NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: SUMPAH DI GUBUK

#

Mereka masih berpelukan di pintu gubuk—lama. Ismi nangis di dada Dyon, tangan ngegenggam kaos lusuh Dyon kayak takut dia hilang. Dyon peluk kepala Ismi—lembut, sayang, meskipun dadanya sendiri penuh air mata.

"Masuk dulu," bisik Dyon pelan. "Kamu kedinginan."

Ismi ngangguk—masih nangis. Mereka masuk ke gubuk.

Gubuk sempit. Cuma ada kasur tipis di pojok, meja kecil yang goyang, lampu bohlam redup yang kedip-kedip, sama dinding seng berkarat. Dingin. Bau lembab.

Tapi... hangat.

Karena ada mereka berdua.

Dyon tutup pintu. Duduk di kasur—pelan. Ismi duduk di sampingnya—deket, bahu mereka nyentuh.

Hening sebentar. Cuma bunyi angin malam yang masuk lewat celah-celah dinding. Bunyi tikus berlarian di luar.

"Dyon..." suara Ismi serak—bekas nangis. "Maafin aku. Maafin... maafin Ayah sama Ibu aku. Mereka... mereka kejam."

"Bukan salah kamu," Dyon pegang tangan Ismi—erat. "Mereka... mereka cuma mau yang terbaik buat kamu. Meskipun caranya... caranya salah."

"Tapi mereka mukulin kamu!" Ismi nengok—mata merah, basah. Tangannya ngelus pipi Dyon yang masih bengkak. "Ini... ini pasti sakit. Aku... aku benci mereka!"

"Jangan bilang gitu," Dyon senyum pahit. "Mereka orang tua kamu. Kamu... kamu nggak boleh benci orang tua."

"Tapi—"

"Ismi," Dyon potong—lembut tapi tegas. Dia pegang kedua tangan Ismi—tatap matanya dalam-dalam. "Aku... aku ngerti kenapa mereka nggak suka sama aku. Karena... karena aku emang nggak pantas buat kamu."

"JANGAN BILANG GITU!" Ismi teriak. Air matanya jatuh lagi. "Kamu... kamu pantas! Kamu—"

"Dengerin aku dulu," Dyon senyum—hangat meskipun mata dia juga berkaca-kaca. "Aku... aku emang nggak punya apa-apa. Aku miskin. Aku nggak bisa kasih kamu kehidupan yang layak. Aku... aku cuma punya mimpi. Mimpi yang... yang mungkin nggak akan pernah jadi kenyataan."

Ismi geleng—keras. "Mimpi kamu... mimpi kamu pasti jadi kenyataan. Kamu... kamu pinter. Kamu kuat—"

"Tapi mimpi aja nggak cukup," Dyon bisik. Suaranya gemetar. "Di dunia ini... di dunia ini uang yang bicara. Koneksi yang bicara. Bukan... bukan usaha. Bukan mimpi."

"Terus... terus kenapa?" tanya Ismi—panik. "Kamu... kamu mau nyerah? Kamu mau... mau ninggalin aku?"

"NGGAK!" Dyon teriak—cepat. Pegang pipi Ismi—kedua tangan. "Aku nggak akan ninggalin kamu. Nggak akan. Justru... justru sebaliknya."

Ismi bingung. "Maksud kamu?"

Dyon napas dalam—rusuknya masih nyeri dikit, tapi dia paksa. Ini penting. Ini... ini sumpah.

"Aku... aku akan jadi orang sukses, Ismi," katanya—tegas. Mata menatap mata Ismi—penuh tekad. "Aku akan buktiin ke orang tua kamu kalau aku layak buat kamu. Aku... aku akan kuliah. Jadi arsitek. Cari kerja. Cari uang. Bangun hidup. Dan... dan aku akan dateng ke rumah kamu lagi. Tapi nggak sebagai sampah. Tapi sebagai... sebagai pria yang layak. Pria yang punya masa depan."

Ismi terdiam. Matanya melebar.

"Bahkan kalau itu artinya... aku harus mulai dari nol lagi," lanjut Dyon. Suaranya makin keras—penuh semangat. "Bahkan kalau aku harus kerja lebih keras. Bahkan kalau aku harus berjuang sendirian. Aku... aku akan lakuin. Buat kamu. Buat kita."

Air mata Ismi jatuh—tapi sekarang bukan air mata sedih. Air mata... bangga.

"Dyon..." bisiknya.

"Aku janji," Dyon senyum—tulus. "Aku janji sama kamu. Sama Tuhan. Sama diri aku sendiri. Aku... aku nggak akan menyerah. Aku akan bangkit. Dan suatu hari... suatu hari aku akan berdiri di depan Ayah kamu dengan kepala tegak. Dan aku akan bilang: 'Pak, aku mencintai putri Bapak. Dan sekarang... aku layak.'"

Ismi nggak bisa nahan lagi. Nangis—keras, lepas. Peluk Dyon—erat banget, kayak mau nyatuin tubuh mereka jadi satu.

"Aku... aku percaya sama kamu," bisik Ismi di telinga Dyon. "Aku... aku percaya kamu bisa. Kamu... kamu pasti bisa."

Mereka lepas pelukan—pelan. Dahi nempel satu sama lain. Napas berat. Mata merem.

"Tapi..." Ismi buka mata. Tatap Dyon. "Kita hadapi ini bersama. Aku... aku nggak akan ninggalin kamu. Aku akan... aku akan bantu kamu. Kita... kita berjuang bareng."

"Tapi orang tua kamu—"

"Aku nggak peduli," Ismi potong—tegas. "Mereka bisa marah. Bisa ngurung aku. Bisa apain aja. Tapi... tapi mereka nggak bisa putuskan cinta aku. Cinta aku... cuma buat kamu."

Dyon senyum lebar—meskipun air mata masih ngalir. "Kamu... kamu yakin? Kamu... kamu bisa kehilangan segalanya. Keluarga. Uang. Kehidupan yang nyaman—"

"Aku udah bilang," Ismi senyum—hangat. "Aku rela kehilangan segalanya. Asal... asal kamu tetep di samping aku."

Dyon nggak bisa ngomong lagi. Dadanya terlalu penuh. Terlalu hangat.

Dia cium kening Ismi—lembut, lama.

Ismi merem—nikmatin kehangatan bibir Dyon di keningnya.

"Kita... kita akan hadapi ini bersama," bisik Dyon. "Meski seluruh dunia jadi musuh kita. Kita... kita tetep bersama."

"Janji?" tanya Ismi—mata terbuka, natap Dyon.

"Janji."

Mereka saling menatap—lama. Dalam keheningan gubuk yang sempit, dingin, kumuh.

Tapi di sana...

Ada cinta.

Cinta yang tulus.

Cinta yang kuat.

Cinta yang... nggak akan menyerah.

Ismi nyender di bahu Dyon. Dyon peluk bahunya—lembut.

"Dyon," panggil Ismi pelan.

"Hmm?"

"Aku... aku takut."

"Takut apa?"

"Takut... takut kehilangan kamu," bisik Ismi. "Takut... takut suatu hari kamu lelah. Kamu menyerah. Kamu... kamu pergi."

Dyon peluk Ismi lebih erat. "Aku nggak akan kemana-mana. Inget? Kita udah janji kelingking."

Ismi ketawa kecil—meskipun masih nangis. "Iya... janji kelingking."

Mereka diem lagi—lama. Nikmatin kehangatan pelukan. Nikmatin kebersamaan yang... mungkin nggak akan bertahan lama.

Karena besok...

Besok badai akan datang lagi.

Lebih besar.

Lebih kejam.

Tapi malam ini...

Malam ini cukup.

Cukup ada mereka berdua.

Cukup ada cinta.

Cukup ada harapan.

*Kami bersumpah untuk bertahan bersama.*

Dyon cium puncak kepala Ismi—lembut.

*Meski seluruh dunia jadi musuh kami.*

---

Tengah malam. Ismi harus pulang—sebelum orang tuanya bangun dan tau dia kabur.

Dyon antar Ismi jalan—pelan, nggak mau berpisah.

Sampai di ujung gang. Ismi berhenti.

"Aku... aku harus balik," katanya—sedih.

"Aku tau," Dyon senyum pahit. "Hati-hati ya. Jangan sampe ketahuan."

"Iya."

Mereka peluk—terakhir kali malam ini.

"Aku mencintaimu," bisik Dyon.

"Aku juga mencintaimu," balas Ismi.

Lepas pelukan. Ismi jalan—cepat, berlari ke arah rumahnya.

Dyon nonton sampai siluet Ismi hilang di kegelapan.

Terus dia balik—jalan ke gubuk.

Di tengah jalan...

Dia berhenti.

Lihat langit malam—gelap, nggak ada bintang. Cuma bulan sabit tipis.

"Mama... Papa..." bisiknya pelan. "Dyon... Dyon udah nemu alasan buat hidup. Dyon... Dyon akan berjuang. Buat dia. Buat Ismi."

Angin malam bertiup—dingin.

Tapi Dyon... senyum.

---

**BERSAMBUNG**

**HOOK:** *Tapi sumpah itu akan diuji. Dan ujian yang datang... akan lebih berat dari apapun yang pernah aku bayangkan.*

1
sitanggang
ternyata lemah 👎👎👎👎
checangel_
Tak semudah itu Edward, ingat! orang baik pasti menang 🤝
checangel_
Hebat Dyon /Applaud/
checangel_
Wah, perumahan bersubsidi 🤧/Good/
checangel_
Sekarang sekolahan berbasis ramah anak semua/Good/
checangel_: No comment lah /Silent/, cukup sekian dan terima tahu /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Gimana rasanya makan bebarengan begitu? nikmatnya tiada banding, sekelas resto mewah /Good/
checangel_
Yap, zaman sekarang yang di cari memang keterampilan, tapi tahulah ....🤧
checangel_
Yap, kejujuran adalah harga yang tidak bisa dibayar dengan uang 🤝
checangel_
Jarang ada loh, orang yang setulus Pak Hendra ini 🤧
Dri Andri: hanya sekedar motivasi dan inspirasi aja kak.. yang asli real yang itu
total 7 replies
checangel_
Efek membela kebenaran, diri sendiri pun terbuangkan /Sob/
checangel_
Apakah dunianya sebohong itu?🤧
checangel_
Baik banget sih Leornad 🤧, teman bukan sekadar teman biasa, tetapi kamu juga pengacara luar biasa 🤝
checangel_: 💯/Good/
total 3 replies
checangel_
Tunjukan pesonamu Dyon, jangan biarkan koruptor menggema dalam pondasimu 🤝
checangel_
Dunia kerja memang seperti itu, ada aja yang dengki
checangel_
Ketika pondasi yang terlihat kuat, tapi bisa rapuh karena sebuah ancaman 🤧
checangel_
Dyon, kamu dermawan sekali 🤧
checangel_: آمين
total 6 replies
checangel_
Roda yang selalu berputar 🤧
checangel_: 🤭/Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Pertahankan janji itu ya Sulaiman, ingat! janganlah selalu menatap langit, jika posisimu sudah berada di tingkat yang layak, karena di balik pertahananmu ada teman yang selalu mendukungmu🤝/Smile/
Dri Andri: ya begitulah.. maklum manusia yang tak lukut dari kesalahan
total 10 replies
checangel_
Iya benar tuh, orang yang jujur itu susah dicari di zaman sekarang🤧
Dri Andri: benar... yang bicara jujur pasti ada maksud tertentu dan mungkin nantinya gak ada bukti nya


TONG KOSONG NYARING BUNYI NYA
total 1 replies
checangel_
200 JT itu, uangkan? Ke-kenapa harus sebanyak itu?🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!