NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 — SKOR TANPA ATURAN

Ritz-Carlton Jakarta — 07:30 WIB

Kilatan kamera menghantam wajah Livia Liang tanpa jeda, seperti shuttlecock yang dilepaskan dengan kecepatan 400 km/jam.

Ia duduk tegak di balik meja konferensi pers, bahu lurus, dagu sedikit terangkat, postur yang sama seperti saat berdiri di podium juara.

Bedanya, di sini tidak ada net, tidak ada raket, dan tidak ada garis batas yang jelas. Yang ada hanya mikrofon, asumsi, dan ratusan mata yang sudah memutuskan vonis sebelum pertanyaan diajukan.

“Livia, emas ini pembuktian apa buat kamu secara pribadi?”

Pertanyaan pertama terdengar netral. Tapi Livia sudah terlatih membaca subteks.

“Ini hasil kerja keras tim,” jawabnya tenang, suara terukur seperti saat ia menghitung langkah kaki sebelum smash. “Saya hanya menjalankan peran saya sebagai atlet.”

“Sebagai atlet perempuan,” sahut wartawan lain cepat, matanya berbinar seperti menemukan celah, “apakah tekanan itu lebih berat? Apalagi dengan... isu pribadi yang beredar?”

Livia menahan napas sesaat. Ia tersenyum tipis—senyum yang sudah ia latih ribuan kali di depan cermin. “Tekanan itu sama untuk semua atlet yang ingin menang.”

Di sebelah kirinya, Rangga duduk tenang. Jaket timnasnya rapi tanpa satu lipatan pun, rambutnya tersisir presisi. Ia tidak banyak bicara, tidak banyak bergerak dan justru karena itu, kehadirannya terasa solid.

Ia menangkap bagaimana kamera sering berpindah dari wajahnya ke wajah Rangga, lalu kembali padanya.

Seolah cerita hari ini tidak lengkap tanpa dia. Netizen sudah mulai membuat narasi sendiri di media sosial: #LiviaRangga, #PasanganIdealTimnas, bahkan meme yang menyandingkan foto mereka berdua di podium.

Semua karena satu hal.

02:30 WIB.

Ruangan seketika berubah. Bisik-bisik menjalar cepat, seperti api kecil yang menemukan bensin. Udara yang tadinya dingin dari AC mendadak terasa pengap.

“Livia, bisa dijelaskan foto ini?”

“Benar itu apartemen Mateo de Vries?”

“Sebagai figur publik, apakah ini pantas?”

Kata itu menusuk seperti drop shot tajam yang mendarat tepat di garis. Rahang Livia mengeras. Ia merasakan darah mengalir lebih cepat ke wajahnya, tapi ia tetap diam, membiarkan keheningan bekerja untuknya.

“Saya atlet,” jawabnya akhirnya, suaranya tetap terjaga, dingin seperti es. “Bukan tersangka.”

Beberapa orang tertawa kecil dan mencatat dengan cepat di ponsel mereka.

“Mateo de Vries dikabarkan mundur dari turnamen beberapa waktu lalu,” lanjut seorang reporter wanita dengan nada manis beracun. “Apakah keputusan itu terkait hubungan pribadi kalian?”

Livia merasakan sesuatu jatuh di perutnya. Ia muak dengan cara dunia ini selalu ingin mengorek-ngorek bagian paling privat dari hidupnya, seolah medali emasnya tidak cukup.

Ia belum sempat menjawab ketika Rangga condong ke mikrofon dengan gerakan halus, seolah semua ini sudah ia prediksi.

“Kita perlu hati-hati membingkai berita,” katanya tenang, suara dalamnya mengalir seperti air sungai yang tenang tapi kuat. “Prestasi Livia tidak boleh dikaburkan oleh asumsi. Dia juara dunia. Itu fakta yang tak terbantahkan.”

Nada Rangga datar, nyaris akademis. Tidak defensif. Tidak emosional. Ballroom perlahan tenang, seperti anak kecil yang baru saja ditegur oleh guru favoritnya.

Livia meliriknya lagi. Ia sadar sesuatu yang mengganggu: kalimat Rangga lebih didengar daripada klarifikasinya sendiri. Wartawan mengangguk, beberapa bahkan tersenyum kecil. Seolah pria di sampingnya baru saja menyelamatkan hari.

Saat sesi foto dimulai, Rangga berdiri sedikit lebih dekat dari yang diperlukan. Bahunya hampir menyentuh bahu Livia. Kamera langsung menyukai itu. Klik-klik semakin cepat, seperti burung-burung yang menemukan makanan.

“Hati-hati,” bisik Rangga singkat, nyaris tanpa gerak bibir, saat lampu blitz menyilaukan. “Narasinya sedang dibentuk. Biarkan mereka melihat apa yang mereka mau lihat.”

Livia tidak menjawab, tapi ia merasakan panas dari tubuh Rangga yang begitu dekat. Aroma kayu cedar samar-samar tercium, campur dengan wangi sabun mahal.

Kantor Pusat PBSI — 11:15 WIB

Ruang rapat terasa lebih dingin dari biasanya. AC diset maksimal, tapi keringat dingin tetap mengalir di punggung Livia.

“Media sudah memilih cerita,” kata Pak Darmawan sambil menautkan jari di atas meja jati mengkilap. Matanya tajam, seperti pelatih yang sedang menilai kesalahan teknik fatal. “Sekarang tinggal apakah kita mengoreksinya, atau membiarkannya menghancurkan kamu—dan kami semua.”

“Mengoreksinya dengan apa?” tanya Livia dingin, suaranya lebih tajam dari yang ia rencanakan.

“Dengan stabilitas,” jawab Pak Darmawan tanpa ragu. “Dengan figur yang publik percaya.”

Pandangan pria itu beralih ke Rangga, yang duduk diam di seberang meja dengan ekspresi tak terbaca.

“Kamu perempuan, Livia,” lanjut Pak Darmawan tanpa basa-basi. “Dan kamu Chindo. Publik selalu curiga kalau kamu terlalu mandiri. Mereka ingin melihat kamu ‘aman’. Dijaga.”

Livia terkekeh pendek, tapi tawanya pahit. “Jadi solusinya, saya harus punya laki-laki? Seolah emas saya kurang berharga tanpa cap ‘milik seseorang’?”

“Bukan sembarang laki-laki,” sahut Pak Darmawan, suaranya tegas. “Rangga.”

Livia menoleh tajam ke arah pria di sebelahnya. Rangga tetap diam, tapi ada kilat sesuatu di matanya, sesuatu yang sulit dibaca.

“Saya juara dunia tanpa dia,” kata Livia, suaranya meninggi sedikit.

“Benar,” balas Pak Darmawan. “Tapi publik tidak merayakan perempuan yang berdiri sendirian. Mereka ingin tahu siapa yang ‘menjaga’ kamu. Siapa yang membuatmu... pantas.”

Ruang rapat sunyi. Hanya suara AC yang berdengung pelan.

“Saya tidak setuju,” kata Rangga tiba-tiba, suaranya rendah tapi jelas.

Livia menoleh cepat, terkejut. Untuk sesaat, ia merasa ada harapan.

“Tapi,” lanjut Rangga dengan nada yang sama tenangnya, “kalau ini satu-satunya cara agar Livia dinilai ‘pantas’ oleh publik, saya bersedia.”

Harapan itu langsung runtuh. Livia menatapnya lama. “Dinilai pantas oleh siapa sebenarnya?”

“Media,” jawab Rangga pelan. “Sponsor. Dan... keluarga.”

Ponsel Livia bergetar di atas meja. Layar menyala: Mama.

Ia mengangkat dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Livia!” suara ibunya nyaring, langsung menyerang tanpa salam. “Kamu tahu nggak sekarang orang ngomong apa? Tante Mei kirim semua link! Mereka bilang kamu liar, nggak tahu diri, perempuan nggak dijaga! Keluar apartemen laki-laki jam dua pagi!”

“Ma—”

“Mami nggak peduli emas kamu berapa banyak! Yang orang lihat itu perilaku kamu! Untung masih ada Rangga. Anak baik. Keluarganya jelas. Dari dulu Mami bilang, kamu harus dekat sama dia.”

Klik. Telepon ditutup sepihak.

Livia menurunkan ponsel perlahan. Dadanya terasa kosong, seperti setelah kalah di tie-break panjang.

“Gala Dinner besok malam,” kata Pak Darmawan, suaranya kembali datar. “Kalian datang bersama. Foto resmi. Tidak ada celah untuk interpretasi lain.”

Rangga berdiri, mendekat ke Livia dengan langkah tenang. Saat ruangan mulai kosong, ia berhenti di samping kursinya.

“Ini bukan soal cinta,” katanya pelan, suaranya hanya untuk telinga Livia. “Ini soal membuat ceritanya masuk akal bagi mereka.”

Tangannya menyentuh bahu Livia singkat—sentuhan yang ringan, tapi meninggalkan panas aneh di kulitnya. Kamera tidak ada di sini, tapi efeknya tetap nyata.

Saat Rangga pergi, Livia membuka ponselnya lagi.

Satu notifikasi masuk.

Pesan dari Mateo: Kamu tahu mereka nggak akan pernah percaya kamu bisa sendirian. Dari dulu juga begitu, kan?

Di bawahnya, berita baru muncul dengan headline tebal: ATLET PUTRI CHINDO TERSANDUNG SKANDAL, PBSI SIAP AMANKAN CITRA DENGAN ‘PASANGAN IDEAL’

Livia menatap layar itu lama, jari-jarinya dingin.

Ia juara dunia. Tapi di negara ini, itu belum cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!