Angel mencintai Malvin dengan sepenuh hati. Sampai dia menghabiskan waktunya hanya untuk mendapatkan perhatian Malvin. Dia bahkan memaksa orang tuanya untuk menjodohkan mereka. Pernikahan yang dia impikan bisa berakhir bahagia nyatanya berakhir tragis.
Dia terbunuh di tangan Malvin dan sepupunya sendiri. Arwah nya keluar dari tubuh nya. Rahasia - rahasia yang tidak di ketahui perlahan terungkap. Bahkan dia melihat seseorang yang mencintainya dengan tulus padahal dulu dia menghina pria itu demi seorang Malvin.
---------
"Maafkan aku yang tidak bisa melindungi mu! Aku bersumpah jika aku akan membalas mereka semua. " --- Langit Al Ghassal.
"Jika aku di berikan kesempatan kedua, aku berjanji akan mencintaimu." --- Angelina Chloe Dominic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana ( Malvin)
"Aku kasih waktu kalian Satu Bulan untuk melunasi semua hutang kalian.. Jika dalam waktu yang di tentukan kalian tidak bisa membayar nya maka aku, keponakan kalian terpaksa akan mengambil semua aset yang kalian miliki.. Ya, walaupun aset - aset itu tidak seberapa tapi jika di jual mungkin bisa menutupi seperempat dari hutang - hutang kalian.. Sisanya, kalian pikir sendiri!"
Kata - kata itu seperti bom waktu yang sudah lama terpendam namun menyulut ke atas dengan kondisi aktif. Brian dan Yunita sampai terpaku mendengar sebuah kata yang tidak pernah mereka harapkan akan keluar dari mulut keponakan mereka. Nafas mereka terasa berat dengan dada yang naik turun bukan hanya karena emosi yang tertahan tapi juga karena keterkejutan dan situasi yang sulit di pahami.
Angel.. Keponakan yang mereka pikir akan selalu berada di bawa kekuasaan mereka, menghasut dan menyingkirkan keluarganya sendiri dari hidup nya. Dengan susah payah semua kata yang terucap membentuk sebuah hasutan tertanam di otak keponakan mereka. Namun semua itu bagaikan butiran debu yang tidak berguna. Kepercayaan diri mereka lenyap hanya dalam hitungan detik. Tatapan mata, balasan kata yang dingin dan ketegasan yang terucap membuat Brian dan Yunita membeku di tempat.
Sekarang yang ada hanyalah sebuah kecemasan semata. Bagaimana jika peringatan itu bukanlah permainan hanya sebuah bom kecil yang menunggu waktu untuk meledak, menghilangkan dan menghancurkan segalanya.
PYAAARRRRRRRR
Saking emosinya, lagi - lagi vas bunga yang tidak bersalah menjadi korban. Mereka baru saja sampai ke dalam rumah mereka dengan percikan api yang di tanam Angel. Kepercayaan diri yang tadinya mereka bawah sebelum pergi ke kediaman Dominic kembali pulang dengan rasa frustasi yang meningkat.
"ANAK SIALAN.. 1 TRILIUN! DIA PIKIR DIA SIAPA?" Teriak Brian di sertai dengan rasa emosi yang sudah mencapai gunung.
"Dania benar, Angel sudah berubah dan bahkan dia menuntut semua uang yang kita ambil.. Arrggggg, kok tiba - tiba bisa begitu sih, seharusnya anak sialan itu jadi pion bukan nya malah Queen catur nya, "
Tak lama kemudian, Dania yang baru pulang sekolah berhenti menatap kekacauan sekitar. Tidak separah sebelum nya tapi cukup membuat Dania menghela nafas karena lagi - lagi barang yang tidak bersalah menjadi target kemarahan orang tuanya.
"Sekarang apa lagi?" Dania berjalan mendekat cukup untuk membuat mata kedua orang tuanya berpindah padanya. " Apa lagi masalah nya sampe kalian marah - marah nggak jelas begini, "
"Angel tuh, " Yunita berkata dengan menggebu - gebu. "Masa dia bilang kita punya hutang pinjaman sebesar 1 Triliunan, "
"Dan bahkan, " Brian menambahkan. "Dia memberikan kita waktu satu bulan untuk membayar, jika tidak maka dia akan mengambil semua aset yang kita punya termasuk perusahaan." Mata Dania tentu saja membelalak dengan rasa terkejut yang tidak bisa di sembunyikan.
"Kita datang kesana itu niatnya minta uang 100 Milyar buat bayar ganti rugi terkait proyek yang gagal.. Tapi pulang - pulang kita malah bawa hutang 1 Triliun, " Lanjut Yunita, dadanya naik turun.
Dania memijit pelipisnya dan melirik kedua orang tuanya bergantian. "Kan aku udah bilang, Angel itu udah berubah.. Dia bukan seorang pion yang lemah lagi, bahkan mungkin dia lebih kuat dari yang kita bayangkan."
"Terus gimana dong, " Brian mengacak rambutnya dengan frustasi. "Kalo dalam waktu Satu Minggu uang nya nggak ada, Papa bisa di tuntut. "
"Begini saja, " Yunita menemukan sebuah ide. "Bagaimana kalo kamu minta uang saja sama sih Malvin itu.. Dia kan cinta mati sama kamu, " Dania kembali melotot mendengar saran Ibunya.
"Ma, jangan bercanda deh. Ya kali aku minta sama Malvin. Apa lagi uang 100 Milyar bukan uang receh, "
"Papa setuju sama usul Mama kamu, lagian keluarga Shiva itu keluarga terkaya nomor dua setelah Dominic. Uang 100 Milyar mah bukan apa - apa di hadapan mereka.. Dari pada Papa di penjara, kamu pilih yang mana?" Yunita mengangguk setuju dengan Suaminya. Dania hanya mendesah frustasi. Tapi tatapan kedua orang tuanya justru memberikan tekanan batin untuk nya.
"Nanti aku coba ngomong sama Malvin,"
00000000000000000
Mobil Sport Toyota pergi meninggalkan Mansion keluar Shiva. Malvin menyetir mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Jakarta malam yang sangat padat oleh kendaraan yang berlalu lalang. Dalam keheningan hanya suara mesin mobil yang saling bersahutan di tengah jalan. Hujan yang sejak tadi siang turun mulai mereda bergantian dengan awan malam yang sedikit menampilkan hiasan langit di udara.
Setelah 30 menit mobil memasuki kawasan perhutanan yang cukup sepi dan mungkin hanya beberapa pengendara yang melewati jalan itu sebagai jalan pintas. Mobil berhenti di pinggir jalan setelah terparkir sempurna. Malvin turun dengan celana jeans model robek dengan kaos polos coklat di padukan sebuah jaket kulit berwarna hitam, kaca mata gelap setia terpasang pada puncak hidung nya.
Dengan santai dia berjalan memasuki Hutan yang lebat, sebagai ciri khas dari Hutan. Hanya ada pepohonan yang menjulang ke atas dan beberapa yang tidak terlalu tinggi. Suara lolongan Srigala menggema di setiap sudut Hutan tapi seperti suara melodi nyanyian membuat Malvin bersiul - siul menikmati setiap alunan.
Sampai kakinya berhenti di depan sebuah bangunan tua. Matanya menatap sekilas bangunan itu sampai kakinya yang berhenti kembali melangkah. Dua orang yang menjaga di pintu masuk memberi hormat pada Malvin, mengizinkan Malvin untuk masuk.
Di dalam beberapa pria berpakaian kaos ketat berwarna hitam menyambut kedatangan nya. Di antara mereka seorang pria berkebangsaan Italia dengan kulit hitam dan kepala botak mengkilap tersenyum tipis melihat kedatangan Malvin. Dia adalah Luca, pimpinan dari Klen Mafia BLACK SERPENT. Malvin duduk berhadapan dengan Luca.
"Kimberly, " Malvin membuka suara. "Dia tewas, " Katanya singkat tapi mampu membuat semua orang membeku.
Luca mengambil segelas wiski yang ada di depan nya meneguk sambil melirik Malvin. Tangan nya terulur menaruh gelas itu dan pandangan nya tak pernah lepas dari Malvin. "Cie `e stato?"
"Hanya seorang gadis lemah yang buta karena cinta.. Dia tidak akan menjadi masalah, " Jawab Malvin dengan yakin. "Tapi aku harus mengubah rencanaku, " Malvin mengeluarkan sebuah kertas dari dalam jaket nya. Itu adalah peta.
"Berikan beberapa orang kepercayaan mu.. Tidak banyak hanya mungkin orang yang sudah terlatih.. Tiga hari lagi pria itu akan pergi dalam perjalanan bisnis keluar kota.. Tapi aku ingin mendengar berita kematian nya. Dia akan di kawal dengan beberapa bodyguard. Tapi itu tidak cukup untuk melindungi nya karena kepergian nya bukanlah sebuah perjalanan bisnis melainkan menjemput kematian nya sendiri.. Bukankah begitu, Luca?"
Luca tersenyum sinis. "Aku penasaran, kenapa kamu sangat membenci keluargamu sendiri bahkan sampai berniat membunuh mereka?"
Malvin berdiri, gelas anggur berada di tangan nya. Dia membelakangi Luca seperti sedang berpikir. "Mereka bukan keluargaku, " Jawab nya mantap. "Tapi jika mereka tau bahwa yang selama ini mereka jaga bukanlah anak mereka, aku tidak akan mendapatkan apa - apa.. Kematian mereka adalah jalan terbaik agar aku bisa menguasai semua nya."
"Tapi keluarga Shiva, bukan keluarga terkaya nomor satu, "
Dengan percaya diri Malvin menjawab tegas. "Itu tidak masalah.. Lagi pula putri keluarga Dominic sudah buta oleh pesona ku, setelah merampas kekayaan keluarga Shiva, aku juga akan menguasai kekayaan keluarga Dominic, "
Seorang anak buah yang baru masuk membisikkan sesuatu yang membuat gerakan tangan Luca terhenti. Kemudian Luca melirik tajam Malvin. "Apa orang yang membunuh Kimberly memiliki hubungan dengan keluarga Dominic?"
Malvin kembali duduk dengan santai, wajah nya tanpa ekspresi seolah itu bukan masalah besar."Seperti yang ku bilang, dia bukan ancaman."Tangan Luca mencengkram gelas hingga pecah, serpihan kaca tertancap di telapak tangan nya. Tapi tidak ada rasa sakit meskipun hanya sedikit karena darah adalah bagian hidup dari seorang Mafia.
Luca mencondongkan tubuh nya ke depan, menatap dalam mata Malvin. "Gadis yang kamu bilang bukan ancaman telah membunuh Kimberly, salah satu pasukan yang sudah elit dan terlatih.. Hanya ada satu jawaban nya, gadis itu bukan gadis yang bisa di remehkan. "
Malvin tetap tersenyum, dia mengabaikan perasaan gelisah nya dan menganggap bahwa itu hanyalah kebetulan. "Aku sudah mengenal nya lama dan dia hanyalah gadis manja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."
"Ada satu hal yang perlu kamu ketahui Malvin.. Jangan pernah meremehkan seseorang yang terlihat lemah. Karena mungkin dia menyimpan pisau di balik sikap nya. "
"Baiklah, baiklah!" Malvin akhirnya mengalah. "Gadis itu biar menjadi urusan ku, yang perlu kamu tangani sekarang adalah kematian pria itu." Luca menghela nafas tapi akhirnya dia menganggu.
Tanpa di sadari siapapun sesuatu telah merekam sebuah rencana yang Malvin kira tersusun rapih. Rencananya yang dia pikir akan menjadi langkah awal menuju kekuasaan tidak lebih dari rencana sampah bagi seseorang yang sedang menonton jauh disana. Seorang wanita yang duduk di depan laptop pintar nya hanya tersenyum penuh arti.
•
•
•
BERSAMBUNG