NovelToon NovelToon
Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Hamil di luar nikah / Romansa
Popularitas:60.9k
Nilai: 5
Nama Author: megatron

Mengapa harus Likta yang mengandung calon penerus keluarganya?

Seumur hidup, Tiarnan tidak pernah terlena oleh sentuhan wanita. Akan tetapi, sejak pertemuan pertama dengan Likta, benteng pertahanannya goyah. Hancur lebur oleh tutur laku wanita yang menyebabkan adik perempuan Tiarnan mengakhiri nyawa. Alih-alih membalaskan dendam, Tiarnan dan Likta malah tidur seranjang.


Akankah rumah tangga Tiarnan dan Likta bahagia setelah buah hatinya lahir ke dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megatron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 017: Sudah Puas?

Usai meninggalkan ruangan dengan perasaan kecewa, Likta duduk di kursi tidak jauh dari balkon lantai dua. Dia termenung sambil memilin-milin keliman lengan baju di siku, bibir mungilnya cemberut masam.

Likta memandang jendela kaca beruas-ruas, sinar lampu dari taman membanjiri ruangan dengan cahaya temaram.

“Oh, di sini kamu rupanya, hampir saja aku mengirim tim pencari orang hilang,” kelakar Tiarnan, terdengar garing di telinga Likta. Wanita itu tetap memunggunginya, seolah-olah jiwa terlepas dari raga.

Dengan begitu terlatih, Tiarnan menyembunyikan getaran dalam diri untuk meraih Likta, dia menelan saliva ketika mengamati punggung dan pinggul ramping sang istri. Godaan termanis, Penyihir! Ada apa dengan jantung dan matanya kini, apakah wanita itu telah memantrainya? Dia tidak pernah mengira bahwa, tubuh berlekuk itu diciptakan untuk membuat kaum pria lupa daratan seperti hal dirinya.

Tiarnan berdecak keras, demi tekanan darah tetap berada di batas normal, dia melawan keinginan untuk lebih dekat. “Likta!”

"Heemm,” sahut Likta terdengar malas.

Namun, sanggup merobek dinding tebal pembatas jarak di antara keduanya. Gumaman itu begitu menggelitik hati Tiarnan. Dia berdiri di samping Likta dengan sebelah tangan di masukkan saku celana.

Agaknya sia-sia Likta menunggu permintaan maaf terlontar, dia pun mendongak, mata belok berbulu lentiknya menatap tajam. Akan tetapi, kalimat protesnya kembali ditelan ketika menyadari tatapan mata Tiarnan.

Pandangan lembut Tiarnan terkunci pada mata lebar Likta. “Ngapain di sini?”

“Ha? Eng-enggak ngapa-ngapain.” Likta berusaha melegakan tenggorokan yang terasa begitu kering. Aduuh, apa setiap detiknya pria ini makin bertambah menakjubkan, susah sekali tidak mengacuhkan daya pikat matanya.

Dilihat dari sudut pandang kepekaan, Likta yakin Tiarnan juga tertarik kepadanya, tetapi dia tidak mungkin bertanya. Pada tingkat hubungan sekarang—patas-pantas saja dia mempertanyakan perasaan sang suami—jika memang benar-benar menjalin pertalian secara nyata.

Sayangnya, Likta tidak memiliki hak untuk bertanya bagaimana perasaan Tiarnan terhadap dirinya. Kemungkinan besar, hal itu cenderung memperkeruh keadaan. Menyebabkan arus dasar saling bertolak belakang dan bergerak ke arah yang berbeda.

Keheningan di antara mereka kian lama kian terasa begitu berat, Tiarnan melihat jemari ramping nan putih itu memegang perut yang masih terlihat rata. Likta jauh dari kebiasaan wanita hamil pada umumnya, menurut pengamatan melalui CCTV, saat bangun pagi pun tidak merasa mual, malahan banyak makan. Tidak juga mengalami sindrom bau-bauan yang menganggu menurut ibu hamil.

Sungguh gila, nyaris mustahil menerima kenyataan bahwa Tiarnan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. “Kamu tidak terlihat hamil,” celetuknya.

“Apa? Astaga—” Mata Likta melebar, dia membuang muka ke kejauhan seraya menarik napas untuk melembabkan paru-parunya yang sesak. Bukan ini kalimat yang ditunggu-tunggu sedari tadi. “Apa, sih yang ada di pikiranmu? Dengar, kalau kamu pikir aku sengaja menjebakmu, itu sebuah kesalahan. Sejak awal kita enggak saling mengenal, oke. Sekarang mau kamu apa?” Tantangannya, muak meladeni sikap pria itu yang sering kali berubah-ubah.

“Kecilkan suaramu!” tegas Tiarnan, dia tidak pernah menduga bahwa Likta bisa berbicara begitu lantang. Sebelum ada yang mendengar pembicaraan mereka, dia membawa wanita itu ke salah satu kamar.

Tarikan napas Likta terdengar pendek dan cepat, sedangkan jantung Tiarnan kini bergemuruh ketika menyentuh kelembutan kulit istrinya. Pria itu merasakan denyut cepat nadi di pergelangan tangan, bukti kemarahan sang wanita yang menggebu-gebu.

Tiarnan menggeleng putus asa, kenapa kebencian selalu mengambil alih diri. Terlebih lagi setelah mendengar permintaan sang ayah, sulit menolak kemauan satu-satunya orang paling berarti dalam hidup. “Sungguh aku tidak bermaksud begitu, hanya saja semua yang terjadi bagai guncangan tsunami, mendadak dan di luar rencana hidupku.”

“Oh, ya ampun,” desah Likta, menghempaskan tangan, dia berjalan ke sana kemari di seputaran kamar. “Aku pun enggak berencana hamil di luar nikah pada usia 24 tahun.” Udara disekitar tiba-tiba menipis, dia merasakan pipi mulai membara. Betapa malu mengingat kelakuan tidak senonoh itu sampai menghasilkan buah hati.

Tiarnan mengusap wajah kasar, ini tidaklah mudah. Entah apa yang ditanam dalam pikiran Likta hingga bertahan sampai ke titik ini, sedangkan Tanya yang mengalami kasus tidak jauh berbeda memilih mengakhir nyawa.

Dicampakkan! Tanya ditinggal begitu saja oleh kekasihnya. Bukankah Likta beruntung karena Tiarnan bersedia bertanggungjawab. Lalu, bagaimana dengan permintaan sang ayah? Apa Likta masih sekuat ini nantinya? Tentu saja, ya, dia sudah menandatangani surat perjanjian bukan? Namun, apa pun bisa terjadi di antara kurun waktu sekarang dan esok hari.

“Ya, kamu benar,” ucap Tiarnan. “Akhir-akhir ini sungguh melelahkan,” gerutunya sambil berjalan menuju ujung tempat tidur.

“Sangat melelahkan,” beo Likta, masih berdiri di tengah-tengah ruangan.

“Tidurlah.”

“Iya, kupikir kita harus membagi tempat tidurnya,” usul Likta. “Maksudku—”

Tiarnan menunggu dengan sabar penggalan kata yang hendak keluar dari bibir serupa pita itu, kalau sedang gugup begini Likta makin cantik. Berangsur-angsur semburat kemerahan mewarnai pipinya yang menggemaskan.

“Kamu ada selimut tambahan? Dengan begitu kita enggak berada di dalam selimut yang sama. Jadi—”

“Berhenti bersikap antipati begitu, aku pun tidak berniat tidur seranjang dengan mu,” elak Tiarnan, padahal ingin sekali menerkam Likta detik itu juga. Dia teramat tidak percaya terhadap diri sendiri sekarang, takut bila tengah malam melompat di atas tubuh berlekuk itu. “Pakai saja ranjangnya, aku bisa tidur di sofa.”

Tiarnan pindah ke sofa, kemudian menjatuhkan tubuh di sana. Berharap bisa tidur nyenyak malam ini.

Likta memiringkan kepala ke sebelah kanan, dia berani taruhan, meski sofa beludru abu-abu itu tampak indah tidak mungkin nyaman dipakai tidur. Bahkan kaki kiri Tiarnan menggantung karena tidak muat.

Seingat Likta ini kali kedua mereka berbagi kamar, pertama tanpa status yang terasa begitu intim, kini demikian jauh meski telah sah secara hukum dan agama. Perlahan dia merangkak ke atas tempat tidur, menarik tinggi-tinggi selimut sebatas hidung. Menit berikutnya, gelombang kelelahan menyeret kelopak mata agar terpejam.

Kesunyian melingkupi kamar tidur dua insan yang tengah berusaha melawan daya tarik masing-masing, sampai pagi menjelang.

ketika bangun, Likta mendengar Tiarnan masih mendengkur. Dia menggosok mata dengan punggung tangan, memastikan ulang bahwa pria itu masih di sana. Tidak menghilang bagai jin seperti waktu itu.

Dengan perlahan selimut Likta singkirkan, dia berjalan hati-hati saat mendekat ke sofa. Secara naluriah ingin sekali menyentuh Tiarnan, wajah damai sang suami tampak manis meski rambut hitamnya acak-acakan.

Bibir Likta cemberut tatkala menyadari bulu mata Tiarnan begitu panjang membayangi pipi, bagaimana bisa seorang pria memiliki bulu mata seindah ini.

“Sudah puas?”

Likta jatuh terduduk dengan telapak tangan memegang dada. “Curang!”

Senyum Tiarnan terlihat menakutkan, dia menunduk dalam hingga wajah saling berhadap-hadapan. Sekonyong-konyong, jantung Likta bekerja cukup keras sampai menciptakan debaran tidak karuan.

Buru-buru Tiarnan menciptakan jarak aman, sembari mengingatkan diri sendiri bahwa kedekatan inilah yang menimbulkan keinginan untuk melahap Likta bulat-bulat. “Waktunya menyegarkan diri, was!”

Kelegaan Likta rasakan begitu Tiarnan beranjak dari sofa, karena pria itu tidak akan tahu bahwa wajahnya kini telah merona bagai remaja belasan tahun yang sedang salah tingkah ditatap gebetannya.

Akan tetapi, rasa kecewa juga menghampiri, sebab Likta ingin selalu berada di dekat Tiarnan. Suka sekali aroma segar dari tubuh pria itu, seperti getah buah Papaver somniferum yang memabukkan dan membuat candu.

1
Iza
/Facepalm/
Miu Nuha.
waahh.. perkembangan ceritanya sampe dari tahun ke tahun,, pasti hebat banget perjuangannya 🤗🤗 ,, semangat authorr...

ramainya moga nular juga di karya aku. bantu dukung ya di 'aku akan mencintaimu suamiku'
Mega: untuk mengumpulkan kata perkatanya lumayan sulit, Kak.
total 1 replies
Lia Mulyanti
kapan up date Author? ceritanya bagus ini...
Mega: Terima kasih sudah support tulisan recehku, Kak.
total 1 replies
Leonora
🐱
Leonora
menguras emosi
Leonora
amit-amit jngn smpe
Leonora
seddiiiihhh
Leonora
kecewa sedih
Leonora
setuju bri
Leonora
Nah lo
Leonora
Nah bnerkan
Leonora
Lucky adik Tiarnan?
Leonora
Fixs Seysan bukan suruhan Viola
Leonora
Tiarnan gak jelas gitu gak usah dipertahankan
Leonora
Diihhh
Leonora
Gk hbs fkri sama bapaknya
Mega
😁
litaacchikocchi
Komen judul: tpi ini novel /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Grin//Grin//Grin/
Mega: Yah begitulah, Terima kasih sudah mampir
total 1 replies
Leonora
wajib baca wajib baca
Lia Mulyanti
kapan up lagi Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!