Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.
Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.
Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TES KESEHATAN DAN PSIKOLOGIS
Hari tes tiba dengan cuaca yang cerah dan sedikit berangin. Evan tiba di Rumah Sakit Militer Cirebon sejak pukul 06.00 pagi, bersama dengan puluhan calon prajurit lainnya yang juga akan menjalani serangkaian tes seleksi. Ia mengenakan baju olahraga yang nyaman, membawa tas kecil berisi dokumen penting, air minum, dan beberapa camilan ringan yang telah disiapkan ibunya.
Setelah melakukan pendaftaran dan mendapatkan nomor antrian, Evan bersama dengan calon prajurit lainnya diarahkan ke ruangan tunggu. Suasana di sana terasa cukup tegang – sebagian besar peserta tampak gugup, sementara yang lain mencoba tetap tenang dengan membaca brosur atau berbicara dengan teman sebaya.
TES KESEHATAN AWAL
Pada pukul 07.00, tes dimulai dengan pemeriksaan kesehatan awal oleh petugas medis militer. Setiap peserta harus melalui pengukuran tinggi badan, berat badan, tekanan darah, dan denyut jantung.
"Tekanan darah normal, denyut jantung stabil," ujar Petugas Sersan Anita setelah memeriksa Evan. "Tinggi dan berat badan juga sesuai dengan standar yang ditetapkan. Bagus, kamu bisa melanjutkan ke tahap berikutnya."
Selanjutnya adalah pemeriksaan mata, telinga, hidung, dan tenggorokan. Evan melewati tes ini dengan baik – penglihatannya normal tanpa buta warna, pendengarannya juga dalam kondisi prima.
TES KESEHATAN RINCI
Setelah tes awal selesai, Evan diarahkan ke ruangan pemeriksaan lebih rinci. Tahap ini meliputi pemeriksaan kulit, sistem tulang dan otot, serta tes laboratorium untuk memeriksa darah dan urine.
Saat diperiksa oleh Dokter Kapten Rizky, Evan menjelaskan tentang latar belakangnya dalam ilmu beladiri dan pengobatan tradisional. Dokter Rizky tampak tertarik dan bertanya beberapa pertanyaan tentang teknik yang dia pelajari.
"Kondisi fisikmu terlihat sangat baik," ujar Dokter Rizky setelah menyelesaikan pemeriksaan. "Otot dan tulangmu dalam kondisi prima, kemungkinan karena kamu sering berlatih beladiri dan beraktivitas fisik secara teratur. Ini akan menjadi keuntungan besar untukmu nantinya."
Untuk tes laboratorium, Evan harus memberikan sampel darah dan urine. Meskipun tidak suka menusuk jarum, ia tetap menjalankannya dengan tabah. Petugas medis menjelaskan bahwa tes ini bertujuan untuk memastikan tidak ada penyakit menular, gangguan darah, atau penggunaan zat terlarang.
TES PSIKOLOGIS
Setelah menyelesaikan semua tes kesehatan fisik, Evan memasuki tahap tes psikologis yang akan menentukan kelayakan mental dan emosionalnya untuk menjadi prajurit. Tahap ini terdiri dari tes tertulis dan wawancara langsung dengan psikolog militer.
Tes tertulisnya cukup panjang, terdiri dari berbagai jenis pertanyaan mulai dari masalah pribadi, pilihan dalam situasi tertentu, hingga tes kepribadian standar. Evan menjawab setiap pertanyaan dengan jujur dan tenang, berdasarkan nilai-nilai yang diajarkan oleh keluarga dan Kakek Darmo.
Setelah selesai dengan tes tertulis, ia diarahkan ke ruangan untuk wawancara dengan Psikolog Mayor Indah. Wanita berambut hitam ini memiliki tatapan yang tajam namun ramah, membuat Evan merasa lebih tenang.
"Sudah siapkah kamu untuk wawancara?" tanya Psikolog Indah dengan senyum ramah.
"Siap, Bu," jawab Evan dengan sopan.
Wawancara dimulai dengan pertanyaan tentang latar belakang keluarga, pendidikan, dan alasan Evan ingin menjadi tentara. Evan menjelaskan dengan jelas tentang warisan Kakek Darmo, impiannya untuk menggabungkan ilmu tradisional dan modern, serta harapannya untuk bisa membantu lebih banyak orang melalui layanan militer.
Psikolog Indah mengangguk dengan penuh perhatian sambil mencatat beberapa poin penting. Kemudian ia mulai mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam tentang bagaimana Evan akan menghadapi situasi sulit dan menantang.
"Jika kamu harus berada jauh dari keluarga dan teman dalam waktu yang lama, bagaimana cara kamu mengatasinya?" tanya nya.
"Saya akan mengingat tujuan saya untuk menjadi tentara, Bu," jawab Evan dengan tegas. "Meskipun saya pasti akan merindukan mereka, saya tahu bahwa saya sedang melakukan hal yang benar dan bermanfaat bagi banyak orang. Selain itu, saya bisa tetap berkomunikasi dengan mereka melalui surat atau telepon ketika memungkinkan."
Lain kali ia ditanya, "Bagaimana jika kamu harus mengikuti perintah yang kamu rasa kurang tepat, namun harus dilakukan untuk kepentingan keseluruhan?"
"Saya akan mencoba memahami alasan di balik perintah tersebut terlebih dahulu, Bu," jawab Evan dengan bijak. "Jika setelah itu saya masih merasa ada kekhawatiran, saya akan mengajukan pertanyaan atau masukan dengan cara yang sopan dan sesuai prosedur. Saya percaya bahwa setiap keputusan memiliki alasan, dan komunikasi yang baik sangat penting dalam bekerja sama sebagai satu tim."
Psikolog Indah tersenyum puas mendengar jawaban Evan. "Kamu memiliki pola pikir yang matang dan stabil, Evan. Nilai-nilai yang kamu anut akan membantu kamu menghadapi berbagai tantangan di lingkungan militer."
Sebelum wawancara selesai, Psikolog Indah memberikan beberapa nasihat penting. "Menjadi tentara bukan hanya tentang kekuatan fisik, namun juga kekuatan mental dan emosional. Kamu harus bisa menjaga keseimbangan antara tugas yang diberikan dan kesejahteraan dirimu sendiri. Jangan pernah ragu untuk mencari bantuan jika merasa kesulitan."
PENGUMUMAN HASIL
Setelah semua tes selesai sekitar pukul 15.00, seluruh peserta berkumpul di aula untuk mendengarkan pengumuman hasil tes kesehatan dan psikologis sementara. Kapten Supriyadi, yang memimpin proses seleksi, berdiri di depan dengan daftar nama peserta yang lolos.
"Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa sebagian besar peserta telah melewati tes ini dengan baik," ujar Kapten Supriyadi dengan suara yang jelas. "Namun perlu saya ingatkan bahwa ini hanya tahap awal – masih ada tes fisik dan tes akademik yang harus kamu lalui."
Ia mulai membaca nama-nama peserta yang lolos. Ketika nama "Evan Saputra" disebutkan, Evan merasa lega dan bahagia. Ia melihat ke arah pintu dan menemukan bahwa ibunya telah datang untuk menemani dan mendukungnya.
Setelah pengumuman selesai, Kapten Supriyadi memberikan informasi tentang jadwal tes selanjutnya – tes fisik akan diadakan seminggu kemudian di Lapangan Latihan Militer Cirebon, sedangkan tes akademik akan diadakan dua hari setelahnya.
"Persiapkan diri dengan baik untuk tahap berikutnya," pesan Kapten Supriyadi. "Latih kondisi fisikmu dan pelajari materi tes akademik dengan sungguh-sungguh. Kita menantikan kontribusi kalian sebagai bagian dari keluarga besar Angkatan Darat Indonesia."
Pada perjalanan pulang bersama ibunya, Evan merasa sangat bersyukur dan bersemangat. Ibunya memeluknya dengan bangga dan mengatakan bahwa ayahnya sudah menunggu di rumah dengan makanan spesial untuk merayakan keberhasilan Evan dalam melewati tes ini.
"Makannya kamu sudah bisa melewati tes dengan baik, dek," ujar ibu dengan suara penuh cinta. "Kita akan lebih giat lagi berolahraga dan belajar untuk tes selanjutnya. Ayah dan saya akan selalu ada untukmu."
Malam itu, Evan menghubungi Rina dan teman-temannya untuk memberitahu kabar baik tersebut. Mereka semua merasa senang dan menawarkan bantuan untuk mempersiapkan tes selanjutnya. Rina bahkan menawarkan untuk membuat jadwal belajar bersama dan membantu Evan mempelajari materi tes akademik.
Sebelum tidur, Evan melihat ke arah dua kalung di lehernya – satu dari Kakek Darmo dan satu dari kakek buyutnya. Ia merasakan kekuatan dan dukungan dari kedua leluhurnya, seolah mereka sedang membimbingnya melalui setiap langkah yang ia ambil.
"Saya akan terus bekerja keras, Kakek," bisik Evan dengan penuh tekad. "Saya tidak akan mengecewakan kalian atau keluarga saya. Saya akan menjadi prajurit yang bisa kalian banggakan."