Seorang gadis yang terjebak cinta satu malam bersama seorang pria asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Di mobil Ronald memilih duduk di tengah-tengah antara Mommy-nya dan Braylee Daddy kandungnya yang ia juluki 'Om'
Menatap jengkel pada Braylee yang sengaja menaikkan tangannya di kursi tempat Ronald duduk.
"Sempit Om" alasan Ronald.
"Kau duduk saja di depan sebelah kemudi Xan, jika di sini sempit," jawab Braylee santai.
Ada apa dengan tuan, kenapa dia bertingkah aneh. Batin Xan melihat sekilas pada kaca di depannya melihat tuannya di kursi penumpang. Ia heran dengan tingkah Braylee yang bertindak sedikit kekanakan.
"Om saja ke depan, kenapa harus aku" jawab Ronald masih jengkel.
"Ku rasa kau harus mengubah panggilan mu pada ku." ujar Braylee menarik-narik rambut putranya. Riana hanya diam melihat Braylee yang terus mencari gara-gara pada Roland.
"Apa sih Om, jangan di tarik-tarik rambut ku, sakit" alasan Roland lagi, padahal Braylee menarik rambutnya sangat lembut dan mustahil menyakitinya.
"Om maunya di panggil apa?" Tambah Roland.
"Daddy, kau memanggil Mommy mu dengan panggilan Mommy, jadi kau bisa memanggilku Daddy," santainya.
Sejak kapan tuan bisa berbicara santai. Asisten Xan tidak henti-hentinya heran dengan tingkah Braylee melihat sikapnya yang tidak pernah ia lihat selama menjadi bawahannya.
"Tidak! itu hanya panggilan untuk Daddy ku" tolak Roland.
Aku lah Daddy mu bocah. Braylee.
"Bukannya sekarang aku Daddy mu?" memeluk bahu putranya.
Roland tertegun, ia merasa kehangatan dalam pelukan sang Daddy, merasa jika ia benar-benar berada dalam pelukan Ayahnya, terasa sangat nyaman.
Melihat Roland hanya diam, Braylee mencium pucuk kepala putranya dengan lembut. Riana yang melihat perlakuan lembut Braylee pada putranya tanpa sadar mengukir senyuman tipis.
Meski pria ini sangat dingin dan terkadang menyebalkan, tapi dia sangat lembut dan sepertinya dia bisa menerima kehadiran putra ku, tampak seperti sangat tulus. Batin Riana.
Tidak tau saja dia jika Braylee menerima Ronald dengan lapang dada itu karena Roland adalah putra kandungnya.
Karena terlalu nyaman dalam pelukan Daddy-nya. Roland
akhirnya tertidur. Melihat putranya tertidur, Braylee mencari posisi nyaman untuk putranya dan menyandarkan di dada bidangnya kemudian menahan tubuhnya dengan cara memeluk Roland.
Seperti anak dan ayah. Wajah mereka juga sangat mirip. Pikir Riana menatap suami dan putranya.
"Kemarin kan, biar aku saja" merasa tidak enak pada Braylee.
"Di sini saja, nanti dia bisa terbangun jika di gerakkan"
Kembali menarik tangannya. "Terima kasih"
"Hm" tidak perlu berterima kasih, Roland adalah putraku, seharusnya aku yang berterima kasih karena kau mau melahirkan putraku dan merawatnya dengan baik. Tambah Braylee membatin menatap Riana.
Beberapa minit berlalu mereka sudah masuk di gerbang besar Mension Braylee.
Tampak sebuah Mension yang berdiri kokoh bak istana sangat besar dari segala penjuru.
Apa ini rumah pria ini?. Batin Riana. Ia belum tau jika yang menikahinya itu adalah pria yang di kenal dengan sebutan tuan X.
Asisten Xan menghentikan mobil yang ia kendarai tepat di depan pintu utama Mension tersebut.
Riana ingin membangunkan putranya. "Kau mau apa?" tanya Braylee.
"Aku ingin membangunkan Ronald"
"Tidak usah, biarkan dia tidur" Braylee melarang Riana membangunkan putranya.
Asisten Xan membuka pintu untuk Tuannya. Braylee keluar mobil dengan hati-hati sambil menggendong tubuh Roland.
Kenapa pria ini bertingkah baik sekali, di awal pertemuan kami dia sangat jauh berbeda dengan sikapnya saat ini. Batin Riana.
"Silakan nona" Asisten Xan membuyar lamunan Riana.
"Ah maaf" keluar dari mobil, ia bahkan tidak sadar jika Asisten Xan membuka pintu untuknya.