirnya terbuka perlahan. Dokter Sarah keluar dengan wajah lelah, melepaskan masker bedahnya yang menyisakan bekas kemerahan di wajah.

Arkan langsung tersentak berdiri, mengabaikan rasa nyeri yang menusuk di kakinya.

"Bagaimana? Bagaimana keadaan istriku, Sarah?" suara Arkan serak, dipenuhi kecemasan yang mendalam.

Dokter Sarah menghela napas panjang, lalu memberikan senyum tipis yang sedikit melegakan.

"Krisisnya sudah lewat, Arkan. Beruntung kita segera membawanya ke sini. Infeksinya memang hampir menyentuh tulang, tapi kami sudah membersihkan semua jaringan nekrotik dan memberikan dosis antibiotik yang kuat. Demamnya mulai turun."

Arkan mengembuskan napas panjang, seolah seluruh beban dunia baru saja terangkat dari bahunya.

"Boleh aku masuk?"

"Boleh, tapi dia masih sangat lemah. Dia butuh istirahat total. Dan satu lagi..." Sarah terdiam sejenak,

"Dalam racauannya saat demam tadi, dia terus menyebutkan soal 'email' dan 'Mama'. Sepertinya ada beban pikiran yang sangat berat yang sedang ia tanggung. Itu tidak baik untuk pemulihannya."

Arkan mengangguk pelan. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang didominasi warna putih itu.

Gladis terbaring di sana, tangan kanannya dibalut perban putih tebal dan tangan kirinya terhubung dengan selang infus.

Wajahnya masih pucat, namun napasnya sudah jauh lebih teratur.

Arkan duduk di kursi samping tempat tidur, menggenggam tangan Gladis yang bebas dari infus. Ia mencium punggung tangan itu lama sekali.

"Maafkan aku, sayang. Aku terlalu fokus pada musuh-musuh kita sampai lupa bahwa pahlawanku ini juga manusia yang bisa terluka," bisik Arkan pelan.

Tiba-tiba, ponsel Gladis yang diletakkan di atas nakas oleh kru medis tadi bergetar pelan. Sebuah notifikasi muncul di layar yang masih menyala.

[NOTIFICATION: New Email from 'BioGen Lab Center' - Subject: DNA Analysis Result - Confidential]

Jantung Arkan berdegup kencang. Hasil yang ditunggu-tunggu Gladis telah tiba di saat istrinya sedang tidak berdaya.

Arkan menatap layar ponsel itu, lalu beralih menatap wajah Gladis yang masih terlelap.

Mata Gladis berkedip pelan, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang terang di ruang kesehatan.

Bau karbol yang khas dan suara detak mesin monitor jantung perlahan memenuhi indranya.

Saat kesadarannya pulih sepenuhnya, hal pertama yang ia rasakan adalah berat yang hangat di tangan kirinya.

Ia menoleh lemah dan mendapati Arkan duduk di samping ranjangnya.

Suaminya itu masih mengenakan seragam kapten yang kini tampak sedikit kusut, wajahnya terlihat sangat lelah dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menandakan ia tidak tidur semalaman.

"Arkan..." bisik Gladis lirih. Suaranya serak dan tenggorokannya terasa kering.

Arkan langsung tegak dari posisinya, matanya berbinar melihat sang istri akhirnya siuman.

"Sayang? Syukurlah, kamu sudah sadar. Jangan banyak bergerak dulu."

Gladis melirik tangan kanannya yang terasa berat dan tebal.

Ia melihat perban putih membungkus lengannya hingga ke telapak tangan.

"Tanganku, apa yang terjadi?"

"Infeksi, Gladis. Kamu demam sangat tinggi semalam. Dokter Sarah harus melakukan tindakan untuk membersihkan lukamu," Arkan menjelaskan sambil mengusap rambut Gladis dengan lembut.

"Maafkan aku, ini semua salahku karena kurang memperhatikanmu."

Gladis menggeleng pelan, mencoba tersenyum meskipun bibirnya pecah-pecah.

"Bukan salahmu, aku saja yang terlalu keras kepala."

Tiba-tiba, ingatan tentang kejadian di kantor polisi dan ucapan Paman Dayu kembali menghantamnya seperti ombak besar.

Raut wajah Gladis berubah menjadi tegang. Ia teringat alasan mengapa ia sampai jatuh sakit: beban pikiran tentang identitasnya.

"Arkan, ponselku..." kata Gladis tiba-tiba, suaranya sedikit lebih kuat karena cemas.

"Apakah sudah ada kabar dari laboratorium? Dokter bilang hasilnya akan dikirim lewat email."

Arkan terdiam sejenak. Ia melirik ponsel Gladis yang ada di meja nakas.

Ia tahu email itu sudah masuk, tapi ia ragu apakah ini saat yang tepat untuk memberitahukannya, mengingat kondisi fisik Gladis yang masih sangat lemah.

"Emailnya sudah masuk, Sayang," jawab Arkan jujur, suaranya rendah.

"Tapi Dokter Sarah bilang kamu harus istirahat. Kamu baru saja melewati masa kritis."

"Tolong, Arkan. Aku tidak bisa istirahat kalau tidak tahu kebenarannya," pinta Gladis dengan mata berkaca-kaca.

"Buka emailnya. Aku ingin tahu siapa aku sebenarnya."

Arkan menatap mata istrinya yang penuh permohonan.

Ia menghela napas panjang, lalu meraih ponsel tersebut.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka aplikasi email dan menekan pesan dari BioGen Lab Center.

Arkan tertegun menatap layar ponsel itu. Matanya menyisir setiap baris kalimat medis yang rumit hingga tertuju pada baris paling bawah yang berisi kesimpulan akhir. Di sana tertulis dengan sangat jelas:

"Probabilitas hubungan darah (Ibu dan Anak): 99,99% — Terkonfirmasi."

Napas Arkan yang sedari tadi tertahan kini terhembus lega.

Ia memejamkan mata sejenak, mengucap syukur dalam hati karena kebenaran berpihak pada istrinya.

Kebohongan keji yang diucapkan Dayu hanyalah racun terakhir yang ingin ia suntikkan ke hidup Gladis.

"Arkan, bagaimana?" suara Gladis terdengar bergetar, memecah keheningan.

"Apa katanya? Apa aku benar-benar bukan bagian dari keluarga Mama?"

Arkan meletakkan ponsel itu kembali ke nakas, lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah Gladis.

Ia menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kepastian yang ia miliki.

"Dayu adalah pembohong besar, Gladis," ucap Arkan dengan senyum paling tulus yang pernah ia tunjukkan.

"Hasilnya membuktikan bahwa kamu adalah anak kandung Mama Widya. Darah yang mengalir di tubuhmu adalah darahnya. Kamu bukan anak angkat, kamu adalah ahli waris sah yang dicintai Mama kamu sampai akhir hayatnya."

Gladis terdiam. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya, namun kali ini bukan air mata kepedihan, melainkan air mata kelegaan yang luar biasa.

Beban berat yang seolah menghimpit dadanya sejak dari kantor polisi kini menguap tak berbekas.

"Aku anak kandung Mama?" isak Gladis.

"Iya, Sayang. Jangan pernah ragukan itu lagi," Arkan mengusap air mata Gladis dengan ibu jarinya.

"Dayu hanya ingin membuatmu merasa tidak berhak atas segalanya agar dia bisa mencurinya. Tapi kebenaran tidak bisa dibeli."

Gladis memejamkan matanya, membayangkan wajah mendiang ibunya.

Ia merasa seolah Mama Widya sedang memeluknya dari kejauhan, membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Terima kasih, Arkan. Terima kasih karena sudah membantuku mencari kebenaran ini," bisik Gladis di tengah isaknya.

"Sekarang tugasmu hanya satu," Arkan mengecup kening Gladis lama sekali.

"Sembuhlah. Delapan bulan perjalanan kita masih panjang, dan aku butuh istriku yang jago naik pohon kelapa ini kembali berdiri di sampingku di anjungan."

Gladis tertawa kecil di tengah tangisnya. Keadaan di dalam ruang kesehatan yang tadinya dingin dan tegang kini berubah menjadi sangat hangat dan penuh harapan.

Perawat itu tersenyum ramah dan meletakkan nampan berisi bubur hangat, buah-buahan, dan segelas susu di atas meja nakas. Namun, Gladis menatap makanan itu dengan raut wajah yang manja sekaligus sedih.

"Aku tidak bisa makan, tanganku diperban," rengek Gladis sambil menunjukkan tangan kanannya yang terbungkus perban tebal seperti bantal.

Ia menatap Arkan dengan mata yang dikedip-kedipkan, sengaja mencari perhatian suaminya.

Arkan yang melihat tingkah laku istrinya hanya bisa terkekeh pelan.

Ia tahu Gladis sedang ingin dimanja setelah melewati masa-masa yang sangat berat.

Arkan pun mengambil alih nampan tersebut dari tangan perawat.

"Terima kasih, Suster. Biar saya saja yang mengurus istri saya," ucap Arkan dengan sopan.

Setelah perawat itu keluar, Arkan menarik kursinya lebih dekat ke ranjang Gladis.

Ia mengaduk bubur itu perlahan agar uap panasnya berkurang, lalu meniupnya dengan penuh kesabaran.

"Buka mulutnya, Sayang," perintah Arkan sambil menyodorkan sendok ke depan bibir Gladis.

Gladis tersenyum penuh kemenangan dan menerima suapan itu dengan lahap.

"Enak, tapi akan lebih enak kalau setelah ini aku dapat es krim."

Arkan menjewer pelan telinga Gladis yang tidak sakit.

"Tadi baru saja menangis karena takut jadi anak pungut, sekarang sudah minta es krim. Ingat, kamu masih demam. Habiskan dulu bubur ini, baru kita bicara soal es krim."

"Tapi suamiku yang tampan ini akan mengabulkannya, kan?" goda Gladis sambil memberikan senyum manisnya yang paling maut.

Arkan menggeleng-gelengkan kepala, namun hatinya merasa sangat lega melihat keceriaan Gladis kembali.

"Iya, iya. Nanti aku minta Gerald mencarikan es krim di dapur utama. Sekarang, fokus habiskan makananmu agar tenagamu cepat pulih."

Di dalam ruang medis yang tenang itu, Arkan dengan telaten menyuapi Gladis sesendok demi sesendok, memastikan wanita yang sangat dicintainya itu mendapatkan kembali kekuatannya untuk melanjutkan perjalanan panjang mereka.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Gladys 😄 cocok jadi pasangan hidup Arkan
Ita Putri
seruuuu
lanjut💪💪
Ariany Sudjana
bagus Gladys kamu harus tegas, jangan biarkan pelakor murahan seperti Angela merusak rumah tangga kamu dengan Arkan
Ariany Sudjana
sedih lihat perjuangan Gladys sampai segitunya demi menyelamatkan suami tercinta
Ariany Sudjana
ini kenap sih ada pelakor datang? Gladys yang berjuang menyelamatkan Arkan di pulau, malah dipeluk pelakor, dan orang tua Arkan juga diam, jangan-jangan Arkan sudah dijodohkan dengan perempuan ga jelas itu
Ariany Sudjana
Suka dengan karakter Gladys, tidak peduli dengan semua halangan, dia hadapi demi menyelamatkan suami tercinta, walaupun awalnya mereka berdua menikah karena terpaksa
Ariany Sudjana
Alex harus dihukum berat, jangan biarkan dia lolos
Ariany Sudjana
semoga Arkan dan Gladys lekas ditemukan dengan kondisi selamat dan sehat. semangat juang Gladys luar biasa, tidak ada sosok manja, semua dilakukan demi keselamatan suami tercinta
Ariany Sudjana
semoga Arkan bisa diselamatkan dan bisa sadar kembali dan kembali sehat, jangan tinggalkan Gladys
Ariany Sudjana
bagus Arkan, jangan biarkan Gladys hancur karena omongan julid dari orang yang ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Ariany Sudjana
tetap waspada yah Arkan dan Gladys, jangan biarkan Alex atau siapapun menghancurkan rumah tangga kamu kalian
Ita Putri
sweet banget gk sih mereka berdua 🥰
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Gladys sudah tahu kejadian sebenarnya, dan jangan pernah meragukan suami kamu untuk melindungi kamu Gladys
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
Gladys kamu jangan bodoh, jangan mudah emosi, Arkan itu kapten kapal, dan dia harus menjaga wibawanya di depan seluruh penumpang. dan lagi, jangan karena kamu istrinya, Arkan harus percaya begitu saja, tidak seperti itu. bukti paling kuat CCTV, dan jika bukti itu keluar, nama kamu bisa dibersihkan. ingat Gladys, Alex dan antek-anteknya ada di sekeliling kamu, segala cara akan dilakukan untuk menjatuhkan kamu dan Arkan
Ariany Sudjana
bukannya seram Gladys, tapi itu cara Arkan untuk melindungi kamu selaku istrinya
Ita Putri
alur cerita seru gk bertele tele
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ita Putri
semangatnya outhor 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!