Kisah seorang wanita bernama Kiko, karena trauma masa lalu nya membuat Ia jijik jika di sentuh oleh seorang pria.
Lebih parahnya akan membuat Ia panik, gemetar bahkan Pingsan.
apalagi Pria itu Tampan.
kemudian Ia bertemu dengan seorang Pria Tampan dan anehnya Ia bisa bersentuhan langsung dengannya, Karena hal itu lah yang membuat Kesalah Pahaman ini Terjadi.
Kiko tidak tahu bahwa Pria tersebut adalah Pria mapan, tampan dan berhati dingin. banyak di Gilai oleh banyak kaum hawa.
Pria tersebut tak lain bernama Dion, pengusaha muda sukses yang memiliki kuasa serta segalanya.
ikutilah Kisah mereka, jangan di lewatkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Pengangguran
Kiko sudah menunggu dengan gugup ketika namanya akan di panggil,
hingga kemudian namanya benar benar di panggil bersamaan dengan pria yang tadi tak sengaja Ia temui.
Kiko berada di urutan akhir dari ke empat orang tersebut.
kebetulan juga yang mengetes wawancara salah satunya adalah sekretaris Dion sendiri, Gogo.
di dalam ruangan langsung mengetes empat orang sekaligus dan langsung memutuskan siapa yang lolos atau tidak dalam tahap ini.
mereka diberikan beberapa pertanyaan lalu menjawab satu persatu bergantian.
"Bisakah Anda menceritakan perihal diri Anda dan kenapa kami harus memperkerjakan Anda?" tanya salah satu pewawancara
dan mereka menjawab beragam untuk meyakinkan perusahaan tentang kemampuan mereka masing masing, tapi..
ketika Kiko hendak menjawab, Gogo langsung menyanggah.
"perke.."
"bagus Nona Kiko, skill Anda memang terbaik", Gogo tepuk tangan
semua menatap bingung pada suasana yang tak seharusnya.
"Bisa beritahukan kami kelebihan apa yang kalian miliki? tanya lagi pewawancara
jawaban pun mulai beragam lagi, tapi saat Kiko
"sa.."
"bagus bagus, Anda memang bisa diandalkan" Gogo lagi lagi menyanggah dan tepuk tangan dengan senyuman lebar
kali ini orang orang menatap Aneh.
"Apakah Anda pernah terlibat konflik di perusahaan lama dan bagaimana cara Anda menyikapinya?" tanya pewawancara
dan kali ini Gogo tak menunggu lama dan langsung mengambil berkas Kiko yang Ia berikan sebelum memasuki ruangan.
"Nona Kiko, Anda lolos dan langsung bisa mulai bekerja besok pagi. mari silahkan keluar!" Gogo menuntun Kiko yang merasa kebingungan untuk melangkah meninggalkan ruangan, "untuk yang lain, teruskan tes wawancara lanjutan!"
****
Kiko yang sudah diluar ruangan masih tampak syok tak percaya.
"a..apa saya diterima?" tanya Kiko gugup
"tentu, Anda bisa mulai bekerja besok!"
"tapi saya kan belum menjawab apapun?"
"ah, itu karena saya mempunyai keahlian khusus yang bisa melihat kemampuan tersembunyi seseorang" Gogo meyakinkan
"wah, benarkah? saya memang mempunyai kemampuan khusus dan bisa diandalkan" ucap Kiko percaya diri
ya, kemampuan untuk menaklukan hati pemilik perusahaan ha ha
Gogo terkekeh sendiri, hingga mau tak mau Kiko ikut terkekeh mengikutinya dengan terpaksa.
"ha ha ha"
****
Disisi lain Dion menelfon Gogo untuk menyakan perihal tes wawancara Kiko.
"bagaimana?"
"sudah beres Tuan! semuanya berjalan dengan lancar"
"bagus kalau begitu, sekarang dimana Kiko?"
"Nona sepertinya sudah pulang daritadi, sepertinya Ia ingin cepat cepat bertemu dengan Anda"
"benarkah?" Dion senang
"benar Tuan, sepertinya Nona Kiko ingin memberitahu kabar gembira hanya kepada Anda hi hi hi" Gogo tertawa senang tapi seakan bagi Dion itu adalah sindiran karena Dion tak ingin mengakui bahwa dirinya senang mendengarnya
"aku tak peduli", sahut Dion, "jangan sekali kali kau tertawa seperti barusan padaku, kalau tidak aku akan melemparmu ke tengah laut!"
"eh, maaf Tuan!"
Dion langsung mematikan sambungannya.
"ha ha akhirnya dia bahagia kali ini, aku tak sabar ingin melihat senyumnya" gumam Dion sambil merona
****
Kiko akhirnya pulang dengan gembira, Ia ingin buru buru pulang dan pamer kepada Dion.
"Tuan", teriak Kiko ketika memasuki ruangan untuk mencari Dion.
tapi Dion tak ada di seluruh ruangan tengah dan akhirnya Kiko mencari kedalam kamar Dion.
kebetulan pintunya tak dikunci.
Dion pun tak ada dikasur ataupun duduk di sofa tunggal dalam kamar, tapi akhirnya terdengar bunyi Shower mengucur dari dalam kamar mandi.
"wah, sepertinya dia sedang mandi", Kiko duduk di sofa tunggal, "aku kerjain ah, hi hi hi"
lama setelahnya, Dion akhirnya keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk yang Ia lilitkan di pinggangnya.
seketika pula Kiko bersembunyi dibalik tembok dan mengagetkannya.
"Haaaa"
Sontak Dion kaget dan ketika itu pula handuknya melorot hingga Ia malu dan beranjak lagi ke kamar mandi.
"Dasar wanita mesum", teriak Dion berlari
"ha ha ha ha" Kiko tertawa puas.
****
Dion keluar kamar dengan wajah cemberut kesal juga memerah karena malu.
"hai Tuan" sapa Kiko dengan senyum sumeringah
cih, wanita ini benar benar sudah tidak menganggapku pria normal. menyebalkan
"Tuan mau?" menyodorkan camilan yang di kunyahnya sambil menonton televisi
"cih, ada bekas tanganmu. jorok sekali jika aku ikut memakannya"
"ya sudah", Kiko merengut, "ini untuk Tuan" memberikan gantungan ponsel berbentuk hati.
"untukku?"
Kiko mengangguk, "cantik kan? suka kan?"
"kenapa warnanya Pink?" Dion mengerut kening
"Tuan tadi pagi sepertinya menyebut warna Pink, jadi aku memilih warna Pink untuk ku berikan pada Tuan he he"
Pink itu warna celana dalammu bodoh.
"kenapa kau membelikan ku hadiah ini?" menunjuk gantungan yang digenggam nya
"karena saya bahagia hari ini", Kiko meliuk liukkan kepalanya dengan gembira, "saya akhirnya diterima kerja"
"oh"
"ye ye ye" tingkahnya kumat menari nari tanpa malu.
ampun dah wanita ini, kenapa aku bisa tertarik dengan wanita bodoh ini ya? tidak tidak, aku tarik kata kataku kembali. siapa juga yang tertarik dengannya.
"cih" decih Dion menyunggingkan bibirnya
akhirnya Kiko duduk kembali dengan tenang sambil menonton televisi.
"mesum?"
"iya Tuan, kenapa?"
ragu ragu Dion ingin bertanya tapi tak urung juga Ia lakukan.
"kau memberitahu siapa lagi selain aku jika kau diterima bekerja?"
"hanya Tuan", Kiko beranjak dari tempat duduk tiba tiba membuat Dion kaget, "aku lupa mengabari Nina"
Kiko akhirnya berlari menuju kamarnya untuk segera menelfon Nina, memberitahu kabar gembira bahwa Ia sudah tak lagi menjadi seorang pengangguran.
Disisi lain Dion bahagia mendengar jawaban Kiko dan senyum senyum sendiri, kemudian mengambil camilan Kiko yang ditawari tadi lalu Ia makan hingga tak tersisa.
"dia bilang, hanya aku" gumam Dion tersenyum
****
"benarkah?" tanya Nina kaget
"iya benar, aku tidak berbohong!"
"kalau begitu aku akan kerumahmu sekarang, kita harus merayakannya"
"oke aku tunggu ya!"
"jangan lupa si tampan kau ajak juga"
"ah tenanglah! dia pasti mau jika ku paksa he he"
****
akhirnya mereka pun merayakan bersama diatas balkon rumah Kiko.
mereka meneguk Soju bersama kecuali Dion memang tidak mau meminum alkohol, Ia memilih meminum jus yang baik untuk kesehatannya.
"mari kita rayakan bersama untuk Kiko"
Cheers
"untuk kutukan pengangguran dalam hidupku"
Cheers
entah sudah beberapa tegukan alkohol yang Kiko minum, Kiko dan Nina sebetulnya bukan tipe wanita yang suka minum tapi kali ini mereka harus merayakannya karena hari ini adalah hari bersejarah bagi Kiko.
jadi ketika mereka hanya meneguk beberapa gelas kecil saja, mereka berdua sudah bisa dikatakan mabuk.
"Tuan? he he" sapa Kiko menepuk bahu Dion tanpa sadar
"mesum, kau mabuk?"
"mesum, mesum. aku ini Kiko!" bentak Kiko tanpa sadar
astaga, wanita ini benar benar mabuk.
Kiko kemudian mendekati Dion lalu memegangi kedua sisi pipinya lalu mencubitnya gemas.
"uhh kau itu menyebalkan tapi sangat lucu, ah kau kenapa begitu tampan seperti pengeran saja sih"
Dion hanya bisa pasrah juga merona mendengar ucapan Kiko yang tanpa sadar karena mabuk.
"kau mabuk, sepertinya aku harus kembali ke kamar!"
Dion ingin beranjak pergi tapi Kiko menahannya.
"kenapa aku tidak bisa keluar dari rasa trauma, Hiiiksss" Kiko merengek
Dion akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi dan berakhir menatap Kiko sedih.
Dion kemudian dengan berani memegang sisi tengkuk Kiko dan ingin melayangkan kecupan Di bibir Kiko yang sudah lama Ia tahan.
Hoeekkk
belum juga sampai, Ketika itu pula Kiko langsung muntah hingga mengotori baju Dion.
"arghhh sialan" teriak Dion geram
****