Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Foto Lawas
Lampu minyak tanah di sudut ruang kerja itu berkedip-kedip gelisah, mengirimkan bayangan panjang yang menari di dinding bata merah Desa Sunyi. Arkananta duduk tegak di balik meja kayu tua yang permukaannya sudah kasar dimakan usia. Di depannya, foto kusam yang ia selamatkan dari reruntuhan vas kristal beracun tadi siang tergeletak seperti sebuah vonis. Bau debu kertas tua yang kering menyengat indra penciumannya, memicu rasa besi di lidah—sisa dari beban resonansi saat ia menyerap sesak napas Nayara sebelumnya.
"Arkan, aromanya... residu kertas ini memicu nyeri tajam di ulu hati saya," bisik Nayara yang duduk di seberangnya, tangannya menggenggam sapu tangan kusam dengan sangat erat hingga buku jarinya memutih.
"Jangan memaksakan penelusuran memori jika sistem sarafmu menolaknya, Nayara. Namun, artefak ini bukan sekadar memorabilia usang," Arkan menggeser foto itu mendekat ke cahaya lampu. "Perhatikan struktur gerbang kayu di latar belakang bayi ini. Ini adalah arsitektur yang identik dengan Panti Cahaya Sauh sebelum insiden pembakaran satu dekade silam."
Nayara mencondongkan tubuhnya, matanya yang abu-abu mulai berpendar redup—tanda bahwa kemampuan batinnya sedang berusaha menembus tabir kebohongan yang menyelimuti benda itu. "Saya mengenali setiap tekstur serat kayu itu. Namun, label 'Property of Empire Business' di baliknya adalah sebuah anomali. Mengapa panti asuhan marjinal dikategorikan sebagai aset korporasi keluarga Anda?"
"Itulah variabel yang sedang saya dekripsi," Arkan meraih sebuah map tua dari laci rahasia meja tersebut, arsip yang ia bawa diam-diam saat meninggalkan High Tower. "Pendiri Empire Group tidak pernah menyia-nyiakan tinta untuk sesuatu yang tidak bernilai komersial. Jika mereka melabelimu sebagai 'Unit Nol', artinya valuasimu melampaui seluruh aset fisik di Astinapura."
"Investasi?" Nayara tertawa getir, suaranya terdengar seperti kaca yang retak. "Mereka membuang eksistensi saya ke tanah Terra seperti limbah, dan sekarang mereka mencoba mengklaim saya sebagai aset? Martabat saya tidak memiliki label harga, Arkan."
Arkan terdiam, merasakan denyut jantung Nayara yang kian cepat melalui Shared Scar—sebuah debaran palpasi yang membuatnya sendiri merasa sedikit sesak. "Aku memahaminya. Justru karena itulah Nyonya Besar mengirimkan foto ini melalui medium racun tadi pagi. Dia sedang melakukan perang psikologis agar kau merasa hanya sebagai objek dalam inventaris mereka."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah teras, disusul oleh ketukan keras di pintu kayu yang sudah reyot. Bayu muncul dengan wajah tegang, membawa tablet militer yang layarnya menunjukkan aktivitas frekuensi radio yang tidak stabil.
"Tuan, terdeteksi infiltrasi tingkat tinggi pada enkripsi satelit. Ada upaya penghapusan metadata digital dari draf foto yang saya pindai sore tadi," lapor Bayu dengan suara rendah namun penuh tekanan.
"Sudah diprediksi. Mereka mencoba melakukan pembersihan jejak setelah memberikan peringatan fisik," Arkan berdiri, matanya menyipit tajam. "Bayu, terminasi seluruh transmisi. Aktivasi protokol buta. Jangan biarkan ada kebocoran sinyal dari koordinat ini hingga fajar."
"Instruksi diterima, Tuan. Namun ada variabel lain. Seorang penduduk desa berada di gerbang. Dia mengklaim anaknya memerlukan bantuan medis darurat," Bayu melirik ke arah luar yang gelap gulita.
Nayara segera berdiri, mengabaikan rasa lemas di kakinya yang masih tersisa dari serangan alergi bunga lilin. "Arkan, kita tidak boleh membiarkan nyawa anak kecil menjadi korban dari ketakutan sistemik kita. Saya harus memeriksanya."
"Tahan posisimu, Nayara. Di zona konflik ini, kebetulan adalah bentuk kecerobohan," Arkan menahan lengan Nayara. "Desa Sunyi adalah medan terbuka di mana High Council bisa menyisipkan agen mana pun."
"Namun, jika ini adalah warga yang benar-benar membutuhkan pertolongan, bukankah menutup pintu berarti kita kehilangan integritas sebagai manusia sejati?" tanya Nayara, menatap Arkan dengan keberanian yang tenang.
Arkan menghela napas, rahangnya mengeras. "Bayu, lakukan sterilisasi pada tasnya. Batasi aksesnya hanya sampai area teras. Nayara, kau boleh melakukan penanganan medis, namun jangan lepaskan tasbihmu. Jika resonansinya berubah menjadi negatif, segera menjauh."
Nayara mengangguk dan berjalan menuju pintu depan, sementara Arkan kembali menatap foto lawas itu. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Tekstur kertas foto itu di bagian sudutnya terasa memiliki densitas yang berbeda. Dengan sangat hati-hati, ia menggunakan pisau bedah kecil untuk menyayat lapisan kertas tersebut.
"Analisis apa yang Anda temukan, Arkan?" tanya Bayu yang kembali setelah memastikan warga di depan pagar sedang diperiksa.
"Ada lapisan mikro-film atau enkripsi fisik yang disisipkan di antara serat kertas," bisik Arkan. Saat lapisan itu terbuka, terlihat sebuah angka dan koordinat yang ditulis dengan tinta yang hanya bisa dilihat di bawah sinar ultraviolet. "Ini adalah koordinat brankas privat milik kakek saya di High Tower."
Di luar, suara Nayara terdengar lembut saat berbicara dengan warga yang datang. Namun, tiba-tiba resonansi di dada Arkan berubah. Ada rasa dingin yang menusuk secara mendadak, sebuah sinyal pengkhianatan yang sangat dikenalinya.
"Nayara, menjauh!" Arkan berteriak sambil berlari menuju pintu depan.
Di teras, Nayara sedang memberikan sebotol obat pada pria yang mengaku warga desa itu. Namun, pria itu bukannya menerima bantuan, justru melakukan upaya paksa untuk merampas amplop cokelat yang terselip di pinggang Nayara—amplop yang dikiranya berisi foto asli.
"Serahkan dokumen itu, Gadis Panti! Kau tidak memiliki hak legal atas kepemilikan keluarga kami!" teriak pria itu, vokalnya kini berubah menjadi intonasi agen lapangan yang terlatih.
Bayu dengan sigap melepaskan tendangan yang menjatuhkan pria itu ke tanah merah. Namun, pria itu justru tertawa dingin sambil meraba kerah bajunya. "Kalkulasi kalian terlambat. Nyonya Besar sudah memproses data yang kalian temukan. Besok, Kireina akan tiba, dan pendekatannya tidak akan selembut bunga lilin semalam."
Arkan menarik Nayara ke belakang tubuhnya, menjadikannya perisai hidup. "Identifikasi operator yang mengirimmu! Atau aku akan memastikan sistem sarafmu hancur sebelum tulangmu patah!"
Pria itu tidak memberikan respons verbal. Ia justru melakukan tindakan bunuh diri taktis dengan menggigit kapsul sianida di giginya. Dalam hitungan detik, tubuhnya mengejang dan ia tewas di hadapan mereka dengan mata melotot ke arah Nayara.
"Arkan... dia mengakhiri hidupnya hanya demi sebuah dokumentasi?" bisik Nayara, tubuhnya bergetar hebat. Ia meraba butiran tasbihnya, mencoba menstabilkan traumanya.
"Bukan demi foto, Nayara. Tapi demi mengubur fakta bahwa kau adalah ahli waris tunggal yang mereka eliminasi dari sistem," Arkan menatap mayat itu dengan dingin, lalu menatap langit malam yang mendung. "Besok, status rumah ini sebagai pengasingan berakhir. Badai dari High Tower sedang menuju koordinat kita."
Bau amis darah dan sisa kimia sianida yang menguap dari tubuh pria itu segera terbawa angin malam, namun ketegangan di teras rumah bata merah itu tidak lantas meluruh. Arkananta berdiri kaku, matanya menatap tajam ke arah kegelapan hutan jati di depan mereka, sementara tangannya masih menggenggam erat lengan Nayara. Ia bisa merasakan denyut nadi istrinya yang tidak beraturan melalui kulit yang bersentuhan—sebuah getaran ketakutan yang murni namun berusaha ditekan dengan martabat yang luar biasa.
"Bayu, eliminasi jejaknya. Kubur di area yang tidak terdeteksi oleh radar atau unit pelacak High Council," perintah Arkan, suaranya terdengar seperti gesekan logam yang dingin.
"Instruksi dipahami, Tuan. Saya akan membersihkan perimeter segera," jawab Bayu sambil menyeret tubuh tak bernyawa itu dengan cekatan menuju kegelapan.
Nayara mundur selangkah, napasnya masih manual dan berat. Ia menyentuh tasbih kayunya, meraba retakan yang terasa semakin tajam di jemarinya. "Setiap kali kita menyentuh kebenaran, nyawa selalu menjadi komoditas pertukarannya. Apakah ini metode mereka menjaga sejarah, Arkan? Dengan tumpahan darah?"
"Bagi mereka, darah adalah tinta kekuasaan, Nayara. Tapi bagiku, ini adalah indikator bahwa mereka sedang berada dalam kondisi terdesak," Arkan memutar tubuhnya, menatap Nayara dengan intensitas yang meluluhkan. "Kembalilah ke dalam. Atmosfer malam ini sudah terkontaminasi oleh energi yang berbahaya."
Mereka kembali ke dalam ruang kerja yang remang-remang. Arkan mengambil kembali foto lawas yang sudah terkelupas sudutnya. Di bawah lampu minyak yang semakin meredup, ia memperlihatkan koordinat tersembunyi yang baru saja ia temukan di balik lapisan kertas foto tersebut kepada Nayara.
"Perhatikan ini. Kakek saya tidak sekadar menyimpan visual masal lalumu. Dia menyembunyikan protokol lokasi dokumen otentik kelahiranmu. High Tower berupaya mendestruksi foto ini karena ini adalah kunci enkripsi untuk mengakses brankas rahasia Empire Group," Arkan menunjuk deretan angka ultraviolet yang tampak pucat.
Nayara mengusap matanya yang mulai terasa panas, efek dari penggunaan Truth Eye yang terlalu intens. "Jika benar saya adalah pewaris sah, mengapa mereka tidak melakukan terminasi sejak bayi? Mengapa membiarkan saya eksis di panti asuhan yang marjinal?"
"Karena kau adalah asuransi biologis mereka, Nayara. Sistem Empire Group memerlukan otorisasi darah murni untuk mengaktifkan aset-aset tertentu. Kau tidak dibuang untuk dilupakan, melainkan disimpan sebagai 'kunci hidup' yang akan mereka gunakan saat dibutuhkan," Arkan menjelaskan dengan nada yang penuh dengan kebencian terhadap sistem keluarganya sendiri.
"Jadi, eksistensi saya hanya dianggap sebagai kunci? Bukan manusia?" Nayara menatap Arkan, mencari kejujuran di mata abu-abu suaminya.
Arkan meraih tangan Nayara, menempelkan telapak tangan istrinya ke dadanya sendiri. "Bagiku, kau adalah alasan mengapa aku menolak menjadi monster seperti mereka. Mereka boleh melabelimu 'Unit Nol', tapi di rumah ini, kau adalah satu-satunya alasan mengapa frekuensi jantungku tetap terjaga."
Tiba-tiba, suara gesekan kertas terdengar dari arah ventilasi atas. Arkan dengan sigap menarik laci meja dan mengambil sebuah belati kecil yang disembunyikan di sana. Namun, saat ia mendongak, ia hanya melihat seekor tikus kecil yang berlari di antara tumpukan berkas lama. Ketegangan itu nyata; setiap bunyi kecil kini terasa seperti ancaman terminasi.
"Kita harus segera melakukan digitalisasi data ini secara luring sebelum peretas lain menembus pertahanan kita," ucap Arkan sambil menyalakan perangkat enkripsi miliknya.
"Arkan, agen tadi menyebut nama Kireina. Dia memprediksi kedatangannya besok," suara Nayara merendah, ada nada dilema di dalamnya. "Apakah strateginya akan berhubungan dengan artefak ini?"
"Kireina adalah instrumen ibu saya yang paling destruktif. Dia dikirim bukan untuk bernegosiasi, melainkan untuk meruntuhkan martabatmu agar kau menyerah secara sukarela kepada High Tower," Arkan menutup brankas kecilnya dan menguncinya dengan kode biometrik. "Dia akan menyerang kastamu, mengeksploitasi masa lalumu, dan membuatmu merasa tidak memiliki hak untuk berdiri di sisiku."
Nayara berdiri tegak, membiarkan sapu tangan kusamnya jatuh ke atas meja. "Jika tujuannya adalah menghina asal-usul saya, maka dia akan menghadapi kegagalan. Tanah Terra ini telah mengajari saya bahwa harga diri tidak ditentukan oleh tekstur sutra, melainkan oleh kekuatan integritas yang kita pegang."
"Itu adalah jawaban yang tepat, Istriku," Arkan tersenyum tipis, sebuah kebanggaan yang jarang ia tunjukkan. "Besok, kita akan mengaktifkan protokol pertahanan yang berbeda. Tidak akan ada akses bagi mereka tanpa izin mutlak dariku."
Malam semakin larut di Desa Sunyi. Arkan duduk kembali di kursinya, sementara Nayara menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Mereka berdua menatap foto lawas itu untuk terakhir kalinya sebelum Arkan menyembunyikannya di balik dinding rahasia. Di tengah kesunyian, hanya terdengar suara detak jam tangan perak Arkan yang kini berdetak sinkron dengan napas tenang Nayara.
Rahasia besar tentang Heir telah terkuak Sebagian, namun mereka tahu bahwa ini hanyalah awal dari labirin panjang yang akan membawa mereka kembali ke pusat kekuasaan yang kejam di Astinapura. Foto lawas itu kini bukan lagi sekadar memori, melainkan hulu ledak yang siap diledakkan.